
Tara meminum teh lemonnya, sudah setengah jam termasuk dalam perjalanan tak ada satupun yang angkat bicara. Ia pun enggan namun sudah tidak kerasan ia duduk terus di depan wanita ini.
Dalam 32 jam lagi angka di belakang tahun akan berubah. Tiap jengkal mata memandang, toko-toko di pusat perbelanjaan itu semarak dengan hiasan natal dan tulisan selamat tahun baru yang sudah terpasang dari jauh hari. Hujan deras juga seperti tak kehabisan stok untuk terbuang.
Tara jauh memilih berkeliling tak jelas memperhatikan hiasan-hiasan itu atau mengguyur tubuhnya dengan air hujan dibanding menghabiskan waktunya bersama perempuan di seberang meja.
Ia sebenarnya cukup kaget melihat perempuan itu berdiri menunggunya di punggung jalan dekat halte pemberhentian bis dekat kantornya. Menjemput Tara menuju tempat ini. Tara bahkan harus membatalkan pesanan Ubernya yang nyaris sampai. Perempuan itu berkata ada hal penting yang ingin disampaikannya. Tara mempersilahkan untuk bicara saat itu namun dia bersikeras untuk mencari tempat yang lebih pantas.
"Ehem," perempuan itu mengambil nada. "Ini."
Sebuah kotak kecil panjang-pipih ia sorongkan ke tengah meja, seakan memasang taruhan dalam meja judi. Tara memandang kotak itu. Ia tak pernah mengingat pernah memesan sesuatu, memiliki nomor pribadi perempuan ini pun tidak.
"Apa itu?" tanya Tara.
"Buka sajalah," katanya dingin. Sofia bersedekap, "setelah itu aku akan menjelaskan apa yang ingin kusampaikan."
Tara meraih kotak itu sedikit ragu. Biasanya ketakutan akan muncul jika kita menerima sebuah kotak misterius dari orang yang bahkan tak kita percayai. Ia berharap tak menemukan kecoa terbang saat membuka penutupnya.
Tara melirik ke arah Sofia yang sepertinya juga berantisipasi. Jelas terlihat ekspresi tegang yang sudah sedari awal ia tunjukan semakin keras. Tara menelan ludah, tengorokannya terasa mengering. Entah mengapa. Ia membukanya.
Didapatinya sebuah alat tes kehamilan di dalam kotak itu. Dua garis merah terpampang pada bagian tengahnya. Menandakan pemakainya positif berbadan dua.
Ia memandang Sofia yang balas memandangnya. Tara bahkan tak tahu apa yang harus dikatakannya setelah melihat isi kotak itu. Satu, ia bukan pria. Dua, bahkan ia tak dapat menghamili wanita manapun. Tiga. Jikalau ia pria, Sofia bukanlah pilihannya untuk dibuahi.
"Lantas? Adakah hubunganku dengan kehamilanmu?" tanya Tara sambil meletakkan kotak itu di tengah meja.
"Itu... anak Rendi," Sofia berkata tak acuh.
Tara terkejut walau tidak heran mendengar nama itu menjadi sebab kenapa alat itu bisa bergaris dua. Sejauh itukah hubungan mereka? Apa yang menjadi kecurigaannya selama ini terbukti. Bukti yang sangat kuat ada di tengah meja.
"Seharusnya dia yang kau temui bukan aku, Sofia," Tara mengendikkan kepalanya ke kotak itu. "Kau tidak mungkin meminta pertanggungjawaban dariku bukan?"
"Kau bisa lihat betapa dia mencintaiku, Tara," Sofia mengambil gelasnya dan meminum isinya. Perlahan diletakkan gelasnya, "ia bahkan menaruh bakal anaknya dalam diriku." Satu alisnya terangkat dan sebuah senyuman seakan menantang Tara terbit di bibir Sofia.
"Baguslah, akhirnya dia bisa menjalani kehidupan barunya dengan baik," respon Tara mengabaikan segala bentuk ekspresi yang ditunjukkan perempuan itu.
"Jadi jangan pernah berharap Rendi akan berpaling kepadamu, Tara. Tak akan," kecamnya.
Ada kilatan aneh dari mata Sofia yang tak dapat Tara artikan maksudnya. Yang Tara tahu, jantungnya berdebar tak menentu. Memandang kotak itu malah membuatnya mengingat mimpi sialan itu. Pikirannya melantur bagaimana Rendi dan Sofia saling menggeliat dalam gelora panas. Sesuatu dalam dirinya seakan menginginkan hal yang sama. Berusaha keras Tara mengenyahkan pikiran kotornya itu dan kembali menatap Sofia.
