
Perlakuan Dave terhadapnya justru menyadarkan dirinya. Mungkin alam bawah sadarnya mengirimkan sinyal kewaspadaan tingkat tinggi hingga pengaruh alkohol sudah tak sekuat awal. Tara mencoba segala cara dari mencakar, memukul bahkan menggigit agar Dave berhenti menguasai tubuhnya. Ia terhimpit oleh seatbelt dan ruangan mobil. Ia harus keluar dari sini.
"Hentikan!" umpat Tara.
"Sudah kubilang, kau tak bisa mengaturku Tara. Kau yang harus tunduk pada Tuanmu," Dave membuka beberapa kancing kemejanya sambil memandang Tara penuh napsu.
"Kau sinting," Tara menahan tubuh laki-laki itu saat kembali memojokkannya. Namun, apapun yang dilakukannya seakan seperti semut mencoba memukul pohon.
"Aku suka wanita tak bisa diatur sepertimu," Dave kembali menyarangkan ciuman pada bibir Tara. Ia melonggarkan ikat pinggang pada celana jeans-nya, "sepertinya kau butuh sedikit pendisiplinan." ujarnya disela bibirnya masih sibuk mencumbu Tara.
Sekejab Tara mendapatkan ide untuk mempertahankan dirinya, ia menggigit bibir Dave hingga pria itu memberi jarak dengan Tara. Bibirnya sedikit robek dan mulai mengeluarkan darah.
"Wanita sialan, berani-beraninya kau," Dave kembali maju dan memaksa membuka kancing baju Tara.
Tara berusaha menghalau tangan itu, beberapa tetes darah dari luka di bibir Dave menetes pada pakaiannya. Tara semakin kehilangan harapan untuk melepaskan diri dari pria yang makin membabi buta. Pria itu tetap memaksakan ciumannya hingga Tara mencicipi rasa besi khas darah.
BUG!
Kaki Tara yang bebas berhasil mengenai titik paling sensitif pria itu. Ia kembali meringkuk ke kursinya sendiri, meraung kesakitan. Susah payah Tara menggapai tasnya di bangku belakang. Tara melirik ke arah pria itu memastikan ia masih di dera rasa sakit di selangkangannya. Setelah ia mendapatkan tasnya, ia berusaha membuka sabuk pengaman. Dirasuki rasa panik, sabuk itu jadi lebih sulit untuk dibuka.
Sebelah tangan pria itu masih memegangi kehormatannya saat ia berbalik dan tangan lainnya mencekik leher Tara. "Kau tak akan bisa ke mana-mana, Tara."
Tara sulit bernapas. Lehernya sakit dan ia mulai terbatuk-batuk. Cengkraman itu bahkan tak mengendur sedikit pun. Tangan itu mendorong kepalanya hingga terpojok ke pintu mobil.
"Kau tak akan selamat setelah apa yang kau lakukan padaku," amuk Dave. Darah sudah mengalir ke leher dan kemejanya yang selalu rapi.
Tangan Tara merogoh tas mencari satu-satunya barang dipikirannya. Ia masih kesulitan bernapas hingga matanya mulai berkunang-kunang. Tangannya masih belum menemukan benda yang ia maksud. Tara tercekat dengan napas dan air mata juga ingus yang masuk ke mulutnya. AH!
Srot, srot, srot!
"Ah, sialan!" Dave memegangi matanya dan mundur. Tara tak berhenti menyemprotkan parfum ke arah Dave sampai cengkraman di leher Tara terlepas. Gadis itu mengambil napas banyak-banyak seakan ia haru keluar dari ruang hampa. Dan terbatuk setelahnya karena terlalu banyak konsentrasi parfum pada udara di dalam. Tara lalu memandang sekitar, tak ada seorang pun yang lewat di jalanan itu. Dia bahkan tak tahu di mana ia saat ini.
Kembali ia berusaha membuka sabuk pengaman itu namun nihil, akhirnya ia menarik untuk melonggarkan sabuk itu dan mengeluarkan tubuhnya yang lemas dari tali itu. Tara cepat-cepat membuka kunci pintu mobil dan keluar meninggalkan Dave yang masih mengeluh kesakitan.
Ia memacu langkahnya secepat mungkin, menjauh dari pria mengerikan itu. Kepalanya pening, lehernya sakit ia tak punya tenaga lagi namun ia berusaha terus berlari. Ia membuka sepatunya karena dirasa malah memperlambat langkahnya. Ia menenteng sepatunya dan mulai berteriak tolong pada siapa pun yang mendengarnya.
