
Tara dan Kiara mangkir dari kelas meditasi tiap Sabtunya. Ada acara yang jauh lebih monumental dibandingkan mengikuti kelas meditasi yang masih ada di minggu-minggu berikutnya. Kedatangan Danang yang sempat disimpulkan Tara setali tiga uang terpatahkan hari ini. Memang ada pekerjaan mengenai kasus pelik yang masih diurus Danang dimeja hijau pengadilan di Jakarta dan sudah dua Minggu tepat pria itu belum kembali ke tempat di mana ia tugas sesungguhnya, Medan. Namun, tak hanya pekerjaan semata yang membawanya ke ibukota.
"Aduh, gua deg-degan, Tar. Sumpah!" Kiara berkali-kali mengecek riasan wajahnya di pantulan cermin.
Tara memandanginya dengan tersenyum. Betapa kepanikan benar-benar menghampiri sahabatnya yang berbalutkan kebaya warna gading.
"Jangan senyam-senyum aja, Tar," oceh Kiara yang memandang Tara dari cermin. "Kasih tau apa yang belum pas ini!!!"
"Calm, honey," Tara melangkah mendekati Kiara, memegang kedua pundaknya dan sama-sama memandang ke arah cermin.
"Gak ada yang kurang, gak ada yang lebih. Semua pas. Gak ada yang terlalu cepat, gak ada yang terlalu lambat," Tara memandang kedua bola mata Kiara dari pantulan cermin. "Semua tepat pada waktunya, Ecclesiastes Three at verse one,"
Kiara mengelus tangan Tara, setetes air mata terjatuh di pipinya. Mereka berdua tau, hari seperti ini yang telah mereka tunggu sejak lama.
"Nah, ini yang bikin berantakan!" teriak Tara saat melihat Kiara malah menitikkan air mata. "Tisu, mana tisu!"
"Ini, buta. Kenapa lu yang jadi panik sih?" Kiara mendengus lalu terkekeh. Perlahan diseka air mata Kiara menggunakan tisu agar tidak merusak riasan sahabatnya.
***
Prosesi berjalan lancar sesuai runtutan acara yang telah disusun. Kedua sejoli itu, Kiara dan Danang asik berbincang berdua tidak menghiraukan hiruk pikuk sekelilingnya. Pandangan mereka berdua dipenuhi balon-balon berbentuk hati yang dikirimkan dalam syahdu. Mereka berdua resmi bertunangan.
Tepat seminggu lalu Kiara mengirimkan foto sebuah cincin melingkar apik di jemarinya dengan keterangan: "Finally, dia melunasi yang dijanjikan." Tara turut bahagia mengetahuinya. Tahu bahwa hubungan mereka bukan sebuah hubungan cinta menya-menye seperti kisahnya dengan Rendi. Terkadang Tara heran apakah mereka benar menjalani hubungan khusus. Namun, hari ini hubungan mereka resmi bertunangan.
"Ah, lelah juga ya," Kiara menyenderkan tubuhnya di sofa setelah semua tamu pulang beserta Danang dan ia membersihkan diri.
"Tapi lega dong pastinya," cengir Tara.
"Makasih, ya, udah mau ikut repot hari ini," ungkapnya tulus.
"Idih," Tara menepok kaki sahabatnya itu. "Masih kaku aja kayak bra baru keluar toko. Gua kan senang juga kaleee. Tinggal siap-siapin buat tahun depan kan sama mental kali, ya ceu."
"Yang penting, lu ga ngilang, biar gua bisa bagi beban pusingnya," ia tertawa.
"Terus kita bertiga naik pelaminan ya," kelakar Tara.
"Sue," sungutnya.
"Yowes, gua balik dulu yak," pamit Tara.
"Dih, nginep aja sih. Besok kan hari Minggu," kata Kiara heran.
"Semalem gua udah nginep di sini, kasian nyokap sendirian di rumah. Masa gua mau extend nginep di sini," oceh Tara.
"Ya udah, gua bungkusin ya masih banyak banget makanan lagian sodara gua udah pada balik," Kiara beranjak ke arah dapur.
"Banyakin ayam kecapnya, yak," ujar Tara sambil membuntutinya ke dapur.
"Iye!"
Setelah selesai membungkus dan Tara berpamitan dengan orang rumah Kiara, ia sudah berada di atas motornya membelah jalanan sore hari menuju ke rumahnya.
Tak disangkanya tangki motornya sudah nyaris kosong saat bertolak dari rumah Kiara, hingga ditengah perjalanan malah motor itu mogok tak ada bahan bakar.
"Astaga, yang benar saja," dipandanginya motor yang berhenti bekerja itu. Di edarkan pandangan ke sekitar mencari penjual bensin eceran tapi tidak ada satu pun yang terjangkau dari matanya.
"Kenapa motornya, mbak?"
Tara berbalik dan menemukan seorang pegawai kedai kecil di mana motornya berhenti. Ia membawa keranjang sampah di tangannya, sebagian wajahnya tertutup masker dan memakai sebuah topi berlogo sama dengan kedai kecil itu.
