Swipe You, Swipe Me

Swipe You, Swipe Me
Five of Swords



"Dengan Bapak Genta?" suara serak dan dalam terdengar dari ujung telepon.


"Ya, saya sendiri," ujarnya yang sedang berjalan melintasi ruang pameran di CreArt.


Tadi pagi William dan Genta pergi ke Kampung Cina Kecil dan mengetahui bahwa mobil Genta sudah diderek oleh dinas perhubungan. Beberapa orang di sekitar situ bahkan menambahkan, kalau mobilnya dirusak oleh sekelompok orang di malam naas itu. Genta sendiri belum berencana untuk mengambil mobilnya yang disita. Hitung-hitung, ia tidak perlu pergi kemana-mana sendirian untuk sementara waktu. Lalu William menurunkannya di galeri.


"Wah, akhirnya," suara pria itu berubah santai. "Saya ingin mengadakan pameran di tempatmu."


Sebenarnya bukan hal aneh jika pria itu meneleponnya. Para pekerja seni rupa terkadang memang mengajukan permintaan untuk membuat pameran mereka sendiri. Walau perencanaannya akan berbeda jika pihak CreArt yang mengundang seorang seniman untuk pameran. Bagi para pekerja seni mandiri, setelah diambil kesepakatan dan jadwal, biasanya mereka baru akan menghubunginya untuk membicarakan konsep acara.


"Ah, boleh-boleh. Maaf, sebelumnya dengan siapa saya berbicara?" tanya Genta berjalan menuju kantor dari ruang galeri.


"Saya Rico," ujarnya.


"Bapak atau Mas?" tanyanya ramah.


"Rico saja cukup," ujarnya santai.


Setelah sampai di ruangan kantor, Genta memberi isyarat kepada Dita untuk mengambil catatannya. Perempuan gempal yang sedang mengunyah apel itu menggulirkan buku agenda dan pena ke arah Genta. Sebagai catatan, hari ini Dita memakai topi bertelinga rubah berwarna oranye. Genta menahan diri untuk tidak menyentil jahil kuping dari topi itu.


Genta menyolek Dita lagi dan meminta "buku jadwal" tanpa bersuara ke arahnya. Genta membuka catatan terakhir lalu menelusuri catatan rapi yang dibuat Dita dengan jarinya. Tidak ditemukan pameran atas nama Rico di sana.


"Apakah kau sudah menghubungi admin CreArt?" tanya Genta memastikan.


"Ah," Rico tertawa. "Bukankah menghubungimu dan menghubungi admin sama saja?"


Genta terdiam sejenak, "kalau ada waktu kau bisa datang ke galeri. Kita bisa berdiskusi tentang karya seni yang akan ditampilkan sekalian melakukan pendaftaran juga penyesuaian jadwal."


***


"Tidak bisakah kita bertemu di luar saja?" ujar Rico sambil menurunkan kaca mobilnya. Ia memandang Gedung CreArt sambil menimbang-nimbang keadaan sekitar.


"Mmm, sepertinya jadwal saya hari ini harus tetap di galeri, Rico. Jadi lebih baik kau datang agar proses administrasi juga lebih cepat," jelasnya menolak halus.


Kau takut? sebuah seringai terbit di wajahnya. "Oh, tak masalah."


"Jam berapa kira-kira kau tiba?" tanya Genta lagi.


Rico menarik lengan jaket semi jasnya dan melirik arloji di pergelangan tangannya. Ia menjawab "mungkin lima belas menit lagi aku akan sampai."


Rico menutup sambungan telepon dan melirik ke arah kaca spion depan. Tiga rekan lainnya mengangguk dan siaga.


***


Setelah mendengar petuah-petuah dari Benu, ia mulai berpikir. Ia memilah-milah mana yang sebenarnya membuat hatinya belum bisa menerima Sofia. Jawabannya bermuara pada Tara. Ia menunggu hari Sabtu ini segera tiba.


Rendi menutup pintu ruangan Benu di belakang, lalu melirik meja Sofia yang masih kosong dari saat ia sampai ke kantor. Ia memutuskan untuk pergi ke mini market terdekat untuk membeli buah segar. Apa ya buah kesukaan wanita itu?


Saat ia melangkah keluar kantornya, wanita itu hendak masuk. Matanya beradu dengan wanita itu. Setelah obrolan mereka di rumah makan cepat saji, mereka jarang berkomunikasi. Rendi melangkah begitu pun Sofia hingga mereka berhenti saat jarak mereka hanya beberapa langkah.


Rendi berdehem membersihkan tenggorokannya, "habis dari mana?"


"Kantor wanitamu itu," jawabnya ketus.


"Mantanku," koreksi Rendi.


"Whatever," sahut Sofia.


"Kau marah padaku?"


"Haruskah aku menjawabnya?" Sofia memandangnya tajam.


Rendi tidak ingin meneruskan perang kata-kata ini. Ia memegang kedua pundak Sofia "istirahatlah dulu. Jangan lupa minum. Ok?"


Segera Rendi melepas tangannya dan beranjak. Sofia yang bingung dengan yang dilakukan pria itu, hanya memandangnya sampai keluar dari pintu kantor.


Jarak kantor dan mini market tidak terlalu jauh, maka ia memilih untuk jalan kaki. Sepanjang jalan ia hanya memikirkan buah apa yang disukai wanita itu. Mereka memang selalu bersama dalam tugas kantor. Namun, tak pernah sekalipun Rendi menaruh perhatian pada hal-hal yang menarik bagi wanita itu.


