
Tara terpaku, tak percaya akan apa yang dilihat matanya. Ini bukan hayalan-hayalan yang ia inginkan saat awal mereka berpisah. Ini nyata. Rendi tepat dihadapannya membawakan segelas NiKopSu dari kedai kesukaannya. Dorongan hati ingin sekali menghambur dalam pelukan Rendi, tapi sekuat tenaga ia tahan hasrat hatinya.
Dia kembali?
"Udah ga doyan?" Randi menarik sedikit tangannya yang menjulurkan kopi itu.
"Ah," Tara mengambil cangkir itu dari tangan Rendi, ada desiran halus dalam hatinya saat tangan mereka bersentuhan. "Kamu balik?"
"Iya, dari Rabu. Ada yang harus dilakukan di kantor pusat, makanya aku di sini. Sore ini mampir ke kantor kamu pas selesai urusan," jelasnya. "Sehat, Tar?"
"Puji Tuhan, masih utuh," jawabnya nyengir.
"Ada janji sore ini?" Randi menunggu jawaban.
Kepala Tara menggeleng otomatis, "gak ada. Kenapa?"
"Aku laper, cari makan yuk," ajaknya. "Nanti pulang aku antar sekalian ketemu mama."
Dadanya berdegup, pikirannya berkecamuk. Kembalinya Rendi dalam kehidupannya setelah sekian lama membuat semua proses healing-nya drop ke angka nol. Padahal, inilah yang ia tunggu-tunggu selama ini. Walau disekelilingnya kehidupan berjalan tanpa henti, banyak orang-orang baru datang silih berganti, tapi sosok di hadapannya membuat bumi Tara kembali goyah.
Ini yang kamu harapkan, kan, Tar. Lalu sekarang kenapa kamu bimbang dan mempertanyakan yang kembali?
Tara mengikuti Rendi ke arah Ninja yang terparkir di bahu jalan. Tara menyedot kopinya untuk mengalihkan kegundahan dan pergolakan batinnya. Setidaknya Rendi harus melihatnya biasa saja, tidak merasakan kegelisahannya luar biasa, pikirnya.
Rendi menyerahkan helmet kuning, helmet yang selalu dipakai Tara saat mereka masih bersama. Tangan Tara lemas saat menyematkan helmet itu ke kepala. Rendi menoleh dan membantu mengancingkan helmet itu. Mata mereka berserobok dan langit di angan Tara seakan dihiasi jutaan kembang api yang meletup-letup.
"And save," ujar Rendi saat terdengar bunyi klik terkunci.
"Thanks," cicit Tara.
Lalu dengan tak lama, mereka berdua telah melaju membelah jalanan Ibu Kota yang padat.
***
"Oh, gitu," Tara menanggapi cerita lawan bicara dihadapannya.
"Abis project mural di BNB selesai, aku pindah lagi ke Banyuwangi. Makanya lagi urusin kelengkapannya di kantor pusat, sekalian bawa seniman yang aku rekomendasiin. Karyanya bagus lho, mau lihat?" Rendi mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri. Menunjukkan mural bergaya kontemporer realistik di BNB yang telah selesai di garap.
"Statistik pengunjungnya makin besar setelah BNB itu kena sentuhan mural ini," katanya antusias.
"Bagus tuh, senimannya suruh pameran di event kantor ku aja sekalian," tawar Tara.
"Bisa aja, tapi kamu yang bawa proposalnya, ya," Rendi mengerling dan menyimpan ponselnya di meja. "Tadi Adam titip salam tuh," Rendi mengendik kearah cangkir NiKopSu Tara. "Katanya kamu kusut akhir-akhir ini."
Tara menarik dirinya bersandar dan melipat kedua tangannya di dada, "dasar ga sopan."
"Dia bilang, kamu kena mala rindu," Rendi terkekeh.
Sial, awas ya, Dam. "Terus kamu bangga, gitu?"
"Lho aku kan ga bilang malarindunya karena aku," Rendi mengangkat alisnya.
"Mancing banget," Tara menolehkan pandangannya ke jalanan di luar jendela.
"Kalo memang benar... ya iya, dong, bangga," Rendi memasang senyum jenaka yang dibalas senyum sinis Tara.
Pesanan mereka tiba, Cordon Bleu untuk Tara dan Sirloin Blackpaper untuk Rendi. Mereka mengucapkan terima kasih pada pelayan tersebut saat meninggalkan meja. Rendi mengambil piring Tara dan mulai memotong-motong Cordon Bleu seperti yang biasa ia lakukan dulu.
Kita udah putus, kan, Ren? ucapnya dalam hati sambil mengamati Rendi yang mengoceh dan memotong makanannya menjadi potongan yang mudah dimakan Tara. Ia tak menghiraukan apa yang pemuda itu ucapkan sampai piring di kembalikan di hadapannya. Sekarang harus bagaimana sikapku?
"Mama gimana? udah lama ga dengar tawanya yang riuh itu lho, tawa mamamu nular banget," Rendi mulai memotong daging miliknya.
