
"Hahhh, emang paling enak tuh masa pedekate," Vanka memasukkan wan ton dalam sekali caplok. "Makasih lu ama gua, kalo ga gua cekokin, kita ga bisa dapet paket dimsum sebanyak ini dari... Siapa tuh namanya?"
"Fahmi," Tara mengunyah hakaunya dengan penuh nikmat. Siapa yang tak senang dapat maksi gratisan, walau tak diantarkan langsung oleh Fahmi, tak masalah. Setidaknya uang makan siangnya bisa ia alihkan untuk membeli persediaan sheet mask.
"Terus, yang mana nih yang Lo gandeng?" Vanka memandangnya dengan wajah jenaka. Kedua alisnya naik turun.
"Ah, masih dateng pergi kok, lagian kayak lu bilang masa pedekate memang paling menguntungkan,"
"Iyalah, kapan itu gua liat lu dianter, eh yang jemput beda. Hahaaahah."
"Irit ongkos, irit bensin," Tara terbahak.
"Duh, ada yang mau jadi playgirl nih kayaknya," sahut seseorang di belakang mereka. Susi.
"Eh, Susi, dari pada nyinyir mending nih cobain dimsum," Vanka menawarkan padahal dalam hatinya ia ingin sekali menjejalkan satu dimsum langsung tanpa menawarkan. Tapi dimsum itu bukan miliknya.
Tara menggeser wadah dimsum itu agar Susi dapat mengambil, "cobain aja siapa tau sesuai lidah."
"Boleh?" Wajahnya tetiba berseri.
Tara dan Vanka mencuri pandang saat Susi mengambil satu, mereka sepakat akan satu hal. 'kepengen aja nyinyirnya ga bisa direm."
"Oh lumayan ya," Susi berpendapat.
"Kalau mau lagi ambil aja," ujar Tara.
"Beneran?"
"Itu udah ditawarin ya beneran lah," sungut Vanka.
"Boleh bagi wadah ga? Aku makan di mejaku aja, dari pada berdiri pegel," pintanya.
"Oh, iya, iya..." Tara melepaskan tutup wadah dan menyerahkan pada Susi yang langsung memindahkan beberapa potong dimsum.
"Thank you, Tara. Udah pilih yang pasti-pasti aja," lalu Susi berlalu.
"Halah, tuh orang ga tau malu bgt," Vanka semakin gusar.
"Udah lah, lagian dimsum sebanyak itu juga ga bakal abis kita," Tara menenangkan temannya itu yang wajahnya menjadi ganas seketika.
"Eh, tapi, masa dari mereka ga ada yang Lo rasa beda gimanaaa gitu," sekejap Vanka mengubah ekspresinya menjadi antusias.
"Hmm..." Tara menyenderkan tubuhnya, "kalo Fahmi si enakan temenan deh, ga ada kesan khusus. Walau lucu sih dia, Van... Gua yakin sih kalo Lo ketemu dia pasti demen lu godain."
"Mana fotonya?" Kejar Vanka.
"Dih, nih anak," Tara mengambil ponselnya dan mencari profile picture Fahmi dalam aplikasi pesannya.
"Iya lucu ih, terus kenapa ga sama dia?" Vanka bolak-balik memperbesar foto Fahmi.
"Lap tuh liur," ujar Tara yang hanya dibalas cubitan ganas. "Sakit, gelo."
"Terus?"
"Ada Genta, lumayan masuk sih sama kriteria gua. Dewasa, ngemong, selalu ada kalo dia punya waktu. Kerjaannya ngurus galeri sih, lagi high season gini, banyak yang pameran. Menurut gua juga dia sukses," nilai Tara.
"Yang ini yak?" Tanya Vanka yang sudah memperbesar foto Genta sebesar layar.
"Astaga, luuu... Mandiri amat buka-buka," rutuk Tara.
"Abis semua lu kasih SL, apa lagi kalo buka SwipeLove," Vanka memperlihatkan bukti. "Lagian gua bisa nilai orang dari mukanya, muka muka brengsek tuh gampang banget keliatannya."
"Sok tau, ngana. Yah, belom ada yang spesial biarin aja dikasih SL semua, hihihi" Tara terkekeh.
"Kalo Budi?"
"Ah, skip aja ga jelas tuh orang."
"Dave nih, Dave?!"
"Oh, si Dave. Ahh rada ngebosenin sih dia tapi sering nawarin pulang bareng, dia kerja di Sentosa situ," jelas Tara.
"Bukan, ini ada telpon, Taraaaa..." Vanka menyodorkan ponsel itu kembali pada pemiliknya.
"Kok ga ada suara sih? Gua silent ya? Hai, Dave. Gimana?" Jawab Tara atas panggilan itu.
"Eh, aku dibawah nih," suara diujung telpon. "Bisa kebawah sebentar?"
Dia dibawah, ujar Tara tanpa suara pada teman di sebelahnya. "Oh, bentar aku turun ya, Dave."
"I'll wait for you."
"Di bawah, dia?" Tanya Vanka.
"Iya," Tara merapikan bungkusan dimsumnya dan mengambil kartu pegawainya di laci. "Mau ikut?"
"Gua intip dari kejauhan," Vanka ikut berdiri sambil men-touch up wajahnya.
"Duh, gua aja ga gitu-gitu amat," Tara menggeleng.
"Eh anak Medio di lantai bawah tuh mayan buat dikecengin," Medio perusahaan media kecil yang menyewa sebagian lantai dasar Media Group Indo. Anak media jelas semua memperhatikan penampilan, apalagi cowok-cowoknya.
