
Kinanti langsung maju mendekati anaknya, "ah kau sudah bangun. Mau minum nak?"
"Tidak, Bu," ucap Genta lirih.
"Eh, iya ada Tara nih," Kinanti menarik tangan Tara hingga terlihat oleh Genta. "Ibu tinggal dulu ya."
Wajah Kinanti mengisyaratkan sesuatu pada anaknya. Lalu berlalu keluar kamar.
"Tara," gemetar tangan Genta berusaha menggapainya.
"Hai, Gen," Tara menyambut tangan itu lalu duduk di pinggir ranjang itu. "Bagaimana kabarmu?"
"Lebih baik dari 10 jam yang lalu kurasa," Genta tersenyum. Mata kirinya yang bengkak masih tak dapat terbuka. Hanya mata kanan merah karena pembuluh darahnya pecah yang terbuka.
Tara merasakan tangan pria ini sebetulnya gemetar. Matanya terpejam lama seakan tak ingin melihat wajah Tara. Apakah ia sekarang menjadi sumber ketakutan Genta, seperti Dave menjadi sumber kecemasannya?
Tara hendak melepaskan tangan itu, namun Genta menahannya, "kenapa?"
"Apakah kau takut melihatku?" tanya Tara langsung.
Genta kembali terdiam dan memejamkan matanya. Namun tangan yang menggenggam Tara mengeras sampai Tara kesakitan. Tara memutuskan untuk menahan sakitnya.
"Aku ga tau semua jadi buruk begini," Genta berusaha sekuat tenaga mengatakannya. Matanya masih tertutup.
"Maafkan aku," Tara membelai tangan yang menggenggamnya terlalu erat. "Kau boleh membenciku, Genta."
"Aku dengar apa yang kau ucapkan malam itu. Kau memang belum siap menerimaku. Itulah mengapa aku masih belum bisa mengenalkan kamu pada orang tuaku. Aku ragu, Tara," ucapnya.
"Aku tidak apa, Genta," ucap Tara lirih. Perkataan pria itu justru mengiris hatinya.
"Aku punya sesuatu dalam laci itu," Genta mengisyaratkan Tara untuk mengambil barang tersebut.
Tara membuka laci dan menemukan sebuah buku sketsa yang sudah lusuh. Tanda bahwa buku itu sering digunakan.
"Bisa kau buka tiga gambar terakhir?" ucapnya pelan.
Tara membuka buku sketsa itu pada halaman kosong. Lalu mulai mencari gambar yang dimaksud. Ia terkejut saat melihat gambar dirinya.
Duduk di tepian danau buatan di kotanya. Salah satu tangannya tersemat lintingan putih dengan kepulan asap yang diukir dramatis. Memang pemandangan itu tampak luas. Penjaja kuliner pagi hari ada, orang-orang yang ber-jogging juga masuk dalam bingkai. Tapi semua diarsir lembut hingga seakan fokus hanya pada dirinya. Dibubuhkan tanda-tangan Genta dengan tanggal dua puluh lima Juli di bawahnya.
Ini jauh sebelum Tara mengunduh aplikasi SwipeLove dan jauh sebelum ia mengenal Genta. Saat itu sakit hatinya masih parah. Ia menoleh pada Genta yang terbaring dan telah memperhatikannya lama. Menunggu reaksinya. Tara hanya terperangah menunggu penjelasan pria itu.
"Aku sudah tahu danau itu. Aku sudah melihatmu jauh sebelum aplikasi mempertemukan kita," ujarnya. "Dan aku sudah mengagumimu jauh sebelum kau mengenalku."
Sebutir air mata terbit dan meluncur jatuh dari ujung matanya. Bukan karena ia sedih, melainkan ia terlalu terkejut dan bahagia mendengar yang dikatakan Genta barusan.
"Kau bisa membawa gambar itu Tara," dengan lemah tangan Genta mencoba menghapus air mata di pipi Tara. "Anggaplah itu hadiah dariku karena aku akhirnya mengenalmu tidak hanya sebatas gambar dua dimensi," ujarnya.
"Jangan, biarlah kau simpan ini," tolak Tara. Ia seakan menjadi maruk jika mengambil lukisan itu juga. "Akhirnya aku tau kenapa kau bisa datang ke danau, tempo hari."
