Swipe You, Swipe Me

Swipe You, Swipe Me
Five of Swords II



Tara tak bisa duduk dengan tenang di meja kerjanya. Setelah telepon yang terputus tadi ponsel Genta tidak aktif. Perutnya mual, hatinya ngilu. Ia tahu sesuatu yang tidak baik sedang terjadi. Mengingat teriakan Dave saat ditarik paksa oleh petugas keamanan. Itu membuat Tara hanya teringat pada Genta. Lalu sekarang, pria itu tak bisa dihubungi. Ia mana tenang bekerja.


Bu Salma sudah dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan tindakan segera atas luka benturan di kepalanya. Pihak kantornya juga sudah melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian. Ia yakin sekarang polisi sedang mengejar Dave. Tara yakin memang Dave bukan orang biasa. Setelah perlakuan tidak menyenangkan pada dirinya, ia bahkan tidak segan menyakiti orang lain.


Ia mengkhawatirkan Genta. Tara bangkit lalu berjalan ke arah meja Vanka yang sedang mengerjakan tugasnya.


"Vanka, kalo ada yang cari gua, bilang gua ada urusan, ya," terangnya.


Vanka berdiri dan menarik Tara ke arah lemari-lemari besi penyimpanan dokumen. Ia menggenggam erat tangan Tara. Dia juga tidak tahu mengapa ia melakukannya. Ia merasa Tara akan melakukan sesuatu di luar akal sehat. Apalagi setelah orang sinting bernama Dave membuat huru-hara di kantor ini.


"Lo mau kemana?" tanyanya setelah memastikan tak ada telinga yang akan mencuri dengar percakapan mereka.


"Ga tau, tapi gua bakal cari Genta. Sejak jam dua tadi dia ga bisa dihubungi, Ka. Dan gua punya perasaan buruk dengan itu," jelas Tara.


"Oke, sekarang Lo tau di mana posisinya?"


"No clue," ucap Tara lemah. "tapi gua bisa tanya ke galerinya dulu atau... William!" mata Tara membulat setelah nama sahabat Genta terlintas di kepalanya.


"Coba gua telepon dia dulu," Vanka berlari kecil ke mejanya dan mengambil ponsel. Lalu ia kembali berlari kecil ke tempat semula sambil mencari kontak pria itu.


"Will, Willy hai," sapa Vanka yang pipinya langsung bersemu merah, sempat-sempatnya. "Aku loudspeak bentar ya."


"Ah, kupikir kau mau bilang rindu padaku seorang," desah kecewa yang hanya bercanda dari ujung telepon.


"William, hei ini aku Tara," ucap Tara saat Vanka menyodorkan ponsel di tangannya.


"Oh, hai Tara! Kalian berdua sedang bersama. Baguslah kalau kalian bisa mengakrabkan diri. Tapi ini kan jam kerja," Willian berhenti tampak berpikir.


"Sudahlah, ini bukan saatnya Will," timpal Vanka.


"Baiklah, ada apa Tara?"


"Kau ada kabar tentang Genta?" tanya Tara cepat.


"Eh, tidak ada. Memangnya kenapa?" Nada suara William tiba-tiba berubah. Seakan ia mengetahui sesuatu.


"Tadi aku meneleponnya, setelah itu teleponnya terputus tiba-tiba. Aku mencoba menghubunginya lagi dan nomornya sudah tidak aktif. Aku khawatir," ucap Tara.


"Sebenarnya, semalam ada sekelompok orang mengejar Genta. Dia pun tidak mengerti kenapa ia dikejar." ungkap William.


Tara dan Vanka saling bertukar pandang.


"Genta dikejar sampai ke Kampung Cina Kecil. Baru tadi padi aku mengantarnya ke kampung itu untuk mengecek mobilnya yang ternyata sudah diamankan oleh dinas perhubungan. Tapi menurut keterangan orang di situ, mobilnya sudah dirusak oleh sekelompok orang. Kemungkinan yang mengejar Genta," jelasnya lagi.


"Ya, Tuhan," desis Tara.


"Apakah ada sesuatu yang kau ketahui tentang itu Tara?" kejar William. Tentu ia jadi mengkhawatirkan temannya. Setelah menurunkannya di galeri, mereka berdua tidak ada kontak lagi.


"Perasaanku tidak enak," ungkap Tara jujur. "Baiklah, aku akan coba mencarinya."


"Ya, aku juga," kata William. "Apakah mau bareng?"