***
Laju motornya melambat dan tersendat. Saat mengarah pulang ia sudah memiliki firasat ini. Namun dengan percaya diri ia berpikir masih akan sampai di SPBU dekat rumahnya. Sialnya, jarak SPBU itu masih satu setengah kilo meter lagi dari tempat ia menuntun motor Ninja-nya. Uh, berat juga.
Rendi melihat warung kecil di depan menyediakan SPBU mini, akhirnya. Rendi mempercepat langkahnya mendorong motor itu. Dalam hatinya ia bertekad bahwa kejadian ini tak terulang lagi. Lebih nyaman membelah jalan raya tanpa susah-susah mendorong motor karena arogansinya terlalu tinggi meyakini bahwa bahan bakar masih cukup memberi tenaga tunggangannya.
Baru dua hari lalu ia pulang dari Surakarta, ia pergi ke kantor pagi ini untuk mengurusi surat resign-nya. Ia malah ditolak mentah-mentah. Perusahaan berkilah agar Rendi bertahan dulu sampai menyelesaikan project baru di Manado. Ia yakin, itu usaha mati-matian Sofia meyakinkan Benu agar menolak suratnya. Rendi belum bertemu Sofia semenjak ia pulang. Ia juga tak berusaha menghubunginya.
Dari kejauhan terdengar suara perempuan berteriak meminta tolong, beberapa orang yang sedang duduk asik berdiskusi ditemani kopi dan rokok sontak menoleh ke arah jeritan tersebut, begitu pun Rendi. Ia bersiaga.
"Tolong!!" jerit suara itu tiba-tiba membelah langit malam yang sunyi. Sosok samar itu semakin jelas terlihat, dengan susah payah ia berlari dan terus menyerukan kata tolong disela napasnya yang nyaris putus.
Perempuan itu terus berlari tanpa berusaha menepi ke arah warung yang antisipasi menunggu kemunculannya. Rendi memandang wanita yang melintas. Kecepatan larinya tak berkurang. Malah rasanya, tak terpikir bagi wanita itu untuk menghentikan larinya. Kata tolong masih terus terucap disela napasnya. Rambutnya, suaranya, sosoknya seakan mengingatkannya pada Tara, tapi tak mungkin wanita yang berlari dari gelapnya sudut malam itu Tara.
Lalu terdengar derap langkah kaki yang menyusul dari tempat wanita itu berasal. Seorang laki-laki dengan ekspresi gusar terus berlari ke arah yang sama kemana wanita itu pergi. Semua yang memperhatikan "lomba marathon" ini tahu, bahwa lelaki ini sudah membuat wanita tadi ketakutan dan mencoba melarikan diri. Sontak tanpa aba-aba mereka mengepung lelaki itu saat sampai ke area mereka.
"WOY LEPASIN GUA!" amuk laki-laki itu pada kerumunan yang menghadangnya.
Rendi melihat mata orang itu merah, penuh nafsu dan amarah. Ujung bibirnya sobek. Setengah kemejanya sudah tak dikancingkan dan banyak bercak darah.
"Lu mau ngapain bos?" seru salah seorang dari kerumunan.
"BUKAN URUSAN LO, MINGGIR LO SEMUA!!!" salaknya.
"Sori, ga bisa, Bang," kerumunan yang lain menggemakan hal yang sama.
"APA HAK LU? ITU CEWEK GUA!" umpatnya marah.
"Kalo dia cewek lu, dia ga akan lari ketakutan kayak ketemu malaikat pencabut nyawa," ujar Rendi santai.
"LU SEMUA GA TAU APA-APA! MINGGIR!" laki-laki itu mendorong salah seorang dari kerumunan untuk membuka jalan yang malah menyulut perkelahian.
Rendi tahu, melibatkan diri dalam perkelahian tidak menguntungkan baginya. Rendi menyingkir dan menghubungi polisi agar diselesaikan lewat jalur yang lebih aman. Bisa saja laki-laki itu telah melakukan pelecehan.
"Satu-satu-kosong, telepon darurat, selamat malam," sapa suara dari seberang.
"Selamat malam, pak," Rendi memandang ke arah wanita itu berlari yang sudah tak terlihat lagi dalam pekatnya malam.
***
Napasnya telah sesak, dadanya terasa panas dan ingin meledak. Kakinya lemas namun ia tak bisa menghentikan langkahnya. Keringat dan air mata telah bercampur hingga membuat matanya perih dan panas. Lehernya bekas cekikan itu masih meninggalkan rasa ngilu. Ia tak menyangka ia baru saja mengalami hal tidak menyenangkan. Tara menangis dalam diam, hatinya hancur.
