
Suasana kantor itu tak dapat dibilang sepi, terkadang tiap kubikel memasang musik dengan volume untuk daya dengar satu orang. Suara balikan kertas, alat pencetak dokumen, obrolan beberapa karyawan dan alat memperbanyak data juga membumbung tinggi hingga mentok pada langit-langit lantai gedung itu. Namun suara tumit sepatu seakan menjadi suara paling vokal di ruangan itu.
"Tara, inget kata Bu Salma tadi, tolong dokumennya disesuaikan lagi dengan perubahan-perubahan yang udah kita omongin di rapat siang ini," Susi menjatuhkan dokumen ke meja Tara.
"Kalo sampe kertasnya berceceran dan halamannya berantakan gua sih ga mau tau, Sus," umpat Tara melihat gaya Susi saat menaruh dokumen yang harus di revisi Tara.
"Ya, tidak mungkin darling," Susi membuka sampul map dan memperlihatkan kertas dokumen yang telah rapi terjepit dengan peperclip. "Yang penting, angka analisanya masukin sesuai yang gua catet tadi ya. Jangan kecewakan aku," Susi mengibaskan rambutnya saat meninggalkan meja Tara. Suara tumit beradu dengan lantai itu kembali menjadi vokal di ruangan kerja lantai Tara.
Jam tangannya sudah menunjukkan saatnya pulang kantor. Di jejalkamnya dokumen yang diterimanya dari Susi ke dalam laci meja kerjanya lalu menguncinya rapat. Besok masih bisa ia selesaikan.
Layar monitor merefleksikan Tara yang merapihkan barang-barang di meja kerjanya. Sore ini Tara bisa pulang tepat waktu karena selepas rapat kordinasi departemen tadi siang tak ada pekerjaan yang harus dikerjakan. Jengkelnya, Susi memberikan dokumen itu pada detik-detik terakhir.
Akhirnya, ia menangguhkannya lalu menghabiskan waktu dengan bercakap ria bersama Vanka lewat jendela messenger kantor. Kubikel Vanka cukup jauh dari mejanya, siapa lagi kalo tidak menggosipi Susi, yang hari ini sengaja memakai setelan merah karena Susi harus presentasi pada rapat tadi siang.
Gua ga ngerti kenapa juga dia pake pump merah juga, gua berasa kudu ngerem mendadak sepanjang rapat jadinya pas liat dia tadi.
Tara terkekeh, lalu membalas.
Lo pikir dia lampu lalu lintas. Kan gua udah bilang lu aja yang presentasi tadi. Lu malah biarin biar ada bahan, ******.
Tara melirik ponselnya dan melihat notifikasi masuk dari Genta, Piknik aja seka... lantas ia membuka pesannya.
Piknik aja sekalian, nanti dijemput juga. Sabtu besok?
Tara mengernyitkan dahi, berpikir. Sepertinya, pergi ke kebon teh untuk melepas penat dari hiruk pikuk kota yang tidak pernah lelap asik juga. Sejenak melarikan diri dari remuknya hati yang mungkin bisa ia tinggalkan sejenak di rumah. Secepatnya, ia harus mengabari Kiara atas absennya besok di kelas Holy Grail. Ia tak ingin mendengar ocehan yang membuat kupingnya pengang disebabkan sahabatnya satu itu.
Boleh, nanti aku buatkan sushi deh buat nyemil.
Tara mengalihkan pandangan kembali ke monitor dan membaca pesan Vanka, lalu ia tertawa kecil saat Vanka mengatakan Susi nyaris membaca setengah percakapan mereka berdua karena Vanka tak sadar Susi sedang menghampiri Atika yang berada di sebelah mejanya.
mamam, ketik Tara.
Rooftop balik kantor, mao?
Kudu ke Ranch mau bikin sushi, up dulu yak. Next time.
layar monitor menampilkan Vanka yang seketika typing... balasan kilat sampai, *masakin siapa Lo? Bau-bau ngedate nih.
Apaan sih, gua lagi pengen sushi, masalah*? balasnya bohong.