"Mogok, mas. Bensinnya abis," ujar Tara. "Ada penjual bensin eceran ga di sekitar sini?"
"Wah, agak jauh sih dari sini... Eh tunggu, kamu Ra, Ra.." pegawai kedai itu berusaha mengingat. "Tara, ya?"
Dia tau aku? "Iya, mas."
"Bram," ia melepas masker yang menutupi wajahnya. "Lupa?"
"Ah, Bram yang waktu itu..." Tara masih belum mengingat hanya sekedar menjawab saja. Yang ia butuhkan bensin secepatnya.
"Tunggu aja di dalem, nanti gua beliin bensinnya."
Tara menepikan motornya ke area parkiran kedai itu yang hanya sepetak kecil saja. Lalu masuk ke dalam dibuntuti pemuda bernama Bram yang sudah membuang sampah yang dibawanya.
Tara menduduki dirinya di salah satu kursi dekat jendela. Kedai ini hanya sebesar 6 × 4 m². Terdapat tiga bangku tinggi yang disusun ke arah kaca yang menghadap jalan raya. Sofa sepanjang dinding berhadapan langsung dengan counter pemesanan dan pembuatan kopi dengan 4 meja kecil berjejer di depannya. Walau kecil, kedai ini berhasil dalam membalut suasana nyaman dan memang tidak dapat menampung banyak pengunjung dalam satu waktu.
Pria itu keluar dan berbicara sesuatu kepada teman kerjanya.
"Siap, pak Bos," respon pria gempal dari balik meja counter.
Bram melangkah ke arah Tara, "kamu bisa pesan sesuatu di sini, setidaknya coba saja produk kami. Hehehhe, aku carikan dulu bensin untukmu, ok?"
"Ya, terima kasih, btw," jawab Tara. Pria itu melangkah keluar dan menyalakan mesin motor miliknya dan pergi.
Tara melangkah ke arah counter, jika ditanya apakah ia sungguh ingin minum sesuatu? Sebenarnya tidak, ia tidak cukup haus dan masih terlalu kenyang dari acara Kiara.
"Dengan Dodot, mbak mau pesan apa?" barista itu menunggu Tara mengucapkan pesanannya.
"Freezing coffee deh, Dot," sahut Tara.
"Tambah es batu?"
"Ga usah."
"Mau tambah gula atau dikurangin?" tanyanya lagi.
"Yang reguler aja, Dot," jawab Tara.
"Sekalian dengan cakenya, ada rainbow cake, chocolate mousse dan popsickles cheese cake?"
"Ga usah, cukup kopi aja," jawab Tara.
"Pembayaran tunai atau cashless?"
"Pakai BayarPegi aja," ujar Tara sambil mengeluarkan ponselnya.
"Baik, satu Freezing coffee, silahkan discan," Dodot menyodorkan palet kotak-kotak untuk dipindai Tara.
"Bisa di tunggu, mbak..." Dodot menanyakan namanya.
"Tara," jawabnya.
"Nanti saya antarkan ke meja mbak Tara," ujar Dodot lalu mulai mengerjakan kopinya.
Beberapa pengunjung baru datang dan langsung merapat ke arah monitor di hadapan meja counter. Memijit sesuatu dan secarik kertas keluar dari celah dibawah monitor itu. Ternyata itu juga mesin untuk memesan kopi lalu kertas itu dibawa ke counter pesanan untuk dibuat oleh barista. Dodot menerima pesanan itu sambil tersenyum.
Tak berapa lama Dodot datang membawa pesanan Tara.
"Dot, itu mesin pesan kopi?" tanya Tara.
"Ia biasanya kalo lagi ramai suka ga ke handle, dari pada antreannya mengular, jadi pak Bos bikin program itu buat mesan kopi," jelasnya.
"Maaf ya, karena motor aku mogok teman kerjamu jadi pergi cari bensin," Tara merasa tak enak hati.
"Ah, ga masalah mbak. Saya malah biasa sendiri di tempat ini, Pak Bos lagi kunjungan ke kedainya di sini," tambahnya. "Malah saya kebantu banyak hari ini, dibersihin dapur belakang tadi sama pak Bos."
"Oh, dia bos kamu Dot?"
"Iya, mbak. Mari, saya mau buatkan pesanan yang lain lagi," Dodot undur diri.
"Makasih ya," kata Tara sebelum Dodot berlalu.
Ternyata Bram itu pemilik kedai ini, ia pikir dia hanya pegawai biasa. Tara merasa tak asing dengan wajah Bram, tapi ia juga tak mengingat siapa pria itu. Dan kenapa ia bisa mengenali Tara, ia tak punya petunjuk sama sekali.
Tara mengangkat gelasnya dan terkaget melihat sebuah notes kecil yang bertuliskan selamat menikmati dengan tulisan cetak dan namanya dibubuhkan dengan tulisan tangan. Tara benar-benar kagum dengan kesan yang diberikan kedai kecil ini.
Tak lama, Bram kembali lalu menghampiri Tara, "Boleh minta kunci motormu, akan ku isikan bensinnya."
"Oh," Tara menyerahkan kunci motornya. "Thanks, ya."
