Swipe You, Swipe Me

Swipe You, Swipe Me
The Judgement and The Ace of Cups



Sudah dua hari bangku itu kosong. Sudah dua hari pula tak ada kabar berita dari si pemilik bangku. Bu Salma mencecar dirinya tentang informasi yang ia ketahui tentang absennya Tara. Vanka pun nihil info hingga pagi ini ada seorang wanita datang ke kantor dan mendapat akses untuk bertemu dengan bu Salma.


Vanka mengenali wanita itu yang tidak lain sahabat dekat Tara. Ia pernah melihatnya beberapa kali menjemput Tara atau ada di salah satu terbitan baru media sosialnya. Vanka yakin, berita yang dibawa teman Tara itu bukan suatu info yang menyenangkan karena ia mendapati bu Salma beberapa kali menggeleng prihatin jika melewati kubikel Tara.


Di sisi lain, malam ini adalah malam tahun baru. Tara jelas tak bisa diajak menghitung mundur tahun yang akan berlalu, tapi William pun sudah seminggu tak berkabar. Sebenarnya bukan sepenuhnya salah William, sesekali ia menyapa lewat pesan singkat, namun Vanka memilih bungkam.


Ada sebuah ketakutan yang menyerang pikiran Vanka jika ia sudah di dalam sebuah hubungan yang intens, Ia akan mulai menarik diri dengan sadar. Hanya satu alasan ia melakukannya, ia tak ingin sakit jika mereka tidak bersama. Namun melakukan hal itu pun sudah menyakiti hatinya. Vanka pun bertanya-tanya apakah ini wajar?


Vanka, malam nanti ikut yuk ke acara party YouthRadio. I'll pick you up at 9?


Ia hanya membacanya dari notifikasi di ponsel tanpa membuka pesannya. Rencana yang dipikirkan hanyalah, setelah pulang kantor ia langsung mengambil komuter pertama menuju Depok, rumah orang tuanya. Vanka rindu pada William, tapi ketakutannya membuat ia merelakan rasa sakit mendera hatinya.


***


Berkali-kali Rendi mengubah sasaran telepon di ponselnya, berganti antara Tara lalu Kiara. Sebagian dirinya sudah berpikir untuk sudahlah, tak perlu dipikirkan kembali. Namun karena ia melihat kondisi Tara malam itu, setengah dirinya khawatir.


"Ren," sebuah tangan mendarat di pundaknya.


"Ya," jawabnya.


Perempuan itu bersandar di mejanya, "nanti malam gimana kalo kita ke Ancol. Pasti seru melihat kembang api di pinggir pantai."


Rendi menyenderkan punggungnya pada kursi dan tampak berpikir, tidak buruk juga pergi ke sana dan sepertinya sudah lama ia tidak ke pantai. Walau terkadang BNB atau homestay yang dikerjakan berjarak dekat dengan laut.


"Tak hanya denganku, kok," imbuh Sofia. "Tadi Benu mengajak rekan sekantor tapi sepertinya kau tidak memperhatikan. Apa ada sesuatu di pikiranmu?"


Ia memandang kedua mata Sofia, tidak mungkin ia mengatakan bahwa pikirannya sedang terganggu akan kondisi Tara. Bukan takut akan menyakitinya, hanya saja Sofia tidak perlu tahu apa-apa tentang Tara.


"Tidak, lagi pula kita tidak ada agenda. Count me in!" jawab Rendi.


"Asik! Aku berpikir akan semembosankan apa nanti malam jika kau tak ikut, kebetulan..." Sofia berhenti sejenak dan tampak menimbang akan sesuatu.


"Kebetulan apa?" tanya Rendi menunggu.


"Ah, tidak. Aku hanya rindu padamu, tumben sekali Banu mengirimmu sendirian ke Surakarta awal sejak awal bulan," nada Sofia manja.


"Kau bisa saja," padahal Rendi memang meminta untuk dikirim sendirian ke sana.


"Oke," Sofia melirik jam tangannya. "Aku sedang menunggu email dari vendor painting, lebih baik aku kembali ke mejaku. See you."


