
Aku terus menangis, rasa sedih, takut kehilangan, dan depresi bercampur aduk dipikiranku.
Brushhh...!!!
Salah satu dari naga itu menyemburkan Api lagi dan api itu mengarah ke arah Chuya.
Tiba-tiba aku merasakan kekuatan yang sangat besar dan itu semua masuk kedalam tubuhku, aku kembali sehat seperti tidak terkena luka apapun, dan aku pun melesat ke Chuya untuk melindunginya.
" Mega Shield ", aku melindungi Chuya dan semburan dari sang naga pun tertangkis.
Bumm...!!!
(Note: Mega Shield adalah skill pelindung dari serangan tingkat tinggi, skill sihir tingkat 6)
Wushhhh...!!!
Mataku berubah menjadi berwarna merah seperti darah, 50% kesadaranku hilang, dan ada angin kencang seperti aura yang menyelimuti diriku seperti perubahan super saiyant di anime Dragon Ball.
" Sudahlah para Naga Finstren, biar kutunjukkan semburan api yang sebenarnya, Summon Pet ", Aku memanggil Ryu untuk bertarung bersamaku.
Gruoahhhh...!!!
" Kau mau apa bocah? ", ucap Naga itu.
" Ryu... cepat sembur para naga itu ", perintahku dengan nada dingin.
" Baiklah bocah ", ujar Ryu sembari menyemburkan api ke arah para Naga Finstren itu.
Brushhh...!!!
" Damage Boost 3x ", aku menggunakan skill support yang bersamaan meluncurnya semburan Ryu.
(Note: Damage Boost adalah skill support yang dapat di stack sesukanya namun semakin besar stack semakin besar juga resikonya, skill sihir tingkat 10)
Arrgghhhhh...!!!
Kelima Naga itu kesakitan dan mereka membalas menyemburku secara bersamaan.
Brushhh...!!!
" Percuma... Counter !!! ", Semua semburan kelima naga itu kutangkis dan kembali lagi kepada mereka namun damage meningkat 2x lipat
(Note: Skill Counter dapat memantulkan/mengembalikkan semua serangan fisik/sihir (kecuali kutukan) dengan 2x lipat lebih besar, skill sihir tingkat 15/maks)
Arrgghhh...!!!
Kelima Naga itu menjadi lemas dan aku menggunakan kesempatan ini untuk mengakhiri semua ini.
" Enchant Sword... Platinum Sword ", aku mengubah 2 pedang kayuku menjadi pedang platinum yang sangat tajam.
(Note: Enchant Sword adalah skill untuk memodifikasi semua jenis pedang, skill sihir tingkat 10)
" Ryu, sampai disini saja... biar aku yang menyelesaikannya ", ucapku dengan nada dingin.
" Baiklah... tumben banget sikapmu begini dan bagaimana bisa kau dapat kekuatan sebesar itu bocah?? ", ujar Ryu.
" Berisik kau!!! diam saja napa... ", ucapku dengan tegas.
Set, set... Slash, Slash...!!!
" Dash... Phantom Slash
Dash... Shining Cross
Dash... Phantom Slash ", aku berpindah tempat dengan sangat cepat dan langsung memotong kelima naga itu dengan hitungan detik... ehmm mungkin 10 detik hehe :v.
(Note: Phantom Slash adalah skill dari job dual sword, skill pedang tingkat 3)
(Note: Dash adalah skill sihir tingkat 2 yang dapat membuat penggunanya menjadi sangat cepat dalam bergerak maupun berlari)
Arrgghhh....!!!!
Kelima Naga itupun sekarang sudah menjadi daging cincang yang siap untuk disantap.
" Selesai sudah... tapi masih belum--- Hoek...", aura yang tadi menyelimutiku perlahan hilang, dan tiba-tiba aku memuntahkan darah.
" Woi bocah kau tidak apa-apa ? " Ujar Ryu
" Hoek... uwek... kenapa begini... Ryu... tolong...... ", aku terus memuntahkan darah sampai kesadaranku hilang...
Brugh...!!!
Aku terjatuh, sekujur tubuhku tidak bisa digerakkan dan semua indraku mati rasa... apa aku akan mati konyol lagi? mati karena kelelahan? haha jangan ah :v.
Wushhhh...
Aku pingsan, namun saat aku terbangun...
" Uhm??? dimana ini? bukankah ini kamar tempat tinggalku dulu? wah benar... jadi kangen hahaha ", ujarku dengan bicara sendiri.
Tok... Tok... Tok...
"Siapa ya? silahkan masuk dulu ", ujarku.
Ceklek... Krekkk...
Aku melihat sosok Chuya... kenapa dia bisa ada dikamarku? bukankah aku sudah kembali ke dunia lamaku? tapi kenapa ada Chuya? (aku bertanya tanya dengan diriku terus)
" Hai Chi... hehehe, Chuya boleh main dikamarmu? ", ujar Chuya.
" Ah uhm... boleh... eh tunggu!!! ini kamarlohh " ucapku dengan nada kikuk.
" Hihi gpp, Chuya mau sama Chi ", ucap Chuya dengan muka imut.
Chuya langsung menjatuhkan dirinya ke aku yang sedang duduk dikasur.
Bruukkh...
Brugh
Aku ditindihin Chuya, dan mukanya dia mulau mendekati wajahku.
" Chi... uhm... ", Chuya mendekatkan bibirnya ke arah bibirku dan....
cup...
Ia menciumku, aku tidak bisa berkata apa-apa... namun saat aku berkedip.