Tara melirik ke arah Vanka yang hanya memberi anggukan.


"Baik, aku tunggu di lobi kantor." ujar Tara.


Vanka mematikan loudspeaker dan mendesis hati-hati kepada William. Perasaannya jadi tidak enak juga tentang ini. Lalu ia menutup telponnya.


"Kamu hati-hati, Tara. Aktifkan live share location-mu dan kirim padaku," ucap Vanka lalu memeluk Tara.


"Ya, kalau ada apa-apa, tolong hubungi polisi, Ka," pesan Tara.


Ia membagikan live-share-location pada Vanka juga Kiara.


***


Bug!


Entah ke berapa kali ia menerima pukulan. Darah sudah mengucur dari mulutnya yang bercampur dengan air liur. Rasa asin dan besi khas darah dikecap Genta. Kepalanya terkulai dan semua masih gelap karena matanya tertutup.


Kedua tangannya direntangkan dan diikat. Ia terduduk lemas. Genta sudah didera sejak awal ia sampai. Ia tak merasakan wajahnya lagi, seluruh wajahnya sudah berdenyut hingga kebal. Bahkan rasa perih terasa menusuk dari tulang hidungnya yang patah.


"Uhg!" desisnya saat sebuah bogem mendarat di bawah rusuknya.


Ingin sekali dia meringkuk memegangi perutnya, tapi kedua tangannya terikat. Ia hanya bisa merasakan sensasi itu pasrah. Sekujur tubuhnya sudah melemas. Ia tahu ia tak sanggup lagi.


Sebuah balok kayu mendarat di punggungnya. Tak berapa lama tonjokan lurus mengenai pelipisnya hingga telinganya berdenging dan kepalanya berputar pusing. Orang-orang di ruangan itu mulai tertawa dan mengatakan hal-hal yang teredam oleh dengungan kupingnya.


"Cukup!"


Suara seorang pria menggelegar di seluruh ruangan membuat segala suara riuh redam tadi terhenti. Suara langkah kaki mendekat kearah Genta. Kepalanya di angkat oleh seseorang dengan menjambak rambutnya.


"Ah, ini dia pria itu," katanya meremehkan. "Pria buruk rupa ini yang membuat Tara tak menginginkanku."


Tara!


Pria itu menepuk-tepuk pipi Genta, "Aku tak menyangka selera Tara serendah ini. Bentuk mukamu saja sudah tak karuan!" pria itu tertawa.


"Ayo kita lihat," pria itu mengangkat dagu Genta tinggi-tinggi. "Apakah Tara akan tetap memilihmu setelah ini?"


Bug!


Kepalan pria itu sukses mendarat di pipi kanannya. Ia merasakan bibirnya sobek. Kembali dikecap rasa segar darahnya sendiri. Kepalanya pening. Rasa sakit di seluruh badannya sudah tak bisa dia gambarkan lagi. Semua bagian merasa sakit yang berbeda-beda.


"Mana lap?" hening sesaat. "Kita lihat setelah Tara datang ya, Genta." suara itu berbisik di telinganya. Sebuah nada ancaman sungguh penuh di setiap suku katanya.


Suara langkah kaki menjauh darinya, "biarkan dia beristirahat dulu."


Suara pintu yang jauh tertutup di depannya.


***


"Pak, biar saya cari sendiri saja dengan jalan kaki," ucap Bram pada pengemudi ojek online sambil menyerahkan helmet-nya.


Sudah dua kali kawasan pertokoan yang seakan mati suri itu ia kelilingi dengan motor ojek online. Namun, alamat yang dituju tak juga didapatnya. Kalau bukan karena kesepakatan membeli meja billiard-seken-dan-mulus-harga-ok, ia tak perlu pusing mencari alamat seperti ini.


Harga yang ditawarkan si penjual relatif murah dengan keadaan yang masih mulus bak baru. Tapi Bram memilih untuk melihat sendiri kondisinya dari pada langsung memesan dan mengirim barangnya ke cafe tanpa diperiksa.


Ia melangkah sambil memandangi ponsel pintarnya. Mencoba mencari titik khusus yang tersemat di peta digital pada ponsel. Ingin rasanya ia bertemu orang hidup untuk bertanya. Karena tentu, terkadang berbicara secara verbal lebih jelas dibandingkan ngobrol dengan layar ponsel.


"Di depan belok kanan," desisnya pada diri sendiri.


