
Berkali-kali ia mencoba memukul perutnya dan berkali-kali pula tangannya terhenti sebelum menyentuh kain bajunya. Harapan, mimpi, asa, cita, angan, tujuannya direnggut paksa oleh pembawa berita yang mengoceh pada layar datar di ruang tengah. Didekatkan kakinya rapat pada tubuh. Kedua tangannya berusaha menghentikan laju air mata yang turun deras.
Baru tadi siang kedua tangannya merengkuh jasad hangat itu. Baru tadi siang berat suara pria itu menggetarkan gendang telinganya. Baru tadi siang tak ada keraguan sedikit pun bahwa pria itu memang berwujud di dunia ini. Tetapi bagai terbangun dari tidur siang yang melelahkan, ia tersadar semua itu senyata dan sesemu bunga tidur.
Pembawa berita itu terus mendengungkan informasi berkaitan dengan jatuhnya maskapai Whale Air yang nahas. Petugas berseragam neon bertiga-empat yang terbagi dalam beberapa perahu-perahu kecil bermesin terus menyusuri hamparan puing pesawat yang hanya berbentuk serpihan. Tiga ratus meter dari kamera yang terus meliput gambar menyedihkan itu, kapal besar milik Basarnas dan Komisi Nasional Kecelakaan Transportasi mengapung gagah di atas lautan. Serpihan bangkai kapal terbang itu meluas hingga radius satu kilo meter. Tak bisa dibayangkan seberapa kuat burung besi itu menghantam permukaan air. Seperti sebuah oase di padang gurun sepatu bergambar tikus ramah bergerak di atas gelombang lautan, menyenggol badan perahu kecil bermesin dan terpental ke arah yang berlawanan.
Sofia menatap nanar layar datar itu. Seakan ia ada di tempat pesakitan, pembawa acara datang membawa vonis untuk dirinya. Ia rebahkan tubuhnya dan kembali membasahi bantal sofa itu. Bak balita, ia lipat tubuhnya sekecil mungkin. Berusaha menghalau rasa dingin yang melingkupi hatinya. Namun sekeras-kerasnya ia berusaha, isak tangisnya dengan cepat menjadi raungan yang membelah apartemen sunyi itu.
***
Restoran-restoran di sepanjang bibir pantai, saling beradu riuh satu dengan yang lain. Namun dalam dunia Tara, segalanya senyap. Hembusan angin asin menerpa wajahnya, membuat dirinya lengket. Ia melangkah gontai pada permukaan datar dermaga. Sesekali ia berhenti. Terasa dermaga itu sengaja dibuat menanjak dan menghambat laju langkahnya. Rangkaian mawar putih di tangannya, ia pegang sekuat tenaga yang tinggal sisa. Semua yang menikmati pantai Tanjung Priok berbagi senyum, tawa dan canda. Membuat Tara heran bagaimana mereka bisa seperti itu.
Di sandarkan tubuhnya pada tiang paling ujung lampu yang mulai menyala karena senja menggelap dengan pasti. Tangannya yang bebas meremas pagar pembatas dermaga itu. Ia masih tak percaya, pertemuan akhir itu memang menjadi pertemuan perpisahan dunia antara Tara dan Rendi. Pria itu tinggallah nama. Bahkan tak ada batu nisan yang terukir dan terpancang menandakan di mana pria itu beristirahat untuk selamanya.
Dengan lemah rangkaian bunga di tangannya melewati pagar pembatas. Tanpa daya, Tara mengendurkan genggamannya hingga rangakaian mawar putih itu tergelincir dan terjatuh pada permukaan laut. Dengan santai, rangkaian itu m
engapung dan bergerak mengikuti arus laut membawanya menuju ke tengah laut. Ia membawa serta doa ikhlas yang ditenun Tara dalam bisu. Entah di dunia mana lagi Tara dapat bertemu kekasih masa lalu yang menggetarkan sukmanya itu.
"**
Mata tajamnya masih terus mengawasi sosok yang telah dibidiknya. Terkadang ia merasa tersinggung pada takdir yang seakan bermain dan membuat lelucon di sekelilingnya. Ia berusaha menghiraukan sosok yang bersandar di ujung dermaga. Ucapan teman duduknya, Andrew, sudah melayang terbawa angin dan tak menyangkut pada telinganya.
Sekarang perempuan itu terlihat limbung di atas sana. Bergegas ia bangkit dan meninggalkan temannya berteriak menanyakan kemana ia pergi. Dengan gesit, ia menghindari orang-orang yang ramai di sekitar jalurnya menuju dermaga. Saat jarak mereka tinggal satu uluran tangan, ia menghentak perempuan itu hingga menghadap ke arahnya. Mata perempuan itu membulat terkejut. Kerap seperti itu saat mereka diizinkan bertemu.
"Apa yang kau lakukan?" ia masih menyekal tangan perempuan itu.
Yang ditanya hanya terdiam memperhatikan.
"Kalau kau mau loncat, seharusnya dari gedung kantormu waktu itu," perempuan itu tak berbicara dan hanya menjatuhkan beban tubuhnya langsung pada dadanya. "kalau di sini kau hanya lebam, paling jauh retak tulangmu."
