
Pria itu masuk ke dalam ruangan khusus di rumahnya. Ruangan itu di bangun di lantai basement dengan akses khusus. Hanya orang-orang suruhannya yang bisa masuk melewati pintu lain di bagian luar rumah itu. Saat kakinya menginjak ruangan basement, aura menakutkan menyelimuti seluruh bagian tempat itu. Apa lagi setelah perintah yang diberikan gagal.
Pria itu berjalan lurus melewati seseorang yang sudah menunggu. Beberapa orang lain berbaris rapi di bawah bayangan gelap ruangan. Ia berhenti di belakang kursi kulit di meja marmer yang berada ruangan. Di sana koleksi katana disimpan rapi dalam lemari kaca dengan pendar putih kebiruan redup. Ia memandangi lemari itu sambil bersedekap. "Dia lolos?"
"Ya, pak," jawab orang yang mematung di tengah ruangan dengan tegas. Padahal nyalinya sudah ciut.
"Delapan orang versus satu orang, namun gagal," seringainya. "Sudah berapa lama kau kerja denganku?"
"Tujuh tahun, pak," jawabnya.
Sebenarnya tidak hanya tujuh tahun Rico bekerja dengan keluarga Dirga. Seumur hidupnya, Ayah Rico sudah mengabdi sebagai 'pelindung' Keluarga Dirga. Saat ayahnya tewas dalam misi, Rico menggantikan posisi ayahnya. Lalu, tujuh tahun terakhir ini dia resmi menerima perintah dari Dave setelah Tuan Besar Dirga tidak produktif lagi dalam bekerja.
"Kau tak pernah mengecewakan, Rico. Tapi kenapa hal semudah itu saja kau gagal?" pria itu berbalik. Ia menantang dengan tatapan malas ke arah Rico yang usianya jauh berbeda.
"Maafkan saya, kami kehilangan jejak," Rico tertunduk malu.
"Tidak perlu kan aku sampai turun tangan sendiri?" ia memutar bangkunya lalu duduk.
"Bapak tidak perlu mengotori tangan anda," sahut Rico.
"Bagus. Tapi aku masih tetap kecewa, Rico," ia menyanggah kepalanya dengan tangan dan memijit kening.
"Saya minta maaf," Rico menunduk.
Pria yang duduk di kursi itu membuka laci dengan sandi sidik jarinya dan mengeluarkan senjata api otomatis. Ia arahkan bidikannya ke bagian gelap ruangan itu. Tanpa ada suara tembakan namun seorang dari mereka tumbang. Perlahan, darah merembes dari bagian bawah jasad. Tak ada satu pun di ruangan itu yang kaget.
"Itu, hanya contoh saja. Kau pasti lebih pintar melakukannya dari pada aku." ujarnya malas.
Rico menunduk semakin dalam.
"Lakukan yang benar atau kau akan pensiun dini, Rico," Pria itu menyimpan kembali senjata api lalu menguncinya dengan sidik jari.
"Baik!" seru Rico sedikit gemetar.
Pria itu bangkit dan menghampiri Rico. Diletakkan tangannya pada bahu Rico lalu dia berbisik, "apa janjimu?"
"Bapak tidak perlu mengotori tangan anda," desis Rico.
"Bagus," kembali ditepuk pundak Rico yang membuat laki-laki itu bergidik.
Ia melangkah menuju pintu. Saat melewati bangkai manusia di ujung sepatunya, ia hanya mendesis, "bersihkan."
***
Genta sudah menghubungi orang rumahnya karena semalam ia ikut dengan Wiliam dan menginap. Ia bahkan meninggalkan mobilnya masih di tempat yang sama, kampung Cina kecil. William sudah mendengar ceritanya semalam dan menyarankan agar dia tidak pulang dulu ke rumah. Biasanya, orang-orang seperti itu akan terus mengincar hingga mereka selesai.
