
Bram menekan tombol lift untuk mencapai lantai dasar, setelah mengajukan proposal, ia berharap bisa mendapatkan sponsor dari Mitra Group Indo ini. Event teknologi yang sering diadakan menjadi acara bergengsi di kota ini. Sebagai perintis usaha kopi baru dengan menjadi salah satu F&B di event itu merupakan peluang membesarkan "anaknya" dengan lingkup yang lebih luas. Urusan akan diterima atau tidak, ia menggantungkan pada Sang Pengatur Hidup, yang penting ia sudah nekat memasukkan proposal sponsorship-nya.
Pintu lift terbuka dan hanya ada satu perempuan di pojok sana. Bram masuk lalu menekan tombol G pada panel. Kebersihan kantor ini benar-benar membuatnya berdecak kagum, bahkan pintu lift di depannya dapat memantulkan bayangan siapa pun dengan jelas. Termasuk perempuan di pojok sana.
Bram melirik perempuan itu melalui pintu lift di depannya. Perempuan itu menutupi setengah wajahnya dengan tisu di tangan, tangan bebas lainnya menggenggam bungkus tisu lainnya. Bram hanya berharap perempuan itu bukan sedang merasa mual dan ingin muntah. Sesekali di dengarnya sengguk yang tertahan, apakah perempuan itu menangis? Bram tidak dapat memastikan, yang ia tahu wajah perempuan itu memerah seakan menahan sesuatu.
Pintu lift terbuka dan beberapa orang masuk hingga memaksa Bram untuk mundur jauh ke belakang, tepat ke sebelah perempuan itu. Tak sengaja ia menyenggol perempuan itu hingga akhirnya beberapa saat ia menoleh ke arah Bram. Mereka bertatapan sekejab namun perempuan itu kembali menutup sebagian wajahnya dengan tisu dan menunduk.
Tiba-tiba saja Bram mengingat pernah bertemu dengan perempuan itu. Ya, perempuan dengan sepeda motor yang ia bantu nyalakan dan sama seperti sekarang perempuan itu juga menangis. Astaga, apakah ia benar-benar hobi untuk menangis?
***
Monitor di atas pintu lift menampilkan huruf G, Bram sudah sampai, rombongan tadi pun sudah keluar. Namum Bram tidak juga melangkahkan kakinya keluar dari lift begitu pun perempuan di sampingnya hingga lift itu kembali tertutup.
"Ehem," Bram membersihkan tenggorokannya. "Mbaknya mau ke lantai mana? Biar saya tekankan tombolnya," tawar Bram.
"Hm?" Tara tak menyadari bahwa ia yang diajak bicara. Ia saja sudah tidak sadar bahwa lift yang ia naiki sudah beranjak kembali ke atas.
"Lantai berapa?" tanya Bram lagi.
"La, lantai terakhir paling atas," jawab Tara asal.
Bram menekan angka 15 lalu bersandar dekat panel tombol lift , ia bisa memandang perempuan itu lewat ujung matanya. Hingga mereka sampai ke lantai 15 tak ada satu pun yang bersuara. Pikiran Bram berjalan, mengapa perempuan ini ingin ke lantai paling atas? Sedang menangis pula. Apakah dia mau melakukan percobaan bunuh diri melompat dari kantor ini? Kalau memang pikirannya ini, aku harus mencegahnya.
"Sampai, mbak," ujar Bram sopan. Ia menahan pintu tetap terbuka.
"Terima kasih," sahut Tara. Lalu melangkah keluar, setelah agak berjarak Bram mengikutinya.
Benar, perempuan itu berjalan ke arah tangga darurat untuk naik ke rooftop. Bram mengikuti dan tetap menjaga jarak aman. Suasana lantai 15 cukup sepi dibandingkan lantai lainnya hingga suara langkah perempuan itu masih bisa terdengar olehnya sedang menapaki anak tangga. Setelah mendengar pintu terbuka dan tertutup kembali, Bram baru menapaki anak tangganya.
Ia menyiapkan dirinya jika melihat perempuan itu berdiri di tembok kantor ini siap terjun. Apa yang harus diucapkannya untuk membujuk perempuan itu tidak melakukan apapun yang dipikirkan oleh Bram. Ia memegang gagang pintu dan membukanya.
