
"Second round?" ajak William.
"Pindah ke bawah doang?" tanya Genta.
"Ya enggak lah, ke Sonor8 lah," kata William.
"Eh, ayo," respon Vanka semangat. Lama sudah dia tak meliuk-liukkan tubuhnya dalam lantangnya dentuman musik yang memekakkan telinga.
"Mmm," Genta melirik arlojinya. "Berhubung Tara bukan morning person tapi kan besok masih hari jumat, gua antar dia balik aja deh."
"Lho, kalo kamu mau second round gak apa-apa. Aku bisa pesan Uber," Tara meyakinkan dan itu memang yang ia maksudkan. Terbiasa mandiri tidak membuat dirinya repot tentang antar-mengantar.
"Ya tapi aku gak tenang," timpal Genta.
"Duuuhh..." Vanka tersenyum mesem-mesem sambil menyenggol kaki Tara.
"Gua up, deh," putus pria di sebelah Tara. "Antar nyonya negara dulu."
"Enak aja, aku Tara bukan bu Iriana lho," ucap Tara membelalakkan matanya.
"Well, we seperated here," William menyusupkan sebelah tangannya ke pinggang Vanka saat mereka berdiri. "I'm so glad how we spent time together."
"Ya," ujar Tara. "Aku juga senang bertemu denganmu Vanka." ia menekankan nada bicaranya saat mengucapkan nama temannya.
"Oh, ga masalah. Kita bisa hangout bareng tanpa pria-pria ini, sist," responnya yang mengartikan keadaan sebenarnya.
***
"Wil, gua rasa Sonor 8 kelewat deh," Vanka berteriak melawan deru suara angin oleh kencangnya laju motor.
"Ganti haluan, masalah ga?" Jawab William yang fokus berkelok mulus membelah jalanan dengan mobil-mobil di kanan-kirinya.
"Emang mau ke mana?" Vanka berusaha melirik jam di pergelangan tangannya dan memastikan dirinya cukup aman di atas motor yang bergerak bak barong sai itu.
Jam menunjukkan pukul setengah 10 malam, belum terlalu larut untuk ia yang senang menghabiskan waktu hingga jauh malam. Tapi tanpa tau arah tujuan kemana mereka pergi, setitik rasa cemas menghampiri kepalanya.
"Lo ga ada niatan mau bawa gua uji nyali ke rumah hantu kan?" Ia hanya bisa melemparkan pertanyaan lucu dibalik kecemasannya.
***
"Masih dianggap uji nyali ga?" William mematikan mesin motor dan membuka helmet. Mereka berhenti di rumah sederhana dalam kompleks di daerah Karawang,
Rumah sederhana namun asri. Bergaya sentuhan khas etnik Bali dengan beberapa ukiran menghiasi pintu utama. Juga tiang-tiang yang menyanggah carport berukir meliuk membentuk guratan floral yang cantik. Tak lupa, tiap pojok taman berhiaskan bunga-bunga pot hingga bunga tanaman kamboja. Vanka yakin, pemilik rumah ini menyukai kegiatan berkebun dan merawatnya sendiri.
"Pantat gua keram, jauh banget ini ampe Karawang," keluh Vanka.
"Ya udah turun dulu, yuk," ajak William.
Vanka menurut saja walau ia bertanya-tanya rumah siapa ini dan apakah mereka akan masuk ke dalam di jam yang tidak bisa dikatakan jam bertamu.
Dengan santai William membuka gerbang dan masuk ke area teras. Ia berhenti dan mengetuk. Tak lama terdengar langkah kaki setengah berlari dan pintu terbuka.
"Oma, Om Wiyi pulaaan," teriak bocah perempuan usia empat tahunan yang membuka pintu.
"Eh, ada Ruth, ya," mata William melebar melihat bocah kecil dengan potongan poni rata berwajah manis muncul.
"Om Wiyi, Om Wiyi," minta Ruth dengan kedua tangan menengadah ke atas, minta digendong.
"Hup!" Dengan cepat bocah manis itu telah berpindah ke dalam gendongan William. Dengan erat ia memeluk leher William. "Ih, kamu tambah berat, Ruth!"
