Swipe You, Swipe Me

Swipe You, Swipe Me
Two Lovers in Reverse



"Apa mau kamu sih?" Tara gemetar memandang Dave yang sudah menyeringai. Ia berdiri di kursi dekat Genta.


*


Saat ia melangkah keluar untuk menunggu William agar pergi bersama mencari Genta, Dave meneleponnya. Ia menelepon dengan video yang membuat Tara ketakutan luar biasa saat mengangkatnya. Ia melihat Genta dipukuli habis-habisan di panggilan video itu. Bukan sebuah ketakutan biasa namun hingga ia mual melihatnya.


'Kau sudah lihat?' Dave mengalihkan videonya kepada wajahnya sendiri. Dia tersenyum seakan pemandangan tadi hanyalah seekor lumba-lumba yang sedang melakukan atraksi.


'Apa yang kau lakukan?' Tara gemetar memandang ponselnya sendiri. Kalau ia hilang akal mungkin, melihat wajah itu ingin sekali dilemparkannya ponsel dalam genggaman.


'Bermain. Aku sedang bosan karena kau mengacuhkan ku, Tara. Jadi, lihatlah apa yang kulakukan pada mainan mu ini," ia tersenyum sinis.


'Sudah, Dave! Dia tidak tahu apa-apa dan tidak ada tindakannya yang salah kepadamu,' Tara memohon.


'Tentu dia punya kesalahan.' kecamnya langsung. 'Aku tidak pernah memberi hukuman jika tak ada kesalahan, Tara.'


'Hentikan Dave!'


'Aku akan menundanya sampai kau datang. Mereka akan menjemputmu, Tara. Bersiaplah," Dave mematikan sambungan teleponnya.


*


Tara sungguh khawatir pada Genta. Pria tak tahu apa-apa dan mereka saja belum memiliki hubungan lebih dari teman. Tapi sepertinya Dave salah mengartikannya. Ia sungguh merasa nelangsa dan bersalah.


Mungkinkah karena ia sejak awal saja belum bisa memutuskan kemana hatinya berlabuh? Ia sama sekali belum memutuskannya hingga pria sinting ini melakukan hal tak terpuji.


Ia melihat Genta yang terkulai lemah di kursinya. Kedua tangannya terikat pada penyanggah di kanan-kiri. Wajahnya bahkan tak bisa Tara kenali sebelum Dave menjambak dan menariknya hingga wajah Genta terlihat.


"Yang aku mau?" Dave melepas kepala Genta dengan kasar dari tangannya.


Ia melangkahkan kaki ke arah Tara. Di tempatnya Tara gemetar setengah mati. Ia masih takut jika harus menghadapi pria ini tapi ia juga tidak boleh mundur. Misinya, ia harus menyelamatkan Genta yang malang.


Dave mengangkat dagu Tara lalu memandangi wajah itu. Seakan ia harus memecahkan teka-teki di sana secepat mungkin. Ia merasakan tubuh wanita itu bergetar namun matanya tetap menantang Dave tanpa berkedip.


"Kenapa kau pergi dengannya ke taman hiburan? Membalas pesanku saja kau tidak sanggup," ucap Dave dalam yang terasa seperti teror bagi Tara.


"Itu urusanmu kah?" Tara menepis tangan Dave dari wajahnya.


"YA!" Dave mencengkram pipi Tara.


Rahang Tara sakit bukan kepalang karena cengkraman Dave yang kuat. Ia mencoba melepas cengkraman itu, namun sia-sia. Suasana horor meliputi dirinya. Bayangan saat laki-laki itu mencekiknya di mobil terlintas bagai film di depannya.


Tara menggenggam tangan Dave yang mencengkram wajahnya dengan kedua tangan. Ia mendorongnya kuat namun Dave hanya memandang remeh. Tara terjerembab ketika tangan kuat Dave melepaskan pegangannya dengan mendorong.


"Kita itu pasangan sepadan, Tara," Dave berbalik memunggunginya. Ia berdiri sambil bertolak pinggang di tengah ruangan. "Tak pernah ada wanita secerdas dan seliar yang aku temui pada dirimu."


Tara bangkit. Ia berusaha melihat keadaan Genta yang berada di depan ruangan. Terduduk tanpa daya. Darah dan luka bisa ditemui di setiap bagian tubuhnya yang tak tertutup pakaian.


"Kita tidak sepadan, Dave. Tidak akan pernah!" bentak Tara.


Dave tertawa perlahan lalu memandangi Tara sekejab. Kemudian ia tertawa sekencang yang ia bisa sambil berlenggang ke arah Genta di kursinya. Saat tiba di dekat Genta berada, Dave mengangkat wajah pria itu dengan menarik rambutnya.


"Kau pikir, dia pantas untukmu? Disiksa seperti ini saja dia tak bisa melepaskan diri, Tara," ucapnya tenang. Lalu ia arahkan sikunya dengan keras tepat di punggung Genta hingga pria itu meraung.


Tara berteriak. Ia menutupi wajah dengan kedua tangannya. Hatinya linu untuk menatap kekerasan seperti itu. Ia ingin ini cepat selesai!


"Jadilah milikku," ujar Dave yang melangkah ke arah meja di sayap kiri. Sebuah samurai tersimpan rapi pada dudukan khusus. "Atau kau akan melihat seseorang akan melakukan harakiri."


"Tak ada jaminan," ucapan Tara bergetar. Ia tak mau terlihat lemah di depan pria itu. Ia mencoba memantapkan diri dan mengangkat dagunya. "Tak ada jaminan jika aku bersamamu kau akan melepaskan Genta, bukan?"


Pria itu tertawa. Seakan yang diucapkan Tara merupakan lelucon konyol sedunia.