Sofia tampak berbeda, sebelum langkahnya terlalu jauh Rendi memanggilnya.


"Ada apa?" Tanyanya saat menoleh.


"Jangan terlalu banyak makan, kau terlihat sedikit gendut," ujarnya yang melihat Sofia lebih berisi dari pada biasanya.


"Be, benarkah?" sesaat Sofia terdiam tanpa memandangnya, lalu ia tersenyum. "Ayo mulai minggu depan temani aku jogging kalau begitu."


***


"Tumben kamu malah pulang tahun baru gini," Bianca, Ibu Vanka, sedang menyiapkan bumbu barbeque karena tau Vanka pulang malam ini. "Nyaris mama mikir bakal bakar jagung berdua lagi sama papa kayak tahun lalu."


"Lagian mama kenapa ga ke mana, gitu," Vanka mencomot potongan timun segar di meja.


"Yah, kalo ke Bali atau ke Jepang ga ngajak kamu sama kakak mana enak, mondar-mandir berdua doang sama papa." Bianca mengolesi daging stik dengan bumbu marinade lalu menyimpannya agar lebih terserap ke daging.


"Arang udah siap ya," Maulana, papa Vanka, berteriak dari halaman kecil mereka di belakang. "Siap panggang."


"Ih, si Papa jarak deket aja suara keras banget," Vanka mengangkat piring berisi udang dan sate yang sudah diberi bumbu mamanya. Ia melangkah sambil membawa beberapa piring pelengkap barbeque-an mereka.


"Biarin, ngalahin anak tetangga yang lagi tiupin terompet. Lagian tadi siang papa nanya kamu mau dibeliin terompet apa engga, diem aja," Maulana memandangi anak gadisnya sambil memegang capit masak, menunggu udang yang harus ia bakar di atas tungku.


Vanka menyodorkan piring itu untuk dibakar isinya oleh ayahnya, "Kalau papa nawarin itu dua puluh tahun lalu ya aku pasti udah kegirangan."


"Hehehe, udah tua banget dong papa sekarang?" Maulana berkelakar dan memasukkan seluruh isi piring berisi udang segar untuk diolah.


"Papa mah mana ada sih tua-tuanya, aku heran malah kok ga berubah dari dulu, skincare-nya apa sih,pa? kali Ade bisa ikut pake," goda Vanka.


"Papa join punya mamamu," canda Maulana kepada anak gadisnya sambil mengedip.


Bianka yang membawa piring-pring lain dari dalam rumah mendengar pembicaraan kedua orang itu, "pantes krim malam mama cepat habis. Besok beliin lagi, pah."


"Nah, ini nih yang ga seru, kalo masalah tagihan langsung papa yang kena," Maulana terbahak lalu mengangkat udang yang telah matang.


Vanka melangkah ke meja mengambil daging stik yang tadi dibumbui mamanya.


"Dek, kamu ga mau undang temanmu siapa kek gitu? Kayaknya kalo kita yang habiskan semua, besok pagi ga ada yang bisa bangun deh karena kolesterol," mama mulai menuangkan isi sampanye pada gelas berkaki di meja.


"Udah pada punya acara semua," jawab Vanka singkat lalu mengoper daging stik ke wilayah panggangan.


"Jadi kamu doang yang ga ada acara?" tanya Maulana menerima piring berisi daging-daging itu. Api mulai menjilat-jilat seru saat ia meletakkannya di atas tungku.


"Enak aja, Vanka udah ada acara sama kalian tau, hahahahahah" Vanka otomatis memeluk ayahnya.


"Bisa, aja," Maulana membalas pelukan anaknya dengan tangannya yang bebas dan mengecup kepalanya.


***


Angin berhembus sepoi. Restoran-restoran di pinggir pantai ramai dengan pengunjung yang memadati. Berbagi waktu di saat-saat terakhir di penghujung tahun. Sama seperti di meja mereka, Imagine co. saling bersisian merayakan satu tahun yang sudah berlalu.