"Aku tidak berharap sepenuhnya Sofia, tapi kita tidak tahu bagaimana semesta bekerja," simpulnya.
***
Buku-buku jarinya semakin memutih seiring dengan semakin kencangnya ia mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia menahan amarah yang bisa meledak kapan saja. Bukan reaksi setenang ini yang ia mau. Ia ingin Tara terbakar cemburu. Ia ingin Tara meledak dan merasakan dirinya menang di atas awan.
Tapi sepertinya ini tindakan keliru yang ia lakukan.
"Bisakah kau pergi dari antara kami, Tara!" bentaknya. Sofia tak tahan lagi.
"Aku tak pernah di sana saat kalian bersama," ujar perempuan itu.
"Kau di sana!" amuknya. Tak ia hiraukan sedang dimana dia saat itu, ia abaikan mata di sekitar mereka yang kini mengarah padanya. Amarahnya harus ia keluarkan, segera!
Tara terkekeh tak percaya, "apakah aku ada di antara kalian saat bercinta?" tanyanya ringan.
"Ya!" Sofia berdiri dan menggebrak meja restoran, dadanya naik turun seiring napasnya yang tak bisa ia kendalikan. Tentu semua orang di tempat itu bahkan mereka yang kebetulan melintas ikut menengok. "Tolong pergilah dari kehidupan kami, Tara! Kau perempuan..."
Tara memandangnya. Tak ada kejutan dari mata itu hanya iba yang terlihat. Tara iba melihatnya? Kurang ajar. Harga dirinya jatuh di depan perempuan ini. Ia berharap lantai restoran itu menelannya hidup-hidup.
"Kapan Rendi bisa memandangku jika kau terus ada di antara kami?!" Dadanya sesak. Ia menahan air matanya. Tak mungkin ia menangis di hadapan Tara, harga dirinya akan benar-benar hilang.
"Jangan pernah menghubunginya, atau sengaja menemuinya, atau menghilang saja dari dunia ini. Ya, ya itu pilihan yang lebih baik! Atau kau akan tahu akibatnya, Tara." kecamnya.
"Sofia, lebih baik kau duduk dan kita bicara baik-baik. Kau akan mempermalukan dirimu jika berbicara lebih ja..."
CRAT!
Gemetar Sofia menggenggam gelas yang isinya sukses berpindah ke wajah Tara. Lama kedua bola mata itu memandangnya, Sofia tak dapat membaca arti pandangan itu. Tara lalu mengambil serbet di meja dan mulai menyeka air di wajahnya.
"Aku hanya ingin mengatakan ini, dengarlah baik-baik," ucap Tara tegas. "Kau tahu bahwa aku dan Rendi sudah putus, kami tak punya ikatan apapun. Bukan urusanku lagi tentang apa yang kalian lakukan bersama saat Rendi masih bersamaku atau tidak. Kau lihat, apa yang dilakukannya padamu dan tidak mungkin ia tak melakukannya lagi di kemudian hari ketika kalian bersama."
Sofia menggenggam erat serbet di tangannya. Murka.
"Tapi kalau kau bilang aku tak pernah pergi dari antara kalian, ini yang akan kukatakan padamu... Perkara hati, saat ia sudah menetapkan sesuatu, apapun tak dapat mengubahnya. Seberapa keras pun usaha dari luar untuk mengecohnya, yang kau dapatkan hanya kekecewaan, Sofia," kata Tara. "Aku tak bohong, aku masih menyayangi Rendi tapi aku tak dapat menerimanya kembali. Hatiku sudah sangat patah, bersamaan juga dengan beritamu hari ini. Namun begitu juga Rendi, jika hatinya tak dapat menghilangkanku, sampai kapan pun kau hanya bayangan."
Sofia mencengkram taplak meja itu semakin kuat. Gemuruh dalam dadanya tak tertahankan, ingin rasanya ia menyobek mulut perempuan itu. Yang dikatakan Rendi dan Tara, tak jauh berbeda. Ia kalah dalam injakan kedua orang ini.
"Aku pamit, jaga anak Rendi baik-baik," Tara berbalik dan meninggalkan Sofia yang mengamatinya hingga keluar dari restoran itu.
"ARGH!" Sofia menarik taplak meja itu hingga semua benda di atasnya terlempar. Lalu ia terduduk lemas dan hancur. Seluruh badannya bergetar.
