
Esok hari pagi tiba lagi, akan tetapi sepertinya ada yang tidak biasa.
Aku bangun dari tidurku, namun aku tidak melihat Chuya yang kemarin tidur di kasurku, kamarku yang tadinya berantakan menjadi rapi.
Ini aneh biasanya kamarku itu tidak teratur dan saat aku mengecek kasurku...
Srett...
Aku melihat bahwa kasurku basah.
" Hehhhh...!!! kok basah...!!! siapa yang membuat kasurku basah ? ", teriakku dari kamar.
Sementara di bawah tepatnya di ruang makan Chuya langsung segera pergi keluar setelah mendengar aku teriak.
Aku pun segera membereskan tempat tidurku itu dan menjemur kasurku yang terlihat basah di belakang rumah.
Tap... tap... tap...
Rey dan Lili datang menghampiriku yang sedang menjemur kasur.
" Heh, Asaka... kau ngompol ya hahaha ", ucap Rey.
" Huu udah gedhe ngompol, malu gak tuh, nanti ku aduin kak Chuya ah, hihihi ", sahut Lili.
" Berisik aku gak ngompol lah, coba aja cium baunya ", ucapku dengan nada marah.
Rey dan Lili pun langsung mencium baunya, namun mereka kaget.
" Memang sih baunya bukan bau dari orang yang mengompol, tapi... ", ucap Lili.
Aku dan Rey melihat Lili dengan muka tegang.
" Tapi ini seperti bau itunya perempuan, ah Lili gak bisa bicarain hal ini sama cowok ", ucap Lili.
" Ya sudah gak pa pa kok ", ucapku sembari melanjutkan menjemur kasurku itu.
" Tapi... kak Chiro gak menyewa gituan kan? atau memanggil succubus ? ", sahut Lili.
Rey yang tadinya diam tiba-tiba dia tersedak.
" Akh akh... hehh ", suara tersedaknya Rey.
" Kau kenapa Rey ? ", ucapku.
Rey langsung pergi masuk ke rumah dan memberiku sebuah acungan jempol.
" Dia kenapa ya ? ", tanyaku ke Lili.
" Gak tau kak, tapi beneran kan kakak gak melakukan kedua hal tadi ? ", sahut Lili.
" Oh itu... enggak sih, hanya saja... ah tidak apa-apa hehe ", ucapku sambil memegang kepalaku.
" Humph kakak pelit, Lili mau nyusul kak Rey aja deh ", Lili pun langsung pergi ke dalam rumah untuk menyusul Rey.
Sementara itu aku melanjutkan menjemur kasurku.
10 menit berlalu...
Karena aku khawatir dengan Chuya, aku pun pergi mencarinya ke kota.
Aku menjelajahi beberapa tempat di kota Scaro itu seperti Guild Petualang, Cafe, Taman bermain, dll.
Namun setelah 2 jam aku tidak menemukan Chuya lagi.
" Hhh... udah 2 kalinya dia menghilang gini, aku harus gimana ? ", ucapku sambil berjalan mencari Chuya.
" Oh kau sedang mencari sesuatu ya ? ", ucap seorang gadis.
Aku pun menoleh ke suara tadi dan...
" Eh... putri Claire ? ", tanyaku.
" Wah kau yang kemarin ya, Chiro kan namamu ? ", sahut putri Claire.
" Iya hehe ", ucapku.
" Kenapa? jelaskan saja padaku, tenang saja aku temanmu kok ", ucap putri Claire sambil tersenyum.
" Tapi sebelum itu kita cari tempat duduk dulu, kamu kan seorang putri ", ujarku.
" Terserah deh ", jawabnya.
Kami berdua pun mencari tempat duduk yang layak untuk tuan putri, setelah sekitar 10 menit an, akhirnya kami menemukan tempat duduk yang bersih dan layak untuk putri Claire.
Kami berdua pun duduk bersebelahan di kursi taman itu.
" Nah sekarang cerita aja gak pa pa kok ", ucapnya.
" Ba-baiklah ", jawabku.
Aku menceritakan kepadanya tentang menghilangnya Chuya untuk yang kedua kalinya.
" Oh jadi temanmu yang kemarin itu ya ", ucapnya.
" Iya, kenapa dia menghilang gitu, apa aku melakukan kesalahan ya hm... ", ucapku.
" Tidak tahu sih, tapi kalau mau ku kasih tahu sihir yang bisa untuk mencari sesuatu bahkan orang atau makhluk aneh ", ucapnya.
" Bagaimana tuh ? ", ucapku sembari memasang muka penasaran ke dirinya.
" Eh... baiklah... nama sihirnya adalah Search ", ucapnya.
" Humm terus ", ucapku.
" Nah coba kamu pejamkan mata ", ucapnya.
Aku pun memejamkan mataku...
Saat aku memejamkan mataku sesuatu yang menyentuh di pipiku terasa lembut, aku tidak tahu itu apa, segeralah aku membuka mataku lagi.
" A-apa itu woi ", ucapku.
" Gak pa pa kok, hihihi ", ucap putri itu.
" Hhh ya sudah, selanjutnya ? ", tanyaku.