"Guys, ingat kondisi kita di akhir tahun lalu, kita menyelesaikan hanya lima belas project desain interior dan segelintir iklan," Banu memulai sambutannya malam itu, semua orang di meja itu mengangguk khidmat.


Rendi pun ingat betapa sering ia bercerita atau katakanlah mengeluh kepada Tara betapa sulitnya kantor mendapat project-project baru. Bahkan terancam banyak pegawai yang di PHK karena kurangnya dana untuk menggaji. Tapi akhir tahun ini, semua boleh berlega.


"Hm, Des, berapa banyak peningkatan kerja sama kita dalam tahun ini?" tanya Banu.


"Kita kan sedang makan malam, Nu," sungut Desta.


Namun semua orang di meja itu hanya menganggap lalu apa yang disampaikan Desta barusan. Mereka tau, karena mau di situasi apapun untuk persentasi hasil kerja mereka, ia akan sebutkan seperti ia menyebut alamat rumahnya.


"Untuk bidang Multimedia dan Advertisment kita naik 145 % dari performa kita tahun lalu sedangkan dari Design Interior kita meningkat sekitar 205 % lah teman-teman!!" terang Desta memekik.


Semua orang semakin riuh saat mendengar persentase peningkatan hasil kerja perusahaan di akhir tahun ini. Tak percuma mereka berlelah dan kadang lupa keluarga di rumah. Sofia dan Rendi saling bertukar tos di bawa meja, betapa kerja lelah mereka dalam setahun benar-benar terlihat.


Banu memukul gelasnya dengan sendok hingga semua terdiam, "Kalau diingat-ingat, waktu itu kita mulai dengan Gue, Rendi, Desta sama Imron, yang sekarang Imron udah cabut duluan. Lalu bertambah dengan kalian semua yang ada di meja ini. Gua, pribadi, bersyukur banget dengan kehadiran kalian," wajahnya Banu memerah. Seperti terharu dengan ucapannya sendiri.


Semua orang bergumam menyalutkan kerja sama mereka sebagai rekan kerja juga peran Banu sebagai pemilik perusahaan yang memimpin mereka dengan baik.


"Maka," Banu mengangkat tangannya dengan dramatis, ia menyedot sedikit lendir di hidungnya. "Mari kita rayakan malam ini," Banu mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.


Semua orang dimeja itu mengikuti dan mengangkat gelasnya.


"Demi kemajuan Imagine co. di depan!!!" seru Banu yang diikuti oleh seluruh meja. Bunyi denting gelas yang beradu, tawa dan canda menetap di meja makan itu.


***


Vanka mengambil sebotol sampanye dalam lemari penyimpanan. Ponsel yang ia taruh dekat dengan meja dapur menyala. Panggilan ke-33 dari William. Vanka menepuk keningnya. Sambil memeluk botol sampanye ia mengangkat panggilan itu.


"Vanka, kamu tak mau berbicara denganku lagi?"


"Hey, aku baru tau itu kalimat sapaan baru," ia mencoba mencairkan suasana. Tak bisa dipungkiri senyumnya terbit dari kuping kanan hingga kiri. He's already be her favorite man right now.


"Aku serius, Vanka. Apa aku membuat sesuatu yang salah?" tanya William sedikit kesal.


Nope, the one who should to be blame is me. ucapnya dalam hati.


"Aku masih di acara radio dan masih menunggu kau merespon ajakan ku," ucapnya tegas.


"Nikmatilah acaranya, William," jawab Vanka.


"Aku gak bisa menikmati sesuatu yang seharusnya bisa ku bagi bersamamu, ayolah. Kau jawab ya dan aku akan menjemputmu," katanya sungguh-sungguh.


"Aku ga di apartment, Wil. Aku sedang di rumah orang tuaku," Vanka sudah berpikir tidak mungkin Willian akan mencapainya jika ia mengiyakan ajakan itu. Mereka akan kehabisan waktu di jalan.


"Just say yes and I'll be in your place before 00.00," Vanka melirik jam di ruang tamunya, 23.07 wib. Dia bercanda? Namun dalam hati kecilnya, ia pun meraung-raung rindu akan sosok pria manis itu dan ingin ia di datang.