Langkahnya melambat, kakinya lunglai, seakan bumi yang dipijaknya tidak benar-benar padat. Ia bahkan tak sanggup menopang kakinya untuk tetap berdiri tegak. Barang-barang sudah lepas karena cengkraman lunglai tangannya.
Sedetik sebelum lututnya menghujam aspal, sepasang tangan menahan tubuhnya. Insting untuk melindungi dirinya kembali menyala. Tara menegakkan tubuh dan melangkah mundur menghindari sepasang tangan itu, namun tubuhnya limbung dan tak seimbang. Ia akan terjerembab ke belakang namun sepasang tangan itu telah memeluknya, mencegahnya untuk terjatuh.
"Saya gak akan apa-apain, mbak," pemuda itu meyakinkan Tara lalu menuntunnya kesebuah kedai kopi kecil yang hampir tutup.
Tara didudukkan disebuah bangku. Ia sudah tidak tahu lagi di mana ia berada, pukul berapa sekarang. Dipandangi kakinya yang gemetar karena lelah.
Beberapa bagian telapak kakinya berdarah dan biru, namun ia seakan kebal tak ia rasakan sakit pada kakinya. Pemuda dari kedai itu menaruh sepasang sepatu milik Tara dekat kakinya. Ia tak bicara apa-apa.
"Minum dulu mbak," pemuda itu menyodorkan segelas air putih ke arah Tara.
Pemuda itu melihat Tara nyaris jatuh pingsan di depan kedainya saat ia memasang bola lampu yang kini sudah terpasang di atas kepala gadis itu. Yang pemuda itu sadari, ia telah memeluk wanita yang lunglai dan nyaris kehilangan napas akibat berlari.
***
Rendi mengarahkan 'kuda pacu besinya' untuk mencari perempuan tadi, otaknya merutuki apa yang sedang dilakukannya, tapi sesuatu dalam hatinya meronta dan memaksanya tetap mencari. Perlahan ditelusurinya jalanan malam yang larut itu. Karena hanya jalan alternatif, jalanan itu tidak terlalu ramai dan jalanan utama di sekitarnya masih cukup lancar.
Kemana perempuan itu berlari, sejauh apa dia tempuh? Tak mungkin kan bisa lenyap secepat itu. Rendi menelusuri tiap sisi jalanan, kebanyakan pedagang sepanjang jalan itu telah menutup tokonya. Entah mengapa timbul rasa khawatir atas wanita yang mengenalnya pun ia ragu.
Tepat sebelum belokan ke jalan raya, sebuah kedai kopi dengan banyak lampu menghias interiornya masih menyala. Di terasnya seorang pemuda dan seorang perempuan duduk dalam diam. Perempuan itu duduk nyaris terjatuh dari kursinya, menunduk memandangi gelas di tangannya. Tas dan sepatu berserakan tak jauh dari kakinya yang telanjang. Rambut panjangnya berantakan tapi memang tidak salah lagi, perempuan itu mantannya, Tara.
Tangan kanannya menaikkan gas namun kakinya menekan rem motor itu. Apakah aku harus menghampiri gadis itu? Apakah ia masih diperbolehkan menenangkannya? Apakah tindakannya lancang? Akhirnya Rendi hanya memandangi Tara dari jauh, dimatikan mesin motornya, agar mereka yang diperhatikan tidak mengetahui keberadaan dirinya.
Apa yang Tara lalui? Mengapa ia bersama dengan laki-laki bejat seperti itu di malam ini? Untung saja pria itu sudah diboyong ke Polisi untuk dimintai keterangan. Beberapa polisi berinisiatif untuk mencari perempuan itu tapi dengan sukarela Rendi memberi diri untuk --lagi-lagi-- membantu. Dan Taralah yang ia temui. Ia merasa, tak akan membawanya ke polisi malam ini, itu tindakan tak benar karena kondisi kejiwaan Tara mungkin saja masih terguncang.
Tak berapa lama, dari arah jalan raya Brio ungu perlahan berjalan ke arah kedai kecil itu. Saat mobil itu berhenti dan pengendaranya keluar, Rendi melihat Kiara yang merapatkan jaket kebesarannya lalu berlarian panik ke arah Tara.
Ia tahu sampai di situ, Tara berada di tangan yang tepat dan aman. Kiara berbicara sesuatu dan menyodorkan beberapa lembar uang yang ditolak oleh pemuda di kedai itu, lalu memboyong Tara ke pintu bagian penumpang. Sesaat sebelum menaiki mobil, Kiara kembali mengucapkan terima kasih kepada pemuda itu. Lalu mobil itu berjalan, meninggalkan daerah itu dengan mulus. Mata Rendi terus mengawasi mobil itu hingga lenyap di kejauhan. Ia berharap Tara baik-baik saja.
