
Kling!
Pintu Daily Grande terbuka. Suara kumpulan orang-orang dengan kumpulan masing-masing riuh terdengar mengudara. Kedai cukup ramai hari ini. Orang dibalik mesin kopi cukup kewalahan membuat dan mengantarkan setiap kopi sampai ia sendiri tak menyadari kehadiran tamu baru.
Gadis itu melangkah ke ruang belakang, menyimpan barang-barangnya satu loker dengan yang dimiliki pria dibalik mesin pembuat kopi itu. Mengambil celemek lalu memakainya, mengikat rambutnya menjadi satu pony tail dan memasukkannya pada celah di belakang topi. Dibasuh tangannya dan bergabung ke meja counter.
"Mana pesanan yang harus ku antar?" tanya Tara pada Bram yang sedang memadatkan bubuk kopi giling.
"Tara?" Bram terkejut melihat kehadiran wanita itu sudah lengkap dengan peralatan tempur Daily Grande. Tak mungkin kerja dibalik mesin-mesin panas ini sampai membuatnya tak menyadari bel pintu berdenting ketika gadis ini masuk. Memangnya dia menembus tembok?
"Apa yang kau lihat? Cepat kita sedang ramai, Bram," Tara menyadarkan pria itu kembali menjejaki alam sadarnya.
"Oh, sebentar," Bram kembali berkutat dengan gelas dan pitcher cappucino. Ia mulai membuat coffee art-nya. Setelah selesai, ia menyerahkan kepada Tara. "Meja 3, ya."
Tara mengambil notes kecil dan menulis nama Ataya sang pemesan dan membubuhkan gambar senyum diujung namanya. Diangkutnya minuman itu dengan nampan dan berjalan penuh keseimbangan sampai di meja 3.
"Selamat menikmati mbak Ataya," disuguhkan kopi itu dengan khidmat.
"Makasih," ucapnya. "Eh, mbak, tanya dong."
"Ya, mbak Ataya?" Tara merapatkan nampannya dan mencondongkan badannya ke arah kostumer.
"Itu..., mas Bram, udah punya cewek belum sih, mbak?" tanya Ataya sambil melirik sekilas ke pria di balik punggung Tara yang sibuk dengan cangkir dan kopinya.
"Banyak yang suka mbak tapi akhirnya pada kabur," jawab Tara dengan ekspresi khawatir.
"Lho, memangnya kenapa?" Ataya menutup mulutnya terheran. "Mas Bram main tangan? Kasar?"
"Oh, bukan," Tara membantah. "Mas Bram sih baik banget, kebangetan malah. Tapi..." Tara berbisik, "pacarnya galak banget, nyaris kayak psikopat. Yang ketahuan deketin mas Bram dia labrak langsung depan rumahnya."
"Astaga sungguh? Emang dia tau rumah-rumah perempuan itu?" Ataya terhanyut dengan informasi yang Tara berikan.
"Entahlah, itu bagian yang ngerinya mbak dibanding pelabrakannya. Mari mbak, saya masih harus bantu mas Bram," Tara pamit sambil terkikik dalam hatinya. Meninggalkan Ataya yang mulai berpikir ulang mendekati Bram.
Hingga pukul sebelas malam, pengunjung mulai berkurang. Setidaknya Tara bisa menyuci gelas, piring dan alat makan di belakang lalu mengeringkannya dengan mesin. Ia meneguk segelas air hingga tandas. Ia mengambilkan satu untuk Bram, "minum dulu."
Bram menaruh alat pengepres bubuk kopi pada mesinnya dan mengambil gelas dari tangan Tara. "Ah." desahnya lega, "Terima kasih, Tara."
"Hm," Tara menggumamkan responnya dan kemballi ke belakang untuk mencuci gelas kotor itu. Ia yakin, pria itu tidak sempat makan.