"Sehat," Tara memasukkan potongan daging ke mulutnya, "Papi-Mami, sehat?"
"Udah lama aku ga kontak mereka sih," Rendi meneguk air di gelasnya. "Paling aku chat si Dian. Mastiin bener kuliahnya, tahu kan anak sekarang."
"Bebasin lah, biar Dian bisa berekspresi," sahut Tara.
"Iya, deh kakak pertama perguruan siaolin," imbuhnya.
"Ih aku botak setengah dong," Rendi tak terima.
Sontak Tara tertawa, malam itu mereka habiskan untuk bertukar cerita selama absennya kehadiran masing-masing dalam kehidupannya. Tara menikmati momen itu, ia putuskan melihat perkembangan kedepannya dengan tak menaruh harapan lebih. Ia tahu, ini jalan terbaik. Menyambut Rendi pulang tanpa mengharapkan agenda khusus di dalamnya.
***
Rendi menyerahkan helmet kuning ke arah Tara untuk dipakai, Tara urung menyambut. Ia ingat harus mampir ke Ranch untuk keperluan membeli bahan sushinya.
"Aku harus mampir ke suatu tempat," tolak Tara halus.
"Lho, tadi katanya ga ada janji," Rendi meletakkan helmet itu ke atas jok motor.
"Iya, soalnya-" ponsel Tara berdering. "Hold on."
Nama SL Genta terpampang dilayar ponselnya.
"Halo," Tara melangkah menjauh.
"Mastiin aja besok jadi, Tar," sahut Genta.
"Jadi, kok," jawab Tara.
Dari tempat Rendi berada, ia masih sanggup mendengarkan pembicaraan Tara dengan seseorang di ponselnya. Sesuatu menggelayut di dadanya. Ia pun tak tahu mengapa sore ini dia melangkah ke kedai kopi, memesan dan menghampiri kantor Tara tanpa memberitahu kalau ia akan datang. Rendi pun tak mengerti. Mungkin hal rutinitas ini memanggil dari alam bawah sadarnya, ia ingat tak ada hubungan lebih dengan perempuan yang berdiri dekat pohon akasia dan berbicara dengan ponsel tersebut, selain status mantan. Sesuatu menariknya, tak terdefinisikan apa itu.
Sesekali Tara tersenyum sambil menunduk dalam percakapannya, menyelipkan helaian rambutnya yang terjatuh dindepan wajahnya. Dengan siapa dia berbicara, batin Rendi. Ingin sekali dirinya mencari tahu, namun akhirnya ia hanya mengalihkan pandangan dan menunggu Tara selesai dengan percakapannya.
"Aku harus ke Ranch," Tara melangkah mendekati Rendi dan memasukkan ponselnya dalam tas. "Ada yang mau aku beli."
"Mau bikin sushi, ya?" tanya Rendi tanpa basa-basi.
"Ih, nguping," Tara manyun.
"Ga nguping, suara kamu tuh bisa terdengar sampai puluhan blok dari sini," ujar Rendi hiperbola.
"Ngaco," balasnya. "Makasih makan malamnya, Ren. Sehat-sehat, kamu. Pulang aja, gih."
"Ngusir, nih?" ujar Rendi kaku.
"Lho, engga. Aku ke Ranch sendiri aja," jelas Tara.
"Kan aku janji antar pulang tadi," Rendi mengingatkan.
"Ga usah, gak apa-apa. Lagian nanti aku pulang naik komuter, motor aku titip di stasiun," Tara tersenyum sambil memandang Rendi yang bersandar di motornya.
"Tadi," ucap Rendi tapi mengurungkan niatnya melanjutkan kalimatnya. Tak ada haknya menanyakan siapa yang menelepon Tara barusan.
Tara memandangnya menunggu kalimat yang tak Rendi teruskan.
"Oke, deh," Rendi merapikan helmet kuning dan memasangnya dengan jaring di jok belakang. "Kamu hati-hati pulangnya, berkabar kalau sampai rumah. Salam buat mama."
Tara tak menambahkan ekspresi apapun, walau tanda tanya semakin banyak menggantung pada kepalanya. "Terima kasih, Rendi, buat hari ini. Sungguh sebuah kejutan," imbuhnya.
***
Sudah lima kali Tara mengelilingi rak berpendingin di toserba itu, semua keperluan membuat sushi sudah ada di keranjang yang ditariknya. Pikirannya melayang pada apa yang barusan terjadi, benaknya berkecamuk.
Apa manifestasinya selama ini membuahkan hasil? Ia tahu, proses penyembuhannya belum sepenuhnya usai, harap kecil masih terus ada di titik hatinya. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang mulai berhubungan dengannya. Ia menjadi gamang. Tak dipungkiri ia bahagia namun ia tak menampik kebingungannya.
Akhirnya Tara berjalan menuju kasir dan membayar belanjaannya. Sembari menunggu kasir menghitung belanjaannya, Tara mencari kontak Kiara dan menuliskan pesan pada jendela percakapan.
He's back. How?
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Ditunggu likes, comment, kritik dan sarannya dear readers 🥰