"Tak salah aku mengagumimu, Tara," ia tertawa hingga menutup mulutnya sendiri. Entah mengapa, Dave mengingatkannya pada tokoh khayalan Joker di kota Gotham. "Kau sungguh cerdas! Aku suka. HAHAHAHA!"


Tara melirik gesper salah satu anak buah Dave yang menyimpan senjata api sederhana. Ia mengamati sarang senjata itu agar bisa dengan mudah ia mengambil. Ia memanfaatkan waktu ketika Dave sedang asik dengan dirinya sendiri.


Dengan cepat Tara menarik senjata itu dari sarung di pinggul pemiliknya. Di arahkan senjata yang lumayan berat dari dugaan Tara ke arah Dave. Ia menarik pelatuk dan menekan pemicunya. Sebuah peluru kecil tanpa suara lolos dari laras. Melesat cepat tanpa hambatan ke satu titik di tubuh Dave. Tiga jari di bawah rusuknya.


Dave yang sedang tertawa seketika tercekat seakan tersedak. Ia menunduk dan memerhatikan lubang pada jas warna gelap yang dipakainya hari itu. Ia membuka sisi jas sebelah kanan dan menemukan lubang lain di kemeja putih yang kini ternoda darah. Tara melempar senjata di tangannya. Tara tak habis pikir, ia bisa menahan rasa sakit atas selongsong peluru yang bersarang di tubuhnya.


Dave memegang lukanya dan menatap Tara Geram. "TARA! KAU GADIS SIALAN! RICO!" Dave memberikan kode dengan tangannya kepada seseorang di ruangan itu.


Semua orang di ruangan itu terkaget. Beberapa menghampiri Dave yang terpuruk di lantai memegangi perutnya. Yang lainnya mencoba mengajar Tara yang berusaha menggapai Genta di seberang ruangan. Seseorang berhasil menangkap ujung blazer-nya. Tara melirik ke arah belakang dan dengan cepat melepaskan blazer-nya hingga orang itu hanya mendapatkan bajunya sementara ia berlari lolos.


Tara berkelit ke kanan-kiri menghindari setiap anak buah Dave yang mencoba menghentikan langkahnya. Hingga akhirnya ia sampai ke tempat di mana Genta terkulai dalam kursinya. Tara mendekati Genta yang hanya diam ditempatnya bersamaan dengan sebuah pistol yang ditodongkan ke belakang kepala Genta.


"Bergerak sedikit saja dari tempatmu, kepalanya akan pecah," ucap pria itu menyeringai. Ia Rico.


Tara bersimpuh di tempatnya memandangi Genta yang menjadi bulan-bulanan orang di sini. Tangannya terkepal di atas lututnya kesal. "Genta, aku akan menyelamatkanmu."


Rico memberikan kode kepada rekannya untuk meringkus Tara yang terduduk pilu di hadapan Dave. Tiga orang berjalan untuk mengamankan Tara dalam pengawasan mereka. Tiba-tiba dari arah pintu seseorang mengetuk dan memunculkan kepalanya.


"Permisi, selamat siang. Bisa saya bertemu dengan Bapak Emil?" ucap pria yang memunculkan kepalanya saja pada pintu berukir naga.


Sontak semua pistol bersiaga ke arah pintu. Tak luput juga Rico yang akhirnya bertanya, "Siapa kau? Apa urusanmu?"


Tara berbalik memandangi arah pintu dan seketika matanya membesar terperangah tak percaya.


"Woah, sabar bapak-bapak," pria itu masuk namun tidak menambah jaraknya dari tempat tadi ia muncul. "Saya Bram. Kebetulan saya janjian sama Pak Emil buat beli meja bilyar. Alamatnya menunjuk ke arah sini."


"Kamu salah alamat, anak muda! Tidak ada Emil di sini. Lebih baik kau pergi," ucap pria di sisi kursi Genta tetap menodongkan pistolnya ke arah Bram.


"Ah, saya sudah mutar-mutar tempat ini dan hanya menemukan bangunan ini yang terdengar berpenghuni. Saya pikir saya akan menemukan Pak Emil dan meja-bilyar-mulus-harga-oke itu," Bram membrengut kecewa. "Astaga, ada yang terluka!" Telunjuk Bram menunjuk ke arah Dave yang masih memegangi lukanya.


"Simpan jari tak sopanmu itu. Kau tidak berhak menunjuk Tuan Muda seperti itu!" Hardik Rico.


Bram yang terkaget otomatis menarik jarinya dan mendekatkan jari itu ke bibirnya, "Yah, maaf. Saya mana tau dia Tuan Muda. Bentuknya sama aja kayak saya, laki-laki juga. Manusia. Kecuali kalau dia Tuhan, saya mana berani menunjuk gini."


Bram kembali menjulurkan jarinya ke arah Dave. Sebuah peluru melesat ke arah lantai tak jauh dari moncong sepatunya. Bram segera mengangkat kakinya kaget. "Astaga, hati-hati dengan pistolmu itu. Mereka sungguhan!"


Kening Rico berkedut. Ia ingin sekali melenyapkan tukang oceh itu segera. Namun, tak ada sinyal khusus yang diberikan Dave untuk melenyapkan orang itu.


"Bisa kau pergi sekarang, nak!" perintah Rico lagi.


"Oke. Baiklah, baik. Jika kalian bertemu pak Emil tolong katakan kenapa alamatnya sulit sekali di cari. Aku kan bukan Ayu Ting Ting penyanyi dangdut itu," Bram berbalik lalu menoleh sedikit ke balik punggungnya.


Bram menyunggingkan senyum yang tidak dapat di artikan semua orang termasuk Tara.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Ditunggu likes, comment, kritik dan sarannya dear readers 🥰