'Dengan lagu terakhir ini, gua cabut dulu yaa Youth listener. Sampai ketemu lagi besok di morning coffee bareng gue William. I'm signing off!'
Sebuah lagu dari interkom mengalun seiring William menyudahi siarannya pagi itu. Ia menggantungkan headphone-nya, keluar dari ruangan kecil berkaca, berbincang sebentar dengan produser siaran dan keluar menghampiri Genta. Pria itu duduk disampingnya lalu menjulurkan kaki.
"Hah, beres!" ujarnya. Ditepuk lutut sahabatnya itu, "Lo ga mau lapor polisi aja?"
"Makin ribet pasti urusannya. Mana gua ga punya bukti. Minimal plat nomor mobilnya, ga ada," Genta menyenderkan tubuhnya dan mengusap wajahnya.
"Lo yakin ga terlibat hutang?"
Yang ditanya hanya menggeleng dan bergumam, "kayaknya rentenir ga segitunya deh kalo nagih juga."
"Yah, emang lu udah pernah?" tanya William sambil mengeluarkan ponsel mengecek notifikasi.
"Ya, engga sih. Tapi perasaan gua, orang-orang ini bukan berhubungan sama hutang, rentenir, semacam itu lah," respon Genta yang menghembuskan napas.
"Orang rumah aman, kan? Pasti mereka udah cari-cari informasi mengenai Lo, Gen," William memutar tubuhnya menghadap Genta.
"Tadi udah telpon nyokap sekalian ngabarin gua nginep di tempat Lo semalam. Dia baik-baik aja, semoga aja."
"Tapi ga mungkin tanpa alasan ada orang yang ngejar Lo. Kalo dikejar cewek cantik sih ga masalah, Bro," candanya.
***
Vanka memeluk Tara erat saat melihatnya muncul di pintu masuk ruangan mereka. Tak dihiraukan tatapan semua orang. Ia hanya merindukan Tara.
"Ih, lu absen kok lama banget," Vanka melepaskan pelukannya.
"Kan temen gua udah anter surat cuti gua, Ka," Tara cengengesan. Tak disangka ia akan disambut seperti ini oleh teman kantornya.
"Ya, tapi kan lu ga ada bilang-bilang dari sebelum tahun baru. Tiba-tiba ga masuk, ga bisa dihubungi, I worried about you," ucap Vanka sungguh-sungguh.
"Iya, iya. Gua udah masuk nih, sekarang gua ga boleh ke meja gua atau gimana? Nanti Bu Salma ngomel lho," Tara menenangkan Vanka.
"Tara," sapa seseorang di belakang mereka, Bu Salma. Panjang umur beliau.
"Selamat pagi, Bu," sapa keduanya otomatis.
"Pagi," jawabnya lugas. "Kau sudah masuk? Saya pikir masih Senin pekan depan kau masuk."
"Tidak Bu, perasaan saya sudah lebih baik hari ini," jawab Tara jujur.
"Oke, baiklah. Kembali ke meja kalian masing-masing," perintah Bu Salma sambil melewati mereka menuju ruangannya sendiri.
"Wah, tumben dia gak ngomel-ngomel," bisik Vanka saat Bu Salma sudah masuk ke ruangannya.
"Yah, baguslah," sahut Tara sambil berjalan ke mejanya.
Ia tak tahu apa yang dikatakan Kiara saat menemui Bu Salma lalu. Ia hanya meminta sahabatnya memberitahukan kalau ia mengambil cuti.
"By the way, happy new year, ya," ucap Vanka dengan sumringah sebelum kembali ke mejanya sendiri.
"Happy new year juga, sayangku," balas Tara sambil meletakkan tasnya.
Tara sempat berpikir dia mungkin akan sulit bangkit dari perlakuan yang ia terima sebelum tahun baru kemarin. Mengingat hal itu saja membuatnya ia bergidik ngeri. Tapi ia bersyukur ada Genta. Moodnya naik drastis setelah pulang dari taman hiburan semalam sampai akhirnya ia memutuskan untuk masuk kantor pagi ini.