Genta menyunggingkan senyum, "kau masih bertanya-tanya akan hal itu?"
Tara hanya mengangguk.
Mereka berdua bertatapan lama. Tak ada satupun yang bersuara, namun mereka berbicara. Tanpa ada sepatah kata yang keluar dari mulut masing-masing, mereka telah sepakat untuk menjadi teman biasa.
"Aku harus pergi, polisi sedang menungguku untuk memberi keterangan," Tara mengambil buku sketsa dan mengembalikan ke tempat ia mengambilnya.
"Tara...," Genta tak melanjutkan perkataannya. Ia hanya mengulurkan tangannya yang segera disambut Tara.
Tapi masalahnya aku sudah terlanjur..., bisik batinnya. Genta melepaskan genggaman pada tangan Tara. Mungkin memang belum sekarang.
***
Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 14.35, saat Tara meninggalkan gedung kepolisian. Setelah meninggalkan RS tempat Genta dirawat, ia memang mendapat jadwal untuk penyidikan kasus Dave. Ia dimintai beberapa keterangan terkait dengan tindakan Dave beberapa waktu lalu. Tara pun membeberkan tindakan pelecehan yang dialaminya di hadapan tim penyidik.
Ia tidak lupa akan janjinya pada Rendi untuk bertemu di Taman Fountain pukul 15.00. Setelah lama tak bertemu, hatinya sama sekali tidak tenang. Mungkin karena peristiwa yang akhir-akhir ini terjadi membuat Tara juga lelah.
Setelah turun dari transportasi umum, Tara menelusuri jalanan menuju Taman Fountain, tempat pertama kali Rendi melihatnya. Dirapatkan mantel panjangnya. Angin yang berhembus di bulan Januari cukup menusuk tulang, apalagi hari ini. Langit terlihat kelabu namun tidak memberi tanda hujan akan datang.
Ia memasang musik untuk menemani langkah menelusuri jalanan menuju Taman Fountain. Bayangan sosok ini muncul dalam pikirannya. Apa kabar dia? Sudah bahagia kah dia bersama Sofia? Masihkah Rendi mengingatnya? Tara berharap, apa pun yang diingat pria itu adalah kenangan manis tentangnya.
🎶I will never know if you love me
(aku tak pernah tahu jika kau mencintaiku)
Or my company, but I don't mind
(atau saat bersamaku, tak pernah kupikirkan)
'Cause I ain't tryna be the one
(karena aku tak mencoba menjadi satu-satunya)
Been through this a thousand times
(yang melewati ini ribuan kali)
I don't needa take your heart
(aku tak perlu mengambil hatimu)
You keep yours, I'll keep mine🎶
(kau jaga milikmu, ku jaga milikku)
Tentu saja aku bangga, aku mampu mencuri hatimu, Tara. I won!
🎶All I really know is when I'm lonely
(Yang kutahu saat aku kesepian)
I hate that I'm lonely
(aku benci jika aku kesepian)
And that's why I let you in🎶
(itulah mengapa aku membiarkanmu datang)
Aku ga siap sendirian, dan kesepian lagi. I need you, Tara.
🎶And maybe in another life
(dan mungkin di kehidupan lainnya)
We fight all day, kiss all night
(kita bertengkar sepanjang hari lalu bercumbu sepanjang malam)
But I don't wanna break your heart
(Namun, aku tak ingin menghancurkan hatimu)
You keep yours, I'll keep mine🎶
(kau jaga milikmu, ku jaga milikku)
Ekspresi marah dan teriak-teriakan saat mereka bertengkar berputar di kepala Tara. lalu ciuman dengan seluruh gelora yang akhirnya menyudahi pertengkaran itu.. bermain dikepala Tara.
Tara tersenyum simpul memikirkannya.
🎶I know
(aku tahu)
We know better so we'd both better go🎶
(kita paham maka akan lebih baik jika kita berpisah)
Ia berbelok menuju taman yang memiliki pancuran air di tengahnya. Sore itu angin berhembus terlalu dingin. Di sekitar air mancur banyak orang menikmati sore bersama keluarga dan handai taulan.
