Swipe You, Swipe Me

Swipe You, Swipe Me
Eight of Cups and The Temperance



Genta kembali menorehkan guratan-guratan halus pada buku sketsanya. Ia tahu, dokter belum memperbolehkannya menggunakan tangan untuk beraktifitas. Beberapa tendon di tangannya masih harus memulihkan diri. Tapi ini sudah hari ketiga tanpa aktifitas, Genta merasa bosan. Tangannya terus bergerak walau dera masih terasa di tiap inci tangannya.


Sketsanya masih terbentuk satu wajah yang terus muncul dari alam bawah sadarnya. Tapi wajah dalam sketsa itu terlihat berbeda. Matanya lebih sipit. Setahunya, mata gadis itu bulat sempurna. Genta meragu dengan apa yang digambar tangannya.


"Heran, kenapa sih kau tidak pernah mendengarku?"


Seorang gadis membuka pintu kamar Genta yang membuatnya berhenti menoreh garis. Ia masih mengoceh tanpa memandangnya saat menutup pintu di belakang. Genta hanya diam dan menunggu apakah wanita itu sadar di mana ia berada.


"Kau boleh kerja keras terus, tapi ingat istirahat!" Wanita itu menaruh tas tangannya di ujung kaki tempat tidur Genta.


Saat ia mengangkat pandangannya, wanita itu tertegun. Mata sipitnya terbelalak hingga menambah celah mata itu hanya empat puluh persen. Rona merah tersembul di pipinya saat memandang Genta. Sepertinya, ia malu. Gadis itu celingukan melihat ruangan Genta.


"Aku salah masuk kamar, kah?" tanyanya.


Genta tak asing dengan suara wanita itu. "Seharusnya siapa yang terbaring di sini?"


"Cici, kakak perempuanku," sahutnya datar.


"Apakah aku nampak seperti kakakmu?" Genta menyandarkan punggungnya ke bantal agar lebih nyaman memandang gadis itu.


"Tidak."


"Ya, sudah. Kau salah kamar," simpul Genta sambil tersenyum.


"Maaf mengganggumu," ia menggamit tas tangannya dan menunduk dalam-dalam. Gadis itu bergegas keluar.


"Lou?" panggil Genta saat gadis itu mencapai pintu kamarnya.


"Ya?" Ia berhenti dan menoleh. "Kau mengenalku?"


"Kau lupa padaku?" Genta terkekeh jenaka. Ia kesampingkan buku sketsa dan menautkan kedua tangannya. "Pastilah. Aku tidak seperti ini saat kita bertemu."


Gadis itu memandanginya bingung. Menunggu penjelasan selanjutnya. Mengapa pria dengan wajah 'bonyok' seperti itu, out of no where, Lou masuki kamarnya dengan salah malah mengenalinya. Bahkan memanggil namanya. Ia sangsi pernah bertemu dengan pria ini.


"Kau tidak benar-benar menyelamatkanku, Lou," ucap Genta tenang. "Seharusnya, aku masuk saja ke tempat sampah besar itu."


Gadis itu terbelalak. Mata sipitnya nyaris robek saking terkejut. Bibirnya membentuk o bulat dan seakan mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamar Genta. Gadis itu menghampirinya.


"Kau tetap tertangkap?"


"Sialnya, iya," Genta tersenyum.


Sketsa gambarnya tertutup sebagian oleh selimut rumah sakit berwarna coklat karamel. Namun sebagian gambarnya masih diam-diam mengintip. Mata Lou dengan jelas tergurat di lembaran itu.


***


"Kau sudah merapikan koper?" Sofia memulas gincu yang membuat bibir kecilnya merona seperti mawar yang merekah di hari cerah.


"Aku bukan anak kecil," sergah si penelepon di ujung sana.


"Kalau belum, aku akan datang bantu. Then I'll get some of your pants," Sofia tertawa.


"Gotcha! Lagian buat apa ngambil celanaku? Kau sudah memilikiku kan?" kekeh Rendi yang sebenarnya masih sibuk merapikan kopernya.


Sofia terdiam agak lama. Mencerna perkataan dari pria itu barusan. Apakah kupingnya tak salah dengar?


"Kalau sudah rapi, bilang ya. Aku jalan dari sini," sambungnya karena Sofia yang terdiam.


"Oke."


Ia memutuskan saluran telepon itu dan memandangi pantulan dirinya dalam cermin. Kupingnya tidak salah dan Rendi sungguh mengucapkan kalau dia, Sofia, telah memiliki Rendi. Seutuhnya? Seutuhnya! Seutuhnya. Perlahan wajahnya memerah walau ia belum memulas perona pipi. Ia tahu, kisahnya akan berakhir bahagia.


***


Ia memandang kamar kecilnya. Rapi. Entah dorongan apa, selain merapikan koper yang akan diboyong ke Manado, ia juga merapikan kamarnya. Ruangan itu jadi terlihat lebih segar dan luas.