***
"Nanti tiketnya akan dikirim lewat email ya," ujar Benu sambil mengetik sesuatu pada komputernya. Kemudian berpaling pada Rendi, "lo yakin ke Manado sendiri lagi?"
Lama Rendi terdiam Ia memainkan kursinya kanan-kiri lalu memandang Benu, "yakin."
"Kalian sedang ada masalah, ya?" Benu mencondongkan tubuhnya ke arah Rendi. "Masalahnya, dia pernah datang dan bilang kalau kau mengajukan surat resign, harus kutolak. Dan benar saja kau sempat mengajukan itu."
Ia mengangguk-anggukan kepala tanpa merespon.
"Wanita memang begitu, maklumi saja," kekeh Benu. "Sering sekali minta dimengerti. Padahal sekali kita minta mereka ngerti kita, mereka hanya bisa marah-marah."
"Kau curhat?" Rendi tertawa.
"Yah, tetap harus ada bagian yang dikeluarkan biar waras," kelakar Benu. "Sampai sekarang saja aku masih belum mengerti cara pikir istriku."
Rendi terdiam lagi namun tak ada tanda ia akan beranjak dari ruangan Benu. Benu tahu, ada yang ingin dikatakan oleh Rendi. Tapi dari pada memaksanya untuk berbicara ia memilih menunggu.
"Saat istrimu memberitahu ia sedang mengandung Azka, apa reaksimu?" tanya Rendi lalu sibuk memainkan papan nama Benu.
Benu bergumam, menyenderkan punggungnya dan menatap ke kejauhan. Berusaha mengingat di waktu isterinya mengatakan itu. "Aku terkejut. Lalu berpikir apakah aku siap menjadi Ayah bagi Azka. Tapi istriku meyakinkanku bahwa kehadiran putra kami juga sarana kami belajar menjadi manusia. Lalu, aku berpikir selama sembilan bulan aku harus 'puasa' memeluk Diana."
"Bodoh," Rendi menertawakan kalimat terakhir Benu.
"Aku bangga, aku memiliki keturunan. Ya, kita tidak hidup selamanya tapi anak-cucu kita tetap akan merayap di bumi setelah kita tiada. Akan terus berulang," ujarnya. "Memang kenapa? Kau ada rencana menikahi Sofia?"
Rendi melempar tatapan tajam tak terima atas pernyataan Benu. Benu hanya terkekeh. "Dia rekan kerjaku. Tidak mungkin."
"Diana adalah teman sebangku saat aku SMP dan aku menikahinya."
"Tidak. Entahlah, aku tidak tahu," Ia menghembuskan napas panjang dan beranjak dari kursinya. Lalu berjalan hilir mudik di depan Benu.
"Saranku, kau selesaikan tuntas permasalahan hatimu, tetapkan keputusanmu dan mulailah hidup baru. Kalau tidak begitu semua orang akan kau buat bingung dengan sikapmu," kata Benu. "Aku tidak tahu apa yang terjadi antara kalian berdua, yang penting performa kalian dalam bekerja tidak menurun."
Rendi berhenti dan menatap Benu tak percaya," memang pikiranmu sejak dulu tak pernah berubah."
***
Dave tersenyum ke arah ponselnya ketika Tara kembali menolak telepon darinya. Ia memaklumi, jika wanita itu menjaga jarak dan takut padanya atas apa yang sudah dilakukan. Dave mengakui dirinya bersalah. Ia dikuasai oleh suasana dan nafsu semata.
Tetapi bukan Dave jika ia tidak mendapatkan tujuannya. Ia meninggalkan mobilnya di bahu jalan dan langsung masuk gedung Mitra Group Indo. Saat ia masuk, bagian keamanan menanyakan apakah ia sudah membuat janji lalu mengarahkan Dave menuju meja resepsionis.
