
Hari yang cerah seperti biasa, mungkin tidak karena hari ini aku berharap akan semakin seru karena saat yang kutunggu tunggu telah tiba.
Aku bangun dan sarapan bareng teman-temanku seperti biasanya.
Saat di meja makan...
" Hey hey... kalian ingat kan? hari ini hari apa ? ", ucapku dengan penuh semangat.
" Oh... hari Selasa kan ? ", ucap Rey.
" His... masa kalian lupa... hari ini kita akan menghadiri event itu... ", ucapku.
" Iya Chi kami ingat kok, kamu aja yang terlalu bersemangat, hihihi ", ucap Chuya.
" Huft biarin ", ucapku dengan nada kesal.
" Hahaha ", mereka berempat menertawaiku dan mengejekku seperti anak kecil, ya mau gimana lagi? ini kan yang pertama kalinya bagiku untuk bertarung dengan orang lain.
Setelah menyiapkan semuanya, kami pun segera berangkat ke Guild Petualang untuk menghadiri eventnya.
Saat diperjalanan...
Tap... Tap... Tap...
" Hey hey... tapi aku sedikit khawatir soal kekuatanku ", ucapku dengan wajah pesimis.
" Khawatir kenapa kamu? ", ucap Ilulu.
" Habisnya... kekuatanku gak jelas, dan aku masih belum dapat menguasainya dengan benar ", ucapku.
" Hah!!! apa kau lupa? siapa yang mengalahkanku dulu tanpa bantuan orang lain ? ", ucap Ilulu.
" Kan itu aku tidak sadar, hehe ", ucapku.
" Terserah dah, yang penting kita sudah berusaha dulu, kalau gagal juga gak rugi, hitung-hitung aja nambah pengalaman ", ucap Ilulu.
Setelah ngobrol sedikit, kami pun akhirnya tiba di tempat tersebut.
Kreeek...
Kami berempat masuk di Guild Petualang itu dan menunggu pengumuman dengan duduk di kursi yang telah disiapkan oleh pengurusnya sesuai party/regu.
Aku melihat sekitar dan aku melihat om Gardon beserta partynya yang terlihat badas, orang-orang yang mengikuti event ini rata-rata berwajah sangar dan seperti bangsawan, emm mungkin memang bangsawan sih, " emakkk tolong aku ", ucapku dalam hati.
Setelah menunggu lama, akhirnya si Chalia muncul dan menjelaskan semua peraturan tentang event itu.
" Hadirin sekalian... ehm ehm... tolong diam dulu ", teriak Chalia.
Akan tetapi suasana di dalam tempat itu masih ramai. Chalia terlihat kesal karena tidak ada yang mendengarnya.
Tiba-tiba seseorang menggunakan sihirnya untuk mengalihkan perhatian.
" Darkness ", ucap suara cewek.
(Note: Darkness adalah skill sihir tingkat 7 yang dapat membuat daerah sekitarnya menjadi gelap gulita dan diameternya mencapai 20m.
Seluruh ruangan langsung menjadi gelap dengan cepat, semua orang pun langsung terdiam.
" Diamlah kalian semua dasar sampah, dengerin panitia dulu ", ucap seorang cewek tadi.
Ruangannya pun berubah lagi menjadi normal dan semua orang tertuju ke Chalia selaku panitia event tersebut.
" Ah terima kasih kak--- eh maksutku tuam putri ", ucap Chalia.
" Sudahlah cepat umumkan ", ucap cewek tadi.
Ternyata cewek yang mengeluarkan sihir tadi adalah seorang putri dan aku mengenalnya saat mencari Chuya di Istananya. Apa yang dia lakukan? kenapa seorang putri seperti dirinya mau mengikuti event ini. Sekilas aku teringat ucapan om Gardon " Jangan sampai mati ".
Aku berusaha menenangkan diriku dengan cara mengambil napas yang panjang.
Gosh... Huft... Gosh... Huft...
" Apa yang kamu lakukan Chi ? ", ucap Chuya sambil menatapku dengan aneh.
" Ah tidak kok hehehe ", ucapku sambil menggaruk kepalaku.
Lanjut...
Chalia pun langsung mengumumkan peraturan yang akan berlaku pada event tersebut.
" Baiklah semuanya mohon didengar, karena tidak akan ada pengulangan lagi.
Peraturan pertama; tidak boleh meminta bantuan kepada orang luar yang bukan teman satu partynya saat pertandingan berlangsung.
Peraturan kedua; tidak boleh menggunakan skill sihir tingkat 11-15(maks) namun dapat menggunakan skill dari senjata sampai tingkat 4(maks).
Peraturan ketiga; tidak boleh memunculkan pet untuk membantu dalam event ini.
Peraturan keempat; jika ada salah satu orang dari party itu yang keluar dari arena atau terbunuh maka party itu akan terliminasi.
Kalian bebas pakai trik seperti apa asal tidak melanggar peraturan itu ", jelas Chalia kepada seluruh peserta.
" Woe bocil apa aku boleh nanya ? ", ucap seorang cowok sambil mengacungkan tangannya.
" Apasih jangan panggil aku bocil humph, nanya apa? buru... ", ucap Chalia.
" Dimana tempat kami bertarung nanti ? ", ucap seorang cowok.
" Oh untuk itu, kalian akan bertanding di Arena Battle milik Istana ", ucap Chalia.
Seketika semua orang langsung saling berbisik dengan tatapan wajah sangat senang.
" Hee... benarkah? asik... baru pertama ini aku akan bertarung di sana ", ucap seseorang.
Aku tidak terlalu tahu soal Arena itu yang penting nanti aku akan menang, semoga saja.
" Oh iya satu hal lagi ", ucap Chalia.
