Swipe You, Swipe Me

Swipe You, Swipe Me
Five of Cups and Six of Wands




"Nih anak!"


Tara merasa tangannya ditarik seseorang yang ternyata Kiara.


"Kok lu tau gua di sini?" Tara keheranan.


"Apa gunanya gua punya intel," jempolnya menunjuk ke arah Adam di counter. Sekejab Kiara menoleh ke arah Rendi, "hai, lama ga jumpa."


"Ibu pengacara tetap terdengar cerewet ya," ujar Rendi. "Apa kabar?"


"Baik. Ya, kalo gua ga cerewet gua dapet duit dari mana?" sahutnya. Ia berpaling kepada Tara, "lagian lu susah amet sih ditemui," ucapnya gemas.


"Harusnya lo tau, Ra, temenmu ini kalo udah keluarin jurus ninjanya ga bakal deh gampang ditemui," celetuk Rendi. "Jadi mending lu mengendap-endap dan HAP!" Rendi menyatukan kedua tangannya di udara. Menatap Tara, "lalu tertangkap."


"Lu pikir Tara nyamuk, udah mau balik ga lu?" Kiara menowel lengan temannya.


Tara berpaling ke arah Rendi, ditatapnya lama wajah yang terlalu familiar baginya begitupun Rendi membalas tatapannya. Bukannya ia tak ingin mendengarkan penjelasan Rendi mengenai hubungannya dengan Sofia, tapi dipikirannya sendiri semua sudah jelas, simpulnya.


"Aku duluan ya," Tara mengangkat cangkir kopinya. "Terima kasih untuk traktirannya."


Bagaimana pun percakapan kita sudah membuka luka lama ini. Membuat aku mengingat seberapa kuat sekaligus betapa rapuhnya fondasi hubungan ini. Karena hubungan tak bisa berhenti hanya menyoal cinta yang terbalas dan membangun.


"Tidak masalah," Rendi balas menatap Tara seakan mereka memulai komunikasi lewat tatapan itu namun tak ada hal yang tersampaikan. Hanya kabut yang membuat mereka akan terus menjauh.


Tara berdiri dan melangkah meninggalkan mejanya.


"Bye, Ren," pamit Kiara lalu membututi sahabatnya itu keluar.


***


"Udah lama lu berdua?"


"Gak juga, makasih udah jemputin gue," Tara menatap ke luar jendela Brio ungu itu. Langit Jakarta tiba-tiba mengucurkan air hujan. Hujan pertama di bulan Oktober.


Pikirannya melayang pada nama terakhir yang disebut Rendi, Sofia. Sofia adalah teman satu tim Rendi yang memang selalu akan bersama ke mana pun project mengirim mereka pergi. Tidak mungkin tak muncul buih-buih rasa diantara dua orang itu. Dibandingkan dengan Tara, Rendi jelas lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya. Tara menerima kenyataan itu.


"Lu kemana aja sih? Sombong banget jadi orang. Abis dari pameran itu lu ga ada kabar udah dua mingguan. Ampe gua nyewa jasa si Adam coba!" sungut Kiara. "Untung gua baek, coba kalo gue cuekin lu, ga gua jemput lu."


"Maaf, ya. Tapi buktinya lu jemput gua tanpa gua pun tau," ucapnya.


Kiara menggemakan hal yang sama diucapkan Tara dengan nyinyir, "tapi lu kelewatan. Dua Minggu!"


"Gua cuma butuh waktu sendiri."


"Terus apa yang lo temui? Jawaban? Atau semakin banyak pertanyaan?"


Tara memutuskan untuk tak menjawab. Terkadang saat kita menceritakan sesuatu, keputusan akhirnya akan semakin sulit karena telah berbaur dengan opini dan perasaan dari luar. Bukannya ia mengenyampingkan pendapat Kiara, kemungkinan yang pasti kepalanya akan semakin penuh.


"Lo udah makan? Cari mi ayam yuk," Tara menawarkan makanan kesukaan temannya agar situasi ini bisa teralihkan.


***


Erat dicengkramnya lingkaran kemudi mobil. Tak lepas pandangannya melihat sosok di dalam kedai kopi itu hingga hujan mengguyur dan mengaburkan kaca mobilnya. Bahkan setengah jam sudah Tara meninggalkannya, lelaki itu masih duduk di posisi yang sama memandangi gelas dihadapannya.


Rendi terlihat akan keluar dari kedai itu, dengan cepat Sofia mematikan mesin mobil dan mengambil payung di kursi belakang. Lantas ia berlari menuju kedai itu dan sampai tepat saat Rendi membuka pintu. Mereka berdua bertatapan. Rendi dengan pikiran rumitnya sendiri dan Sofia yang menantinya bergabung di bawah payungnya.