" Kau ucapkan mantra itu sambil membayangkan apa yang kamu cari, lebih baik sambil menutup matamu ", ucap putri Claire.
" Baiklah aku lakukan ", ucapku.
" Itupun kalau kau bisa melakukannya, karena itu skill sihir tingkat 12, bakal susah dilakukan untuk rakyat jelata sepertimu, kalau gagal kau akan pingsan terus aku bisa menculikmu hihi ", ucap putri Claire di dalam pikirannya.
Aku melihat Chuya ada disebuah labirin, sepertinya dia tersesat dan labirin itu juga terasa tidak asing bagiku.
" Ketemu... ", ucapku.
Putri Claire pun kaget setelah aku berhasil menemukan Chuya.
" Ba-bagaimana bisa? eh hehe selamat ya ", ucapnya.
" Baik, makasih ya, ini berkat bantuanmu juga sih ", ucapku.
" Duluan ya, waktuku hanya sedikit, bentar lagi sudah sore ", Aku pun langsung bergegas pergi dari putri Claire dan melambaikan tanganku kepadanya. Dia juga membalas lambaian tanganku tapi sepertinya dia sangat kesal, gak pa pa lah, nanti aku tanya ke dia saja kenapa dia terlihat marah.
Saat dijalan aku pun memikirkan tempat dimana Chuya berada itu, sepertinya itu labirin saat aku bertemu dengan Ilulu.
" Hmm nyoba dulu deh ke sana, semoga saja benar tempatnya ", gumamku.
" Teleport ", ucapku.
Aku langsung berada di depan labirin itu, semoga saja aku menemukan Chuya di sini.
Tap... tap... tap...
Aku berjalan memasuki labirin itu, untung saja aku sudah pernah di tuntun oleh Ilulu jadi bisa tahu jalan di labirin ini tanpa tersesat.
" Aaaaaa, tolongg.... ", suara seorang cewek.
Aku pun langsung merespon suara itu, aku mengira itu adalah Chuya, semoga saja tebakanku benar.
Set.. set..
Aku berlari secepatnya menuju sumber suara tadi.
" Kyaaaaa ", suara cewek berteriak lagi.
Suaranya semakin dekat, aku terus berlari di labirin itu hingga...
" Minggir kau dasar hewan menjijikan ", suara cewek itu.
Aku sampai di tempat.
Ternyata benar...
Cewek itu adalah Chuya.
" Woi Chuya... ", ucapku.
" Ah... Chi... tolong aku T^T ", Chuya merengek minta ditolong.
Aku melihat di belakang Chuya itu ada gerombolan slime, ada beberapa slime dan berwarna-warni juga mereka, ada yang besar ada yang kecil.
" Sini Chuya, kita basmi slime-slime itu, hihi ", ucapku.
Aku dan Chuya mengambil posisi menyamping untuk melawan secara bersamaan.
" Ayo Chuya, Fire Ball ", ucapku.
" Baik... Rain Arrow ", ucap Chuya.
Wushhhh...
Kami berdua membasmi beberapa slime tersebut.
5 menit kemudian...
" Gosh... gosh... capekk... ", ujarku.
" Haha masa segitu doang capek ", ucap Chuya.
" Habisnya... gak tau sih, apa gara-gara aku merapal sihir pencarian tadi ya ", ucapku.
" Eh... emangnya Chi nyari apa ? ", tanya Chuya.
" Ya nyari kamulah, ada hal yang ingin kutanyakan ke kamu tentang kamarku ", ucapku.
" Ma-maaf Chi soal kamarmu, hehehe ", ucapnya.
Chuya langsung memasang muka ketakutan.
" Hah, minta maaf buat apa? aku hanya mau berterima kasih saja, kamu kan yang membereskan kamarku ? ", tanyaku ke Chuya.
" Etoo... i-iya sih hehe ", ucap Chuya dengan gugup.
" Makasih banyak ya ", ucapku sambil tersenyum.
Brugh...
Aku terjatuh.
" Chi... kau kenapa ? ", tanya Chuya.
" Sepertinya aku kelelahan, hehe ", ucapku sambil berusaha berdiri.
Chuya memberikanku sebuah botol berwarna biru.
" Minumlah ini ", suruh Chuya.
" A-apa ini ? ", tanyaku.
" Minumlah cepat, dasar bodoh ", ucapnya kesal.
Gluk... gluk...
Aku meminum isi dari botol itu, rasanya tidak ada yang aneh sih tetapi.
" Woah... aku sudah tidak kelelahan lagi, hahaha ", ucapku dengan gembira.
" Baguslah ya, hehe ", ucap Chuya.
" Oh iya aku mau tanya lagi, apa bener kamu yang mengompol di kasurku? Lili dan Rey sepertinya sudah tahu juga sih ", sahutku.
Bukh...
Aku dipukul Chuya sangat keras dan langsung pingsan.
" Ah maaf... Chi...? Chi...? bangun... hwe... aku tidak hafal jalan di sini, dan tidak bisa memakai sihir teleport loh... bangun ahh ", ucap Chuya sembari berusaha membangunkanku.
...----------------...