
"Ya, gua gantiin lo dulu," ujar Anita.
"Gantian bentar ya, Nit," pamitnya.
Tara meminta untuk bertukar shift menjaga gate entrance and ticketing TechNow-Show yang digadang oleh kantornya itu. Setidaknya ia sudah duduk di-booth itu sejak jam sembilan pagi saat pameran dibuka. Ia bahkan belum mengambil jatah makan siangnya.
"Udah, sana," Anita melambaikan tangannya mengusir Tara agar dapat menyelesaikan hajatnya.
Tara berjalan ke ruangan panitia, mengambil jatah makan siangnya dan menghabiskan sebotol air mineral dalam sekali teguk, saat ia berpapasan dengan Susi. Bukan Susi namanya jika tidak tampil stunning setiap saat. Semua panitia mengenakan seragam polo shirt hitam dengan logo besar perusahaan di punggung beserta "Orang Belakang Techno-Show" terbordir apik dan disandingkan dengan celana panjang agar pergerakan lebih leluasa. Namun Susi tampil menakjubkan dengan rok pendek di atas lutut dan pump shoes lima belas sentinya. Tara hanya berharap, rekannya itu tak tersandung saat melangkah.
"Kok lo di sini?" handy-talkie di tangan Susi masih berkomunikasi dengan saluran-saluran lain. "Kan harusnya lo di ticket booth."
"Makan," Tara mengangkat kotak di tangannya.
"Kan harusnya udah dari sejam yang lalu," Susi mengecek jam di pergelangan tangan kirinya.
"Semakin lo ngoceh semakin lama gua balik ke booth, Nona Susi," ujar Tara hormat dibuat-buat lalu meninggalkan Susi yang masih mengoceh.
Ia mencari sosok Vanka yang ternyata masih sibuk menjadi MC di panggung sana. Ya, pihak acara pada akhirnya memanggil WIlliam untuk menjadi pembawa acara di event kantor mereka. Bukankah menguntungkan bagi semua pihak? WIlliam merupakan penyiar radio juga host sebuah acara yang memiliki jam terbangnya melambung tinggi. Kemampuannya dalam memandu acara sudah tak diragukan lagi, sesuai dengan dia yang pandai berbicara dan membawa suasana. Keuntungan lainnya jelas untuk rekan kerjanya, Vanka.
Vanka akhirnya mendengarkan ide Tara di waktu lalu. Kemudian ia menjadi orang pertama yang menyarankannya pada rapat besar dengan seluruh divisi. Dengan berapi-api dia mempromosikan prianya itu. Tapi begitulah Vanka, tidak mungkin dia hanya menyarankan sesuatu kalau tidak pantas untuk disarankan. Mayoritas karyawan di kantornya malah sudah mengenal William --yang membuat Tara juga Vanka kaget-- karena mereka suka menonton event-event musik yang sering dipandu juga oleh pria itu.
Kabar hubungan kedua insan itu berjalan lancar. Walau tak dipungkiri, Vanka masih sering saja membagikan kegalauannya kepada Tara. Rasa tidak aman yang selalu membuntuti dalam setiap hubungan cintanya masih tetap jadi pokok permasalahan. Untunglah, William yang termasuk cuek dengan hal-hal macam itu masih dapat meyakinkan Vanka untuk tetap di sisinya. Lalu saat ini, melihat mereka berdua memandu acara di atas panggung sana, terlihat kompak dan saling mengisi. Terlihat serasi.
Tara melangkah mencari tempat yang lebih tenang dari hiruk-pikuk orang yang hilir mudik. Ia mendapati area taman dekat parkiran yang rimbun dengan tumbuh-tumbuhan cukup lega untuk ia makan. Pepohonan yang mengitari taman itu memiliki warna yang beragam. Walau jelas siang itu terik, namun di bawah naungan kanopi dedaunan, Tara merasakan sejuk. Semilir angin sedikit mengangkat lelah tubuhnya. Hiruk pikuk, riuh redam dari ruang pameran seakan dikecilkan oleh semesta. Membuatnya fokus untuk menikmati alam di sekelilingnya.