Sesampai Dave di meja resepsionis, seorang perempuan yang memiliki senyum manis menyambutnya. Di dada seragam wanita itu tersemat nametag kecil bertulis Lidia.
"Selamat siang, saya Lidia. Dengan bapak siapa, mohon maaf" sapanya ramah.
"Dave," jawabnya singkat.
"Ada yang bisa saya bantu, pak Dave?" tanya Lidia ramah.
"Tolong hubungi Nona Tara dari Mitra Group Indo, katakan saya ingin menemuinya," kata Dave sedikit memerintah.
"Baik. Mohon bapak mengisi buku tamu ini," Lidia menyerahkan sebuah buku dan pena. Lalu ia mulai sibuk dengan teleponnya. "Ditunggu sebentar ya, Pak Dave."
Dave memperhatikan Lidia yang menghubungi Tara. Sesekali Lidia melirik ke arah Dave. Semakin lama sambungan telepon itu, wajah perempuan itu berubah masam. Dave yang tak ingin terlihat begitu memperhatikan, mulai mengisi buku tamu dengan identitas asal.
"Ah, begitu?" Tara bahkan menolaknya lagi lewat resepsionis. Tapi Dave belum menyerah. Ia harus bertemu Tara dan tak satu pun dapat menghalanginya. Ia memutar otak. "Kalau begitu, tolong sambungkan ke..., astaga, siapa namanya. Emh, Medio..., ah! Roland dari Medio, bisa kau menghubunginya Lidia? Katakan, Dave dari Sentosa Inc. ingin bertemu."
"Oh, baik," Lidia tersenyum dan kembali sibuk dengan telepon di meja. Setelah perempuan itu berbincang, ia mengambil kartu tamu pada lacinya.
"Kantor Medio ada di lantai satu," Lidia menyerahkan kartu itu kepada Dave. "Apakah bapak ingin di antar bagian keamanan?"
"Tidak," jawab Dave halus sambil menerima kartu itu. "Aku akan pergi sendiri. Terima kasih, Lidia."
Dave melangkah melewati gate entrance menuju salah satu lift. Ia masuk ke dalam dan menekan angka delapan pada panelnya. Ya, menemui Roland dari Medio hanya salah satu alasan yang dibuat, agar ia mendapatkan akses masuk ke kantor Tara.
Ding!
Tak berapa lama pintu di buka dan ia sampai pada lantai yang dituju. Kembali seorang pihak keamanan menghadangnya.
"Selamat siang, bapak ingin bertemu siapa?" tanyanya pria separuh baya bernama Sapto dari tanda pengenalnya.
"Tara," jawabnya langsung. Ia malas karena keamanan kantor ini sungguh bertele-tele. Memang, jika membuat janji terlebih dahulu akan lebih mulus baginya. Tapi menghubungi Tara saja sudah ditolak berkali-kali, bagaimana dengan membuat janji?
"Boleh saya lihat kartu tamunya, pak?" tanya Pak Sapto kembali. Dave memberikan dengan tak sabaran kartu kecil itu.
Setelah memeriksa kartu itu, pak Sapto menatap Dave masam. Kartu tersebut memberikan informasi bahwa pria di depannya merupakan tamu dari kantor Medio di lantai satu. Mengapa pria ini malah mencapai lantai delapan? Dengan gerakan halus pak Sapto memencet tombol khusus keamanan yang langsung terhubung ke handy talkie keamanan yang lain.
"Maaf pak, kartu ini ditujukan untuk tamu kantor Medio di lantai satu. Apakah bapak salah menekan tombol lift? Mari saya antar," kata pak Sapto seraya mengembalikan kartu tamu tersebut.
"Tidak, saya memang ingin menemui Tara," ia menepis kartu di tangan pak Sapto yang mengembalikan kartunya hingga terjatuh. Ia melangkah.
