
"Aku harap aku bisa pergi ke pameran itu bersamamu," ucapnya.
Rendi tak mendengar jawaban apapun dari Tara, ia tahu perempuan itu memang tidak terlalu menyukai seni benda tapi tidak menolak juga menyambangi hal demikian. Apa mungkin ia berlebihan hanya karena telah banyak pameran yang ia nikmati bersama Tara.
"Kabari aku kalau kamu bisa datang ya, Tara," akhirnya Rendi memutuskan untuk mengakhiri pertanyaannya, sementara.
"Iya, nanti aku kabari, Ren," jawab Tara.
Rendi tersenyum, "besok, aku berangkat ke Banyuwangi." Ia bingung mengapa ia harus mengatakan itu padanya.
"Oh, gitu. Baiklah, hati-hati di sana," ujar Tara, Rendi mendengar perempuan itu sedikit menguap. Ia tak ingin membuat Tara kurang tidur.
"Tidurlah, sudah larut, jangan lupa sikat gigi dan berdoa," katanya.
"Iya, aku bukan anak TK lagi pak boss," sahut Tara langsung menutup percakapan.
Rendi memandang ponselnya, tak ada ucapan selamat tidur yang ia terima. Diletakkan ponsel itu di meja sampingnya, lalu ia menatap keluar jendela. Angin malam bertiup lebih menusuk ke tubuhnya, ia berpikir apakah ia harus benar-benar menyudahi ini?
Ringtone ya berbunyi, tanpa melihat siapa yang meneleponnya ia menjawab, "Ya, jadi bagaimana?"
Seorang wanita menjawab dari ujung telepon, "Apanya yang bagaimana?"
Rendi melihat kembali ke layar teleponnya, Sofia tertera di sana.
"I just called you. How strange that you quickly picked it up before the third ring," Sofia keheranan. "Sedang menanti telepon, kah?"
"Ah tidak, tadi kupikir temanku menghubungi lagi," jelasnya singkat.
"Sudah merapihkan pakaianmu?"
"Sudah, pakaian yang kubawa tidak banyak. Lagi pula di sana pasti ada tempat untuk membeli pakaian," Rendi melangkah menuju lemarinya. Sebenarnya, belum ada satupun pakaian yang masuk ke kopernya.
"Aku pikir, kau butuh bantuanku untuk mengepak barangmu," ujar Sofia manja.
"Jangan, nanti kau mencuri pakaian dalamku," kekehnya.
"Aku tak akan membawanya ke dukun," sanggahnya tak terima karena dicurigai. "Kecuali hal itu mendesak."
"Nah, kan... tidak dapat dipercaya," Rendi menjepit ponselnya dengan kepala dan bahunya, kedua tangannya bekerja melepaskan gantungan baju kemudia melipat baju itu dan memasukkannya ke koper.
"Kau yang menjemputku atau aku yang menjemputmu?"
"Aku yakin, bawaanmu lebih dari satu koper, tidak mungkin aku yang menjemputmu dan memakai motor, Sofia," Ia memasukkan sepatunya dalam penyimpanan lalu menaruh asal dalam koper.
"Padahal aku ingin memelukmu di atas motor," katanya centil.
"Waktu masih panjang, Sofia."
***
Tara mengaduk buburnya hingga tak ada sedikitpun bubur yang tidak terkena bumbu. Kiara meliriknya kesal sebagai 'tim bubur ga aduk' ia merasa Tara sudah menghancurkan formasi yang sudah harmonis di mangkuknya menjadi tidak berbentuk seperti itu.
"Badan hukum kok ga dapet undangan ya dari pameran seni?" Kiara bertanya-tanya.
"Orang hukum taunya kitab-kitab, pasal-pasal yang jauh dari kata bentuk yang artistik, semuanya simetri. Jadi mana dapet gituan," ujar Tara sambil melahap buburnya.
