
Bram mendorong kedua sisi pintu berukir naga itu terbuka. Barisan polisi rupanya sudah bersiaga di balik pintu. Mereka berhamburan masuk.
"Turunkan senjata kalian, tempat ini sudah dikepung!" seru seorang dari antara polisi itu. Ruangan menjadi riuh, beberapa ada yang meloloskan selongsong peluru kepada target tertentu.Tara berbalik ke arah Genta dan mencoba membuka tiap ikatan yang mengunci tubuh Genta.
Bram dari arah pintu berlari hati-hati. Memepetkan tubuhnya dekat-dekat pada tembok ruangan itu untuk mencapai Tara. Menghindari juga kemungkinan peluru nyasar dengan alamat tubuhnya.
Ia melihat wanita itu kesulitan membuka ikatan-ikatan pada tubuh pria itu. Bram mengulurkan tangannya membuka ikatan pada kaki pria yang babak belur itu. Ia tak yakin apakah ia masih hidup.
"Kau...," ujar Bram sambil terus membiarkan tangannya bergerak tanpa menoleh. "Hidupmu apes terus ya."
"Maksudmu?" Tara melirik dan mulai membuka ikatan di tangan Genta yang lainnya kemudian di matanya.
"Ah, sudahlah. Lebih baik kita amankan pria ini."
Bram melepaskan ikatan terakhir di kaki Genta. Ruangan masih riuh. Beberapa orang sudah diringkus dan yang lainnya masih berusaha mempertahankan keselamatan jiwanya dari jerat polisi. Tara sendiri sudah tidak melihat Dave.
Tubuh Genta yang sudah tanpa daya ambruk ke depan. Untunglah Bram ada di sini. Ia dengan tangkas menahan tubuh itu. Tara tak berpikir jika Genta sama sekali tidak dapat menahan tubuhnya lagi. Kalau ia sendiri, Tara tak yakin bisa menopang tubuh itu dan keluar selamat.
Bram membopong tubuh Genta di punggungnya. Berjalan cepat melewati jalur yang dilalui sebelumnya. Tara dengan patuh mengikuti dari belakang. Nyaris mereka sampai di pintu keluar, Rico menghadang mereka. Laras senjata api menghunus tepat di depan wajah Bram. Mereka berdua berhenti.
"Kau tidak bisa membawa laki-laki dalam gendonganmu keluar dari tempat ini," ucap Rico datar. Ia mengisyaratkan agar Bram menurunkan Genta dari gendongannya.
Bram bergeming. Memandangi Rico dengan malas hingga pria itu kesal. "TURUNKAN DIA SEKARANG ANAK MUDA!"
Sebuah peluru melesat, menjatuhkan kuda-kuda senjata api yang dipegang Rico. Ia berteriak gusar dan melarikan diri. Tara mengambil senjata api yang terjatuh hendak menahan Rico untuk pergi lebih jauh.
"Biarkan saja Tara, kita harus menyelamatkan dia dulu," Bram mengendikkan kepala ke arah Bram di balik punggungnya.
"Baiklah. Ayo," Tara melangkah keluar rumah itu dan melangkah menelusuri jalan.
***
Toko-toko yang tutup dan berdebu sepanjang jalan seperti fatamorgana. Suasananya berbanding terbalik dengan tempat yang baru saja mereka tinggalkan. Terlalu tenang hingga Tara bergidik. Ia menoleh ke arah Genta dalam gendongan Bram. Genta diam saja. Badannya terhentak-hentak mengikuti gerakan badan Bram.
"Bram, terima kasih," ucap Tara.
"Ya," ucap Bram singkat. "Jangan sering-sering melibatkan dirimu."
"Apa?" Tara menoleh.
"Tidak," Bram mengangkat sedikit tubuh Genta yang melorot dalam gendongannya. "Aku bicara sendiri."
"Aku heran kau bisa di sini?" Tara bergumam.
"Itu juga pertanyaan yang sama di dalam kepalaku untukmu, Tara," ujar Bram.
Mereka terdiam sambil menyusuri jalan menuju jalan yang lebih ramai mencari tumpangan. Polisi di belakang masih sibuk maka mereka meninggalkan mereka dengan urusan polisi. Aneh sekali tak ada bantuan kesehatan yang dibawa, pikir Tara. Walau lebih aneh lagi dengan rombongan polisi yang ada di depan bangunan itu.