Bram akan menyebrangi jalan itu ketika mobil hitam melintasinya dengan kecepatan tinggi. Ia nyaris terserempet mobil tanpa plat nomor. Jalanan di wilayah itu tidak bisa dikatakan besar. Hanya cukup dengan satu mobil satu arah dan kendaraan roda dua. Itu pun harus melewati dengan perlahan agar tidak saling menyenggol.


Bram menempelkan tubuhnya ke tembok agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan, misalnya saja sepatu Converse bututnya terlindas ban. Bram sama sekali tidak ingin sepatunya bernasib buruk. Menjadi benda yang diinjaknya tiap hari selama enam tahun terakhir saja sudah menjadi nasib buruk bagi si sepatu.


Mobil itu berbelok ke arah yang sama akan Bram lalui. Ia berharap tidak akan ketemu dengan kendaraan itu lagi. Bisa-bisa Bram tidak jadi menemui meja billiard itu dan memilih untuk pulang. Bram menyebrang dan menekuri lorong sesuai dengan arahan ponselnya.


"Setelah itu belok kiri. Oh, ini yang bikin salah si Bang Ojol dari tadi. Haduh," pekik Bram gembira karena ia boleh menemukan jalan yang tepat.


Tak ada satupun orang yang berjalan di setiap lorong dan jalan yang di lalui Bram. Ia tidak tahu apakah bangunan-bangunan yang ada, punya penghuni di dalamnya. Pintu-pintu besi tertutup. Setiap emperan tertutup debu. Terlihat tidak pernah ada aktifitas manusia di sini. Kemungkinan besar aktifitas astral pasti terjadi, benak Bram. Ia yang memikirkannya dan ia yang bergidik ngeri sendirian.


Setelah berbelok ke arah kiri seperti arahan, jauh di depan sana mobil yang tidak sopan saat berkendara berhenti. Empat orang turun dari dalam. Tiga orang memakai pakaian serba hitam dan seorang perempuan yang kedua tangannya dicekal. Namun perempuan itu tidak terlihat takut. Lalu mereka masuk ke dalam dan meninggalkan mobil itu di luar begitu saja.


Benar, kan! Perasaannya memang tidak enak saat mengelilingi wilayah ini menggunakan jasa ojek online. Apakah ini tempat orang-orang dibawa setelah diculik? Jangan-jangan seluruh toko yang tertutup itu merupakan markas rahasia dari gembong mafia besar di Indonesia? Bram bergidik ngeri. Tekadnya untuk menjemput meja billiard-harga-oke-dan-mulus itu semakin mengecil.


"Ah, peta. Yang benar saja kau malah membawaku melewati tempat mereka?" gumam Bram dengan geram saat melihat arahan. Ia mengacak rambut gondrongnya.


"Ah, bodo amat," Bram merapikan kembali rambutnya agar tidak disangka orang gila. Atau lebih baik jika dia dianggap orang gila oleh mereka ya? Bram menelan ludahnya. Ketegangan merayapi dari telapak kakinya selaras dengan langkah tiap langkah yang dia ambil.


Tak ada satu orangpun yang menjaga di luar. Mobil itu terparkir di sebuah toko besar dengan pintu kayu berornamen ukiran wajah naga. Di pada matanya, terdapat kuningan lusuh berdebu piranti tamu mengetuk pintu. Bram mengintip sedikit lewat celah kecil ketika suara jeritan seorang gadis menggema.


"Astaga! Apa yang dilakukan orang-orang itu kepadanya?" ujar Bram pelan. "Tidak-tidak, bukan urusanku."


Bram menggeleng lalu berjalan melewatinya. Baru beberapa langkah terdengar letusan bunyi senjata api seperti memecahkan kesunyian sepanjang jalan itu. Tak ada pergerakan apa-apa di sekitarnya kecuali dada Bram yang naik-turun bernapas.


"Astaga, ini tidak benar," Bram merutuk dalam hati.


Ia menekan papan dial nomor telepon polisi yang dihafalnya di luar kepala. Saat ingin menekan tombol panggil, Bram berhenti. Dia tidak seharusnya turut campur dalam masalah ini. Yang ada dia malah terbawa-bawa dalam masalah. Diurungkan niatnya untuk menghubungi polisi dan melanjutkan jalannya.


"TARA! KAU GADIS SIALAN!" teriak seseorang dari dalam.


Tara....


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Ditunggu likes, comment, kritik dan sarannya dear readers 🥰