"Yeeee, terus kenapa anak statistik kayak elu bisa dapet coba undangan gitu-gitu?" tanya Kiara emosi.
"Hahahaha, koneksi," jawab Tara bangga.
"Gaya banget," Kiara menyeruput teh tawarnya.
Pagi itu mereka menyudahi kelas meditasi mereka lalu mencari bubur ayam untuk sarapan. Perubahan jadwal yang mendadak itu membuat Tara harus tidur lebih cepat semalam. Tak dipungkiri, saat ia memutuskan hubungan telepon Rendi, ia kepikiran. Terlebih saat ia tidak memberikan tanggapan. Namun, akan jauh lebih menyakitkan bagi telinganya jika mendapat ceramah sahabatnya ini.
"Tapi situasinya," Tara mengaduk buburnya tanpa ia sadari. "Rendi juga ngajak gua ke pameran itu."
"Hm," Kiara sejenak ikut berpikir, ia tahu sahabatnya dan mantannya yang bekerja di bagian seni itu memang sering sekali menyambangi tempat pameran seni seperti itu. "Dia ngajak lo? Bukannya dia ada project lagi di Banyuwangi kayak kata lu kapan itu?"
"Iya, hari ini dia berangkat," Tara masih terus mengaduk pelan makanannya.
"Don't play with your food," Kiara mengambil sendok dari tangannya. "Dia masih laporan?" yang dijawab hanya dengan anggukan.
"Gue bingung, Ra. Di satu sisi gua masih mau bareng sama dia tapi ada sesuatu yang menahan gua, entah apa itu," Tara memandang sahabatnya. "Karena gua masih menyimpan rasa ragu kalau dia di sana tidak 'sendiri'. It seemed there's someone there with him."
"Lo ga nyoba tanya?"
"Tapi lu penasaran setengah mati... Gak ngerti deh gua jalan pikiran Lo," Kiara mengembalikan sendok ke tangan Tara.
"Yah, gue..."
"Selagi masih banyak pertanyaan dipikiran lu, lu belum bener-bener beres dengan hubungan lu. Yakin deh, sesuatu yang belum clear itu bakal makin numpuk dengan jutaan over thinking." Kiara melahap suapan terakhir buburnya.
Pemikiran tentang seseorang kemungkinan sudah bersama Rendi memang sudah menjadi awal mula mengapa ia mengakhiri hubungannya dengan Rendi. Tara menjaga sungguh komitmen mereka, tak sekali pun ia berkomunikasi lebih dengan lawan jenisnya secara berlebihan karena ia tahu kepada siapa hatinya harus ia jaga. Lalu, semakin hari Tara semakin tak mengenal kekasinya itu. Setelah putus, usaha melupakan jauh dari kata berhasil, meditasi-meditasinya mungkin tak membuahkan arti, bahkan sekarang ia lebih gamang dari sebelumnya.
Ya Tuhan, adakah alasan bagiku untuk masih menggenggamnya erat dihatiku?
***
"Mbak Tara, dipanggil ibu ke ruangannya," Atika, sekretaris Bu Salma menyampaikan pesan kepala departemen itu.
"Ada apa, mbak?" Tara yang baru membuka cardigan coklatnya, langsung merapikan penampilannya dan mengikuti Atika ke ruangan Bu Salma.
"Terkait laporan, mbak tuh kayaknya," jawab Atika sambil berjalan ke arah ruangan Bu Salma. Ia mengetuk saat tiba di depan pintunya. "Bu, mbak Tara sudah tiba."
"Masuk," ujar Bu Salma yang berdiri di pinggir jendela memandang ke arah jalan utama di depan kantornya yang selalu padat. "Kamu boleh pergi Atika."
"Baik, Bu." Atika mengangguk ke arah Tara undur diri.
"Selamat pagi, Bu," sapa Tara. Tara melirik data laporannya di meja kepala departemen itu, lalu beberapa dokumen tebal yang sudah Tara lahap beberapa waktu ini hingga rasanya ingin muntah.