"Kau yang memanggil mereka?" tanya Tara.
"Ya, siapa lagi? Mereka bukan pahlawan super yang bisa mendengar teriakan 'tolong' dan otomatis sampai di TKP, kan?" Bram kembali membetulkan posisi Genta di punggungnya. Pria ini berat juga, keluh Bram.
"Terima kasih atas segalanya."
***
Ia tak menyadari seorang pria berbaju serba hitam melintas di depan mobilnya. Tak terelakkan, bemper depan mobilnya menabrak lelaki itu. William dan Vanka terkejut bukan kepalang. Namun, keterkejutan mereka bertambah ketika pria itu pun bangkit dan kembali berlari.
"Astaga, dia seperti kucing," sahut William sambil memandang ke arah ia pergi.
"Sudah, untung saja dia tak mati. Ayo kita harus bergerak cepat," Vanka menepuk pundak pria di belakang stir.
Pria itu mengerutkan kening. Titik tujuannya bergerak, "Ka, liat itu titiknya bergerak ke arah kita."
"Hah? Oh, iya. Abis belokan," Vanka memperhatikan jalanan di depan. Menunggu ada yang muncul dari belokan. Dan benar saja, ia melihat seorang wanita dan seorang pria yang menggendong sesuatu di punggungnya muncul dari sana.
"Ya Tuhan, Genta," ucap William lalu mempercepat laju kendaraannya.
Semua isi mobil turun saat dekat dengan tujuan mereka. Vanka menghambur lalu mengecek kondisi Tara.
"Gua baik-baik aja. Genta harus dapat pertolongan medis secepatnya," ucap Tara.
"Ayo," William berlari membuka pintu penumpang di belakang.
Tara masuk terlebih dahulu agar Genta dapat merebahkan diri dekat Tara. Bram menurunkan Genta perlahan dan meletakkan kepala Genta pada paha Tara.
"Thank you, bro," ucap William sembari menutup pintu mobil.
Tara menurunkan kaca mobil seberang tempat duduknya, menunduk dan memandang ke arah Bram, "Terima kasih untuk segalanya."
"Gak masalah," ucap Bram. Lalu ia menepuk punggung William saat mereka berpamitan.
Bram melihat mereka berlalu.
"Tara itu, menyedihkan sekali," ia menggeleng. Lalu menepuk keningnya saat teringat tugasnya mula-mula, "Ah! Aku masih harus mencari bang Emil."
Kembali ia tekuni ponselnya dan mencari titik keberadaan meja biliardnya berada.
***
"Kau tau tempat itu dari mana?" tanya Tara yang duduk bersisian dengan Vanka. Sebelah tangannya memegang kopi kalengan yang dia beli di vending machine dekat loket kasir rumah sakit ini.
Genta masih ditangani oleh dokter. Lampu ruang operasi itu masih terus menyala merah. Tara menghindari melihat lampu itu benderang. Perasaan bersalah masih menggelayut di hatinya.
William sendiri tak hentinya mondar-mandir di depan pintu ruang operasi. Tak ia indahkan permintaan Vanka untuk menunggu sambil duduk. Ia benar-benar terlihat khawatir.
"Liat, di-share-loc kamu itu, Ra," Vanka menepuk lututnya. "Sudah. Genta ada di tangan dokter. Semua akan baik-baik saja."
"Salahku Vanka," matanya menerawang. Ibu jarinya mengelus kaleng kopi yang baru di hidupnya sekali.
Tara kembali mengingat saat mobil membawa mereka ke rumah sakit. Genta sekali membuka matanya. Memandang ke arah Tara yang tak melepaskan sedetik pun pandangannya dari wajah babak belur itu. Mata kirinya bengkak dan tak bisa terbuka. Sedangkan mata kanannya merah. Pasti ada pembuluh darah yang pecah.
Ia tak tahu harus melakukan apa. Akhirnya Tara hanya tersenyum dan menatap sebelah mata Genta yang masih bisa terbuka. Ia menelusuri jemarinya di sepanjang garis wajah Genta. Ia tak pernah menyangka Genta akan mengalami ini dan semua itu karena dirinya. Jujur saja, pria itu pun belum memiliki ruang di hatinya.
"Astaga. Aku tega sekali," ia menghembuskan napas frustasi. Disandarkan kepalanya tembok.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Ditunggu likes, comment, kritik dan sarannya dear readers 🥰