
"Sudahlah Mafuyu... kembali ke tempat mu !! ", ucap bu Lucy.
"Ba-baik bu... Hiks.. hiks..", jawab Chuya yang sedang menangis kecil.
"Asaka... nanti kamu ikut saya ke ruangan Ibu, ada hal yang ingin Ibu tanyakan ", ucap bu Lucy dengan tatapan tajam.
"Meng oke bu...", jawabku sambil menuju tempat duduk.
Pelajaran pun dimulai seperti biasa.
Teng... teng... teng...
Bunyi Bel menandakan jam pelajaran telah selesai.
"Chi... chuya boleh ikut ?...", tanya Chuya sambil masang muka memelas.
"Ah hemm... boleh kok ", jawabku singkat.
Aku pun langsung menuju ke ruangannya bu Lucy bersama Chuya.
Tap... tap... tap...
Kami berdua sampai didepan ruangannya bu Lucy dan segera membuka pintu.
Kreeek...
"Permisi Bu Lucy...", ucapku dengan pelan.
"Wah Asaka... sudah datang ya kamu, silahkan duduk dulu... tapi kenapa Mafuyu bersamamu ? ", Ujar bu Lucy.
" Aku ingin bersama Chi... takut kalau dia mati lagi nanti ", Jawab Chuya dengan nada biasa.
"Hmm ya sudah... Asaka, aku ada beberapa pertanyaan untukmu ", ucap bu Lucy dengan nada horor.
"Iya Bu... tanyain aja ", jawabku singkat.
"Jawab dengan jujur, apa kamu itu seorang Raja Iblis ? ", tanya bu Lucy.
"Bukan kok bu... saya hanya anak biasa bu ", jawabku.
"Terus... apa tujuanmu bersekolah disini? apa hanya untuk senang-senang hah kalau sudah memiliki kekuatan sebesar itu ", tanya bu Lucy dengan nada marah.
"Tidak tahu... awalnya tadi hanya untuk memuaskan rasa penasaranku dan berusaha belajar membaca huruf latin ",
Aku membalas pertanyaannya dengan muka serius
"Apa kamu bisa menjelaskan tentang pemanggilan Lord Dragon minggu lalu? naga itu hanya bisa dipanggil oleh Raja Iblis dan kecil kemungkinan manusia biasa untuk memanggilnya, tidak hanya itu... kamu juga bisa memegang buku sihir tingkat 5 (maks) yang harusnya membutuhkan waktu beberapa tahun untuk bisa memegangnya ", tanya bu Lucy sambil mengepalkan tangannya.
"Mafuyu... apa kamu bisa memegang buku yang ada di tasnya dia? coba lakukan ", perintah bu Lucy.
"Baik Bu...", jawab Chuya dengan singkat.
Chuya pun langsung membuka tasku, ia berusaha memegang buku sihirku namun hasilnya...
Bzzzt...!!!
"Aw... sakit... ", jawab Chuya kesakitan.
Chuya tersetrum dan langsung melempar buku sihirku.
"Kamu tidak apa-apa Chuya ? ", tanyaku dengan nada khawatir.
Tangan Chuya membekas luka bakar.
"Gpp kok... hehehe ", ujar Chuya sembari menahan rasa sakit.
"Lihatt Asaka!!! bahkan murid terhebat di sekolah ini saja tidak bisa menyentuh buku sihirmu... dan kamu memenuhi semua kriteria Raja Iblis termasuk juga bisa bangkit lagi setelah kematian... masih mau melawan kalau kamu bukan Raja Iblis ? ", teriak bu Lucy.
"Aku tidak tahu...", jawabku dengan polos.
"Dasar pembohong !!! ", bentak bu Lucy.
Szzzt... (suara arus listrik)
"Rasakan ini... Shockwave !!!", Teriak bu Lucy.
(Note: Shockwave adalah skiill sihir tingkat 3)
"Muncullah Shield !!!", ucap Chuya.
(Note: Shield adalah skill sihir tingkat 4)
BAM...(suara ledakan ringan)
Aku pun terlindungi dari serangan bu Lucy berkat Chuya, namun Chuya terlihat kelelahan.
"Beraninya kamu Chuya... kenapa kau melingungi Raja Iblis kayak dia ??? ", tanya bu Lucy yang sangat marah.
" Dia bukanlah Raja Iblis, dia adalah temanku ", ucap Chuya sambil tersenyum manis.
"Berengsekk kalian... matilahhhh kalian disini, Meteor Blast ",
(Note: Meteor Blast adalah skill sihir tingkat 6)
DUAR... (suara ledakan besar)
"Aaaaaahhh...", Kami berdua berteriak sangat kencang.
Shield milik Chuya pun pecah, kami terpental sampai ke tengah lapangan sekolah dan Chuya terluka parah.
"Rain arrow !!!", teriak bu Lucy sambil menembakkan skill itu dengan menggunakan busurnya.
(Note: Rain Arrow adalah skill busur tingkat 3)
"Teleportation ", ucapku sambil membayangkan tempat yang jauh dari sini.
(Note: Teleportation adalah skill sihir tingkat 7)
Wusshhh....
Aku dan Chuya pun langsung menghilang dari tempat itu.
"Cihh... mereka lolos, tidak salah lagi... Asaka Chiro itu adalah anak yang telah diramalkan, aku harus mencarinya dan segera membunuhnya sebelum dia tahu aku yang sebenarnya ", gumam Bu Lucy.