Namun para peserta asik dengan obrolan mereka sendiri dan Chalia pun merasa dicuekin lagi.
Chalia melempar salah satu kursi ke gerombolan para peserta agar semuanya terdiam. Hanya saja kursi itu mengenai diriku tepat dikepalaku.
" Ah Chi... kamu tidak apa-apa ? ", tanya Chuya dengan khawatir.
Aku tidak bisa menjawab Chuya karena sekilas aku langsung terbaring pingsan dengan wajah tersenyum seperti orang gila.
" Hiss... bisa gak sih diam dulu napa ", teriak Chalia.
Semua orang langsung terdiam dan Chalia pun melanjutkan kata-katanya.
" Barangsiapa yang mati atau sekarat nanti segera bawa ke dalam istana ", ucap Chalia dengan memasang muka seperti pembunuh.
Chuya, Lili, dan Rey pun langsung takut setelah mendengar itu.
" Sekian dari saya, segeralah pergi menuju Arena Istana ", teriak Chalia.
" Tunggu Chalia... kau harus tanggung jawab soal ini ", ucap Chuya.
Chuya melihatkan diriku yang sedang tergeletak pingsan dengan wajah seperti orang bodoh.
" Ah maaf-maaf hehe, akan segera ku obati dia saat tempat ini sudah sepi ", ucap Chalia.
Semua peserta segera pergi ke Arena Istana kecuali partyku, yah kalian taulah mengapa :v
" Hey Chalia tempat ini sudah sepi, tolong segera sembuhin Asaka ", ucap Rey.
" Ah baiklah, tapi tunggu... kalian beneran mau melihatnya ? ", ucap Chalia.
Chuya, Rey, Lili, dan Ilulu mengangguk bersama.
" Hadeh... baiklah ", ucap Chalia.
Chalia pun mengangkat diriku dan tiba-tiba dia memelukku. Seketika teman-temanku pun kaget akan hal itu, terutama Chuya.
" Apa yang kau lakukan dasar wanita ****** ", ucap Chuya dengan nada marah.
" Hehh tunggu dulu, ini adalah skill unikku, kalau kupeluk orang yang sedang sekarat dia akan cepat pulih ", ucap Chalia.
" Cih... gak adil ", ucap Chuya.
" Hee... kau cemburu ya Chuya, fufufu ", ucap Rey dengan wajah mengejek.
Bugh...
Chuya pun langsung menendang bijinya Rey dengan keras dan Rey merasa sangat kesakitan.
" Ampun mbak Chuya, hahaha ", ucap Rey sambil tertawa dan menahan rasa sakit.
Tidak lama setelah itu, aku pun bangun...
" Oh... heh... Cha-Chalia apa yang kau lakukan ", teriakku.
Aku reflek mendorong Chalia menjauh dari hadapanku.
" Ugh... ahh kakak jahat ish, padahal enak loh dipeluk itu, hihi ", ucap Chalia.
Chuya seketika langsung menatap tajam Chalia dengan hawa ingin membunuhnya.
" Ah engga kok, nah sekarang kalian juga cepat menyusul mereka di Arena ", ucap Chalia.
" Hah Arena apa ? ", ucapku yang tidak tahu apa-apa.
Aku pun diseret oleh Chuya untuk segera pergi ke Arena tersebut dan mereka berempat menjelaskan kepadaku saat diperjalanan.
Tap... Tap... Tap...
Seseorang mengikut kami dari belakang, aku menyadarinya sih sejak awal hanya saja tidak ingin membuat kekacauan jadi kubiarin.
" A-anu... ", ucap seseorang di belakang.
Akhirnya dia ngomong daripada diikutin terus menerus seperti penguntit.
" Hum ? ", tanyaku pada orang itu.
Namun saat aku melihat dirinya, rupa-rupa warnanya, merah kuning kelabu, tunggu woi nyanyi sedikit tidak masalah kan ya :v
Rupa-rupanya dia adalah tuan putri kemarin yang menuduhku sebagai penculik bayi. Dia pun menundukkan kepalanya padahal dia itu seorang putri bangsawan.
" Heh... kamu itu kan seorang putri, kok sampai nunduk gitu ", ucapku.
" I-itu... humph... kamu yang berbaju hodie biru bisa minta waktu sebentar ? ", ucap putri itu.
" Oh... tapi... ", saat aku melirik ke arah Chuya, Chuya pun memasang muka kesal, entah apa yang dipikirkannya, aku tidak tau.
" Chuya? kamu kenapa ? ", tanyaku pada dirinya.
" Tidak apa-apa huft... sana cepat, nanti kami tunggu di Arena saja Chi ", ucap Chuya sambil mengajak yang lainnya segera ke Arena.
" Woe tung--- ah terserah dah, oh iya ada apa ya ? ", ucapku ke arah putri itu.
" Soal yang kemarin... terima kasih ya ", ucap Putri itu.
" Eh? buat apa ? ", ucapku.
Putri itu mencoba melihat wajahku dan mengatakan " Soal yang adikku kejatuhan almari... bu-bukan itu yang kumaksut ".
" Oh bayi kemarin bisa bicara ya ternyata dan itu adikmu, aku sungguh tidak menduganya haha ", ucapku.
" Bukan berarti aku berterima kasih padamu, aku hanya mau memberikan ini, dari adikku ", putri itu memberikanku sebuah jubah hitam yang sangat keren.
" Wah beneran ini untukku ? ", ucapku.
Putri itu tidak mengatakan apapun dan dia langsung pergi menjauhiku, padahal aku belum bilang terima kasih, hadeh... apa aku kembaliin saja ya... ah sudahlah lumayan sih jubahnya.
Aku pun segera menyusul yang lainnya ke Arena untuk menghadiri event.
...----------------...