Tara membuka kotak makan siang yang terlambat ketika sebuah pesawat melintas. Tara mengangkat kepalanya untuk mengiringi jalannya pesawat itu. Sebuah senyuman simpul tercetak pada kedua belah bibirnya.
Ia tahu, Rendi sudah tenang di sana. Ia masih tak menyangka, selain kematian ayahnya, ternyata kematian laki-laki itu juga turut membekas dalam dirinya. Ya, tak bisa dipungkiri. Mereka berdua telah melalui waktu, kenangan, kebersamaan dan permasalahan yang menghiasi hubungan mereka menjadi untaian cantik. Hingga saat mereka melangkah dengan jalan berlawanan telah mendewasakan mereka menjadi sosok yang lebih baik. Walau akhirnya, Tara masih tetap tinggal di bumi ini dan Rendi kekal dalam sebuah dimensi keabadian. Yang Tara tahu, dirinya sudah memafkan pria itu sejak lama. Sosok Rendi akan tetap tinggal di hatinya sebagai jejak bahwa ia pernah ada di ruang bernama bumi dan hidup.
Memikirkan tentang Rendi, tak lengkap jika pikirannya tidak loncat kepada Sofia. Ia hamil tiga bulan saat di bawah pantauan dokter gangguan mental. Sepeninggalnya Rendi, yang Tara dengar ia depresi berat hingga nyaris membunuh diri dan janinnya sendiri. Tara berharap anak Rendi dalam kandungan Sofia tumbuh menjadi anak yang kuat. Sofia harus dilindungi oleh sosok yang kuat karena perempuan itu juga perempuan yang kuat.
Tara mengalihkan pandangan dari pesawat yang sudah masuk dan menghilang dalam tebalnya awan putih ke pada makanan di kotaknya. Ah, menunya sushi!
"Hai, Genta...." ucapnya lirih.
Semenjak terakhir ia menemui Genta, kabar yang di dengarnya minim. Satu-satunya informan yang dia miliki hanya Vanka dan ia pun tak banyak bertanya lebih jauh. Rasa bersalah Tara pada pria itu tak kunjung berkurang. Ia memutuskan untuk tidak menggangu kehidupannya lagi. Mengetahui dia sembuh tak lama setelah kejadian waktu itu sudah membuat Tara lega. Ia berharap hanya waktu yang bisa menyembuhkan perasaannya juga Genta.
Minggu lalu, Tara bahkan menghadiri pameran seni bertajuk "The Gray Stroke". Menyuguhi karya Genta yang merupakan hasil sapuan garis abu-abu pensilnya pada buku gambar mininya. Ia tak menemukan pria itu karena ia datang bukan pada jam primetime pameran. Yang ia temukan hanyalah dua gambar yang menampilkan citra dirinya dalam sebuah bingkai kaca tanpa tepi.
Lakaran dirinya di pinggir sebuah danau dengan sebatang rokok di tangannya. Sketsa halus yang pernah Genta tunjukkan padanya saat Tara menjenguk pria itu di rumah sakit. Judul "Perputaran" tersemat pada nametag lukisan itu. Lalu, sebuah potret separuh wajah Tara yang tidak jauh dari lukisan pertama. "Rampung" menjadi nama dari goresan itu. Ia menyunggingkan senyumnya. Entah mengapa, ia memang mendapatkan pesan yang diberikan Genta dalam lukisan itu. Perjalanan mereka yang usai dalam separuh jalan. Lalu dalam pigura selanjutnya, ia menemukan potongan-potongan figur dari seorang gadis bermata sipit dengan nametag bertuliskan aksara Cina yang Tara sendiri tidak mengerti.