Setelah menyerahkan kartu debit dan membayar lunas semua buah, Rendi berjalan kembali dengan wajah tersenyum. Ia ingin tahu apa reaksi Sofia melihat buah-buahan yang dibawanya. Semoga saja ia senang, batinnya.


Dari arah yang berlawanan dengan Rendi, sebuah mobil melaju kencang di jalanan itu. Mobil sedan hitam tanpa plat nomor. Beberapa pengendara lainnya yang dilewati oleh kendaraan itu membunyikan klakson dengan gusar. Rendi memandang mobil itu hingga hilang di ujung jalan.


Jaman sekarang, banyak orang yang tidak mematuhi kelengkapan lalu lintas. Ia yakin itu melebihi kecepatan yang disarankan melewati jalan ini. Bahkan tak ada plat nomor polisi itu di kendaraannya. Semoga saja mereka bertemu polisi. Rendi menggeleng dan meneruskan perjalannya kembali ke kantor. Cepat ia melangkah untuk sampai di kantornya. Saat menaiki tangga menuju lantai dua, ia berpapasan dengan Sofia.


"Kau mau ke mana?" tanya Rendi.


"Makan siang," kata Sofia dan memandang tas belanja besar yang ditenteng Rendi lalu kembali ke matanya.


"Temani aku makan siang?" ia sedikit mengangkat tas belanjanya. Tanpa menunggu Sofia menjawab, Rendi lantas menarik tangannya. Mereka berdua berjalan menuju pantry. Saat sampai, Rendi meletakkan seluruh belanjaannya di meja. Menarik sebuah bangku dan mendudukkan Sofia di sana.


"Semoga kamu suka Sofia," Rendi mengeluarkan satu per satu buah-segar-potong yang dibelinya tadi.


Sofia menatap satu persatu semua buah yang ada di meja dan yang masih dikeluarkan Rendi dalam tas belanja. Seakan tak habis.


"Kau beli berapa banyak sih?" tanya Sofia bingung kepada Rendi yang hanya tersenyum.


"Aku tak tahu apa yang kau suka, jadi ku beli semua yang ada di rak," Rendi mengeluarkan potongan buah nanas sebagai buah terakhir yang dikeluarkannya.


"Lalu kau ingin aku menghabiskan semuanya?" mata Sofia menatap Rendi yang kini terduduk di sebelahnya.


"Seorang ibu hamil harus mengkonsumsi makanan yang bernutrisi. Kau mau mulai dari yang mana dulu?" tanya Rendi.


"Yang jelas aku tidak akan makan nanas. Ibu hamil tidak boleh memakan itu," ujar Sofia.


"Ya sudah. Mana yang kau suka dan ingin makan terlebih dahulu. Aku akan bukakan untukmu," Rendi merapikan kembali buah-buahan di atas meja pantry itu.


Sofia memandangi Rendi heran namun perlahan ia tersenyum, "Kau."


"Hah?" Rendi menoleh.


"Kau yang kusuka," ujar Sofia lalu mengecup bibir Rendi cepat. Ia tersenyum lalu memberi perintah, "tolong bukakan anggurnya."


"Ya?" Rendi mematung kaget namun seketika ia sadar dan gelagapan saat menerima tepukan pada pipinya. "Anggur? Ok, anggur."


Kedua tangannya bekerja membuka plastik pembungkus anggur selagi Sofia memperhatikannya. Ia mengulum senyumnya melihat tingkah Rendi.


***


Yang Genta lihat hanya gelap karena penutup mata rapat di matanya. Mulutnya tersumpal dan tangannya masih terus terikat. Mereka masih dalam perjalanan karena tubuhnya ikut bergoyang ke kanan-kiri menyesuaikan gerakan kendaraan itu. Suara-suara pria di dalam mobil itu menyebutkan nama yang ia tak kenal. Ia bisa menyimpulkan bahwa orang bernama Dave adalah seorang tuan muda dan nyawanya akan divonis oleh pria itu.


Dalam diam Genta panik. Ia tidak mengenal siapa Dave itu dan belum pernah ia menerima kerjasama dengan pria bernama Dave. Lalu, tiba-tiba nyawanya akan ditentukan oleh dia malam ini. Apa-apaan! Ia merutuk sambil sedikit memberontak dalam cekalan kedua orang di sisi kanan-kiri.


"Diam kau!" sergah salah satu orang. "Masih beruntung kau masih bernapas saat ini karena Tuan Muda yang akan membereskan dirimu dengan tangannya! Seharusnya kau bersyukur dengan itu."


"waaauuwaaauwa wawaaa hauwwaa!" ujar Genta. Bersyukur dari mana!


Sebelum ia terdampar di mobil ini, ia sedang dihubungi oleh Tara.


"Genta, ka- dima-"


"Tara? ada apa? Halo?" ucapnya berusaha mengejar percakapan mereka.


"Gen- ti hat-," suara Tara sama sekali tak bisa diartikan olehnya.


Entah jaringan telepon siapa yang buruk, Genta akhirnya keluar dari gedung CreArt untuk mencari jaringan yang lebih baik. Lalu ia melihat tiga petugas keamanan sudah terkapar di jalan masuk, tangga dan dekat pintu masuk. Yang ia tahu setelah itu, empat orang berpakaian serba hitam dan berkacamata meringkusnya bagaikan tersangka kejahatan.


Apakah mereka orang yang sama mengejarnya kemarin malam? Lalu, pria bernama Dave inikah yang menjadi dalangnya? Siapa Dave itu? Semakin Genta memikirkannya, ia semakin tersesat dalam pikirannya sendiri. Lalu mengapa mereka mengincar nyawanya? Apa yang salah dengannya?


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Ditunggu likes, comment, kritik dan sarannya dear readers 🥰