
Telepon Genta semalam berniat mengajak Tara untuk makan malam, namun tidak hanya mereka berdua. Dengan singkat Genta menceritakan bahwa temannya sedang berkenalan dengan seseorang dari aplikasi yang sama mempertemukan mereka.
"Jadi nanti malam lusa kau menemani temanmu kencan buta?" Tara menghalau rambut di dahinya akibat tertiup angin malam. Setelah hujan deras petang tadi, langit tengah malam ini cerah walau bulan sembunyi entah kemana.
"Bisa dibilang begitu, temani aku mau ya?"
"Mm," Tara tak ada janji khusus sebenarnya, tapi ia juga tak ingin segera mengiyakan. "Nanti kukabari lagi. Tapi kau yakin akan ikut temanmu kencan buta? Nanti malah temannya tertarik padamu."
"Kau takut?" terdengar nada menggoda dari seberang.
Tara tertawa, "aku hanya takut kecoa."
"Kamu yakin ga takut kehilangan pria tertampan sejagad raya antar galaksi?"
Tawa Tara berderai namun tertahan. Ia takut membangunkan orang seisi rumah ini dan ini di rumah Kiara.
"Aku senang mendengar tawamu, akhirnya." ia berdehem di ujung telepon. "Semoga tawamu tak pudar terlalu cepat."
Mendengar ucapan Genta, Tara jadi teringat pertemuan terakhir mereka. "Gen, aku minta maaf untuk waktu itu..."
"Yang mana?" ia terdiam sebentar sambil berpikir. "Ah," Genta teringat saat Tara keluar dari mobil tanpa mengatakan apa-apa lagi padanya. "Tak masalah, sepertinya aku juga pernah seperti itu waktu papasan dengan mantanku." imbuhnya sambil tertawa kecil.
"Iya, hanya saja aku jadi kepikiran," Tara menghembuskan napasnya.
"Itu hal sepele, Tara. Aku saja nyaris lupa. Kalau memang aku tersinggung, aku takkan sebahagia ini mendengar tawamu. itu saja," ucap Genta.
Hati Tara berdesir. Angin malam seakan mendramatisir suasana hatinya hingga ia merinding, dipeluk tubuhnya dengan tangannya yang bebas menahan rasa dingin. Namun, hatinya jelas menghangat.
"Baiklah, ini sudah jam dua belas lewat, kurasa aku harus tidur." pamit Tara.
"Mau kujemput besok?" tawar Genta. Sesekali memang Genta menjemputnya namun tetap dengan persetujuan Tara. Karena hubungan mereka masih sebatas teman, pikir Genta.
"Aku sedang menginap di tempat Kiara, kapan-kapan saja. Selamat malam, Gen..."
"Malam, Tara."
Tara takut ia dan Genta akan jadi obat nyamuk bagi temannya itu. Alasan itu pula yang menjadi kemungkinan Genta mengajaknya. Ia tak ingin jadi nyamuk sendirian.
Tara memandang ke arah Vanka yang cengar-cengir saja dengan ponsel dan makanan di mangkuk batu itu hanya tersentuh sedikit.
"Mau gua suapin?" tawar Tara.
"Boleh," jawab Vanka tanpa melepas perhatian dari 'teman genggamnya'.
"Astaga Vanka, makan dulu," Tara mencabut ponsel dari gadis itu dan meletakkannya. "Kau bisa teruskan nanti."
"Duh, lagi seru," rengeknya meminta ponselnya kembali.
"Emang apaan, sih?" sekilas Tara melihat layar ponsel itu, hanya terlihat tulisan-tulisan pesan. Lalu berhasil direbut kembali oleh Vanka. "Game?"
"Duh, ini weekdays, ga ada waktu main game," Vanka mengetik beberapa kalimat lalu menyimpan ponselnya di meja. Ia menyengir jenaka sebelum menyendokkan makanannya.
"Makanan lu selucu itu?" Tara melirik pada mangkuk batu Vanka yang hanya berisi bibimbab seperti yang dimakannya tadi.
"Jangan bilang si Berryl ngirim video mesum," Tara menyipitkan matanya curiga.
"Sue, enggalah," Vanka makin tersenyum lebar. "Jam segini dia lagi mau sarapan."
"Kesambet nih anak," Tara geleng-geleng kepala. "Siapa tau dedeknya tiba-tiba agresif kan?" Tara tertawa.
"Kepala lu tuh ************," Vanka menyambar lalu tertawa bersama Tara.
Tara sudah menikmati rokok mentholnya sambil berpikir apakah ia terima ajakan Genta malam ini. Tadi pagi Genta sudah menginfokan tempatnya yang tak lain Rooftop Bar. Ia berpikir untuk mengajak Vanka tapi kencan buta itu akan jauh lebih aneh lagi bukan. Atau apakah ia harus mengajak Kiara, tapi dia pasti sudah sibuk dengan Danang. Status yang di-updatenya tadi pagi menggambarkan mereka berdua sedang sarapan bersama.