"Pak, pak, pak, maaf tapi bapak tidak diizinkan masuk," kata pak Sapto menahan tubuh Dave yang jelas lebih kuat darinya.
"Alah, persetan!" Dave mendorong pak Sapto kuat-kuat sampai terjatuh.
Ia meninggalkan pak Sapto yang tetap meneriakinya untuk jangan masuk. Dave tidak peduli.
"TARA! TARA! AKU TAU KAU DI DALAM. KELUAR KAU!"
Suara Dave yang lantang jelas menarik perhatian seluruh orang di lantai delapan sayap timur. Semua melongo dari atas kubikel masing-masing ke arah pintu kaca. Memang, yang berteriak belum menampakkan perangainya, tapi suaranya sudah menggelegar.
Tara yang baru keluar dari ruangan Bu Salma terheran-heran, melihat semua rekan satu kantornya setengah berdiri memandang ke arah pintu. Tetapi kini mereka semua melihat Tara. Ada apa?
Dari kejauhan, suara seseorang memanggilnya terdengar lagi. Jantung Tara berdegup, ia tahu suara siapa itu. Vanka berlarian menghampiri Tara yang masih mematung di depan pintu Bu Salma.
"Tar, siapa itu yang teriakin nama Lo?" tanya Vanka saat sampai di sebelah Tara. Ia merasakan tubuh temannya itu bergetar hebat, ketakutan.
Akhirnya, si pembuat gaduh lantai delapan muncul di depan pintu kantor yang terbuat dari kaca. Dave melihat Tara yang berdiri mematung. Ia menyeringai. Itu gadis yang ingin ditemuinya.
Tara langsung memegang tangan Vanka erat. Dia takut. Bayangan kejadian Minggu lalu kembali melintas di pikirannya.
"Tara, cepat keluar," penekanan suara Dave telah berubah walau tetap lantang terdengar. Tara hanya menggeleng.
Semua orang merasakan keresahan yang di rasakan oleh Tara. Bu Salma yang memandang pemandangan karyawan kantornya menjadi aneh lewat kaca di ruangannya. Ia keluar untuk memastikan. Diedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang berubah menjadi manekin. Mereka tidak sedang bermain manekin challenge, bukan?
"Kemari kau, Tara. Jangan mengganggu semua orang di sini. Lebih cepat kau ke sini, orang tidak akan terganggu," ujarnya. Tara merasakan nada ancaman dalam suaranya.
Bu Salma menoleh ke arah suara berasal dan menemukan seorang pria berpenampilan necis. Berkacak pinggang dan menyeringai ke arah mereka.
"Kau mengenalnya, Tara?" tanya Bu Salma.
"S, s, sa, saya...," Tara bahkan sulit berucap. Cara pandang Tara kepada Dave sudah berubah. Yang ia lihat pada diri Dave hanyalah ancaman.
Melihat pandangan Tara yang ketakutan, bu Salma langsung mengerti. Inilah alasan yang dibawa teman Tara saat menghadapnya minggu lalu. Pria itu pasti bukan orang yang ingin dilihat Tara dalam waktu dekat.
"Ayolah, Tara... cepat kemari," panggilnya lagi.
Tara tetap diam. Seakan kakinya sudah tertancap dengan paku di ruangan itu.
Bu Salma mendesah. Dengan langkah mantap ia keluar dari pintu kaca menemui Dave. Dagunya terangkat dan tak ada senyum mengukir di wajahnya. Jika itu adalah bawahan Salma, pandangan yang dilemparkannya pasti sudah membuat ciut nyali. Ia menatap Dave seakan pria itu hanyalah gelandangan.
"Selamat siang," sapanya dingin.
"Aku tidak berurusan dengan anda," sahutnya acuh. Bahkan Dave tidak memandangnya.
"Sudah memiliki janji?" tanyanya lagi.
Dave menoleh ke arah Salma malas, "Saya tidak perlu membuat janji."