"Can you bring amer here?" dari pada hanya menjawab ya, lebih baik Vanka memintanya membawa sesuatu ke sini. Karena membawa martabak untuk kedua orang tuanya di jam seperti ini, tak ada yang menjual lagi.


"Kirim lokasimu, ya," pinta William. Sambungan telepon itu terputus, meninggalkan Vanka dalam debaran jantungnya sendiri.


William, dia pria yang baik walau memang mereka berbeda usia dimana William lebih muda. William memang tidak pernah menyatakan untuk melangkah dalam hubungan yang lebih serius dan jika Vanka pun harus menjawab, ia belum terpikir untuk memiliki keluarga. Namun, jika ia harus memiliki sebuah hubungan berkomitmen yang ia takutkan adalah sebuah kata pisah.


Koin memang selalu memiliki dua sisi, kepala dan ekor, pertemuan dan perpisahan, bersama atau berpisah. Jika ia memutuskan untuk bersama, ia juga harus menerima jika kelak akan berpisah. Vanka tidak suka akan hal itu.


"Dek, mana? Papamu udah haus nih," panggil Bianca dari taman belakang.


Vanka tersadar, "iya bentar, ma." Dipandanginya layar ponsel yang menampilkan waktu saat itu.


Jika kau datang sebelum dua belas kurang sepuluh, I'll take a risk for us.


***


"Ren, ada yang ingin aku bicarakan," Sofia membersihkan tenggorokannya. Mereka sedang duduk berdua di atas karang yang jauh dari deburan air laut. Di langit, satu-dua kembang api telah memecah pekatnya malam dengan beragam warna yang beraneka.


Rendi menoleh dan tersenyum, "Kurasa sedari tadi kita telah berbicara, Sofia. Memang ada apa?"


"Ada sesuatu yang perlu kau tau dan kuberikan padamu," Sofia merogoh tasnya.


***


Did did!


Suara klakson menghentikan candaan orang tua-anak di meja taman itu. Vanka mengaktifkan layarnya. Tertera 23.48 wib. It can't be!


"Biar ade yang buka pintu, ma," ucapnya sambil menahan tangan Bianca saat ia melihat Bianca mulai beranjak.


"Kamu jadi undang temanmu?" tanya Maulana dan melemparkan ekspresi tanya kepada isterinya.


"We'll see," sahut Vanka sambil setengah berlari ke pintu depan. Ia bak anak kecil tersenyum senang karena diberikan gula-gula.


***


"Hadiah?" Rendi menatap kotak pipih panjang berwarna krem dengan pita merah di atasnya. Sofia tak pernah memberikan hadiah tahun baru selama ini. "Ah, maaf aku tidak menyiapkan apa-apa."


Kotak itu bergulir ke tangan Rendi, ia menatap Sofia lamat-lamat. Dari belakang mereka, orang-orang mulai berteriak menghitung mundur angka detik dari tahun yang akan mereka tinggalkan.


"Bukalah," ujar Sofia lalu mengalihkan pandangan ke atas langit, menanti riuhnya letusan kembang api yang melayang, meledak, berpendar lalu menghilang di tiup angin.


Tiga...,


Dua...,


Satu....


Rendi membuka kotak itu.


"Happy new year, Ayah," ucap Sofia lirih.


***


"Happy new year!!!" seru empat orang di taman itu sambil menarik tali tabung confetti hingga isinya melesat sesaat ke udara dan jatuh berguguran seperti dedaunan dari pohon yang meranggas. Latar belakang mereka, bunyi riuh terompet dan kembang api saling sahut-menyaut.


"Selamat tahun baru," Bianca, Maulana dan Vanka saling bertukar peluk dan cium.


"Selamat tahun baru juga William, sering-sering main ke rumah sini, jangan ke apartment anak saya saja," canda Maulana.


"Hehehe, iya om, diusahakan," William terkekeh.


"Kamu ga ajak Vanka ke mana gitu tahun baru?" tanya Bianca usil yang akhirnya mendapat colekan dari Vanka di sikunya.