***
"Tara?" Kiara melihat jam dindingnya, pukul dua belas lewat sepuluh menit. "Ada apa nelepon malem banget gini?"
Kiara mengangkat panggilan itu. "Tar, kenapa?"
"Halo, ini mbak Kiara?"
Tak ditemukan suara Tara namun seorang laki-laki menggunakan ponsel Tara untuk menghubungi.
"Ya, ini siapa?"
"Bisa jemput Tara sekarang? Kondisinya buruk, ia nyaris pingsan," kata seseorang di seberang.
Kiara menimbang apakah ini memang kabar asli atau hanya tipuan yang marak terjadi akhir-akhir ini. Berkedok dengan mengatakan salah anggota keluarga mengalami kecelakaan dan malah memoroti uang. Pemuda ini bahkan tau nama Tara.
"Saya serius, mbak," ujar pria itu. Di latar, ia dapat mendengar suara Tara memanggilnya lemah.
"Di mana dia sekarang?" Kiara panik dan cemas. Ia langsung mengambil baju hangat dan bergegas keluar kamar.
"Saya share-loc sekarang," ujar pemuda itu lalu menutup sambungan teleponnya.
Kiara mengambil kunci mobil di gantungan dekat pintu.
"Ma, Pa, aku pergi jemput Tara dulu," pamitnya lalu membuka kunci rumah dan kembali mengunci saat ia sudah di luar.
"Pa, denger tadi Kiara pamit kemana?" tanya Ningsih yang tertidur di sisi suaminya. Aston hanya berdeham karena ia sudah setengah sadar dan setengah tertidur.
***
Kiara mengikut petunjuk yang diberikan oleh share-loc yang dikirim padanya. Seharusnya di sekitar sini, gumamnya. "Mana ya?"
Kiara membelokkan kemudinya pada jalan yang lebih kecil dari jalan raya lalu kembali menyusuri jalannya perlahan. Ia perhatikan tiap sisi jalanan itu sampai ia menemukan tulisan neon Daily Grande dengan banyak lampu yang masih menyala. Tara melajukan mobilnya hingga tiba di depan kedai itu lalu menoleh.
Benar saja, ia melihat Tara dengan posisi yang bahkan menopang tubuhnya untuk tetap tegak tidak mampu. "Astaga, kenapa lagi dia?"
Tanpa mematikan mesin mobil ia turun dan langsung menghampiri Tara. Semakin dekat dengannya, semakin buruk kondisi yang bisa dilihat matanya. Rambut berantakan, bercak darah pada pakaiannya, telapak kaki yang luka dan membiru serta bau alkohol yang menyengat.
Kiara berjongkok dekat sahabatnya. Kecemasan semakin merambatinya, "Tara, Lo kenapa? Ya, Tuhan." Kiara menyibakkan rambut yang menutupi wajah Tara. Air mata terus mengucur.
Dipeluknya Tara erat, "Lo bisa berdiri, Tar?"
Kiara merasakan Tara mengangguk halus di bahunya.
"Oke, ayok kita berdiri. Pelan-pelan aja, gua bantu."
Kiara menarik tubuh Tara hingga berdiri, perlahan Ia memapah Tara ke bagian kursi penumpang. Pemuda yang pasti meneleponnya itu membantu membawa barang-barang Tara dan memasukkannya pada bangku di belakang. Setelah memastikan Tara sudah aman dalam mobilnya, Kiara berpaling kepada pemuda itu .
"Mas, terima kasih, ya," Kiara menyodorkan beberapa uang seratus ribuan ke arah pemuda itu yang langsung ditolaknya.
"Yang penting Tara sudah aman, mbak," ujarnya.
"Kau mengenal Tara?"
"Ya, hanya sekedar," jawabnya.
Kiara memicingkan mata, insting pengacaranya timbul. "Bukan kau yang melakukan ini kan?"
Pemuda itu gusar saat ditanyakan hal tak masuk akal seperti itu, "saya melihat Tara berlari dari arah sana," ia menunjuk jalanan gelap. "Lalu nyaris pingsan di depan kedaiku."
"Baiklah. Terimakasih atas bantuannya, mas," Kiara lalu pamit dan masuk ke dalam mobilnya.
Kiara memandang sahabatnya, erat diremasnya tangan Tara yang lunglai di sisinya. "Kamu kenapa lagi sih, Tara." Ia lajukan mobilnya untuk pulang.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Ditunggu likes, comment, kritik dan sarannya dear readers 🥰
Mohon maaf dear readers atas ketidaknyamanan ini. Setelah ini update tersedia dalam dua hari ke depan 🙏🏼