" Uhm... loh kok... tempatnya berubah jadi hutan, dan apa ini yang ada di bibirku... ", ucapku yang sedang rebahan.
Sebuah sosis masuk dimulutku, aku pun segera memakan sosis itu.
" nyam nyam... enak ", ujarku.
" Wah enak ya... syukurlah sosis buatanku enak, hihihi ", ucap Chuya.
" Wah Chuya toh... eh (jadi yang dikamar tadi cuman mimpi, huft kukira sungguhan), kamu sudah sehat? yang lain kemana? ", ujarku sambil berdiri.
"Oh Lili dan Rey, mereka sedang pergi ke kota, mungkin sedang menjual sesuatu ", ucap Chuya.
"Ohh kalau Ryu? ", tanyaku.
" Dia sudah pulang, dan Ryu sudah banyak membantu kami tadi, dialah yang menyembuhkan kita berempat... kalau Ryu tidak ada, mungkin dia sudah kembali ", ujar Chuya.
" Oh baguslah, kalian semua tidak apa-apa ", ujarku.
" Kalau kamu gimana... keadaanmu, karena kata Ryu... Chi lah yang paling parah ", ucap Chuya dengan nada sedih.
" Eh engga kok, gpp aku, aku sehat wal afiat gini kok hehe ", ucapku.
" Bodoh... kupikir kau tidak apa-apa hah setelah melawan kelima naga Finstren kemarin? ", ujar Chuya dengan nada khawatir.
" Ehe ", ucapku.
" Ehe dengkulmu!!! ", balas Chuya dengan marah.
Tap... tap... tap...
2 orang mendekati keberadaan kami, dan orang itu adalah....
" Yo Chi..... sudah bangun ya? gimana kabarmu? ", ucap Rey dengan penuh semangat.
" Hai Chi, Lili khawatir dengan keadaanmu... apa kamu sudah baikan? ", ucap Lili dengan suara malu-malu.
" Ah aku tidak apa-apa kok sungguh, liat tidak terluka kan hahaha ", jawabku dengan semangat.
" Tapi aku heran... bagaimana caranya kamu bisa melawan mereka semua? ", ujar Rey.
" Apa jangan-jangan Chi itu Raja Iblis? ", tanya Lili.
" Tidak mungkin dia Raja Iblis, karena dia terlalu polos dan baik, Raja Iblis tidak akan seperti dia ", balas Chuya.
" Sudah-sudah.... jadi perburuannya gimana? apa kalian sudah melapornya? ", ucapku.
Mereka bertiga serempak menggelengkan kepala dan berkata " Hehehe ".
" Hmm begitu ya... drop item yang kalian simpan hilang? ", tanyaku sambil mengecek tasku.
"Iya, semuanya hilang, tapi aku masih menyimpan 1 item dipenyimpanan rahasiaku tadi, dan sudah kujual di kota ", jawab Rey.
" Oh... dapat berapa emang? ", tanyaku ke Rey.
" Oh 300 koin emas sih ", jawab Rey.
" Hahhh seriusann??? ya sudah ayo cepat kita balik ke kota dan membeli rumah disana hahahaha(lumayanlah daripada tidak sama sekali)", ucapku dengan penuh semangat.
Kami pun langsung menuju ke kota dan mencari-cari rumah yang sedang dijual, kesana kemari aku melihat banyak rumah yang bagus tetapi saat kutanyakan mahal juga harganya... huft...
"Anuu... bagaimana kalau rumah ini? harganya cuman 100 koin emas, ada lantai 2 nya dan ada 5 kamar juga, toilet dan lainnya juga ada gimana ambil? ", ujar Chuya sambil menunjukkan rumah tersebut.
" Gas... bagus juga rumah ini kita ambil ", ucapku.
Setelah membeli rumah, kami berempat masing-masing mengecek dan membenahi kamar kami.
Tiba-tiba aku berfikir, bagaimana jika aku terlambat memburu Raja Iblis? apa aku akan mati? apa aku akan kembali ke duniaku? hahhhh aku langsung mengambil ponsel pemberian Dewa.
Tululit... tululit...
" Iya ? dengan siapa nih? ", jawab Dewa itu.
" Woe Dewa ini aku, Chiro Asaka ", ujarku.
" Wah tumben sekali nih anak muda ahahaha, kenapa kau menghubungi ku? oh jangan-jangan kamu kangen ya dengan Dewa Tua ini, Hahaha... jadi sayang deh, UwU ", ujar dewa itu dengan penuh semangat.
" Hentikanlah sikapmu itu, cringe(jijik) jadinya... aku mau nanya doang bagaimana kalau aku terlambat memburu Raja Iblis? ", ujarku.
" Kalau itu sih... hohoho... nyawamu akan berkurang 1 dan batasnya adalah 3 bulan untuk 1 Raja Iblis... seru kan??? hahaha dan kamu sudah sebulan semenjak berada di dunia ini", ujar Dewa itu.
" Seru apanya... ini seperti beneran tau... eh memang beneran sih, ya sudah makasih ya, aku tutup dulu ", ucapku.
" Okey nak, dan satu hal... jangan sampai sakit hati ya... karena itu mengakibatkan kesalahan yang sangat fatal bagi dunia ini ", ucap dewa itu.
" Eh? uhm baik makasih ", aku menutup telponnya, apa maksudnya jangan sampai sakit hati ya? aku tidak paham...
Tok... Tok... Tok...
" Oh siapa ya? silahkan masuk ", ucapku.
Ceklek, Krekkk...
" EEHHH...??? ", teriakku kencang karena terkejut.
...----------------...