"Wah, udara pagi ini sejuk sekali," lontar Bram saat pintu itu menjeblak terbuka. Dipastikannya perempuan itu jauh dari tembok untuk siap terjun ke bawah.
Tara menoleh ke arah pemuda itu, "Kau mengikutiku?" ia terkejut.
"Argh," Bram menghirup udara dan meregangkan tubuhnya. "Berpikir udara pagi di atas atap pasti lebih sejuk dan benar. Sejuk sekali di sini," Bram berkacak pinggang dan memandang kearah pemandangan perkotaan yang lebih banyak gedung dibandingkan ruang hijau. Sebetulnya yang di rasakan bukan sejuk seperti yang ia katakan, angin di rooftop ini terlalu kencang untuk ukuran pagi hari.
Tara masih memandanginya sedikit waspada.
"Bram," teriaknya mengalahkan deru angin. "Aku, Bram. Kamu?"
Sejenak perempuan itu meragu, "Tara!" teriaknya kembali.
"Hah? Hai, Rara!" teriaknya.
"TARA!!" koreksinya.
"OH... HAI TARA! SEDANG APA KAMU DISINI?" tanya Bram, tenggorokannya sakit akibat ia harus berbicara melawan deru angin. Tara hanya diam tak merespon. Bram memutuskan untuk datang mendekat, ia berharap Tara melupakan niatnya saat datang ke sini.
"Aku tanya, sedang apa kamu di sini?" tanyanya kembali setelah dirasa jarak mereka tidak membutuhkan usaha Bram untuk berteriak.
"Bukan urusanmu, lagi pula aku tidak mengenalmu. Justru aku merasa terancam akan keselamatanku karena berdua denganmu," ucap Tara mengambil beberapa langkah mundur.
"Woah, tenang," dihadapkan kedua tangannya pada gadis itu. "aku tak ada niatan apapun untuk mengganggumu. Sungguh," Bram berusaha meyakinkan.
"Lihat," Bram mengeluarkan saku jasnya yang tak ada barang apapun, bahkan melepaskan jasnya dan berputar.
"Buat apa kau membuka baju?" tanya Tara panik.
Bram semakin bingung, "Aku hanya menunjukkan aku tak membawa senjata apapun untuk menyakitimu, Tara. Lihat, kan?"
"Aku tak percaya, bisa saja kamu... me, melecehkanku. Kita hanya berdua di sini," Tara mengedarkan pandangannya ke seluruh rooftop kantornya.
"Itu hanya pikiranmu saja, Tara. Aku malah berpikir kau ingin loncat dari ketinggian kantor ini, makanya aku di sini. Mencegahmu," kata Bram akhirnya memilih untuk jujur saja.
Tara masih memandangnya waspada, namun ia menatap Tara balik hingga cara pandang perempuan berambut gelombang itu berubah terhadapnya.
"Kau pikir, aku akan menyia-nyiakan hidupku dengan terjun? Aku tak sebodoh itu dan terlalu pengecut melakukannya," ujar Tara mengalihkan pandangannya dari Bram.
"Bunuh diri itu tindakan yang sia-sia, kau tau," ucap Bram. "Hidup sudah memberimu banyak, lebih baik dinikmati. Dari pada mati konyol lebih baik kau tetap bertahan hidup walau tak melakukan apapun."
Dada Tara berdesir, Rendi pernah mengucapkan hal serupa seperti yang diucapkan Bram saat ini. Ia merutuki dirinya, kenapa semua hal yang ia terima, dengar dan lihat harus terus dikaitkan pada mantan kekasihnya. Ia merasa lelah.
***
Mereka berdua duduk bersisihan dengan jarak. Bersandar pada tembok yang menaungi hingga mereka tidak terlalu kena sinar matahari. Bram memutar badannya menghadap Tara, "perasaanmu sudah lebih baik?"
Tara menoleh, ia perhatikan sebagian wajah lawan bicaranya yang terpapar sinar matahari. "Ya, lebih baik."
"Lebih baik kau lanjut bekerja," Bram melirik jam tangannya, mengambil jasnya dan mengulurkan tangan membantu Tara untuk bangkit.
"Senang berkenalan denganmu, Tara. Walau momennya agak wah ya..." kekeh Bram dan Tara ikut tertawa.
Cantik!
"Sampai bertemu lagi, kalau kita bisa bertemu lagi," ucap Bram kembali mengulurkan tangan.
