Swipe You, Swipe Me

Swipe You, Swipe Me
The World



Genta sudah dipindahkan ke ruang perawatan, Tara.


Tara membaca pesan William yang menunggui Genta bersama keluarganya. Setelah operasi yang memakan waktu dua jam itu Genta dipindahkan ke ruang ICU untuk pemulihan paska operasi. Dua tulang rusuknya patah, tulang punggung kelimanya retak, pendarahan di mata dan gegar otak ringan. Itulah yang saat ini membuat Genta terkapar di rumah sakit.


William melewatkan jam siaran paginya untuk mendampingin Genta di rumah sakit. Dokter menilai kondisi Genta stabil dan bisa dipindahkan ke ruang perawatan umum meski dia belum sadar.


Perasaan Tara sedikit lebih tenang. Dibanding tadi malam ia tak bisa tidur. Hanya bergolak-golek di kasur dan matanya sama sekali tak dapat terpejam. Keadaan Genta, kerumitan yang terjadi dan rasa bersalah menghantuinya seperti lintah yang tak copot sebelum ia kenyang meminum darah.


"Mbak Tara, dipanggil ibu," Atika menyadarkan Tara dalam pikirannya.


"Oh, iya," dibawanya seluruh dokumen yang ia kerjakan, merapikan penampilan dan melangkah ke ruang Bu Salma.


Saat tiba, Tara mengetuk pintu ruangannya tiga kali. Ia masuk setelah Bu Salma mempersilahkan.


"Siang Bu," ditutup pintu di belakangnya.


Setelah kejadian tempo hari, Bu Salma baru masuk hari ini. Bagian kepalanya yang cedera masih diperban. Tapi efek gila kerja tak dapat surut oleh balutan kasa itu. Ia sibuk membaca dokumen yang ada dihadapannya.


"Ini laporan yang Ibu minta revisi," Tara meletakkan map berisi laporan statistik yang diminta Bu Salma di meja.


"Duduk, Tara," perintahnya masih dengan nadanya yang biasa. Ia masih berkutat dengan tumpukan berkas yang meminta persetujuan dari tanda tangan Bu Salma.


Tara menarik kursi terdekat dari tubuhnya dan duduk diam, menunggu. Semoga ia tak kena omel seperti tahun lalu. Walau semua orang tahu Bu Salma dan omelan bagai amplop dan perangko. Merekat satu sama lain.


Wanita bertampang keras itu menutup dokumen yang baru dibubuhkan tanda tangan lalu menyisikannya ke samping. Ia menautkan kesepuluh jari dan langsung menatap Tara.


"Kamu apa kabar?"


Eh!


Tak biasanya Bu Salma melemparkan pertanyaaan basa-basi seperti itu. Apakah ini efek kepalanya yang terbentur? Dalam hati jahilnya, kenapa tak dari lama kepala Bu Salma terbentur? Jadi tak banyak karyawan yang patah arang dengan sikapnya.


"Baik, Bu. Seperti yang ibu lihat," jawabnya sopan.


"Kau yakin?" Bu Salma memandangnya lekat.


Baru kali ini Tara melihat tatapan Bu Salma seperti itu. Mata khawatir dan keibuan yang sedikit janggal jika dipasang pada sosok di depannya.


"Ya, Bu," kata Tara pelan.


"Saya sudah dengar cerita temanmu. Kau tahu, diperlakukan seperti bukanlah pengalaman yang ingin kita rasakan dalam hidup," matanya seketika menerawang entah kemana. "Saya pernah diperlakukan seperti itu. Sudah berpuluh-puluh tahun lalu namun serasa seperti baru kemarin."


Tara menunduk. Kehidupannya semakin aneh belakangan ini. Hal yang tak pernah ia alami akhirnya harus menjadi sebuah kenangan pahit. Walau tak ada kerugian fisik yang diterima. Namun, itu menjadi sebuah pengalaman traumatis untuknya.


"Jangan dengan mudah percaya kepada seseorang Tara. Kau harus bisa melindungi dirimu sendiri. Bagaimana pun diakhir hari kita hanya berteman dengan diri kita sendiri," ucapnya bijak.


Mungkin karena hal itu, Bu Salma terkenal dengan pribadi tertutup dan killer. Tapi, di pandangannya sekarang Bu Salma adalah orang yang sangat tulus dan perhatian. Semua hal tentang atasannya terpatahkan di pertemuan mereka.


"Kau kenal dia di mana?" tanyanya lembut.


"Sebuah aplikasi, Bu," jujur Tara.


"Oh. Tetaplah hati-hati, nak. Jangan sampai kamu menyesal dan merubah sejatinya dirimu," pesannya yang entah mengapa membuat Tara tersentuh.


"Jangan berhubungan dengan orang seperti itu. Dia tidak akan berubah sampai kapanpun. Karena karakter seseorang tidak akan pernah berubah walau waktu telah berlari cepat."


***


Sore itu, setelah pulang dari kantor Tara ke rumah sakit untuk menengok Genta. Ia meletakkan buah dan makanan ringan yang ia beli. Walau Tara tau, Genta pasti tak akan memakannya. Setidaknya, ia meninggalkan buah tangan itu untuk penjaga pria yang tertidur di kasur.


Tak ada siapa pun dia ruangan ini, kecuali mereka berdua. Kemana yang menjaga Genta, ia tak tahu. Tara duduk di kursi dekat pembaringan Genta dan menariknya lebih dekat. Cukup lama ia terdiam dan hanya memandangi sosok pria itu. Pria yang selalu melontarkan ucapannya tanpa pikir panjang. Tara tersenyum.


"Bagaimana keadaanmu, Gen?" ucapan Tara memecahkan keheningan. "Maafkan aku. Seharusnya kau tak terluka seperti ini."


