
"Lu tau tempat sewa pakaian, Ra?" tanya Tara yang duduk manis di bangku penumpang.
"Baju apa, yaelah pake sewa segala," Kiara memutar kemudinya habis berbalik ke jalan utama dan melintasi kota Jakarta yang jarang lancar seperti sekarang. Namun itu bersifat sementara.
"Yah, kan gua mau dateng ke pameran seni. Yang ini kudu tampil gimana gitu, lho," Tara memikirkan baju koleksinya kebanyakan baju kantor. Sedangkan baju-baju yang layak ia pakai ke pesta pernikahan tidak nyambung untuk menyambangi acara semacam itu.
"Ya, tergantung lu nanti jadi perginya sama siapa," goda Kiara dan mendapat toyoran di bahu. "Eh gua lagi nyetir ini. Tenaga lu kurang-kurangin lah."
"Vangke," ujar Tara. "Gua ngeliat acaranya ya, bukan dengan siapa gua pergi."
"Iya, anggep gua percaya," Kiara merespon sambil mengganti saluran radio yang kini melantunkan lagu Billie Eilish.
"Sue," Tara tertawa.
"Yaudah, lu kan ngeliat acaranya, sekalian aja bikin panas kedua cowok itu dengan siapa pun lu pergi nantinya," Kiara menjawab. "Kayaknya ada beberapa sih jasa penyewaan pakaian branded gitu."
"Gua cari di google kebanyakan sewa baju tari, yah nanti gua disangka termasuk bagian pajangan barang seni," Tara memandang sorotan lampu merah sepanjang jalan. Welcome to Jakarta's traffic.
"HAHAHAHAHA, GUA BISA NGEBAYANGIN ANJIIIIIRR," Kiara mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu di sana. Situasi yang macet ini membuatnya hanya memainkan kopling dan rem sepanjang jalan sedangkan kedua tangannya bebas melakukan apapun.
"Nih," Kiara menyerahkan ponselnya yang sudah memperlihatkan beberapa pakaian yang cukup pantas ia kenakan saat menghadiri pameran tersebut. Sedangkan si pemilik ponsel sudah kembali berkonsentrasi pada kemudinya.
Ia jatuh hati pada sebuah dress berwarna putih dengan detil asimetris cut di bagian bawahnya. Gaun itu tampak simple namun mewah dan bisa terlihat formal juga informal secara bersamaan. Cinta pada pandangan pertama.
"Jadi lu jalan ama siapa nanti?"
"Entah," Tara memindahkan informasi gaun tersebut ke ponselnya agar ia bisa mengunjungi tempat sewa itu.
"Kata hati lu?"
"Lagi mogok ngomong dia," jawab Tara sekenanya.
"Ih nih anak susah banget diajak ngomong," Kiara kesal dan hanya dijawab dengan tawa Tara yang keras.
***
Tara sempat melewati gedung pameran dimana Genta bekerja saat ia harus ikut Bu Salma bertemu dengan klien di suatu resto. Sama dengan yang akan terjadi jika kantornya mengadakan event, dalam radius 1 km dari gedung galerinya, umbul-umbul bergambar Aji Harada telah menghiasi di kanan-kiri jalan. Tak ada kabar dari Genta seminggu belakangan ini, Tara memutuskan mengiriminya pesan.
Gentaaaaa!!!
Semangat nyiapin pamerannya ya 😉
Tara menutup jendela percakapanya saat Bu Salma menanyakan beberapa poin dari laporannya.
***
Genta merasakan getaran kecil di saku celananya, ia masih memperhatikan sebuah display pahatan sekecil bola kasti yang berusaha di pasang tepat di atas media yang membuat benda itu konstan melayang. Di ambilnya ponsel itu dan melihat sebuah pesan singkat dari Tara, ia tersenyum. Kelelahannya sedikit memudar namun ia belum bisa membalas pesannya kembali dimasukkan ponsel itu pada sakunya.
Ia dan beberapa teman kerjanya sedang merapikan display karya seni Aji Harada dan memastikan sore ini telah tersusun rapi. Karena Aji Harada akan datang nanti malam untuk melihat kesiapan ruang pamerannya.
"Mas, lampunya sedikit diredupkan apakah bisa?" Lampu yang menaungi pahatan kecil itu berkurang intensitas cahayanya dan saat di rasa Genta cukup dengan redup yang ia inginkan ia menyetopnya. Bola itu timbul mengambang dan bergerak perlahan di bawah sinar redup, tajuknya bertuliskan INTI. Tapi intrepetasi Genta melayang jauh pada janin dalam rongga yang gelap.