Tara menyambutnya, "ya, sampai bertemu lagi."
***
Tara mengurut keningnya, sedikit pening. Piza sudah mengering pada kotaknya. Jam menunjukkan pukul 22.45 malam itulah mengapa ia memesan makanan online.
"Mbak Tara belum pulang?" pertanyaan Pak Sapto mengagetkannya.
"Astaga, Pak Sapto," Tara mengurut dadanya.
"Sudah larut, mbak." pak Sapto melihat penanda waktu di tangannya. "Mau dicarikan taksi?"
"Nanti saya pesan Uber saja, pak." Tara menyimpan hasil kerjanya dan mulai membereskan meja kerjanya. "Bapak saya pikir sudah pulang."
"Belum, mbak. Saya shift malam," ujarnya.
"Oh, gitu pak. Saya pulang ya, pak. Terima kasih sudah jaga malam, kalo ada teh jahe dibikin pak biar ga masuk angin," saran Tara sambil mereka berjalan menuju lift.
"Iya, mbak Tara. Saya keliling lagi, ya mbak," pamitnya.
"Oh ga bareng pak turunnya?" Tara menahan tombol pintu lift tetap terbuka.
"Mbak, duluan saja. Mari, mbak," pamitnya.
Pintu lift tertutup butuh 2 menit untuk sampai di lantai ground. Tara memesan Ubernya lalu menunggu pintu lift terbuka. Bang Yusuf, berdiri di gate keluar.
"Ih, si bang Yusuf tega amat sama orang tua," ujar Tara sambil memindai kartu pegawainya.
"Tega gimana, mbak?" Yusuf membetulkan posisinya berdiri.
"Masa orang tua yang disuruh keliling, bang Ucup dong."
"Loh emang siapa yang keliling, mbak?" tanyanya bingung.
"Tuh, pak Sapto. Tadi naik ke lantai 8 dan lanjut keliling," beber Tara.
"Ih, mbak salah orang kali. Pak Sapto lagi shift siang terus dia. Iri saya dia bisa enak tidur malam-malam. Saya kan juga pengen anget-anget sama istri saya," bang Ucup tertawa atas kejujurannya sebagai pengantin baru.
"Serius, bang Cup?" Tara bergidik bulu romanya berdiri.
"Serius, yang jaga tuh saya, Ikhlas, Boy sama si Yanto," absennya. "Pada muter itu, paling si Bang Ato di gerbang."
"Lah berarti yang nyuruh saya siapa, bang Cup?" paniknya.
"Jangan-jangan saya juga demit, mbak," Yusuf sengaja membuat wajahnya tanpa ekspresi.
"Ah, jangan becanda, ah," Tara memukul pelan lengan Yusuf dan ia tertawa.
"Ya, anggep baik aja mbak, udah jam 11 lewat masa masih mau kerja terus. Besok masih bisa diteruskan," sahut Yusuf.
"Ya, udah bang. Saya duluan, ya. Makasih udah jaga malem ini, salam buat yang lain." Tara melipatkan uang seratus ribu di tangan Yusuf, "buat ngisi perut rame-rame ya."
"Oh makasih, mbak. Hati-hati di jalan," ucapnya.
Tara berjalan ke pintu kaca manual, karena pintu otomatis berhenti bekerja pukul 21.00 dan akan beroperasi lagi mulai pukul 06.00 pagi. Mas Ato yang bercakap-cakap dengan pengemudi Uber langsung terhenti ketika melihat Tara keluar dari gedung.
"Mbak, Ubernya udah sampai nih," serunya.
"Oh, makasih mas Ato," jawab Tara.
"Tadi udah saya kasih wejangan mbak biar jalannya pelan-pelan dan ga boleh macem-macem sama, mbak Tara," ungkapnya.
"Terima kasih, ya. Saya udah titip ke bang Ucup buat isi perut jaga malam ini," ujar Tara sambil membuka pintu penumpang.
"Oh, siap, mbak. Makasih, hati-hati dijalan. Pak hati-hatinyak," lirik Ato ke kaca pengemudi.
"Beres, A..." sahut driver Uber itu. "Mbak Tara?" tanyanya melirik ke arah spion.
"Iya pak, sesuai lokasi ya," ujar Tara.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Ditunggu likes, comment, kritik dan sarannya dear readers 🥰