"Kamu kenapa, Tara?" Bu Salma masih memandang ke arah jalan di bawah.
"Maksud, Ibu?"
"Kamu mau mengacau dengan laporan yang kamu buat? Kamu tau sebentar lagi event besar kita akan di adakan!" Bu Salma berbalik memandang Tara yang masih berdiri tak jauh dari pintu. Ingin rasanya ia melangkah seribu ke arah pintu dan keluar dari ruangan itu yang tiba-tiba terasa menyeramkan.
"Sudah kamu baca laporan semester lalu dan hasil risetnya dengan benar?" tanyanya tajam.
"Sudah, Bu," jawab Tara yang hanya bisa memandang perut Bu Salma, untuk menaikkan pandangannya sendiri terasa berat sekali.
"Laporan kamu, kacau! Sesat! Kalau kamu tidak bisa bekerja dengan becus lebih baik kamu ajukan surat resign!" sembur Bu Salma. "Punya pegawai tidak becus sama seperti si Tomo, suami tidak becus! Kapan hidup saya bisa mudah?! Kalian hanya menambah masalah saja dalam hidup saya!"
"Maaf, Bu," ujar Tara pelan. Ingin rasanya lantai di bawah kakinya menelannya hingga ia bisa hilang saat itu juga.
"Neraca anggaran kita untuk event itu jadi tidak seimbang, Tara. Kerjakan pekerjaanmu dengan serius atau lebih baik pertimbangkan resign-mu!" Ia berkacak pinggang dan terus saja mengatakan hal yang sama.
"Angkat laporan dan berkasmu, kerjakan sana! Aku muak melihatnya," Bu Salma berbalik memandangi pemandangan di jalan raya kembali dan mengatakan hal-hal mengenai suaminya lebih kepada dirinya sendiri.
Tara mengambil laporan dan dokumen-dokumen tersebut hingga nyaris saja ia tak bisa melihat jalan di depannya. "Saya permisi, Bu."
"Sudah, sana!" bentak Bu Salma.
Setelah berhasil keluar melalui pintu sambil membawa tumpukan berkas, Vanka ternyata sudah berdiri di sana. Ia mengambil separuh dari yang Tara bawa dan membantu membawakan ke mejanya.
"Lo ga bawa Troli?" tanya Vanka saat meletakkan berkas pada mejanya. Tumpukan dokumen itu kembali mendarat di wilayahnya bekerja.
"Gue mana tau kalo di suruh bawa balik dokumennya," Tara berujar sambil menyeka keringatnya di dahi.
Vanka tak mengatakan apapun dan hanya menyerahkan satu pack tisu, karena ia tahu setelah ini Tara akan berdiam diri di toilet kantor beberapa lama.
Susi mendekat, "lihat siapa pagi-pagi yang udah kena semprot Bu Salma. Selamat, ya."
"Eh, bacot lu ya," Vanka naik pitam.
"Maksud kamu?" Susi mendorong Vanka.
"Sudah... sudah," Tara coba menenangkan situasi.
"Mulut tuh jangan cuma digincuin doang, sekolahin yang bener," Vanka tak sabar.
Susi yang tak terima menjambak Vanka sambil mengumpat.
Tara mencoba melerai tapi perkelahian jadi jauh lebih sengit.
Vanka melihat ke arah Tara, "udah lu tenangin diri dulu sana. Urusan ama si Susi biar gua aja yang tanganin. Sana! Lu bacotlu udah gemes gua dari lama," umpatnya kembali ke arah Susi.
Tara benci tak bisa meredakan situasi tersebut namun akhirnya ia menyingkir dari kerumunan yang semakin ramai itu. Ia cepat-cepat melangkah ke toilet terjauh yang ia bisa jangkau. Toilet lantai dasar.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Ditunggu likes, comment, kritik dan sarannya dear readers 🥰