Tara kembali memandang menu dalam kotaknya sambil mengingat terlalu banyak hal yang telah dilewatinya hanya dalam satu tahun berselang. Semuanya seakan seperti mimpi yang melindas waktu tanpa berhenti. Hingga sampai di titik ini, Tara memutuskan untuk berhenti dan bernapas sejenak.
"Melamun?"
"Nih, aku buatkan FreezingCoffee. Biar ga ngantuk," diulurkan segelas kopi hitam yang sudah dibawa Bram dari booth kopinya.
"Aku ga melamun, hanya saja.... Begitulah," Tara tertawa sambil meraih gelas kopi hitam di tangan Bram.
"Terima kasih, ya," ucap Bram.
"Untuk?" ucap Tara sembari menyedot kopinya.
"Daily Coffee boleh ikut meramaikan TechNow-Show," ujarnya sungguh.
Tara tersenyum simpul, "aku juga senang kau terpilih dan bisa ambil bagian. Siapa tau kan produk Daily Coffee jadi new comer buat minuman kopi."
"Siapa tau, Daily Coffee jadi pilihan otomatismu mulai sekarang," kelakar Bram sambil menyenggol Tara dengan ujung sikunya.
Tara hanya tertawa kecil yang membuat Bram ragu. Apakah itu iya, atau sebaliknya.
Bram membersihkan tenggorokan dan menoleh ke arah berlawanan dengan posisi Tara. "Masih sulit menyalakan mesin motormu, Tara?"
"Hah?" dengan cepat Tara menoleh dan memandang bagian belakang kepala Bram yang perlahan memalingkan wajah ke arahnya.
"Motormu, masih sulit dinyalakan?" Bram memandang kedua mata bulat Tara lekat-lekat.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Astaga," Bram terkekeh. "Sepertinya aku memberikan begitu banyak kejutan padamu."
Bram menegakkan tubuhnya dan menopang kedua tangannya pada tungkai kaki. Kembali ditatapnya lekat Tara yang masih menanti ucapan pria itu untuk menjelaskan. Ekspresi wajah bingung Tara mengundang Bram untuk tersenyum lebar.
"Aku masih ingat Sabtu itu. Kau mengomel pada sepeda motor sambil menangis di pinggir jalan hanya karena kau tak berhasil menyalakan motormu," jelas Bram.
Mata Tara semakin lebar. Ia tak menyangka pria di sampingnya sudah berkali-kali hadir tiap kali tak ada satu pun yang bisa diandalkan. Sabtu sore ketika pasangan bercinta saling memadu kasih, namun tidak untuknya. Ndud, hewan peliharaan Tara, sukses menggigit lengannya. Lalu hubungannya kandas. Tak kalah menyedihkan, motornya macet saat ingin dinyalakan ketika ia dalam perjalan pulang dari klinik. Ternyata pemuda itu, Bram.
Bram yang hadir tanpa disengaja. Bram yang membantunya kala hidup memainkan lelucon. Bram yang menjadi malaikat tak bersayap bagi Tara. Tara memang tak melihat siapa yang membantunya karena kondisi riasan wajahnya begitu mengenaskan dan membuatnya malu hanya untuk mengangkat wajah. Ia tak menyangka jika pemuda yang membantu menghidupkan mesin motornya sore itu adalah Bram.
"Mending kau bawa ke bengkel atau motormu itu sudah terlalu tua, perlu diganti," imbuh Bram.
"Seberapa banyak kau membantuku, Bram?" tanya Tara dengan takjub.
"Hm?" Bram memutar tubuhnya hingga seluruh raganya menghadap kearah gadis itu. "Jika kau ingin tambah porsi, boleh."
Tara masih menatap Bram dengan kebingungan luar biasa. Bram pun tak menyadari sejak kapan matanya tak bisa teralih menatap dua bola mata itu. Yang Bram tahu, ia ingin selalu ada di sisi gadis itu saat dunia menyanjungnya juga memukul gadis itu jatuh. Ia ingin selalu ada.