Beberapa orang di sekitar mejanya terkejut dan menghindar. Pegawai restoran bahkan ragu untuk mendekati Sofia, takut mereka menjadi sasaran amuknya. Diambilnya kotak berisi alat tes kehamilan yang terjatuh, meninggalkan tiga lembar uang seratus ribu dan melangkah keluar restoran tanpa menoleh lagi.
***
Bangku kosong terhampar luas di komuter, namun Tara memilih untuk berdiri dekat pintu keluar. Berkali-kali keamanan kereta mempersilakan Tara untuk mengambil tempat di salah satu kursi, tapi ia menolak. Lebih baik ia memandangi laju kereta dari kaca pintu ular besi itu dibandingkan memandang penumpang yang tertidur dengan menganga karena sudah tak sadar. Lebih lagi pikirannya mengembara jauh kemana-mana sembari memandang pemandangan di luar yang sekelebat lalu.
Sofia mengandung anak Rendi, kalimat itu berputar di kepalanya. Sungguh bukan hal mengejutkan tapi memikirkan bahwa mereka pernah saling bersisian bersama dalam tempat tidur, berganti pandangan tanpa pakaian, tertawa nikmat disela aktifitas intim, Tara terganggu akan hal itu.
Ya, selama mereka berpacaran, setiap ada kesempatan bertemu Tara memang menjaga agar hal-hal itu tidak terjadi kepadanya. Ia memang konservatif dalam menyingakapi kegiatan yang membutuhkan sentuhan fisik. Bukan ingin sok suci, isi kepalanya tak dipungkiri memikirkan hal seperti itu. Tema itu pun tak luput menjadi bahan obrolan seru bersama Rendi atau teman-temannya. Hanya saja ia menjaga hingga berhubungan intim menjadi hal yang suci dalam ikatan pernikahan.
Tara membelai lemah lengannya, tak sejengkal pun tangan Rendi meninggalkan sejarah pada bagian tubuhnya yang tertutup pakaian. Apakah itu yang membuat Rendi berpaling? Karena kepuasan jasmani tak pernah ia dapatkan saat bersamanya. Kenapa Tara, kau kecewa? Kau pikir itu suatu keistimewaan? Kau pikir Rendi tak melihatmu sebagai wanita yang ia inginkan? Semua pertanyaan itu bermuara pada kata, ya.
Tara mengambil ponselnya dan mencari nama orang itu, lalu mendial nomornya. Pada nada sambung kedua teleponnya diangkat, "Kau punya agenda malam ini? Bisa menjemputku?"
***
"Aku tak menyangka, kau tau referensi tempat seperti ini?" bola mata Tara membesar.
The Chaos and Riot. Tak terlalu banyak yang tau mengenai tempat itu. Bahkan bukan tempat dimana dapat akses jalanan yang mudah dari jalan raya. Namun, Tara takjub dengan banyaknya orang di tempat sekecil ini. Tempat ini menawarkan band-band metal yang dicampur dengan music club house dengan disc jockey yang memainkan perangkat sound mixer di atas sana. Kegaduhannya benar-benar memekakkan telinga.
Musik yang gaduh membuat pengunjungnya harus berteriak untuk mengalahkan suara dentuman musik yang membuat semua orang di lantai dansa berjingkrak seakan yang dipijak adalah bara api.
"Musik yang dibawakan disini underground, tak terlalu banyak yang menyukainya, Tara," teriak Dave.
Malam ini, Dave tidak seperti yang biasa Tara jumpai. Walau kemeja licin tetap menjadi andalannya, namun ia terlihat jauh lebih santai karena memadukannya dengan celana jeans... belel. Ya, belel. Tara sampai tak mengenali saat Dave menghampirinya yang menunggu di luar stasiun.
Tara mengangguk dan menikmati suasana ruangan ini. Seketika yang menjadi hal kalut dalam kepalanya tersingkir. Rasanya ia ingin berada di tengah kerumunan manusia yang tidak lelah melompat dan menari sesuka mereka.
"Kamu mau minum apa?" tanya Dave dengan berteriak.
"Apa saja, jangan yang terlalu berat," balasnya berteriak juga.
"Oke, tunggu sebentar," Dave meninggalkan Tara menuju meja bar.
Tara masih menyapu pandangannya sambil mengangguk-angguk mengikuti irama yang ada lalu tiba-tiba musik yang begitu menyiksa telinga sedikit dikecilkan. Seseorang dari atas panggung mengambil mic dari tiang penyangganya.