"Enak aja,, Umhh.. aku, aku diet tauk, Om," ucapnya terbata-bata.
"Halah, kayak ngerti aja diet apa," William menjawil hidung bocah itu.
Ruth memandang ke arah Vanka, "capah?" Telunjuknya mengarah sebentar ke arah Vanka lalu mendarat tepat di bibir William.
"Ayo kita masuk biar kenalan," ujar William.
Ruth masih tetap memandang Vanka yang membuntuti William masuk ke rumahnya. Vanka mengerling dan memasang muka lucu yang membuat bocah manis itu salah tingkah dan menutup wajahnya dengan menyender pada bahu William. Kemudian ia mencuri pandang lalu kembali malu-malu.
"Kak Vero datang?" Kata William saat mendapati seorang perempuan berparas cantik dengan dagu runcing.
"Ini malah baru mau pulang," Perempuan bernama Vero itu mengambil Ruth yang masih lekat bagai koala.
"Ahh, indong om Wiyi, Om Wiyi," pintanya.
"Ga mau pulang sebelum ketemu, Omnya. Eh, hai," mata Vero beralih kepada Vanka yang dari tadi hanya diam mengamati. "Kamu ga ngenalin bawa temen gini. Hai, aku Vero, kakak William. Percayakah kalo kami bertiga bersaudara punya nama yang berurutan sesuai abjad? Vero, William, Xaverius, VWX hahhahah... Siapa namamu?" Ia mengulurkan tangan. Vanka bisa merasakan, Vero seseorang yang ramah dan gampang menerima orang baru, ia sedikit lega.
"Vanka, kak" jawabnya sambil mengulurkan tangan.
"Hai, duduk-duduk, di meja makan aja ya, biar gampang ambil minum," ajaknya.
Vanka bertukar pandangan ke arah William yang hanya menjawab dengan kerlingan.
"Abis masak soto, kak?" Tanya William.
"Tau aja kamu, mama kepengen makanya dateng juga. Mana si Ruth katanya kangen sama, Om-Omnya," jawab Vero. "Ma, ada temennya William, nih."
Deg!
Mereka udh ngobrol intens dua Minggu belakangan. Tak sedikit pun terpikir olehnya, hari pertama mereka bertemu, langsung juga bertemu dengan orang tua William. Perempuan mana yang ga jiper ketemu ibu dari pria yang sedang dekat dengan mereka. Vanka berusaha menilai penampilannya apakah pantas bertemu sang ibu. Oke, ini serius uji nyali.
Yang diserukan mama, muncul dari arah ruang makan. Wanita separuh baya yang masih memperhatikan penampilannya. Tidak seperti kebanyakan ibu-ibu yang sudah mengenakan baju kebesarannya, daster, tapi ibu dari William ini masih memakai pakaian santai namun tetap rapi. Rambutnya digelung dan disematkan tusuk konde. Tangannya memegang serbet untuk mengeringkan karena basah sehabis mencucinya. Wajahnya berseri dengan banyak garis senyum pada ujung matanya.
"Masa si Wilun bawa temen udah jam segini?" Katanya. "Sini, Vanka," tangan Vero melambai mengundang ia mendekat.
"Malam tante," Vanka mengulurkan tangannya saat jarak mereka sudah cukup dekat. "Saya Vanka, maaf bertamu malam-malam."
"Oh, ini nak Vanka itu, Wil?" Tangannya menyambut sambil melirik ke arah William yang menjawab dengan senyuman. "Saya Utari, mamanya mereka ini. Masuk-masuk, kita di ruang makan aja," Utari mempersilakan Vanka ke ruang makan.
"Vero, bikinin wedang uwuh gih, banyakin jahenya," perintah Utari kepada anaknya sulungnya. Lalu pandangannya beralih pada Vanka yang berjalan di sisinya, "Eh, kamu bisa minum jahe kan?"
"Bisa aja, Tante, tapi ga usah repot-repot," Vanka tertawa. Sesungguhnya dia lebih cepat menelan campuran Vodca dengan sedikit perasan lemon dibandingkan sesuatu yang terdengar seperti mantra di telinganya. Apa tadi, wedang? Sendang?