Salma tak memedulikan alasan yang Dave berikan, "lebih baik anda keluar." Tangan Salma terangkat menuju lorong arah keluar.
"Anda tidak berhak mengusir saya," desisnya tajam.
"Oh, saya memiliki wewenang tentunya. Saya pegawai di sini dan anda hanyalah tamu." Salma menekan kata tamu untuk menyadarkan Dave. "Dan pemilik rumah berhak mengusir bahkan tak menerima tamu mereka. Apalagi anda hanya membuat keributan tidak jelas di jam kerja seperti ini. Saya sungguh terganggu karena kinerja pegawai saya terhambat."
"Lalu kau mau apa? Wanita sok berkuasa. Saya Dave Mahar Dirga dari Sentosa & co.," umumnya tanpa takut.
Semua orang di dalam ruangan mulai ramai berbisik mendengar pengakuan Dave. Bisik-bisik dan suara ketikan yang membuat polusi di seluruh ruangan, mulai menyangkut-pautkan Tara bersama asumsi mereka sendiri. Tidak butuh waktu satu hari, kelimabelas lantai Mitra Group Indo akan menjadikannya headline news terhangat.
"Saya tidak peduli anak muda. Yang saya tahu, kamu malah menjatuhkan citramu dengan tingkah tak terpelajar seperti ini," sahut Salma.
Rahang Dave mengencang karena amarah. Bagaimana pun juga dia hanyalah pria berusia tiga puluh tiga tahun yang masih sulit mengendalikan emosinya. Dengan kalimat yang didengungkan Salma barusan, sungguh menyenggol egonya.
Dave yang sedari tadi hanya memandang Salma dari sebelah matanya, sekarang memutar tubuhnya menghadap lawan bicaranya itu. Ia juga mengangkat dagunya tinggi dengan ekspektasi mengintimidasi Salma.
Melihat apa yang dilakukan Dave, Salma hanya mendengus mengejeknya. Ia tidak mempan dengan gertak sambal dari bocah seperti itu. Ia malah merasa telah menghabiskan waktunya percuma.
"Saya dan pegawai saya, Tara, tidak punya waktu untuk meladeni orang seperti anda. Jika anda menganggap perusahaan anda penting, seharusnya anda tidak di sini," kata Salma.
"Tau apa kamu tentang perusahaanku!" Dave mendorong Salma hingga terjatuh. Kepala Salma terbentur pot besar yang ada di samping meja keamanan. Darah mulai keluar dari kepalanya yang sobek.
Dave masuk ke dalam tanpa menghiraukan bagian keamanan yang berusaha menahannya. Dengan kakinya yang jenjang, tak butuh waktu lama sampai ia tiba di hadapan gadis itu. Ia menarik tangan Tara hingga semua dokumen di tangannya terjatuh.
Wajah Tara pias. Kemampuan berbicaranya juga seakan minggat entah kemana. Napasnya mulai tercekat akibat ketakutan luar biasa yang ia rasakan.
"Ikut aku!" perintah Dave.
Tara masih bertahan di tempatnya. Dengan kasar Dave menariknya. Vanka mencoba menahan Tara, yang malah mendapat dorongan hingga terjerembab. Dave kembali menariknya. Dengan terseok-seok Tara mengikuti tarikan paksa pria itu.
Para petugas keamanan yang dipanggil oleh Pak Sapto dengan tombol khusus akhirnya tiba. Mereka berempat langsung meringkus Dave yang sulit ditangani. Sambil tetap menarik Tara ia berusaha keluar dari kerumunan petugas keamanan.
Tara akhirnya memekik karena Dave terlalu erat menggenggam pergelangan tangannya. Dave memandang ke arah Tara dan mengendurkan genggamannya. Saat itu Dave melemah yang akhirnya berhasil dipisahkan dengan Tara. Gadis itu memegangi tangannya yang tercetak nyata eratnya pegangan Dave.