Haduh keponya gadis manis ini*.
yowes, gua ngajak Susi deh mumpung dia lagi pake setelan merah hahahahha siapa tau dapet cocktail gratis kan 😁
Tara menggeleng membaca balasan Vanka. Tobat lu sama Susi..
LOL. You wish!
Dipastikannya meja bersih tanpa barangnya tertinggal dan Ia melangkah ke arah lift. Seseorang dari departemen keuangan yang beberapa kali berpapasan dengannya menekan angka lantai yang sama dengan Tara.
Kepalanya fokus memilih sushi dengan topping apa yang ia ingin buat, membuat karage sushi malah jauh lebih sulit. Pilihannya jatuh pada crabstick sushi dan berharap Genta tidak alergi terhadap seafood.
Ting!
Pintu lift terbuka, semua yang berada di dalamnya berhamburan keluar ke arah entrance gate. Tara memindai kartu pegawainya mesing entrance gate lalu menoleh ke arah security yang tak jauh dari mesin gate tersebut, "Duluan ya, pak. Makasih, pak Sapto."
Pria berusia 40-an akhir itu tersenyum ramah, kerutan menghiasi ujung mata dan garis senyumnya. "Hati-hati pulangnya, mbak Tara," sahut pegawai keamanan yang mengenakan setelan hitam-hitam mirip bodyguard. Tangan kanannya menekan wireless di telinga saat menunduk ke arah Tara.
Tara terbiasa mengatakan terima kasih kepada setiap pegawai keamanan yang berjaga saat ia pulang. Karena mereka, ia bisa bekerja dengan hati tenang. Mereka adalah garda terdepan yang harus terlebih dahulu menyambut situasi yang terjadi di kantornya. Mengucapkan terima kasih bukan suatu hal yang berat mengingat kerja mereka yang jauh lebih dari sekedar menjaga.
Tara menggelung rambut coklatnya menjadi cepol tinggi. Itu adalah salah satu kebiasaanya, tanda jika ia siap untuk sekedar bersantai dan waktu men-shutdown segala kepenatan di kepalanya dengan hati yang ringan. Pintu otomatis terbuka, ia akan meninggalkan Mitra Group Indo untuk beberapa hari ke depan. Udara hangat menyapanya sore itu. Matahari boleh terang dan mengedarkan hangat sore ke kulit Tara, tapi angin sepoi membuat suasana seimbang menjadi momen yang Tara sukai.
Siapa yang tak terpikat dengan langit senja? Entah menikmatinya di pinggiran pantai dengan suara ombak yang berlomba bergulung dan saling memecah ketika sampai pada bibir pantai maupun menabrak sang kokoh batu karang. Atau langit senja yang berusaha mengintip dari sela tingginya gedung pencakar langit yang memastikan dirinya lebih tinggi dari yang lainnya. Langit senja mana pun selalu semenarik itu untuk dipandang dengan mata telanjang. Terlebih langit senja di penghujung Minggu menyambut hari tanpa kesibukan.
"Happy weekend, Tara."
Tara menoleh ke arah sumber suara yang menyapanya. Seseorang menyodorkan NiKopSu sambil tersenyum manis. Hanya 3 langkah jaraknya dari Tara yang menatapnya. Sweater coklat dan celana denim biru membuat ia terlihat santai sore itu. Sepasang loafer menutup kedua kakinya. Rambutnya masih seperti dulu, terpotong rapi tanpa pomade. Bekas cukuran masih terlihat pada dagunya.
Suara beratnya dan ekspresi saat mengatakan itu tanpa perlu Tara mencari sebenarnya ia cukup tau. Hanya saja, siapa yang bisa menolak untuk memandang sumber kerinduannya selama ini. Walau pun jika hanya diperbolehkan lima detik, Tara akan bersorai untuk tahu bahwa itu bukanlah khayalan atau bunga tidur di malam hari.
Lagi pula ini senja, lagi pula ia berdiri tegak di depan gedung kokoh Mitra Group. Lagi pula suara itu bukan halusinasinya semata. Ia pulang?
Rendi.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Ditunggu likes, comment kritik dan sarannya dear readers 🥰