"Ini malem, pasti kamu di jalan tadi dingin, naik motor pula. Si Wilun sih ga perasaan." kata Bu Utari.
Mereka semua tiba di ruang makan, suara kursi bergeser dari tiap sisi. "Silakan duduk, ayo, ayo."
Vero yang dititahkan membuat minuman, langsung sibuk di ujung ruangan lainnya yang hanya dipisahkan oleh partisi dari kawat yang digantungi bermacam-macam foto polaroid dan tanaman gantung. Ia merebus minuman untuk mereka yang namanya asing ditelinga Vanka. Utari yang duduk berhadapan dengan Vanka memandangnya lurus-lurus.
"Ma jangan dibikin tegang gitu dong," ganggu William sambil tertawa.
"Siapa yang tegang, ya, Vanka," Utari meminta persetujuan perempuan di hadapannya.
Well, I am, cicit Vanka dalam hati.
"Kamu kenal William dari mana?"
"Oh, iya, dia temennya pacar si Gentong, ma," terang William. Vanka sedikit terkikik saat tahu teman dekat Tara memiliki julukan Gentong.
"Owalah, dunia sempit rupanya. Eh iya, si Genta lama ga kesini, apa kabarnya, Wil?" Tanya ibunya.
"Kan dia abis ada pameran, ma. Terus sibuk sama pacar barunya itu, lho," Ruth yang ada dalam gendongannya menepuk-nepuk pipi William mencari perhatian.
"Oh, pantaslah, biasanya suka gantian nginap kan kalian. Sampai mikir saya, apa mereka pasangan homo," canda Bu Utari.
"Ih, mah, omongan doa lho," kata William.
"Ya, enggaklah. Mama juga ga pengen nambah anak laki, cukup kamu sama Iyus aja," katanya.
"Lah, mana dia? Belum pulang?" tanya William.
Vero menjawab dari kejauhan, "katanya ada tugas kuliah tuh, jadi nginep di rumah Andar."
"Ah, palingan main band dia, tuh," sahut William.
"Om di mana, Tante?" tanya Vanka basa-basi sebenarnya sekaligus mempersiapkan diri untuk kenaikan level uji nyali.
"Papanya anak-anak, kerjanya di tengah laut Jawa sana. Pekan depan baru pulang dia, jadi ya gitu. Untung punya anak laki-laki dua jadi ada yang jagain deh," jelasnya.
Vanka lega, setidaknya level uji nyali akan ditunda dulu.
"Kerja apa kamu, Vanka?" tanya Utari sembari membuka toples-toples berisi camilan. "Sekalian diicip, nih."
"Saya kerja di Mitra Group Indo, Tante. Tim statistik." jelas Vanka.
"Wil, hati-hati nanti kamu dianalisa terus lho sama, Vanka," lirik Bu Utari sambil memakan satu nastar.
"Ah, Tante bisa aja," ujar Vanka.
"Nih, minum dulu," Vero selesai menjerang minuman yang Vanka sudah lupa namanya. Satu persatu cangkir bening diletakkan di depan semua yang di ada di meja. "Kayaknya aku masukin kapulaga kebanyakan, ma. Jadi kalo aromanya sedikit kenceng, maklumin ya, nona," Vero menepuk pelan punggung tangan Vanka.
Vanka memandang gelasnya, banyak sekali rempah yang semrawut seperti jalanan ibu kota di dalam gelas. Ia jadi ragu apakah ini layak untuk diminum walau warnanya mengingatkannya pada red wine.
"Belum pernah minum wedang uwuh nih pasti," terka Vero yang mengaduk isi gelasnya dengan kayu manis.
"Hahaha, iya, belum kak," Vanka masih memperhatikan isi gelasnya. "Tapi aku tau ini pakai cinnamon." Seraya menunjuk pada kulit kayu manis yang mencuat keluar dari gelasnya dengan tugas untuk mengaduk.