"Vanka, Vanka..."
***
"Oh mau buat iklan?" Tara mengabaikan gestur Dave.
"Mau kerja sama buat sos-mednya Sentosa, kayaknya kita bakal sering ketemu, Tara," ujar Dave tanpa disadari Tara memperhatikan dirinya dari ujung kepala hingga kaki. "Kapan kita makan malam? Jumat malam?"
"Umh... Tanggal 11 ya?" Tara pura-pura berpikir. Oh maaf, aku ga bisa, tanteku ulang tahun," karang Tara. Entah mengapa untuk pergi keluar ia masih belum bisa menyanggupi jika itu Dave yang menawarkan.
"Kenapa ga ajak aku aja ke ultah tantemu?" Dave menaikkan satu alisnya.
"Belum sekarang kali, ya Dave, gak apa-apa, kan?" Tolak Tara halus.
Dave terdiam sejenak, ada ekspresi yang tidak bisa Tara tebak dari wajahnya. "That's okay. Yet, I hope you wanna come when I ask you to met my parents."
"Oh," waw terlalu cepat dari dugaannya, "bisalah, kapan-kapan."
Dave melirik jam tangannya, "Ah, aku harus pergi sekarang, harus ke Pabrik Sentosa dulu."
"Oh gitu, careful Dave," kata Tara.
"I'm gonna miss you, Tara," Dave berbalik dan melangkah pergi.
Tara memindai kartu pegawainya pada entrance gate dan masuk. Vanka yang sedari tadi pura-pura berbincang dengan resepsionis yang jauh terlihat hanya mengelus-elus vas bunga di meja itu, secepat kilat mendekati Tara.
"Mateng coy," sikutnya.
"Heh, bisa ga sih Lo tuh jangan merespon berlebihan gitu. Behave," ujar Tara sambil menekan tombol lift.
"I wonder how strong he's on bed," Vanka memandang kelangit-langit khayalannya.
"Gosh, Vanka," Tara risih dan hanya mendapat kikikan seru dari Vanka.
***
"Aji Harada? Serius dia pameran di galeri kamu?" Tara berseru takjub.
"Untunglah, jarang banget beliau pameran di Indonesia, lebih sering pameran diluar," Genta melirik kaca spion.
Aji Harada seniman pemahat dan pelukis. Jarang sekali seorang seniman dapat meleburkan dua jenis seni menjadi satu karya yang menakjubkan. Yang paling iconic adalah karyanya bertajuk Buih Memecah, pahatan berbentuk ombak dengan buih realis lukisan Aji Harada. Akhirnya pahatan itu nyaris 100% sangat mirip dengan deburan ombak asli. Namun jika dilihat dari jauh, pecahan buihnya akan terlihat seperti wajah yang terbagi dua.
"Beliau pameran 3 hari, hari terakhir beliau hadir di galeri dan ada gala dinner, kamu berminat datang, Tar?" Ajak Genta. "Temani aku malam itu..." Imbuhnya.
"Gonna told you, Gen," Tara menjawab.
Genta menepikan mobilnya saat tiba di depan rumah Tara. Ia sedikit kecewa waktu berjalan terlalu cepat padahal ia sudah mengambil jalan paling jauh untuk sampai di tujuan.
"Thanks, Genta, sudah antar. Mau mampir?" Tawar Tara.
"Aku langsung aja, salam buat Tante ya. Sama," pria itu mengambil sesuatu di jok belakang. "Buat Tante, semoga aja suka donat."
"Ya ampun, repot-repot banget," Tara menerima bungkusan yang diberikan Genta. "Mama ga milih-milih makanan sih, thanks ya."
"Selamat istirahat, Tara," Genta memandang kedua mata Tara.
Jantung Tara berdegup. Ini pertama kalinya hatinya tergelitik dengan kehadiran Genta.
"Selamat malam, Genta. Hati-hati di jalan," ucap Tara.
***
Perasaan apa ini? Kenapa jantungnya berdebar saat Genta menatapnya? Waktu yang mereka habiskan bersama juga belum lama, tapi mengapa mata itu terasa 'dalam'. Tara memejamkan matanya mencoba tidur, tapi setiap ia terpejam kedua bola mata Genta seakan menatapnya. Ia cepat-cepat membuka matanya dan merasakan wajahnya memanas.
Ponsel Tara berdering, digapainya benda berisik itu dari nakas.
Rendi?
"Hai, Ren..."
"Malam Tara, sudah tidur?" Tanyanya.
"Nyaris," Tara melirik jam di dindingnya, 11:11 malam. Ia meyakini jika angka itu hadir, ada seseorang yang merindukannya. Mungkinkah? "Ada apa, Ren?"
"Mmm... Tanggal 26 kamu punya agenda?"
"26... Sabtu Minggu lusa?" Tanyanya memastikan.
"Iya," Rendi membenarkan.
"Ada apa memangnya, Ren?"
"Kantorku dapet undangan ke pameran seni, tau Aji Harada? seniman itu mau buat pameran di CreArt Galery."
CreArt Galery, galeri Genta.
"Tentulah, siapa yang tak mengenal seniman Indonesia yang terkenal di luar negri itu," Tara waspada dengan kalimat yang akan diutarakan Rendi.
"Mau temani aku ke sana?"
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Ditunggu likes, comment, kritik dan sarannya dear readers 🥰