🎶I don't need a reason
(aku tak butuh alasan)
To keep on dreamin'
(untuk terus bermimpi)
That we don't lose
(jika kita tak saling kehilangan)
Yeah, what's the use?
(untuk apa?)
I don't need a reason
(aku tak butuh alasan)
To keep on dreamin', oh
(untuk terus bermimpi, oh)
That we can win at anything at all🎶
Beberapa pesepeda melintas memutari pusat ikonik di tempat itu. Di dekat tangga berundak, para skateboard-freestyler berlatih menuruni anak tangga. Anak-anak kecil berlarian ke sana kemari. Mereka seperti tak menghiraukan angin dingin yang berhembus. Tara merapatkan mantelnya.
Dan saat itu, matanya menangkap sosok Rendi di kejauhan....
🎶Am I the only one who sees right through this?
(apa hanya aku yang dapat melihatnya?)
Yeah, all this bullshit
(semua omong kosong ini)
Don't play me for no fool
(jangan permainkanku dengan bodoh)
Yeah, you don't gotta lose your mind
(kau tak seharusnya kehilangan akalmu)
Every time I don't call
(tiap kali kutak menghubungimu)
And I should never have to win your love
(Dan aku tak harus memenangkan cintamu)
Then hate myself when I don't, oh, oh🎶
(lalu membenci diriku jika aku gagal)
"Iya," tapi Tara tau dalam hatinya, sesuatu yang lain dalam nada bicara Rendi mengamini intuisinya. "tapi aku ga bisa begini terus."
"Tara, jadi kamu maunya apa?" jawab Rendi sambil mendesah. Ia bingung. Sampai Ia tak sadar telah memegang ponselnya bahkan terlalu keras. "Ponselku mati dan bank daya aku tertinggal. Tidak ada colokan di sekitar sini. Aku... aku."
Sepanjang Rendi berbicara, Tara menguatkan dirinya untuk berkata tegas, "Kita putus." Tara menahan air matanya jatuh lebih banyak.
🎶Fickle as you are
(berubah-ubah semaumu)
That's exactly why I keep on running back
(Itulah mengapa aku terus mengejar lagi)
'Cause I'm brittle at the parts
(karena itu aku rapuh)
Where I wish I were strong
(di mana seharusnya kuharap aku kuat)
And maybe when you need my help
(dan mungkin kau butuh bantuanku)
I like myself when it's over🎶
(walau aku lebih suka ketika semua selesai)
Tara pedih mengingatnya. Melihat pria itu seperti setali tiga uang dengan seluruh kenangan yang mengikutinya. Yang ia tahu lebih jelas, Tara rindu.
***
Ia melirik jam di tangannya, 15:05. Ia yakin sebentar lagi Tara akan muncul. Rendi mengambil tempat di sekitaran water fountain yang menjadi icon taman itu. Aku menunggumu, Tara.
Rendi mengedarkan pandangannya ke segala arah taman itu dan matanya terkunci pada satu perempuan mengenakan mantel coklat selutut. Angin bulan Januari berhembus lebih dingin daripada bulan Desember. Layaknya tatapan perempuan itu, Tara.
🎶But later in the light
(namun jika segalanya jelas)
You go dark and rogue, and I need closure🎶
(kau menggelap dan menipu, aku butuh sebuah akhir)
Rendi berdiri dan melangkah perlahan, begitu pun Tara menembus keriuhan anak-anak kecil yang berlari ke sana kemari.
🎶And I know
(lalu aku tahu)
Whatever this is ain't love🎶
(ini semua bukan cinta)
"Tara," ucapnya saat mereka hanya berjarak 2 langkah.
"Rendi," Tara melangkah dan melingkarkan lengannya di sekeliling leher pria itu. Mendekapnya erat, seakan mencoba kedua tubuh itu bisa bersatu. "I'm gonna tell you something but let's keep it like this for a moment. 'cause I miss you."
Rendi merengkuh perempuan itu lebih erat.
"Aku sayang sekali padamu, Rendi. Sungguh bagiku kau berharga," satu bulir kesedihan jatuh dengan mulus dari pelupuk matanya. "One in a million that life could give me."