"Coba aja dulu, unik rasanya lho. Enak buat badan yang abis kena angin malam, ada jahe soalnya," ucap Bu Utari sambil menyesap sedikit karena masih hangat. Bahkan kepulan tipis asap masih mengepul dari tiap gelas.
William yang hanya diam dari tadi sudah menuip-niup minumannya karena ia berbagi dengan keponakan yang masih dalam pangkunya. "Enak, coba deh. Resep istimewa turunan keluarga, tapi diturunkannya cuma untuk perempuan-perempuan aja dari eyang. Jadi aku sih ga tau cara buatnya, siapa tau nanti kamu diajarin mama."
"Bisa, nanti kita lihat ke depan," ujar Bu Utari santai.
Vanka sedikit gelagapan saat tau ini resep warisan keluarga dan Bu Utari ingin melihat perkembangan mereka sebelum mengajarkan. Apakah ini sebagai peringatan atau lampu hijau? Entahlah.
"Vanka coba ya, Tante," izinnya lalu meniup sedikit sebelum menyeruputnya. Rasa manis yang samar singgah di lidahnya, aroma rempah yang kaya dan tipis rasa getir menyerang indra pengecap. Tenggorokan dan tubuhnya menghangat seketika dan ia menemukan dirinya ketagihan menyesap isi gelasnya.
"Gimana, enak ga?" Tanya Vero.
"Surprise sih aku kak, rasanya tidak seperti penampakannya," nilai Vanka. "Enak."
"Sama kayak alkohol, keliatannya santai tapi kita juga terkejut pas minum," sahut William. Satu meja tertawa.
***
"Aku. Butuh. Penjelasan," Tara menyembulkan kepalanya dibalik kisi meja kerja Vanka.
Vanka tersentak kaget di kursinya, "astaga, kalo dateng tuh pake angin sama hujan dong, jadi gua aware."
"Ga usah banyak a-le-san," kali ini Tara menyenderkan tubuhnya ke kisi kubikel Vanka dan melipat kedua tangannya di dada. "Itu alesan lu sekarang cekikikan liat ponsel pas jam makan?"
"Iya!!!" seru Vanka tanpa basa-basi. Wajahnya berseri-seri dan Tara tak pernah melihat ia seriang ini. Waktu memberi pengumuman ia resmi berhubungan dengan Berryl pun, tak seperti ini ekspresi yang ditunjukkannya.
"Lalu?" Tara menunggu kelanjutan ceritanya.
Vanka menoleh pada penunjuk waktu di layar monitornya, 30 menit lagi mereka masuk pada jam makan siang. Ia memutuskan untuk cabut saja. Diraihnya ponsel, berdiri dan menarik tangan Tara, "ga di sini ya diskusinya, beb."
Dengan cepat mereka menuju lift dan melesat ke lantai paling tinggi di kantor mereka. Melangkah lebar menuju tangga dan menjeblak pintunya. Panas terik menghadang mereka. Bagaimana pun kencangnya angin di atas Rooftop itu, terik matahari dalam perjalanan menuju ubun-ubun umat manusia seperti pedagang di pasar yang menjaja dagangannya, semangat.
Vanka menarik tangan Tara sampai menemukan tempat yang dapat memayungi mereka dari cerahnya senyum mentari. Vanka mengeluarkan rokoknya otomatis, begitu pun Tara. Agak sulit bagi mereka melawan kejamnya angin untuk menyalakan pemantik api masing-masing. Seakan mereka berdua adalah peserta lomba receh di perayaan 17 Agustusan.
"Hahhhhh..." Tara menghembuskan kepulan asap setelah berhasil menghidupkan rokoknya. Disusul Vanka sesaat setelahnya. "Gua menang!"
"Gosh, dear. Receh banget kita, hahhaaha," respon Vanka.
"Well, yang milih tempatnya strategis banget sih," Tara melemparkan senyum dan memutar kedua bola matanya.
"Ya, kan ga mungkin kita gesek kartu pegawai sebelum waktu break maksi," Vanka menggigit rokoknya dan kedua tangannya bekerja mengikat rambut panjangnya.
"Ok, I'm ready," Tara menyiapkan telinganya untuk cerita Vanka.