"Vanka pengen ngenalin saya ke Om dan Tante katanya, makanya ajakan saya ditolak mentah-mentah," ujarnya lalu tersenyum jahil ke arah Vanka yang sudah melotot.


"Oh, pantes," Bianca tersenyum ke arah anak perempuannya.


"Kalian pelan-pelan aja dulu ya, jangan buru-buru. Saya belum siap," ucap Maulana yang sepertinya sulit memotong daging stiknya. "Duh, ini terlalu matang apa gimana, sih?" dengan cepat ia menyeka matanya.


"Ah, papa," Vanka memeluk ayahnya.


"Minum aja dulu, Om," William menuangkan anggur yang dibawanya ke gelas berkaki.


Vanka dan William bertukar senyum, mereka tau semesta memberikan lampu hijau untuk mereka berdua.


***


"Ini..., kau hamil?" Rendi mengeluarkan benda tipis yang bergaris dua itu.


"Ya, tak ada pria lain selain kau, aku berhubungan badan," ujar Sofia ringan. Namun, dadanya bergemuruh seiring kembang api yang sahut-menyahut meledak di langit.


Rendi hanya memandangi alat tes kehamilan dalam diam. Sofia tak tahu apa yang dipikirkan olehnya. Ini sudah membuat ia gelisah seharian. Dalam benaknya, ia penasaran dengan reaksi Rendi. Namun saat ini, ia malah ingin mengembalikan waktu dan membiarkan benda kecil itu aman dalam tasnya tanpa Rendi harus tau.


"Kau akan menjadi, ayah," Sofia meremas lengan Rendi yang masih mematung memandangi alat itu. "Aku akan menjaganya, selamanya."


Rendi menoleh, wajahnya penuh dengan raut penyesalan dan rasa bersalah. Seharusnya ini tidak boleh terjadi pada Sofia, masa depan wanita itu bukanlah ditangannya. Seperti tersambar kilat, ia sadar bahwa dirinya sendiri yang membuat Sofia mendapatkan vonis berbadan dua. Ia bahkan tak berpikir untuk berkeluarga dalam waktu dekat ini. Hatinya terganjal pada masa lalu.


"Apakah kau yakin? Karirmu masih panjang, Sofia," ujar Rendi.


"Apa yang lebih membahagiakan bagi wanita? Harta dan karir yang melejit atau menjadi seorang ibu yang dapat mengajari anaknya menjadi manusia yang berguna?" Sofia memegangi dan memandang perutnya. " Aku memilih yang kedua."


Rendi memeluk Sofia. Ia memeluk karena rasa bersalah yang meluas seperti jamur pada makanan basi. "Aku minta maaf, Sofia. Aku menghancurkan dirimu."


Sofia mendorongnya, lalu memandang Rendi dengan sorotan mata tak percaya. Ia bahkan tak berpikir dirinya rusak, melainkan dirinya utuh. Namun, lihatlah ayah si jabang bayi ini...


"Di dalam sini mengalir darahmu, Rendi. Apa kau sadar?" Sofia menunjuk perutnya dan menanti jawaban dari Rendi.


Rendi hanya memandangi perut itu. Yang ia rasakan terlalu campur aduk, antara rasa bersalah dan terkejut. Tapi ia tidak menemukan rasa bahagia di dalamnya.


Sofia gusar, "Astaga, Rendi. Aku tidak menyangka kamu seperti ini. Aku pikir kehadirannya dapat merubah pikiranmu. Ternyata aku kembali salah."


Sofia beranjak dalam kecewa, meninggalkan Rendi sendiri di atas karang. Kembali ia pandangi alat tes kehamilan itu, bukankah seharusnya ia berbahagia? Tapi ia malah merasakan kehampaan luar biasa.


Perlahan dimasukkannya benda kecil itu ke dalam dan menutup kotaknya.


"Apa yang sudah kulakukan?" gumamnya pada letusan kembang api dan bulan yang bulat sempurna malam itu.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Ditunggu likes, comment, kritik dan sarannya dear readers 🥰