"Malam Chaos Sisters and Riot Brothers!!!" seluruh ruangan menjawab dengan teriakan riuh. Butuh waktu lama sampai pengunjung menghentikan teriakannya. Dave datang menyenggol botol bir dingin ke lengan Tara, sesaat Tara terkejut lalu mengambil botol bir dingin itu. Dave meminum bir di tangannya.
"Malam ini, kita akan adakan kompetisi yang menarik teman-teman!!!" Ia mengarahkan pelantang suara itu ke arah seluruh ruangan yang kembali riuh. "Dan hadiahnya... The Dalmore 62!"
"Kenapa?" tanya Dave mengerutkan keningnya, heran.
"Hanya ada 12 botol The Dalmore 62 di dunia, Dave," jelas Tara.
"Tidak ada yang tidak mungkin di sini, bahkan ada yang membawa pulang sebuah Ferrari dari tempat ini," jelas Dave.
"Ini gila," Tara hanya menggeleng.
"Caranya mudah," orang itu berhenti sebentar. Tara yakin, dia pun berada dalam pengaruh alkohol. "ada dua puluh sloki yang akan disiapkan untuk, DIAM DULU KALIAN," ia tertawa dan banyak yang menyahut dengan gusar. "5 orang penantang. Dimulai dari 2 sloki bir sampai.." jemari orang itu menunjuk gelas kecil di paling kiri dan berhenti pada gelas berisi cairan berwarna hijau di paling kanan, "2 sloki Absinthe."
Tara memegang kepalanya dan menggeleng tidak percaya. "This is insane, Dave."
"It's worth the Dalmore 62, by the way," ia terkekeh.
"Siapa yang ingin caur malam ini?" lempar si MC di atas panggung.
"AKU!!!" Tanpa berpikir dan ia sendiri cukup kaget menyadari dua tangannya melambai seru ke arah panggung.
Dave mengerutkan kening tak percaya dan sedetik kemudian tersenyum salut ke pada Tara. Ia menyalakan lampu pijar pada ponselnya dan mengarahkan ke arah Tara agar ia dapat terlihat.
"Ya, gadis manis di tribun, AYO TURUN!" ruangan kembali riuh penuh suitan dan teriakan para laki-laki yang kagum dengan keberanian Tara.
"Ayo Dave, temani aku," ajak Tara yang mulai melangkah jauh. Tepukan tangan membahana ketika Tara melangkah melewati orang-orang dari tempatnya.
"That's my girl," Dave membasahi bibirnya dan mengikuti Tara menuju tempat tantangan.
***
"We'll see how this chick could handle it," ujar seseorang dari dua meja di sampingnya.
Tara satu-satunya petarung wanita malam itu. Sebelum meja ini ditata, ada seorang wanita berambut kriting dan bergaya boho naik ke atas panggung. Namun, saat meja mulai disusun, ia mengibarkan bendera putih. Tersisa orang paling jauh dari mejanya seorang pria kurus botak yang nyaris 80 % tubuhnya telah dirajam dengan tinta permanen.
Mengikutinya seorang pria yang Tara berpikir ia masih seumur jagung karena tinggi tubuhnya yang terlalu mungil, ia berdiri maupun duduk tak ada beda. Di sebelah Tara, pria dengan tubuh ekstra kekar dan memakai kacamata hitam memegangi kedua sisi meja menggunakan tangannya, Tara menunggu kapan meja itu akan dilemparkannya melihat kuda-kuda yang dipasang pria itu menggambarkan demikian. Yang terakhir pria paling ujung kiri, pria biasa-biasa saja menggantikan sosok perempuan yang mundur sebelum perang. Sejak awal mengedipkan mata ke arah Tara dengan genit.
Tara menghembuskan napas dan mengikat rambutnya tinggi-tinggi. Di lipat lengan bajunya hingga ke siku dan memandangi jejeran minuman terlarang itu di depan matanya. Selama ini rekor terjauhnya hanya kuat sampai setengah seloki Vodca. Untuk meminang The Dalmore 62, dia pun harus menandaskan Absinthe.
Tentu bagi pemenang, mereka akan memboyong sebotol Wishkey bernilai Rp 300.000.000 itu. Namun bagi yang kalah, mereka harus menanggung harga tiap sloki yang nyaris menyentuh angka 5. Tara sempat berpikir untuk mundur saja tetapi Dave hanya membisikan, "On me." Ia akan menanggung pembayarannya jika Tara kalah.