🎶So I'm go-
(lebih baik kupergi)
I'm gonna let you go, let you go🎶
(aku akan melepasmu, melepasmu)
"Tapi kita tahu, menyayangi seseorang sama seperti kita menggenggam pasir. Jika terlalu erat kita genggam, kita tak menyimpan apapun," perlahan Tara mengendurkan pelukannya. "Aku memilih menggenggam pasir itu tanpa daya."
Rendi mengendurkan pelukannya dengan enggan. Ia tak tahu apakah ini memang yang diinginkannya atau hanya terbawa oleh suasana, "Tak bisakah kita mencoba?"
🎶I don't need a reason
(aku tak butuh alasan)
To keep on dreamin'
(untuk terus bermimpi)
That we don't lose
(jika kita tak saling kehilangan)
Yeah, what's the use?
(untuk apa?)🎶
"Kita berdua adalah bagian dari masa lalu, yang akan menjadi beban emosi masing-masing di masa depan," Tara memandang kedua bola pria itu. Pria yang disayanginya untuk tidak selamanya ia dapat miliki. Karena dalam bunga tidur paling indah pun, tali harapan itu sama sekali tak dapat terikat dengan kencang.
🎶I don't need a reason
(aku tak butuh alasan)
To keep on dreamin', oh
(untuk terus bermimpi, oh)🎶
"Let's be separate again," Tara mundur perlahan, Ia ingin sekali melihat pria itu dengan seluruh indra dan sel dalam tubuhnya. Jiwanya meronta namun ia harus pendam hingga sakit. Karena bagaimana pun juga, jalan yang mereka lalui tidak pernah sama lagi. "Kita jalani hidup kita masing-masing dari sini, aku bahagia telah mengenalmu dan pernah menjadi bagian dari kenanganmu."
🎶That I can win this stupid thing called love🎶
(jika aku dapat memenangkan hal bodoh bernama cinta)
***
Gadis itu sudah berlalu setengah jam yang lalu namun Rendi masih terduduk di pinggir air mancur. Ia sengaja berlama-lama. Menyerap apa yang ia rasakan tadi. Wangi rambut Tara masih sama seperti saat mereka meluangkan waktu untuk bertemu. Harum parfumnya pun tak berubah saat inderanya rakus menghirup aroma tubuh Tara. Hangat jasmani itu seakan tak berkurang sedikit pun saat Rendi merangkumnya dalam dekapan.
Tak ada jalan kembali. Tara sudah menutup rapat dan Rendi menyepakati. Rendi tak pernah berpikir, beratnya melepaskan seperti mendorong bongkahan batu kali yang besar dan seringan partikel debu yang melayang di udara di waktu bersamaan. Lalu, jika rindu mendera, mereka hanya kembali dalam pecahan-pecahan memori yang mengukir senyuman atau tangisan.
..., Aku memilih menggenggam pasir itu tanpa daya.
Semua sudah berakhir, Rendi. Bisiknya kecil dalam hati.
***
Tak seperti masa lalu, pelukannya tadi tidak membuatnya harus berjinjit. Alih-alih, Rendi memang mengangkat tubuhnya hingga ia melayang. Kerinduan pada dua tangan kokoh itu menggelitik sukmanya. Sandaran yang kuat dari bahu bidangnya menyentuh relung jiwanya. Getar suara dari leher beton yang merasuk ke gendang telinga, meninggalkan kesan pembicaraan-pembicaraan yang dihabiskan melalui udara tak bertali. Hingga saat ini, belum benar-benar ada yang berhasil menggantikan setiap fitur lebih dari Pria itu.
Tara menatap pandangan kabur di luar akibat laju kencang ular besi yang ditumpanginya. Semakin alat bantu berpindah tempat itu melangkah jauh, semakin kenangan antara mereka pergi berpencar. Karena hal yang dimulai akan menemui akhir selesainya. Seperti sebuah kalimat yang berujung pada tanda titik.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Ditunggu likes, comment, kritik dan sarannya dear readers 🥰
Song by Niki - Lose
All credit goes to 88Rising
Jangan lupa dinikmati episode ini dengan alunan suara merdu Kak Niki! (kalo ga ada, request aja sama saya buat dinyanyiin di AR ID: 100171 hihihi 😁)