"Kenapa lampunya kamu redupkan?" seseorang di belakang menanyakan display yang diatur Genta.
Genta menoleh dan menemukan Aji Harada yang ikut memperhatikan karyanya sambil berpikir. Ia terkejut bahwa si seniman itu telah hadir lebih cepat dari info sebelumnya. Genta mundur menyamai posisinya dengan Aji Harada, seniman berusia pertengahan 40-an yang entah mengapa perawakannya tak tergerus waktu. Jika mereka berdua berdampingan terlihat seperti kawan sejawat.
"Bapak Aji," sapa Genta.
"Harada saja, cukup," tatapan Aji Harada tak lepas dari karya seninya, "alasan apa yang kau buat untuk meredupkan lampunya?"
"INTI yang saya lihat jauh seperti... janin," Genta berpendapat. "Sama seperti INTI yang memilikin tujuan selalu bergerak bebas namun dominan, punya tujuan untuk menggerakkan. Janin pun demikian," Genta berhenti merasa terlalu banyak bicara dengan pemahamannya sendiri di depan pencipta karya, ia merasa dirinya terlihat pongah.
"Lanjutkan," ujar Aji Harada.
"Janin adalah awal seorang manusia, ia bebas namun dominan. Bisa memengaruhi kehidupan seorang wanita bahkan keluarga yang memilikinya," jelas Genta. "Lalu saat ia semakin besar, seharusnya keberadaannya menjadi dampak. Dan mengapa saya meredupkan lampunya, karena Janin berada di kegelapan rahim."
"Apakah..." Aji Harada berbalik menghadap Genta, "Apakah semua karyaku kau yang menata?"
"Tim bagian penataan ada beberapa orang," sergah Genta. "jadi tidak semua saya yang menata, Harada."
Aji Harada menepuk pundak Genta, "Semoga semua pekerja memiliki ketajaman penilaian sepertimu. Saya suka pendapat dan caramu menjelaskan."
"Kehormatan bagi kami, Harada. Anda sudah berminat mengadakan pameran karya anda di galeri ini, kami jauh lebih berterimakasih," ujar Genta.
Aji Harada mengambil ponselnya dan memanggil seseorang, "Tolong naskah INTI ganti dengan JANIN," ucapnya kepada seseorang dalam percakapan itu sambil meninggalkan Genta dengan 'Janin'-nya.
Rasa lega lebih merasukinya setelah Inti atau yang kini telah dibaptis menjadi Janin selesai di display. Ia berharap media tempat Janin mengambang tidak ngadat hingga karya seni itu kemungkinan pecah.
"Bagi dong," Mita tiba-tiba masuk dan mengambil mug kecil pada lemari penyimpanan.
"Ambil aja, masih banyak," jawabnya sambil menikmati panas dan melegakan dari gelasnya sendiri.
"Ah, si Harada ngeselin banget. Minta beberapa makanan untuk gala dinner diganti, bahkan sampai Kateringnya," sungut Mita. Gadis gempal berkacamata itu. Ia selalu memakai pakaian yang berwarna setiap hari hingga tak sulit menemukannya di tengah keramaian. Mita bertanggung jawab untuk bagian dinner malam acara tersebut dan hari ini juga mengadakan food tester di ruangan khusus sebelah timur pintu masuk.
"Makanan aja diprotes, gimana anak-anak display," Mita menyesap kopinya. "Ahh... nikmat banget."
Genta tak merespon, karena Aji Harada malah memujinya.
***
"HTM pas gala dinner mehong abis," Vanka memeriksa tiket masuk pameran pada situs CreArt Galery, juga situs penjual tiket yang bekerja sama. "Di PegiKarcis aja cuma dapet potongan 5% dari 2,8. Hahhh, Berryl juga paling ga minat nih, kecuali se-worth it action figure Kaguya udah ada."
"Ya, ga usah," Tara memutar-mutar kursi kerjanya. Untunglah ia berinisiatif menyewa pakaian yang pantas. Hingga saat ini Tara tidak pernah tahu berapa harga tiket masuk pameran itu, bahkan mencari infonya pun tidak.
"Ih gue kan pengen keliatan nyeni banget biar hubungan gua ama Berryl berasa dapet nilai tambah gimanaaaaa gitu. Art banget kaann," Vanka berujar jenaka. "Sekalian mantau elu."
