The Adventure Of Chi

The Adventure Of Chi
Chapter 29



Sret...


Zarth mencekik leherku dengan keras dan memojokkanku di tembok.


" Apa-apaan kau rakyat jelata, beraninya kau bersikap sombong kepada kami para bangsawan hah ", sahut Zarth dengan nada marah.


Aku ingin menjawab tetapi tidak bisa karena cekikannya terlalu kencang.


" Hei sudahlah Zarth kasihan dia ", ucap putri Claire.


" Orang seperti dia tidak perlu dikasihani, kita harus menghajarnya di sini ", ujar Zarth.


Bangsawan yang satunya hanya bisa melihat dan berjaga-jaga jika ada seseorang di sekitar tempat itu.


" Ugh... tu-tunggu... ", sahutku yang tengah kesusah untuk bicara.


" Hah kau bilang apa ? ", sahut Zarth.


" Le-lepaskan aku, ugh... ", ucapku sambil memegang tangannya Zarth yang begitu kencang mencekikku.


" Sudah Zarth lepaskan dia ", ucap Claire.


" Hah? lepaskan? cih, rasakan ini ", Zarth mengepal tangannya dan langsung mengayunkannya untuk memukul mukaku.


Wushhhh... (suara angin dari ayunan tangannya Zarth)


Namun saat tangannya Zarth hampir mengenai mukaku...


Slap...


Chuya tiba-tiba muncul di sampingku dan menangkis serangan dari Zarth menggunakan tangan kosongnya. Zarth pun reflek melepaskan cekikannya dan langsung mundur ke belakang.


" Chu-Chuya? kenapa kamu bisa kesini ? ", tanyaku ke Chuya.


" Ini kan sudah waktunya aku menjemputmu, dasar bodoh kau malah terkena masalah di sini ", ujar Chuya.


" Hehe ", ujarku.


Zarth giliran melototi Chuya.


" Woe kau... eh... ", saat Zarth melihat Chuya entah kenapa sikap dia menjadi berubah dan seperti menyukai Chuya.


" Hah ada apa? tunggu sebentar... bukannya kau yang ada di penginapan itu ya ", ujar Chuya.


" Cantik sekali...", sahut Zarth yang tengah melihat Chuya.


Chuya merasa jijik karena dilihatin terus seperti sedang dilecehkan, ia pun langsung menggeret diriku untuk keluar dari Istana itu.


Namun saat ingin melangkah pergi...


" Tunggu... kau siapanya dia ? ", tanya putri Claire kepada Chuya.


" Oh aku temannya dia, kenapa emang ? ", sahut Chuya.


" Oh teman ya, kukira kalian itu adik kakak karena sama rambutnya sama, ya udah silahkan pulang ", ujar putri Claire.


" Baik tuan putri ", sahut Chuya.


Kami pun segera keluar dari Istana, namun Zarth dan bangsawan cowok yang satunya seperti sedang terhipnotis saat melihat Chuya.


" Cih menjijikan ", ujar putri Claire kepada kedua bangsawan itu.


Aku dan Chuya berada di luar gerbang Istana itu untuk berbicara sedikit tentang kejadian tadi.


" Hei Chi, apa yang terjadi tadi? kau berbuat ulah apa sampai 3 bangsawan tadi sepertinya ingin menyerangmu ", ujar Chuya.


" Ah tidak... bukan begitu ", ujarku.


Tiba-tiba Ilulu muncul dari belakang Chuya.


Wushhhh...


" Bwaa... ", teriak Ilulu yang berusaha mengagetkan kami.


" Hwaaaa ", ucap kami berdua karena kaget.


" Hahaha, masa kayak gitu doang kaget ", ucap Ilulu.


Aku dan Chuya memasang muka sinis ke Ilulu.


" Wah kalian mirip ya kalau dilihat seperti itu ", ujar Ilulu.


Aku dan Chuya serentak menggelengkan kepala.


" Nah loh mirip apalagi gerakannya bareng gitu ", ujar Ilulu.


" Engga mirip... ", ucapku dan Chuya secara bersamaan.


" Lah bareng lagi hahaha ", ujar Ilulu.


" Hhhh sudah-sudah, ngomong-ngomong Ilulu, kenapa kamu kesini ? ", ucapku.


" Oh sebenarnya aku sudah mengikutimu dari awal sih Asaka, dan aku sedikit membantu kalian saat terpojok tadi ", jelas Ilulu.


" Tu-tunggu... membantunya saat kapan ? ", tanyaku.


" Saat... hehe... itu... si Zarth terpikat sama Chuya ", ucap Ilulu.


" Hooo jadi ini ulahmu ya hihihi ", sahut Chuya dengan memasang muka seram.


Chuya langsung merapalkan sihir dan membidiknya ke Ilulu.


" Tu-tunggu... ", ujar Ilulu.


Duar...


Ilulu terkena sihirnya Chuya dan langsung tergeletak lemas.


" Nah sekarang aku mau dengar ceritamu Chi, kenapa kamu bisa bersama 3 bangsawan tadi ? ", tanya Chuya ke arahku dengan senyumannya seperti pembunuh.


Aku ragu untuk menceritakannya, namun aku tetap akan menceritakan kejadian itu.


15 menit setelah aku bercerita.


" Hmm hmm begitu ya... ", ucap Chuya.