Seharian ini Tara sudah mengirim tiga pesan namun tak satu pun bahkan di baca oleh Bram. Ia berinisiatif bertanya kepada Dodot, siapa tahu Bram ada di kedainya. Ternyata Bram menggantikan Tobias pada cabang keempat dikarenakan sakit. Seingat Tara, seharusnya Bram hanya mengunjungi cabang ketujuh, namun harus dialihkan untuk menjalankan cabang keempat itu. Pulang kantor, Tara memutuskan untuk membantunya saja. Mengingat itu jumat malam, dipastikan pengunjung akan padat.
Dan memang benar.
***
Bram membuatkan Milkioffee untuk Tara, membuat dirinya Ekspressionate untuk menemani mereka menikmati martabak Nutella yang dibawa Tara.
"Terima kasih, Tara, aku sangat lapar!" Bram sudah menghabiskan nyari setengah dus hanya dalam waktu 10 menit.
"Pelan-pelan makannya, masih banyak kok tuh," ucapnya. Tara mengendikkan kepalanya ke arah pojok ruangan, "Ngomong-ngomong Gromophone baru?"
"Mmm," Bram mengiyakan, buru-buru ia menelan kunyahannya agar bisa berbicara dengan lebih pantas. "Idenya si Niko sih. Kita punya 8 gerai-"
"Tujuh," koreksi Tara.
"Anggaplah yang sedang dibangun kiosnya jadi 8," nego Bram.
"Ya, belum beroperasi kan?" Tara menyilangkan kakinya.
"Baik, Nona. Baik," Bram mengangkat kedua tangannya agar Tara tenang. "Ide Niko, setiap gerai yang ada punya tema masing-masing. Ada jungle, mediterania, futuristic, mm... k-pop sytle, kantin sekolah, play room. Nah, kebetulan Tobias minta untuk tema di sini cafe jadul. Ngubek-ngubek Pasar Lama senin kemarin buat nyari barang tuh."
"Wah, aku ga sabar liat kedai yang lainnya. Minggu depan kamu ke mana? Ikut ya,"
"Tinggal atur kok, nanti aku share-loc aja. Pasti ga bakal bisa jemput kamu," ucapnya.
"Ga pernah jadi masalah berarti buatku kok," Tara menghirup lagi Milkioffee-nya. "Ngomong-ngomong, masih berfungsi kah gromophonenya?"
"Bisa, kok. Kebetulan aku juga beli piringan hitamnya. Sempat terpikir untuk dipasang jadi pajangan, tapi coba kita pasang siapa tau masih berbunyi," Bram melangkah ke bagian belakang kedai sambil berbicara sendiri. "Kenapa tidak kunyalakan dari awal ya, jadi suasananya pasti lebih romantis."
Tara menggeleng sambil tersenyum heran. Sampai saat ini ia menyeruput kopinya, ia juga masih terheran mengenai dirinya dan Bram. Semesta seakan membukakan tiap jalannya menuju pria itu. Tak ada usaha terlalu sulit untuk mereka bisa bersama.
Seakan tersadarkan, Tara mengambil ponsel yang tergeletak di meja. Dihidupkan layarnya dan mencari simbol aplikasi SwipeLove. Lamat Tara memandang simbol itu. Banyak hal boleh terjadi dan menjadi ukiran sejarah dalam kehidupannya. Bram kembali muncul sambil membawa piringan hitam yang digoyangkan dengan excited sambil memandang ke arahnya. Ditekannya lama simbol itu hingga muncul beberapa opsi mengambang dalam layar ponselnya. Dengan mantap, Tara memilih gambar tempat sampah sebagai perintah untuk menghapus aplikasi tersebut. Setelah yakin, ia mematikan layar ponselnya kembali dan berjalan bergabung mendekat ke arah gramophone itu bersama Bram.
"Let's see," Bram mengeluarkan piringan hitam dari wadahnya bergambar artis dan nama yang sama sekali Tara tidak tahu. Diletakkan piringan itu pada panel pemutar dan Bram menurunkan jarumnya agar piringan hitam dapat terbaca oleh benda itu dan mengeluarkan suaranya.