Sementara itu...
Wuushhh... Bruk...
Aku dan Chuya terjatuh.
"Aduhh... duh.. duh.. duh.. sakit... kurasa aku mengalami encok dipunggungku, Oh... Chuya dimana ya ? ", ucapku sendiri sembari berusaha berdiri.
Aku melihat Chuya dan dia tergeletak lemas... mungkin dia pingsan?.
Tap... Tap... Tap...(suara langkahku menghampiri Chuya)
"Chuya... woe bangun... bangun dan semangat, bangun dan semangat, bangun dan semangat.... ", ucapku dengan nada menghibur.
Namun Chuya tidak merespon... Aku segera mengecek suara detak jantungnya, untungnya masih berdetak.
"Fyuhhh, aku harus menyembuhkannya terlebih dahulu... ngomong-ngomong... dimana ya tas ku ", ucapku sambil mencari tasku.
Aku menemukan tas yang tergeletak di bawah pohon besar. Aku pun segera mengambil buku sihir yang ada di dalam tas itu, tiba-tiba...
Drttt... Drttt... (Suara ponsel berdering).
Ahh tumben benda ini bunyi... aku pun langsung mengangkat telponnya...
"Hohoo anak muda... bagaimana kabarmu bwahahaha, apakah menyenangkan disana ? ", dari suaranya aku masih mengingatnya, mungkin ini dewa botak itu ya?
"Ah dewa?? huft... menyenangkan apanya, temanku hampir saja mati tadi dan sekarang dia terbaring lemas ", ucapku dengan sedikit kesal.
"Woahh anak itu ya hmm... wadaw wadaw... apa kamu suka dengan anak itu?? ciee kamu khawatir kalau dia kenapa-kenapa ya... enaknya masa muda hwahahaha co cweet...", ucap dewa itu dengan nada mengejekku.
"Hiss ini serius (-_-) sudahlah, kenapa menelponku ? ", ujarku.
"Hmm aku ada tugas untukmu... kamu kukirim ke dunia ini sebenarnya untuk membasmi para Raja Iblis dan satu lagi, bu Lucy termasuk salah satu dari 10 Raja Iblis terhebat ", ucap kakek dewa itu.
"Ternyata benar ya, memang ada Raja Iblis ", gumamku sambil memikirkan perkataan bu Lucy tadi.
"Hey anak muda... pergilah ke arah barat, disana ada 2 Raja Iblis dan berhati-hatilah kepada mereka, jika kamu mampu mengalahkan 2 Raja Iblis itu... aku akan memberimu sesuatu yang sangat berguna untukmu nantinya, gimana ? ", ucap dewa itu.
Tertarik dengan tawarannya, aku pun langsung menyetujuinya.
"Oke deh, akan kulakukan semampuku, hihihi... sebelum itu... aku mau menyembuhkan Chuya dulu ", ucapku sambil membuka Buku sihirku.
"Good Luck Anak Muda, kamu adalah salah satu dari orang yang kupilih, jangan mengecewakanku hohoho...", ucap kakek dewa itu.
Telponnya mati, aku pun langsung mencari di buku sihir tentang cara menyembuhkan orang yang sekarat.
Sreet... sreet... sreet... sreet... (suara gesekan kertas)
Ahh ketemu...
Heal: skill sihir tingkat 4 dapat menyembuhkan luka ringan
Mega Heal: skill sihir tingkat 6 dapat menyembuhkan luka berat
Royal Heal: skill sihir tingkat 8 dapat menyembuhkan berbagai penyakit kecuali kutukan.
Aku memilih Mega Heal dan langsung saja sembari mengarahkan tanganku ke Chuya.
" Mega Heal...", tanganku berubah warna menjadi hijau dan bersinar terang.
Syuut... syuut... syuut... (suara penyembuhan itu)
Perlahan-lahan luka Chuya menghilang, Ia pun mulai membuka matanya.
"Oh... dimana aku??, Hai Chi (*^ー^)", ucap Chuya sembari senyum manis kepadaku.
"Hai... gimana keadaanmu sekarang ? ", tanyaku dengan raut wajah malu.
"Baik kok, kamu yang nyembuhin aku ya... terima kasih (^v^)", ujarnya sambil menatapku.
"Ngomong-ngomong... kita harus segera mencari kota terdekat untuk beristirahat dulu, hari sudah mulai gelap nih...", ucapku sambil membereskan barang-barang.
"Oke Chi... tapi kita akan pergi kemana ? ", ucap Chuya.
"Arah barat... ayo cepat sebelum waktu mulai larut ", balasku sambil menggandeng tangannya.
Tap... tap... tap...
Diperjalanan aku pun memperhatikan Chuya dari ujung bawah sampai ujung rambutnya... ternyata dia cantik juga... aku jadi gugup berjalan bersamanya, namun...
Benda berkilau di leher Chuya berhasil membuatku penasaran, ternyata itu adalah sebuah kalung. Entah kenapa perasaanku terhadap kalung itu sangat tidak menyenangkan.
"Oh Chuya... itu kalung dari siapa ? ", tanyaku penasaran.
"Oh ini... ehmm... ehehehe...", ujar Chuya sambil meringis.
"Hmmm...", ujarku sambil mengeluarkan Buku Sihir untuk mempelajari sedikit-sedikit mantra sihir yang lainnya.
Hari mulai gelap...
...----------------...