Tapi memang aneh sekali menghadiri kencan buta dari temannya kencan buta. Kalian mengerti? Tara juga tidak.
"Van, ntar malem ke Rooftop yuk," Tara kehabisan akal akhirnya mencoba mengajak saja dulu.
"Gua juga mau kesa..." Vanka menghentikan kalimatnya. "Ke suatu tempat maksud gua, jadi ga bisa ikut Lo ke Rooftop," simpulnya. Lalu kembali melahap suapan terakhirnya.
"Terakhir lu ngajak gua ke situ," Tara pura-pura cemberut.
"Ya, ntar malem ada agenda khusus, darling," Vanka melepas ikatan rambutnya.
Rambut hitam legam yang berombak itu jatuh membingkai setengah tubuhnya. Kemeja putih ketatnya jadi jauh terlihat seksi dari pada saat ia mengikat rambutnya. Dinyalakan rokok sebatang dan menghembuskan asapnya kuat-kuat ke atas. Itu yang Tara sukai dari rekan kerjanya ini, karakter bebas. Tak ada yang mengikatnya dalam apapun. Know what she wants and how to get it. Sedangkan dirinya, Bahkan saat banyak orang mengetahui ia merokok pun, tak seberani itu ia menghembuskan dengan cara menyolok.
"Ok, fine," Tara menghembuskan kembali asap putih yang menyegarkan mulutnya. "bingung gua diajakin pergi ke kencan buta orang."
"Maksud Lo?"
"Iya, temennya Genta ada kencan buta, ngajakin dia. Si Genta ngajak gua," jelas Tara.
"Terus lu ngajakin gua? Ga sekalian lu ajakin nyokap, Tipsy sama Ndud?" kelakarnya sambil menjentikkan abu pada asbak. "Itu mau seserahan kayaknya bukan kencan buta."
"Yah, dunno. How weird Genta's friend is."
***
"Bye, sist," Vanka melewati kubikelnya dan menghilang sebelum Tara menoleh hanya tersisa aroma parfumnya saja.
"Astaga, segitunya tuh anak," Tara melihat jam tangannya. Tak ada salahnya juga ia pergi bersama Genta walau ia bisa membayang betapa kikuknya nanti.
Dibukanya jendela pesan untuk Genta dan mengetik pesan singkat.
Genta, I'll go with you.
***
Angin mengelus wajahnya yang sengaja tak ia tutup kaca helmetnya. Samar, bau maskulin bercampur matahari akibat kegiatan di luar pekerja, menguar dari tubuh pengendara di depannya. Malam itu langit seakan bertabur bintang mengantar mereka beberapa blok dari kantor. Melihat rambut pria itu menyembul ditengkuknya sudah membuat jantungnya naik ke leher.
Ia sudah lama tak merasakan perasaan yang meluap tak terbendung. Nyaris ingin sekali dilingkarkan kedua tangannya pada pinggang pria itu namun ia tahan. Ia pun heran mengapa baru kali ini ia seakan menahan segala rasa untuk dirinya sendiri.
Setelah belokan berikutnya, motor itu melambat dan akan memasuki area parkir.
"Lo turun dulu, tunggu sini nanti capek jalan nanjak dari parkir," pria itu mengendikkan kepala menunjukkan area parkir di basement.
"Ok," Ia turun dari atas motor.
Pria itu mengulurkan tangannya dan membuka helmetnya. Sesekali mata mereka bertemu dan pria itu tersenyum manis. Astaga, ia salah tingkah!
"Bentar, ya," diambilnya helmet itu. "Tunggu aku."
Sekejab pria dan motor kendaraannya tertelan parkir basement. Dikeluarkannya kaca kecil dan memastikan letak hasil solekannya tertata tetap sempurna. Tapi ia memutuskan untuk membubuhi sedikit gincu merahnya lalu buru-buru memasukkan benda itu ke dalam tas.
Suara langkah di belakangnya mendekat, "ayo."
Vanka mengangguk, "aku suka banget mess potato di sini lho."
"Lo sering ke sini?"
"Duh, ga usah ditanya deh, Will," ujar Vanka.
Mereka berjalan menuju pintu masuk, William membukakannya untuk Vanka dan membiarkan ia masuk terlebih dahulu.
"Selamat malam, untuk berapa orang?" tanya resepsionis saat mereka memasuki pintu tempat makan itu. Seketika suara musik lo-fi mengalun, suara tenor Michael buble samar terdengar dari dalam music itu.
"Untuk empat orang," William seketika menjawab. Vanka melempar pandangan bertanya kearah pria itu yang hanya dibalas kedipan.