Kedua mata Dave terbelalak melihat Tara yang meringis. Dimatanya, Tara yang kesakitan justru merangsang sesuatu dari dalam dirinya. Keinginan untuk menyakiti Tara membuatnya senang.
Ia kembali menerjang mendekati Tara. Namun Dave tertahan dengan para petugas yang mengeluarkan penuh kekuatan mereka. Yang Dave tahu, ia ditarik secara tidak hormat dari kantor Tara. Ia mencoba melepaskan diri namun gagal.
"Baik Tara, ini pilihanmu. Kita lihat apa yang akan terjadi pada lelaki itu!" teriakan menggema di sepanjang lorong.
Tubuh Tara melorot hingga ke lantai. Ia lemas dan takut. Pak Sapto sedang membantu Bu Salma berdiri. Beberapa rekan kerjanya ada yang menutupi kepala Bu Salma yang terus mengeluarkan darah dan yang lainnya menelepon ambulance. Tara memandang kekacauan yang ditimbulkan oleh dirinya dalam diam.
***
Setelah diseret oleh keempat petugas, dua disampingnya mengapit dan memegangi tangan Dave. Dua yang lainnya berjaga di depan mereka bertiga. Dave merasa risih.
"Lepas," bentak Dave.
Tak ada satu pun petugas yang mendengar perintahnya. Mungkin ia orang besar di perusahannya, namun di tempat ini dia hanyalah tamu.
Saat keluar dari lift, ia menghentakkan lengannya sehingga tangan dua petugas tadi lepas dari tubuhnya. Orang-orang yang berada kebetulan berada di sana mencuri pandang ingin tahu. Tak pernah sekalipun Mitra Group Indo memperlakukan tamunya seperti ini.
"Aku tahu di mana jalan keluar!" ucapnya gusar. Ditepisnya lengan baju seakan petugas yang memeganginya tadi telah menempelkan debu pada pakaiannya. Setelah melewati gate entrance ia melempar begitu saja kartu kecil tanda pengenal tamu.
Dave berjalan keluar lalu mengeluarkan ponselnya.
"Bawa dia dan biar aku yang menyelesaikannya," ucapnya singkat pada seseorang di seberang telponnya.
***
Sofia berhenti mengisi buku tamunya karena kejanggalan yang terjadi di kantor besar ini. Ia perhatikan lamat-lamat pria berbadan tegap yang melangkah lebar. Pria itu tampak tak asing di matanya. Ia melempar kartu tanda tamu setelah melewati gate entrance.
Sambil terus memandang pria itu keluar dari pintu kaca otomatis, Sofia berusaha mengingatnya. Astaga, itu kan Dave, kakak tingkat waktu kuliah. Apa yang dilakukannya di sini? Dan mengapa ia seakan ditendang oleh petugas keamanan kantor ini?
Dicarinya dengan segera nomor dalam ponselnya, ia berharap ia masih menyimpan nomor pria itu. Setelah ia menemukannya, dikirimkan sebuah pesan singkat ke jendela pesan pria itu.
Dave, ingat aku? Aku adik tingkat saat kuliah dulu, Sofia. Apa yang sedang kau lakukan di MGI?
Ia berharap nomor itu masih aktif. Dipandangi layar ponselnya hingga notifikasi pesan berubah menjadi warna biru.
***
Genta melihat layar ponselnya dan melihat sebuah nomor tak dikenal ada di panggilan masuk menungggu untuk dijawab. Biasanya, Genta tanpa pikir panjang mengangkat telepon seperti ini. Sering seniman yang akan pameran menghubunginya untuk bertanya mengenai satu-dua hal. Tapi setelah kejadian kemarin, mengangkat telepon dari yang tak dikenal menyurutkan niatnya untuk menjawab.
"Ya, hallo?"
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Ditunggu likes, comment, kritik dan sarannya dear readers 🥰