Melihat Bram yang tiba-tiba ada di depannya, perasaan hati yg berkecamuk dalam sunyi langsung ingin berteriak.
Ya, perempuan yang tak sengaja masuk dalam pandangannya petang itu adalah Tara. Ia ragu. Terakhir kali saat ia merengkuh perempuan itu, Tara menolak dan nyaris jatuh kembali di depan kedainya. Perlahan Bram menepuk pundak Tara halus dan canggung. Yang ia tahu, Tara mengisak seru dalam dekapannya.
Bram masih menepuk pundak perempuan itu pelan sambil memandang berkeliling. Beberapa tatapan pengunjung menghujam langsung ke arah Bram dengan tatapan menghakimi. Berkesimpulan sendiri, apapun yang membuat perempuan itu menangis pasti akibat salahnya. Tangannya yang bebas dari "pekerjaan" menepuk, hanya melambai menolak segala pikiran dan asumsi di sekitarnya.
"Tara, kau tidak ingin melepaskan pelukanmu, eh?" bisik Bram.
Tara malah meraung semakin keras membuat Bram berjengit. Tepukan di pundak Tara tak dapat penolakan, akhirnya Bram memutuskan untuk merengkuh dengan erat. Berharap itu memang satu-satunya yang dibutuhkan tara saat ini.
Langit nila dan jingga berlangsung pekat. Bintang gemintang mulai terduduk pada posisi lingkaran konstelasi mereka masing-masing. Tanpa diketahui oleh manusia yang merayap pada permukaan bumi, mereka menorehkan sebuah kisah. Dengan pemikiran dan harapan, dengan usaha dan penantian, garis takdir mereka sudah dipersiapkan pada putaran benda langit maha rahasia yang serasi dengan Pencipta Hidup.
***
Sebenarnya, ada yang ingin ditemukan olehnya selama ini. Fakta-fakta mengapa ia harus bertemu di saat-saat tidak menyenangkan untuk Tara. Mengapa ada sebuah jalinan benang halus tak kasat mata yang seolah membuat mereka selalu bertemu. Setidaknya, membuat Bram sendiri harus "pasang badan" bagi perempuan ini. Sesekali air mata mengucur bercampur dengan ingus yang langsung diseka oleh Tara. Anehnya itu tak membuat Bram risih memandang perempuan itu.
"Ah," kembali diseka hidung serta mata yang masih setia meler setiap waktu. "Terima kasih, Bram. Kamu-"
"Kalau aku punya tabungan kata terima kasih, saldo-mu sudah cukup banyak, Tara," sahut Bram tenang.
Tara tertawa kecil lalu memalingkan wajah, "apalagi yang bisa kukatakan selain terima kasih."
"Jangan sering melibatkan dirimu. Kasus pria itu apakah sudah selesai?"
Tara tahu, pertanyaan yang dimaksud oleh Bram pasti mengenai Dave. "Dia minta naik banding. Tapi aku harap dia menerima ganjarannya."
Bram memandang Tara yang tiba-tiba saja menatap kosong ke arah lautan yang luas tanpa tepi. Ia telah mendengar bahwa perempuan itu pernah dilecehkan juga oleh pria bernama Dave lalu. Entah apa yang sedang digoreskan pada buku takdirnya, tapi Bram semakin jatuh dalam perasaan ingin melindunginya. Perlahan diulurkan tangannya untuk menggenggam tangan perempuan itu.
"Semua akan baik-baik saja, Tara. Yakini itu," Bram tersenyum.
Tara balik memandang Bram. Lama ia akhirnya mengangguk.
***
Sofia mengisi bak mandinya penuh air. Lilin-lilin aroma terapi sudah menyala. Dengan pakaian lengkap ia masuk dalam bak itu. Musik dari kamarnya sudah mengalun keras-keras. Sudah ia susun daftar lagu kesukaannya di sana. Ditangannya, sebilah silet kecil sudah dipegangnya sejak petang tadi. Berkali-kali dipandangi pergelangan tangannya dengan urat nadi berwarna biru keunguan. Tekadnya sudah bulat. Ia tak lagi punya tujuan dalam hidupnya lalu buat apa ia hidup?
"Untuk apa aku hidup!"
Dengan cepat ditorehnya urat nadi dengan silet. Rasa kejut, panas, perih, linu dan sakit mendera pergelangan tangannya. Napasnya tersedak karena kagetnya. Darah mulai mengalir bak air terjun kecil.
Ingat, jaga anak kita, Sofia...
Sofia melepaskan silet itu dari tangannya. Ia kembali tercekat.
Aku ingin dia tumbuh menjadi seseorang setangguh dan segigih kamu!
Ditimpa rasa ketakutan luar biasa karena kupingnya seakan sungguh mendengar suara Rendi mengatakan itu, Sofia keluar dari bak mandi. Lilin-lilin yang terpasang jatuh dan mati terkena siraman air bak mandi yang meluber. Tangan kanannya memegang pergelangan tangan kirinya, agar darah terhenti. Ia buru-buru keluar dari apartemennya dan berteriak.
"Tolong! Anyone help!"
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Ditunggu likes, comment, kritik dan sarannya dear readers 🥰