"Lekas, bajumu semakin basah," ujar Sofia sambil berusaha memayungkan Rendi.


Rendi hanya diam, mengambil payung itu dan merapatkan Sofia ke tubuhnya agar tak terkena basahnya hujan.


"Aku tak memintamu untuk menjemputku Sofia," ujar Rendi perlahan, wajahnya datar.


"Kau tidak ke kantor hari ini, aku ke rumahmu dan melihat motormu ada di sana tanpamu. Kau sudah makan?" Sofia mengabaikan ekpresi keras lelaki itu.


"Aku baru dari kedai kopi, jalas aku memakan sesuatu di sana," Rendi mengarahkan wanita itu ke mobil sisi penumpang dan membukakan pintu. "Biar aku yang menyetir."


"Baiklah," Sofia diam mengikuti saja.


Rendi melipat payung dan masuk ke dalam mobil. Dinyalakan mesinnya dan mobil itu melaju.


"Sofia, aku minta maaf untuk sikapku semalam. Aku hilang kendali," Rendi mengucapkannya tanpa ekspresi membuat Sofia bertanya apakah lelaki ini tulus mengatakannya.


"Aku mengerti," ujar Sofia yang sebenarnya masih shock dengan apa yang menimpanya semalam.


"Kudengar, setelah ini ada tugas lagi di Surakarta. Mungkin setelah project itu selesai aku akan resign Sofia," ucapnya.


"Apa maksudmu?" Sofia terperanjat mendengar pernyataan dari mulut lelaki yang masih tenang mengemudikan. Jika dia yang ada dibalik setir, sudah pasti dia akan mengerem mendadak.


Sofia gelisah, "lalu kau akan meninggalkanku di sini?"


Rendi terkekeh, "kau sudah besar. Lagipula semenjak kuliah kau bahkan sudah tinggal di apartemenmu. Mengurus dirimu sendiri bukan hal yang sulit, kurasa."


Sofia menggenggam tangan Rendi yang bebas, bukan masalah hidup sendiri yang dirisaukannya. Bagaimana hidupnya yang biasa dilalui bersama lelaki ini akan hilang? Rasa terbiasa dengan kehadiran Rendi dan lelaki itu menyatakan akan pergi menjadi momok menakutkan baginya.


Ia tahu, Rendi tak pernah memandangnya lebih dari rekan kerja. Namun, malam-malam hangat itu, perasaan di hati Sofia yang makin tumbuh, kehadiran dirinya dalam kehidupan lelak Gegei itu. Tak mungkin Rendi tak pernah mempertimbangkannya, bukan?


"Told me, it's not true. You've pranked me, right? I mean c'mon, aku tak masalah jika harus ganti rugi dari ratusan bar yang ingin kau hancurkan," Sofia berusaha melemparkan canda agar pria itu tak berpikiran ia memaksa tetap di sisinya.


"My partner in crime," Rendi mengacak rambutnya yang seiring mengacak hatinya.


"Or... let's move together. I'll goin' with you, Ren. Kau tak perlu resign, kita bisa mengurus cabang Imagine di Batam," Sofia memberikan ide. "We live together there still be partner in crime."


"Kau aset kantor pusat dan tak pantas Imagine mengutusmu mengelola kantor cabang itu. Kau nyawa Imagine, Sofia," Rendi memandang ke arah wanita itu karena lampu merah menghentikan laju mobil.


Genggaman Sofia mengendur, ia ditolak secara tidak langsung oleh lelaki yang berarti dalam hidupnya. Hatinya menolak untuk menyerah, ia tak ingin kehilangan Rendi.


"Aku, tidak masalah jika kau tak pernah memandangku, Rendi," Sofia memulai. "Aku tahu rasa kasihmu telah tercurah kepada Tara tapi apa kepindahanmu... perasaanku menjadi pertimbanganmu juga?"


Sofia menatap Rendi, entah dia harus berkorban apalagi hingga lelaki itu bisa seutuhnya jatuh padanya. Baginya, menyebutkan nama Tara seperti dosa dalam hidupnya dan jika seumur hidup ia hanya dianggap kesekian oleh Rendi tidak masalah. Yang penting, ia tetap di sisinya.


"Aku tidak masalah... menjadi tempat pelampiasan perasaanmu terhadap Tara," hatinya hancur seiring tiap kata keluar dari bibirnya. "Asal aku tetap berada dekat denganmu."