"Up!" jawabnya singkat. Lalu resepsionis berganti dengan resepsionis yang lain untuk berjaga pada mejanya menunggu tamu selanjutnya. Mereka berdua berjalan mengikuti resepsionis pertama yang mengantarkan sampai ke meja di upperground. Padahal tanpa bantuan resepsionis pun Vanka biasa mencari meja sendiri. Tempat ini sudah seperti rumah ketiganya selain kantor dan rumah orang tuanya.
"Ini menunya," Resepsionis bernama Melka itu meletakkan buku menu berlapis kulit sintetis di meja mereka. Ia membalikkan dua gelas kaca dan mengisinya dengan air mineral dari pitcher yang ia bawa. "Mau langsung pesan atau..."
"Kita liat dulu, ya, Melka," jawab Vanka.
"Baik, saya akan menunggu di dekat tangga turun, nanti dipanggil saja setelah ingin memesan." Melka pamit dari meja mereka.
"Lo ga bilang kita berempat, gua pikir cuma sama lo aja," Vanka mencondongkan badannya dan mendesis dari balik buku menu ditanganya.
"Gua mau kenalin lo sama sahabat baik gua, gara-gara racun dia gua akhirnya bikin akun di SwipeLove dan menemukan lo di sana, Van," jelasnya.
"Yah, gua pikir kita bisa habiskan malam ini cukup berdua," Vanka menaikan alisnya acuh.
"Do you mind?" tanya William.
"Nope," yes! ucap Vanka dalam hatinya.
"Lo cewek pertama yang entah kenapa pengen langsung gua kenalin ke sahabat gua," diteguknya sedikit air mineral.
Vanka memperhatikan jakun pria itu yang naik turun membuat ia menelan air ludahnya sendiri. Bekas cukuran dua hari terlihat di seluruh rahang William, ditahannya sekuat tenaga agar tangannya--yang terkadang tidak sopan-- tidak mengelus rahang itu. Astaga, memikirkan tangannya menyentuh dagu pemuda itu saja membuat wajahnya panas. Padahal angin sepoi Jakarta malam hari tidak bisa dikatakan angin yang hangat walau teriknya Jakarta di kala siang jelas menundangmu seketika ingin tanning. Temperatur malam itu cukup membuat bulu meremang karena dingin. Vanka tau apa yang membuatnya segerah ini, pria di depannya terasa sepanas matahari yang membakar dirinya.
"Lo ga bermaksud mak comblangin gua kan?" tanyanya menghilangkan kegugupan.
"Ya, enggaklah! Padahal gua biasanya, um, Ta!" teriaknya pada seseorang jauh di belakang mereka. "Sini!"
***
"Meja atas nama Willian," Genta mengucapkan kepada resepsionis.
"Mari, saya antarkan. Lewat sini," pegawai resto itu menyilakan dan mereka berdua membuntuti seperti anak itik.
"Padahal ga usah pakai jasa resepsionisnya, Gen. Aku hafal mati sama resto ini," bisik Tara.
Genta menyengir dan merendahkan sedikit tubuhnya agar bisa berbisik ditelinga Tara, "biar aja. Kan jobdesc mereka emang gitu, harus kita hargailah saat mereka melakukan tugas. Siapa tau temanku pesan meja spesial yang ga kamu tau."
"Ih, ngaco," Tara memukul lengan hasil olah tubuh itu pelan. Genta hanya terkekeh.
Baru beberapa langkah mereka menjejaki rumput sintetis yang dipasang di lantai dua Bar & Resto Rooftop, seseorang memanggil mereka dari mejanya.
"TA!"
"Ah itu si Wilun," respon Genta. Wajahnya berseri. "Mbak, makasih ga usah di antar lagi."
Orang yang memanggil itu melambai dari mejanya. Di seberang pria itu duduk manis seorang perempuan yang pasti teman kencan butanya. Semakin mendekati meja akhirnya perempuan itu ikut berdiri mengikuti sahabat Genta dan menoleh berbalik. Tara terkejut begitu pun dia, Vanka.
Keterkejutan mereka berdua tidak disadari oleh pria di sekitar mereka itu yang asik bertepuk ala brotherhood yang seakan lama tak jumpa. Tara berbagi tanya lewat ekspresinya yang hanya dijawab lewat isyarat di wajah Vanka 'untuk ikuti saja permainan'.
"Ini pasti yang namanya, Tara," William mengulurkan tangan. "William. Genta banyak cerita tentangmu."
"Oh, nyaris aku berpikir benar nama lo, Wilun," Tara menyambut tangan William. "Wah, jadi kepo apa yang dikatakan Genta tentang gua sama lo."