"Kita mulai dengan gelas pertama... siap, mulai!"
***
2 gelas bir, sampanye, Bayley's (varian dari rum), gin, wine, rum, brandy, tequila... dan satu gelas Vodka telah kosong dari hadapan Tara. Wajah gadis itu sudah memerah dan teler. Dave, yang berubah menjadi loker Tara karena ia memegang tas dan kardigan rajut Tara di tangannya, nyaris ingin menariknya dari arena namun langkahnya terhenti ketika gadis itu mengangkat gelas Vodca keduanya. Dan meminumnya dalam sekali teguk.
Ruangan sudah lama berhenti dengan riuh semua pengunjung. Tiap gelas yang disesap oleh peserta yang menghilang ke sistem pencernaan mereka selaras dengan menyedot kemampuan semua orang di ruangan itu dalam bersuara. Hanya musik yang sengaja dipasang dengan nada-nada menegangkan dari sound mixer yang mengisi latar yang kosong.
Di sana pun hanya tersisa Tara dan pria bertubuh kecil. Semua orang mulai memasang taruhan dalam keheningan. Ia sendiri tak tahu sampai sejauh mana kemampuan wanita itu dalam minum, ia cemas. Cukup bagi Tara untuk sampai satu gelas Absinthe saja, pikirnya.
Pria bertubuh kecil itu mengangkat gelas hijaunya dan meneguknya lalu terbatuk-batuk. Tara melirik asal suara itu sambil bertopang dagu. Tampilannya juga tidak jauh dari Tara. Matanya mulai memerah dan seakan tak bisa duduk dengan seimbang di kursinya. Pria itu memegangi ujung meja untuk mendapatkan kekuatan bertahan dalam posisinya. Sedangkan tiga peserta lainnya hanya memandang
"Satu gelas terakhir untuk Andy dan dua gelas terakhir untuk nona Tara," MC mengumumkan untuk seluruh ruangan yang sebenarnya juga menyimak pertarungan itu. "Apakah kau menyerah, nona?" Si MC yang awalnya terdengar sudah mabuk, menonton pertandingan ini justru menghilangkan pengarnya dan menjadi waspada.
"HMM?!" Tara meresponnya dan memandang ke arah si MC. Diangkatnya gelas berisi cairan hijau itu tinggi-tinggi dengan tangannya yang tak menopang kepalanya. "TENTU TIDAK!"
Dengan mulus gelas Absinthe pertama masuk kedalam tenggorokannya. Tara meletakkan sloki itu dengan keras dan mengerang tak jelas karena mengecap rasa membakar yang luar biasa. Dia menyenderkan tubuhnya dan kepalanya lunglai ke balakang. Beberapa saat ia tak bergerak. Beberapa wanita yang ada di ruangan itu menutup mulutnya dengan tangan karena khawatir. Tara seperti wakil mereka dan mereka berharap Tara tak akan menyerah walau mereka tak begitu peduli dengan efek alkohol dalam tubuh gadis itu.
Perlahan, tangan Tara terangkat ke udara dan ia mulai menggeliat dan tertawa di kursinya. Sontak seluruh wanita di ruangan itu berteriak menyemangati Tara. Bahkan 3 pesaingnya bertepuk tangan, salut, kesenangan dan lega.
"BISA AKU MINTA AIR PUTIH?" teriak Tara. "AIR PUTIH!"
Setelah MC berbincang sedikit dengan seseorang di backstage, akhirnya ia membawa dua botol air mineral. Satu untuk Tara dan satu untuk Andy yang sedang menimbang untuk meminum gelas terakhirnya. Saat sadar sebotol air putih sudah di hadapannya, Tara langsung membuka dan menandaskan isinya. Lalu dengan kecepatan cahaya, Tara menyambar gelas terakhirnya, meneguknya tandas dan membalikkan sloki itu di kepalanya, tanda isinya sudah habis ia minum.
"I WON!" teriaknya lagi dan seluruh ruangan bertepuk tangan, berteriak.
Gerakan Tara sama sekali tak dapat ditebak hingga mereka hanya melihat botol air mineral dan semua gelas di meja Tara telah kosong. Nama Tara membahana di seluruh ruangan dan tidak henti. Tara hanya mengangkat tangannya dengan dua jempol mencuat seperti menantang.