Perlahan gramophone itu mengeluarkan agak sember, mereka berdua berpandangan dan mengernyit. Namun lama kelamaan suaranya menjadi lebih jernih dan lantang. Dan mereka berdua tersenyum kesenangan.
🎶🎶 Put your head on my shoulder
(Sandarkan kepalamu pada pundakku)
Hold me in your arms, baby
(rengkuhlah aku dengan lenganmu, sayang)
Squeeze me oh-so-tight
(peluk aku dengan erat oh)
Show me that you love me too 🎶🎶
(tunjukkanlah kau pun mencintaku)
"Tara, shall we?" satu tangannya menunggu Tara untuk menyambutnya.
"Dansa? Aku tak bisa. Kau bisa?" tanyanya ragu.
"Tentu saja, aku tak bisa," Bram tertawa.
"So, shall we?" ajaknya lagi.
"Hm, sure. Why not if I should do it with you," Tara menyunggingkan senyum dan menyambut tangan Bram.
🎶🎶Put your lips next to mine, dear
(rekatkanlah bibirmu denganku, cinta)
Won't you kiss me once, baby?
(tak inginkah kau menciumku sekali, sayang?)
Just a kiss goodnight, maybe
(ciuman selamat malam, mungkin)
You and I will fall in love 🎶🎶
(Kau dan aku akan jatuh cinta)
Bram menariknya hingga ke tengah kedai, semua bangku dan meja sudah dirapikan hingga ruangan itu lebih luas dan mereka leluasa bergerak. Mereka berdua saling berdekapan dengan mengatur kaki mereka untuk tidak saling menginjak, tapi berkali-kali pula kata 'aw' keluar dari bibir mereka dan menertawakannya. Tara memutuskan untuk meletakkan kaki telanjangnya di atas kedua kaki Bram.
"It's more better," kata Tara sambil mendongakkan kepalanya menghadap Bram. Tersenyum.
🎶🎶People say that love's a game
(Mereka katakan cinta hanyalah permainan)
A game you just can't win
(permainan yang tak bisa kau menangkan)
If there's a way
(Jika ada jalannya)
I'll find it someday
(ku akan menemukannya suatu saat)
And then this fool will rush in🎶🎶
(dan kebodohan ini menyerang)
"It should have to be better from now on, Tara," Bram mencium dengan lembut bibir Tara. Setetes air mata bergulir dari mata sebelah kanan. Konon jika air mata pertama yang jatuh dari sebelah kiri, itu merupakan tangis kesedihan. Begitu pun sebaliknya. Tara menangis penuh bahagia karena ia tahu Bram ada di sisinya.
"Just wondering, air matamu itu stoknya berapa galon sih?" tanya Bram tubuh mereka mengikuti tempo yang ada.
"Kenapa?" Tara menatapnya tak percaya, pertanyaan macam apa itu.
"Setiap kali aku bertemu denganmu pasti kau sedang menangis," Bram mengerutkan keningnya.
Tara melingkarkan tangannya pada leher Bram, "Mungkin, memang ada maksudnya."
"Apa?" Tara merasakan tangan Bram semakin erat memeluk pinggangnya.
"Tugasmu untuk menghapus air mataku," jawab Tara dengan wajah berseri-seri.
Bram tersenyum lalu mengganti air mukanya seketika seperti tak peduli, "Ahh, kulap saja pakai tisu."
"Gendeng," Tara memukul pundaknya dan Bram pun tertawa.
🎶🎶Put your head on my shoulder
(Sandarkan kepalamu pada pundakku)
Whisper in my ear, baby
(bisikkan pada telingaku, sayang)
Words I want to hear
(kata yang ingin kudengar)
Tell me, tell me that you love me too
(katakan, katakan kau pun mencintaiku)
Put your head on my shoulder
(Sandarkan kepalamu pada pundakku)
Whisper in my ear, baby
(bisikkan pada telingaku, sayang)
Words I want to hear, baby
(kata yang ingin kudengar, sayang)
Put your head on my shoulder🎶🎶
(sandarkan kepalamu pada pundakku)
......-FIN-......