"Sebenernya, hubungan gua akhir-akhir ini udah mulai hambar sama Berryl. Kami tau, semakin lama hubungan ini hanya terlihat untuk saling memuaskan hasrat masing-masing, sampai akhirnya Kantornya ngirim dia ke Belanda," Vanka menghirup rokoknya dan mengeluarkan asapnya.
"Gua sih mendukung dong, maksudnya itu juga memang tujuan kerja kerasnya selama ini. Biar dia bisa kerja di kantor pusat yang lokasinya di Belanda. Gua tau, how hard he's trying his best to got there. Kami juga sepaham, perasaan kami sudah memudar jauh lama. Akhirnya pisah pas gua anter dia ke bandara 3 Minggu lalu."
"Terus, William ini dateng setelah kalian putus?" tanya Tara. Ia beranggapan bahwa hubungan Berryl dan Vanka merupakan hubungan paling stabil diantara banyak lingkaran pertemanan mereka.
"Nope, sebelum putus. Gua pun kasih tau dia. Yang kayak Lo tau gua dan Berryl pun masih sama-sama main aplikasi itu, kadang cuma buat komentarin foto-foto konyol atau nyari jaringan kerja sama kerjaan dia. Tapi kalo ada yang lebih, gua ga tau ya Berryl gimana, yang jelas gua bilang kalo gua kenalan dengan William ke Berryl and he's said he's ok."
Tara mengangguk-angguk takjub betapa transparan hubungan Vanka dan Berryl. Entah karena memang sejak awal mereka telah menyusun kesepakatan itu atau memang karena rasa mereka berdua sudah menguap bagaikan embun yang di sapa matahari jam tujuh pagi.
"Gua berhubungan cukup intens sama, William dua Minggu belakangan ini, awal-awal pas masih bareng sama Berryl dia masih datang-pergi sesukanya. Tiap gua update apapun ga pernah dia Miss buat lihat, kadang gua share playlist lagu Raisa Usai Disini, dia mengira gua ga mau hubungin dia lagi dan dia bilang di kan peka. Padahal gua suka aja ilustrasi video klip di update-an itu," Vanka terkikik sambil memandang sepatunya.
"Bahkan semalem, dia ngajak gua ketemu sohib kentelnya dan malah ketemu elo... lalu diajak pula ke rumah orang tuanya," tambah Vanka. "Di Karawang, bayangin beb, pantat gua tepos sampe di sana."
"Terus, apa yang bikin lu jadi begini?" Tara memandang Vanka dari ujung kepala hingga kaki. Tak ada perubahan drastis pada tubuhnya kecuali senyumnya tiap saat akan lebih lebar dari senyumnya biasa.
"Dia ingetin gua rasanya jadi seorang wanita dengan penuh rasa, gua bahkan bisa merasakan getaran yang berbeda yang dia kirimkan, Tar. Semuanya berbeda dari yang pernah gua dapet di mantan-mantan gua sebelumnya. I feel alive when I found myself around him."
"Gua senang dengernya, Van," Tara tersenyum tulus. Tanpa memandang apa yang ia sendiri rasakan tetapi emosi yang dipancarkan Vanka menular padanya. "Imut sih, si William. Wait, dia sahabatan sama Genta berarti... brondong?"
"Your welcome, sist," tawa mereka berderai terbawa angin dan angan di rooftop itu.
***
Sudah lima belas menit Sofia duduk mematung di toilet duduknya, ia seakan terpatri dan menjadi bagian dari toilet itu. Sudah dua Minggu ini dia curiga tentang apa yang ia alami dengan tubuhnya.
Saat diputuskan untuk mengecek keanehan yang dirasakannya, perasaannya campur aduk tak bisa dijelaskan. Apakah ia senang? Apakah dia marah? Apakah dia khawatir? Apakah ia takut? Disanggahnya kepala dengan kedua tangan yang bertumpu pada kakinya. Jiwanya teriris, hatinya menangis namun tak sebutir pun air mata mengalir keluar.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Ditunggu likes, comment, kritik dan sarannya dear readers 🥰