Tara menarik napasnya dalam.


Tara membalik telapak tangan Genta dan memandangi beberapa luka yang dibalut dengan kassa tipis. Ia menyentuh telapak tangan yang lebar dan tetap hangat walau penuh luka itu. Jarinya menelusuri tiap garis tangan Genta.


"Maaf," setetes air mata jatuh pada jari manis Genta. "Maaf karena aku yang belum sembuh dan membuat kalian masuk dalam hidupku saat aku tanpa persiapan."


Tara merebahkan wajahnya pada telapak tangan Genta yang hangat. Ia menangis.


***


Pandangannya buram. Perlahan ia mengerjapkan matanya agar ia bisa melihat lebih fokus. Mata kirinya masih terasa ngilu dan bengkak. Rasanya ia tak dapat bergerak. Seluruh badannya berat dan tak bertenaga.


Ia ada dalam ruangan dengan penerangan remang. Sendirian. Halus ia dengar sebuah dengkuran dari sisi kanan tempat tidurnya. Ternyata ada seseorang yang menemaninya.


Genta melirik ke asal suara namun rusuknya terasa ngilu. Ia menoleh sedikit dan menemukan Tara tertidur di sana sambil menggenggam tangannya. Melihat gadis itu membuat bayangan penyiksaan itu kembali menghampiri.


"Uh!" suara yang keluar dari mulutnya terdengar serak. Ia belum meminum apa pun entah sejak kapan.


Genta memejamkan matanya berharap semua hilang saat ia membuka mata. Dan ia kembali tersadar, bahwa ia berada di ruangan remang itu. Yang ia tak sadar adalah gadis itu telah terjaga dan memandangi dari tempat duduknya. Tara menutup mulutnya tercekat dan bergegas keluar.


Tak berapa lama, rombongan suster dan dokter jaga masuk ke ruangan itu. Mendekati kasur Genta dan mengecek tanda vitalnya. Dokter langsung menempelkan benda dingin pada kulit di dada dan perutnya. Seorang suster mencatat dan yang lainnya menyesuaikan selang infus. Dokter meninggalkan ranjangnya dan berbincang dengan gadis itu.


"Syukurlah kalau begitu dok..."


Suara Tara


Genta kembali terlelap.


***


Tara mendapat panggilan dari kepolisian untuk dimintai keterangan pukul sebelas. Ia mampir lagi untuk menengok Genta karena kebetulan rumah sakit dan kantor kepolisian hanya bersebrangan.


Ruangan Genta kosong dan sunyi. Saat Tara masuk pria itu sedang tidur. Di kursi sofa yang berhadapan dengan pembaringan pria itu, terdapat sebuah tas tangan yang tertinggal. Berarti ada seseorang yang menemani Genta pagi ini.


Tara meraba lengan Genta halus. Melihat pria itu tertidur entah mengapa membuat Tara tenang. Ia menarik kursi agar dekat dengan Genta yang terlelap. Napasnya naik-turun dengan konstan.


"Kapan aku bisa bicara denganmu, Genta?" tanyanya sembari tersenyum.


Lebam di mata Genta masih sebesar bola pimpong walau warna keunguannya mulai memudar pagi ini. Perlahan jari Tara terulur. Telunjuknya menyentuh hidung Genta yang diperban. Ia membiarkan tangannya berjalan dari ujung alis pria itu hingga ujung hidungnya. Entah dorongan apa, Tara hanya ingin menyentuh pria yang tertidur itu.


"Kamu yang namanya Tara, ya?"


Tara menoleh ke arah asal suara. Seorang wanita paruh baya berdiri di ujung tempat tidur Genta. Rambut putih yang berbaur dengan rambut hitamnya tak mengurangi kecantikan wanita itu. Ia ingin tahu bagaimana cantiknya saat wanita itu masih belia.


"Iya, Tante," jawab Tara sopan sambil berdiri dari kursinya.


"Aku ibunya Genta. Kenalkan namaku Kinanti," Kinanti mengulurkan tangannya dan disambut oleh Tara. "Genta banyak cerita tentang kamu akhir-akhir ini."


Tara diam mendengarkan. Ia cukup terkejut bahwa Genta sudah menceritakannya kepada ibunya. Hati Tara kering. Ia bahkan menceritakan Genta ala kadarnya saja pada ibunya.


"Saya bilang untuk membawa dan mengenalkan kamu pada keluarga." sambungnya. Matanya menatap anak laki-lakinya prihatin. "Namun dia bilang, dia masih meragukan hatimu, Tara."


Kedua mata Kinanti memandang ke arah Tara. Akhirnya ia hanya bisa menunduk karena tak tahan melihat mata itu. Tara tak tahu, tapi ia merasa mata seorang ibu dapat membaca apapun yang berhubungan dengan anaknya. Tara khawatir, Kinanti dapat melihat bahwa Tara tak menyimpan perasaan apa pun pada Genta.


Kinanti maju mendekati Tara dan mengangkat wajahnya yang tertunduk.


"Nak, saya tak melarang jika kalian memiliki hubungan. Tapi tolong, jika kau tak memiliki perasaan lebih pada Genta, jangan beri dia harapan lebih jauh dari yang kau bisa berikan," pesannya. Ia meremas lengan Tara lalu mengusapnya. Tak ada nada mengancam dalam ucapannya.


"Saya bisa tahu mengapa anak saya menyukaimu. Matamu sangat bulat. Ia pasti menyukai matamu," Kinanti tersenyum.


"Bu," suara lirih Genta menyedot perhatian kedua perempuan beda generasi itu.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Ditunggu likes, comment, kritik dan sarannya dear readers 🥰