Ia melangkah ke nakas di samping tempat tidurnya lalu membuka laci pertama hingga ujung. Diambilnya pigura coklat yang menyimpan rapi foto seorang gadis yang duduk di sebuah sofa. Jendela besar di belakangnya menumpahkan cahaya hingga gadis itu terlihat berkilau. Senyum miringnya menampilkan gigi yang rapi berderet. Rambut coklat tuanya tergerai asal.


"Senyumlah yang benar," ia menurunkan kamera polaroid-nya kesal.


"Mau seperti apa lagi?" ditepuknya gemas paha Rendi. Lalu Tara menyengir dan memamerkan semua giginya hingga gusinya pun mengintip.


"Ck, serius," umpat Rendi mulai kehilangan kesabarannya.


"Aku ga mau senyum manis-manis, nanti kau kena diabetes," candanya lalu terpingkal.


"Eish, ayolah. Satu saja yang serius," pintanya lalu kembali mengintip dari jendela kecil di polaroid-nya.


"Oke, serius," Tara memposisikan diri seperti pada kartu kependudukannya.


"Kau," Rendi mendengus dan meletakkan kameranya di meja. Ia menerjang Tara. Rendi menciumnya hingga rebah di sofa. Tara terkekeh disela ciuman mereka. "Gadis nakal."


Tara mendorong wajah Rendi menjauh lalu mengelus pelan bekas cukurannya. Senyum manja masih terpetakan pada wajahnya, "Biar. Biar aku jadi gadis nakalmu saja."


Rendi memandang kedua bola mata bulat gadis itu. Seperti infrared, mereka saling bertukar rasa sayang lewat keempat bola mata yang berserobok. Didaratkan sebuah kecupan lembut pada dahi gadis itu. Lalu ia mengangkat tubuhnya untuk duduk. Tangan gadis itu terjulur untuk ditariknya.


"Sekarang senyum yang benar," diambil polaroid dan diposisikan pada matanya untuk mengintip. "Ingat, yang benar."


"Iya, ih ga percayaan banget," dicucutkan bibirnya.


Lalu ia mulai berpose. Siku kirinya tersampir pada sofa. Rambutnya acak-acakan karena ciuman mereka barusan. Senyum miringnya mengangkat kedua pipinya membulat dan merona bagai apel masak. Sinar mentari senja menimpa balutan putih longgar di tubuh gadis itu hingga ia tampak cemerlang. Rendi memerangkap sosok itu abadi dalam dua dimensi.


Dipandanginya pigura coklat itu dan tersenyum. Rendi berbalik dan melangkah ke tumpukan dus yang akan dibawa ke daur ulang apartemennya. Perlahan diletakkan pigura itu di sana bersama dengan barang-barang tak terpakai. Sendal rumah yang pernah diberi Tara dan yang lainnya. Akhirnya selesai sudah. Seperti semestinya ia lakukan sejak lama.


Ponsel disaku celananya bergetar. Ia merogoh dan mengeluarkan benda itu.


I'm ready, dear.


Lekas Rendi menghampiri cermin dan menyisir rambutnya. Menyemprotkan beberapa kali pengharum tubuh lalu keluar dari kamar itu.


***


"Mmm," wanita itu mengangkat sebelah alisnya. "Tak biasanya."


"Kenapa? It's been awhile kita ga ke sini. Kamu selalu suka satai di sini yang menurutku biasa saja," Rendi dan Sofia sama-sama mengambil tisu dan membersihkan meja di hadapan mereka.


"Sebenarnya bukan karena makanannya, Ren," Sofia berhenti. "It's because the company when I eat with."


"Bisa aja kamu. Hari Rabu ini aku berangkat ke Manado. Kalo lancar akhir bulan aku baru pulang," ucap Rendi sambil melipat kedua tangannya di atas meja. "Kau mau pulang bersamaku ke Rembang?"


"Bertemu ibumu?" Sofia tampak tertarik.


Rendi mengangguk, "sudah lama juga tidak mengunjungi beliau."


"Boleh, terus ambil cuti. Main ke Karimun sekalian, ajak Dian juga. Kita udah kejar setoran setahun ini tanpa libur," kata Sofia semangat.


"Ide bagus," responnya sambil memandang wanita itu.


"Kenapa memandangku begitu?" Sofia tiba-tiba gugup. Mereka sering bersama, saling berpandangan itu hal biasa. Tapi jantungnya jadi tak keruan malam ini.


"Maaf terlalu lama bagiku menyadarimu, Sofia. Terima kasih banyak. Untuk segalanya," lurus-lurus ditatapnya kedua bola wanita yang kini tersipu.


Sofia mengulurkan tangannya, "mana tanganmu?"


Rendi menyambut tangan Sofia. Meremasnya sedemikian rupa hingga terbit sebuah sunggingan di bibir merah itu.


"Jika aku harus jatuh berkali-kali, aku tetap ingin jatuh hanya padamu," Sofia balas meremas tangan besar milik Rendi. "Camkan itu."


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Ditunggu likes, comment, kritik dan sarannya dear readers 🥰