***
Dave membopong Tara yang mabuk berat ke mobilnya, seorang petugas valet menaruh barang-barang ke kursi belakang, termasuk kotak The Dalmore 62 yang berhasil diboyong Tara, membukakan pintu agar Dave bisa memasukkan Tara lalu ia memberi tip ke petugas valet. Dave berjalan menuju sisi pengemudi. Di nyalakan mesin mobil lalu dipandangnya Tara yang meracau tak jelas di kursinya.
Dipakaikannya sabuk pengaman Tara. Saat ia sadar sabuk itu terlalu ketat, ia menelan ludahnya sendiri karena melihat dada perempuan itu jadi makin jelas menyembul. Dave menghembuskan napasnya untuk melepaskan rasa tegang walau ternyata tak membantu sama sekali. Ia melajukan mobilnya. Ia pun merasa
sedikit pusing karena alkohol yang juga diteguknya.
"Apakah aku tidak cukup menarik, huh?" tiba-tiba perempuan itu bertanya.
"Kau hanya cukup mabuk, Tara," jawab Dave yang tidak yakin apakah wanita itu mendengar jawabannya.
"Tidak, aku memang mabuk, hahaha," Tara mengibaskan tangannya. "Kau kenapa tidak mabuk, huh? Payah. Tidak berani menandaskan gelas-gelas itu. Hah, payah."
"Kau lebih baik tidur, akan ku bangunkan saat tiba," sarannya sambil terus memusatkan pikiran ke kemudinya.
"Apa yang salah, apa yang salah, apa yang salah..." ucap Tara berkali-kali. "Bagian mana yang keliru? Aku tidak sexy, kah?"
Dave melirik ke arah Tara yang menggoyangkan tubuhnya di kursi. Ia tetap harus fokus berkendara di saat ia juga mabuk dan tubuh perempuan di sampingnya sangat menggiurkan. Ah, ini berat! Berkali-kali Dave membasahi kerongkongannya yang mengering.
"Kau memilih tidur dengannya dari pada bertahan denganku, bodoh," kemudian sumpah-serapah mengalir lancar dari bibir wanita itu.
"Aku, aku menerima kekuranganmu padahal wajahmu tak ada tampan-tampannya, kau jelek!" dengus Tara sambil menyangga kepala dengan tangan yang disebarkan ke jendela.
Dave memutuskan diam saja dan mendengarkan Tara yang mulai seperti kaset rusak.
"Aku lelah hanya meneleponmu dan kau tak datang-datang, semprul! Kau bodoh," umpatnya. "Umbar saja, janjimu, janjimu, janjimu... lalu minta pemutihan. Kau pikir aku tukang cucimu? BODOH!"
"SEMUA PRIA SAMA DI DUNIA INI, APA YANG MEMBUATMU BEDA...? Huh, tidak ada," tawa Tara berderai hingga berubah menjadi air mata menertawakan hal konyol.
Dave mengurangi laju mobil dan menepikannya, "Sebenarnya siapa yang kau bicarakan?"
"Huh?" sebelah alis Tara terangkat dan meliriknya. "Kalian. KALIAN. KA-LI-AN! Kalian pria, hanya pria..." Tara terkekeh sambil mengulangi kata kalian seakan hanya ada kata itu di kamusnya.
Dave memandangi Tara, memandangi setiap lekuk tubuh gadis itu. Matanya berkilat.
Dengan tiba-tiba Tara menarik kedua kerah kemejanya hingga ia kini bisa mencium aroma alkohol yang lebih tajam dari mulutnya. "Pria tak tahu malu, sulit sekali diatur." kecamnya tajam.
"Keras kepala dan susah diatur!" Tara membelai pipinya kemudian menepuk-nepuk dari pelan hingga intensitasnya bertambah. Dave sudah tidak dapat menguasai emosinya, jaraknya yang semakin dekat seakan menantangnya untuk menghilangkan jarak diantara mereka.
"Kamu tidak bisa mengaturku, Tara," ujar Dave serius.
"Why?" kedua mata Tara yang sayu memandang berusaha fokus memandang Dave.
"Because I am your master," tekannya.
"You are... what?" Tara tertawa seakan itu hal terlucu yang di dengarnya.
"Your master," Dave menghujamkan ciuman pada bibir gadis itu bertubi-tubi. Tak Ia hiraukan respon tubuh Tara yang terkejut. Sepasang tangan gadis itu mencoba membantu dirinya agar lepas diri dari cengkramannya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Ditunggu likes, comment, kritik dan sarannya dear readers 🥰