Tanpa memandang ke arah wanita itu, Rendi mengelus tangan wanita yang menggenggam lengannya erat dan perlahan melepaskan genggaman itu. Lampu lalu lintas menyala hijau dan Rendi kembali menjalankan mobilnya.


***


"Ya, ma... aku menginap di rumah Kiara. Tidak, tidak ada masalah. Mama tak masalah kan di rumah sendirian? Salam buat Ndud dan Tipsy. Ya. Good night, mom," Tara mematikan sambungan teleponnya. Tangannya yang bebas mengelus perut gula yang asik rebahan dekat kakinya yang bersila. Tubuh anjing itu menghadap ke atas hingga keempat kakinya mencuat menantang langit. Wajahnya damai menikmati sentuhan Tara hingga lidahnya menjulur seolah ia teler karena minuman.


Kiara meletakkan segelas coklat di atas dipan teras belakang. Gula yang tahu mommy-nya datang, berguling dan menghampiri. Buntutnya bergoyang dan menggesek tubuhnya manja kepada tuannya.


"Heh, lu kan udah enak dielus-elus," ujar Kiara namun sedetik kemudian ia mengelus kepala gula dengan sayang.


"Makasih coklatnya," Tara mengambil gelas yang ditawarkan dan meneguk isinya perlahan, karena masih panas.


"Hah... elu," Kiara memandang sahabatnya itu. "Berkabung karena putus ga ada yang larang, yang ga boleh tuh tenggat waktunya diulur-ulur. Bayar PBB aja ada batas waktu."


Tara mendengus dan tersenyum. "Mungkin gua suka berada di bawah perasaan seperti ini. Biar kalau gua diizinkan merasakan cinta setelahnya, gua bisa mencintai dengan penuh."


"Berlebihan ga baik, cintai secukupnya. Karena tak ada yang akan terus mencintai walau sudah menjadi suami-isteri. Yang ada hanya mencoba mempertahankan komitmen dengan perasaan yang mungkin sepenuhnya hilang."


Tara memandang sahabatnya sejenak, "Sehat, Ra?"


"Monyong emang lu," Kiara menepuk dengkul Tara yang tak terparkir satu pun nyamuk. "Mau tau kabar bang Danang?"


"Eh iya, apa kabar tuh si Toyib?" tanya Tara antusias. Setidaknya mengenyampingkan yang dia rasakan dan mendengar kabar lain di luar kehidupannya membuat sedikit perbedaan pada perasaannya.


"Yeee," Kiara tak terima Bang Danang-nya disebut Toyib. Tapi sedetik kemudian wajahnya berseri, karena ditimpa lampu layar ponsel yang berpendar. "Nih!"


Kiara menunjukkan layarnya. Layar yang memperlihatkan gambar sebuah tiket pesawat mengarah ke Jakarta yang akan tiba besok pagi.


"Akhirnya, punya ongkos dia ke Jakarta?" tanya Tara polos bercanda.


"Sialaaaaan, cuma buat beli tiket sih dia mampu ya. Waktunya yang kagak ada," umpat Kiara kesal.


"Iyalah, pak hakim selalu sibuk pasti," sindir Tara. "Ini beneran mau dateng karena elo atau gimana?"


"Ada kasus yang musti diselesaikan ke pengadilan di Jakarta. Jadi dia terbang deh kemarin," jelas Kiara senang.


"Yaelah, kerjaan lagi itu mah. Ga spesial buat lu doang. Setali tiga uang," goda Tara pada sahabatnya itu.


"Ih spaneng gua cerita ama elu deh, sungguh," ia melipat tangan di dada. Tara hanya tertawa.


"Akhirnya ada waktu yang bisa dia manfaatkan bertemu sama elu," lurus Tara tidak ingin membuatnya kesal semakin jauh. Bisa-bisa ia harus pulang ke rumahnya hanya dengan piyama di badan. "Enjoy that quality time."


Malam itu mereka habiskan untuk bercerita di teras belakang sambil di temani bunyi jangkrik yang syahdu sebelum mereka merangkak ke tempat tidur dan menarik selimut masing-masing. Hujan selalu bisa mengundang orkes alam dengan mudah.


Saat Tara mematikan lampu di meja samping tempat tidur, layar ponselnya menyala. Terlihat sebuah notifikasi pesan masuk. Genta.


Tara, kamu sehat?


Tara melirik sahabatnya yang sudah lelap, ia berjalan menjauh dari tempat tidur dan membuka jendela. Angin malam menerpanya sopan. Di tekan dial nomor Genta dan tak sampai nada sambung kedua suara pria itu telah sampai di telinga Tara.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Ditunggu likes, comment, kritik dan sarannya dear readers 🥰