"Siake lu make nyebut-nyebut Wilun," kesalnya pada Genta. "Tenang, ceritanya yang baik-baik, kok," William mengedipkan sebelah mata ke arah temanya.
"Gak efek kedipan lu ke gua, lun," sungut Genta.
"Eh, ayo duduklah," William otomatis bergerak ke sebelah Vanka dan mempersilahkan kedua tamunya untuk duduk berseberangan dengan mereka.
"Ta, kenalin ini Vanka. Vanka dia sahabatku, Genta dan disebelahnya..." William melirik ke arah Tara meminta petunjuk akan statusnya.
"Teman dekat," Tara berdeham.
"Tara, temen deketnya Genta. Mereka juga ketemu di aplikasi itu lho," jelas William.
Ya iyalah, gua yang maksa tuh anak buat download aplikasinya, ucap Vanka dalam hatinya.
Tara dan dan Vanka saling bertukar 'hai' dan berjabat tangan. Benar yang ia rasakan dan pikirkan dua hari ini, pertemuan ini pasti akan kikuk. Ditambah di depannya ternyata rekan kerjanya yang hari ini berperilaku aneh. Kikuk pangkat dua.
William memanggil Melka yang masih setia menunggu di meja ujung tangga untuk memesan makanan, selagi mereka menunggu makanannya datang perbincangan seputar Pekerjaan William sebagai penyiar radio di salah satu stasiun anak muda di Jakarta. Pantas saja suaranya terdengar tak asing dan empuk.
"Gua mengudara di acara pagi sih, makanya selepas jam sepuluh kalo lagi ga ada side job buat MC ya paling gua bengong," ujar William sambil memotong Sirloin steak-nya.
"Beneran?" Tanya Tara dan Vanka berbarengan.
"Wah, bro, sorry nih, kayaknya gua menang banyak," candanya. "Ya enggaklah, ledies. Bercanda."
"Ga akan lu menang banyak, Wilun," Genta menyendok besar lasagna langsung ke mulutnya karena bete mendengar kepongahan sahabatnya sendiri.
"Baguslah, lo bakal jadi morning person buat Vanka," ucap Tara sambil menyendok nasi karage bumbu ricanya.
Satu meja hening dan menatap Tara, yang dilihat merasa tiba-tiba hening mengangkat mengalihkan pandangan dari piringnya ke teman makannya malam ini.
"There's something that I lose the clue between you both?" William meletakan peralatan makannya.
Sekilas diliriknya Vanka yang membuat gelengan tak kentara dan wajahnya yang mengencang, ia paham.
"Terkadang perempuan itu suka susah jadi morning person. Aku sih, gak tau Vanka gitu juga apa engga," Tara melirik Vanka dengan ekspresi yang menenang.
"Ah, you're not a morning person, dear?" tanya William sambil meremas tangan Vanka di bawah meja.
Vanka sontak menarik tangannya kaget, bukan karena tak suka, tapi efek membakar dari pria itu masih meletup-letup di seluruh tubuhnya.
"Ah, bener kata Tara, I'm not a morning person, btw," Vanka menegaskan poin Tara yang memang benar adanya. Bagaimana Tara tidak tahu bahkan mereka bertemu dan hari.
"I'll not trying to make you a morning person but you gonna be one if you let me be with you," William mengerling.
"Hati-hati, Vanka. Banyak racunnya dia," Genta tertawa.
"Monyongmu itu musti dijaga ya," ujar William dan mereka tertawa bersama melewati malam.
***
"Kok bisa sih?" Tara menghentikan aktifitasnya membubuhkan gincu yang memudar karena makan.
"Apa, beb?" Vanka menutup lisptiknya dan membuka-tutup bibirnya agar lipsticknya merata. Kemudian memutar badannya mengarah pada Tara.
"Lo, William, kencan? Berryl?" Tara masih memikirkan pacar resmi Vanka.
"Yah, gua belum cerita ke elo," Vanka memasukkan lipstick pada tasnya. "Atau ga ada kesempatan sih lebih tepatnya. Lu lagi asem-asemnya kemaren dan Berryl udh di pindah kerja ke Holland, hari ini tepat 3 minggu."
"Ya, tapi kan kalian ga perlu putus," kejar Tara.
"Kita ga officially putus sih, beb. Cuma gua dan Berryl tau hubungan kita ga lebih dari FWB, friend with benefits. Rasa kita ga 'main' dalam hubungan ini. Lagi pula gua belajar dari seseorang kalo LDR-an itu sulit," Vanka melipat kedua tangannya di dada.
"Nyindir?" lirik Tara lalu melanjutkan kegiatan memulas gincunya.
"Gonna told you after this," kata Vanka. "Udah yuk, udah cantik itu."
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
William (Mada Emmanuelle - bassist The Overtunes)
Ditunggu likes, comments, kritik dan sarannya dear readers 🥰