" Iya hehe ", ucapku.


" Berarti tadi kamu berduaan ya sama putri itu ", ucap Chuya sambil tersenyum.


" Uhm iya hehe ke-kenapa emang ? ", ucapku.


Bakh...


" Akh... sakit woi ", ujarku.


" Salah siapa suruh berduaan sama dia, pertama dipeluk pelayan yang ada di Guild Petualang, terus berduaan sama tuan putri, dan lagi di dalam Istana ", ujar kesal Chuya.


" Uhm... memangnya kenapa ? ", tanyaku.


Ilulu pun bangun dan langsung mengatakan " Kau memang bodoh ya Asaka, Chuya itu cembu---",


Bakh...


Chuya menendang Ilulu dengan keras tepat di perutnya, Ilulu pingsan lagi setelah itu.


Aku yang melihat Chuya seperti itu jadi seram dan takut.


" Cembu? kamu cemburu ? ", tanyaku.


" I-iya aku cem-- hah engga engga, aku gak cemburu, najis amat cemburu sama kamu ", ujar Chuya sambil membuang mukanya.


Ilulu bangun lagi dan mengatakan " Hey hey Asaka, sebenarnya Chuya itu mencin--- ",


Bakh,Bakh,Bukh...


Chuya menghajar Ilulu lagi dan memastikan kalau kali ini Ilulu benar-benar pingsan.


" Anu... apa yang dimaksud Ilulu itu mencintai ? ", tanyaku dengan wajah polos.


" Engga kok engga hehe ", sahut Chuya sambil menendangi Ilulu.


" Yakin nih ? ", tanyaku.


" Yakin apa ? ", sahut Chuya.


" Baiklah... sebenarnya, aku... menyukaimu Chuya... ", ucapku sambil memalingkan wajahku ke samping dengan ekspresi malu.


" Eh... ", Chuya kebingungan dan dia juga memalingkan pandangannya ke samping kanan dan samping kiri.


Kami berdua pun seperti itu terus selama 15 menit.


Setelah itu, Ilulu pun bangun lagi.


" Hoe... yuk pulang ke rumah, sudah malam juga loh ", sahut Ilulu.


" Ba-baiklah ", ucapku dan Chuya secara bersamaan.


Ilulu tersenyum, entah apa yang dia senyumin tapi itu membuatku jengkel.


Kami bertiga pun segera pulang ke rumah.


...----------------...


Saat tiba di rumah kami bertiga langsung mengistirahatkan diri kami di ruang tamu. Ilulu dan Lili pergi sebentar keluar untuk membeli sesuatu.


Saat di jalan tadi aku dan Chuya tidak dapat berbicara, bahkan tidak saling menatap muka, saat tidak sengaja melihat muka, kami pun langsung saling membuang muka seperti sedang malu.


" Hmm... apa yang terjadi pada kalian ? ", tanya Rey.


" Ti-tidak apa-apa kok hehehe ", ucapku dan Chuya secara bersamaan.


" Kok ngomongnya bisa bareng ? ", tanya Rey.


Aku pun langsung melihat Chuya, namun Chuya juga melihatku. Setelah itu kami pun langsung saling membuang muka.


Rey yang melihat tingkah kami berdua, ia pun langsung tersenyum dan meringis.


" Sudah deh aku mau tidur dulu ", ucapku.


" A-aku juga ", ujar Chuya.


Aku langsung berhenti...


" Ah tidak jadi deh, aku mau di sini sebentar hehe ", ujarku.


" Aku juga ", sahut Chuya.


Entah kenapa tapi Chuya sepertinya daritadi mengikutiku terus.


" Pfft... hahaha ", Rey menertawai kami berdua.


" Ngomong-ngomong Rey, party kita kan menang dibabak pertama, terus selanjutnya gimana ? ", tanyaku ke Rey.


" Oh iya aku lupa ngabarin, babak keduanya lusa besok, jadi masih ada waktu buat istirahat ", jelas Rey.


" Baiklah aku paham, aku duluan ya mau tidur ", ujarku.


" Aku juga ", lanjut Chuya.


Aku segera pergi ke kamarku, namun aku melihat Chuya mengikutiku.


" Hmm ka-kamu mau kemana ? ", tanyaku.


" Tidur ", balasnya.


Aku berusaha untuk mencegahnya masuk ke kamarku, namun dia ngeyel ingin masuk.


Aku sudah menutup pintuku, tapi dia bisa lewat jendela.


Aku mengunci jendela juga, namun dia bisa memakai sihir teleportasi untuk ke kamarku.


" Apasih maumu ", ucapku ke Chuya yang berada dikamarku.


" Mau tidur di sini ", ujarnya.


" Hhh terserah dah, tapi jangan satu ranjang denganku ", ucapku.


" Baiklah, Chuya akan tidur di lantai ", ujar Chuya.


Chuya segera tidur di lantai kamarku, aku pun menyusulnya tidur di kasur.


Beberapa saat kemudian...


Aku tidak bisa tidur karena memikirkan Chuya terus, aku merasa kasihan kalau dia tidur di lantai seperti itu.


" Hadeh... ini anak ", ucapku dengan menghela napas.


Aku pun memindahkan Chuya untuk tidur di kasurku, sedangkan aku akan tidur di lantai saja.


Zzz... Zz... z...


...----------------...