"Dih buat apaan?" Tara terkikik. "Emak gua aja kagak gitu-gitu amat."
"Iseng aja, pengen liat siapa yang kepanasan," Vanka menaik-turunkan alisnya. Ia heboh sekali ketika mengetahui Genta dan Rendi mengajak Tara pada pameran itu.
"Ga ada niatan gua buat manas-manasin satu pihak, gua aja belom bikin keputusan mau pergi sama siapa. Lu pada udah heboh aja," Tara meregangkan tubuhnya.
Vanka memajukan bibirnya sebel, "Laporan lu udah beres?" balas Vanka sengit.
"Thank you, lho ngingetin gua bikin laporan," Tara memasang wajah bete dan berbalik kembali memandang komputer serta ratusan halaman laporan yang harus dia input.
"Yaudah gua balik ke meja gua, bye," Vanka berdiri tepat saat itu Susi melangkah di jalannya. Keduanya bertatapan lalu keduanya berpisah dengan gestur sengit. Seakan saat mereka bertatapan ada kilatan dari kedua bola matanya.
"Hah, mereka..." Tara kembali mengerjakan laporannya.
***
"Nanti sedikit dikecilin di bagian ini ya?" ujar Bu Desti di kamar pas lebih kepada dia sendiri. Bu Desti pemilik butik sibuk mengepas pakaian itu di tubuh Tara, Tara sendiri sibuk menutupi bagian dadanya yang terasa berpotongan terlalu rendah.
Bu Desti memandang ke arah dada Tara, "Mbak gaun malam memang begitu. Karena keseluruhan tubuh tertutup, maka potongan dadanya dibuat lebih rendah. Atau mau menggunakan gaun yang silver barusan, dengan potongan backless," tawar Bu Desti. Ia tidak ingin memaksakan jika kliennya tidak nyaman menggunakan gaun itu. Kepuasan pelanggan nomor satu baginya.
"Tidak, Bu, ini saja. Saya alergi dingin, Gaun Silver itu malah membuat saya masuk angin nanti," ujarnya terkekeh.
Tara memandang pantulan dirinya di cermin, semua terlihat sempurna kecuali bagian dadanya yang terlalu rendah. Bu Desti masih sibuk menyubit pakaian dan menyematkan jarum pentul di sana-sini.
"Nyaman, mbak?" tanyanya.
"Cukup, Bu," jawabnya.
"Kamis sudah bisa diambil ya, mbak. Biar saya kerjakan gaunnya agar pas saat mbak ambil," Bu Desti membantu Tara membuka pakaian itu.
***
Rendi duduk di balkon penginapannya, BNB yang cukup nyaman serasa memiliki vila sendiri. Terdapat kolam renang 7 x 3 meter di halaman belakang. Bahkan terdapat sauna di BNB yang sedang digarapnya. Terdengar ketukan pintu, Rendi beranjak untuk membuka.
"Ya, Sofia?" Rendi berdiri di depan pintu.
"Kamu tidak mempersilahkanku masuk?" Sofia menatap Rendi.
"Ini sudah pukul sepuluh malam, Sofia," ujar Rendi.
"Lalu?" Sofia mendorong pintu hingga Rendi pun otomatis terdorong. Perempuan itu masuk.
"Aku tidak suka tidur sendirian. Lagi pula kamarku terasa aneh," Sofia langsung mendaratkan tubuhnya di kasur.
"Aneh bagaimana?" Rendi berdiri memandang perempuan itu sambil berkacak pinggang.
"Aneh... mungkin karena kamu tidak di sana," Sofia tertawa.
"Astaga," Rendi beranjak kembali ke arah balkon. Namun langkahnya tertahan. Sofia menggenggam tangannya.
"Kau tau kan, aku menyukaimu Rendi. Dan kurasa kau pun begitu... menyukaiku juga," Sofia berhenti menunggu reaksi Rendi yang hanya diam. "Lagi pula, kita hanya berdua malam ini. Why don't we..."
Sofia menarik tangan Rendi hingga pria itu terjatuh tepat di atas tubuhnya. Rendi ingin menolak undangan ini, namun sebagai laki-laki normal ia tak kuasa menahan gelora yang ia rasakan. Tiba-tiba di luar hujan turun deras. Hujan bulan September itu menjadi saksi betapa panasnya malam itu di kamar Rendi.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Ditunggu likes, comment, kritik dan sarannya dear readers 🥰