"Ga masalah," Bram kembali berlalu dan mengisikan bensin motor Tara.
Bram kembali melangkah ke meja Tara dan menyerahkan kunci motor itu, "Done." Ia mendudukkan dirinya di kursi seberang Tara.
"Terima kasih... lagi," Tara tersenyum.
"Btw," Bram menunjuk kopi dicangkir Tara. "Gimana rasanya?"
Tara merasa tak ada yang istimewa, rasa kopi itu sama saja dengan kopi yang diicipnya. Tapi dia lebih terpikat dengan ide-ide detil yang dimasukkan dalam kedai ini. Tapi tidak mungkinkan ia mengatakan bahwa kopi ini standard di hadapan owner-nya? "Good."
"Cuma, 'Good'?"
"Tapi aku suka ide mesin pesan kopi mandirimu, juga..." Tara mengangkat secarik kertas kecil di tatakan cangkirnya. "Ini."
"Tapi aku baru menemukan di kedaimu," ujar Tara.
"Lho, Lo udah tau ini kedai gue?" tanya Bram takjub.
"Dikasih tau tadi sama Dodot," jawab Tara sambil meneguk gelas kopinya. "Gua malah kaget, lo owner-nya."
"Hahaha," Bram tersipu. "Usaha kecil-kecilan, baru merintis kok. Makanya ngajuin sponsorship ke Mitra Group Indo kemarin. Siapa tau bisa gabung di event besar kantor Lo. Lumayan kan biar nama Daily Grande naik."
Tara semakin terkaget saat Bram menyebutkan perusahaan tempatnya bekerja. Siapa pria ini? Ia tahu namanya, tempat Tara bekerja bahkan acara event tahunan terbesar kantornya. Ini mencurigakan.
"Tara, kenapa diam?" tanya Bram bingung melihat ekspresi Tara yang berubah defensif.
"Gak apa-apa," Tara terus mengamati Bram. Dia pernah melihatnya tapi ia tak ingat siapa pria ini.
"Gua yakin Lo lupa," simpulnya. "Lift..." tak ada tanda Tara tercerahkan. "Rooftop?"
Sedetik kemudian kedua mata perempuan itu melebar, "Ah, Bram yang itu..."
***
Tara membawa adonan tanah liat di tangannya dan menaruhnya di meja pemutar dicelupkan sedikit tangannya pada wadah air tak jauh dari kakinya. Ia mulai memijit adonan tanah liat yang berputar di meja itu. Perlahan adonan itu mulai terlihat seperti wadah mangkuk. Ia melemaskan jarinya dan perlahan mengangkat tepian adonan dengan ibu jari juga jemari lainnya. Adonan tanah liat itu mulus dan mudah dibentuk mengikuti arahan jarinya.
Ia menghembuskan napas mengatur emosinya agar adonan itu tidak menjadi kacau. Membuat tembikar sama seperti saat seseorang harus menguasai emosinya. Jika sedikit saja Tara memijat adonan itu terlalu keras, ia harus memulainya dari awal lagi. Perlahan Tara menarik hingga adonan itu semakin membentuk tinggi.
Ia mulai mengerucutkan bagian leher tembikar itu hingga sepasang tangan ikut bergabung membentuk adonan itu.
"Pelan... betul seperti itu," ucap pria itu ditelinga Tara. Suara yang membuatnya tak perlu menoleh untuk tahu siapa yang duduk di belakangnya sekarang. "Tahan konsistensinya. Iya, bagus..."
Tara tersenyum. Dua pasang tangan itu beradu dalam media yang sama, sentuhan antar kulit itu menimbulkan sensasi luar biasa pada tubuhnya. Hembusan hangat napas terasa menyeruak di tengkuknya membuat ia bergidik. Sepasang tangan itu tetap mengarahkan kedua tangannya, naik-turun membelai tembikar.
Tara menahan napasnya ketika ia merasakan sebuah kecupan lembut mendarat di lehernya yang tak tertutup rambut. Dengusan tipis itu menjelaskan ia puas akan reaksi Tara, kembali dihujani ciuman lembut ke leher tengkuk dan telinganya. Tara mengerang dan menengadahkan kepalanya ke pundak pria itu. Adonan di tangan mereka sudah tak berbentuk dan tinggal memutar sendirian di meja pemutar.
"Ren..." ucapnya lemah.
"Mmm..." Tara merasakan kedua tangan kekar itu merengkuh tubuhnya. Bibir hangat dan bekas cukuran menyapu leher dan wajahnya. Akhirnya ia menyerah untuk fokus pada tembikarnya. Pasrah ia menyenderkan kepala dan tubuhnya pada sosok pria di belakangnya.
Lantas, pria menarik tubuh kecil itu berdiri hingga menyenggol wadah berisi air di kaki Tara. Ia berbalik dan menghadap pria itu. Dikalungkan tangannya ke leher Rendi yang kuat dan membalas ciuman pria itu sama kuatnya. Mereka terbakar oleh gelora masing-masing. Diangkatnya Tara hingga kedua kakinya pun melingkar dipinggang Rendi, tak mereka hentikan 'pertikaian manis' kedua bibir yang saling pagut-memagut.
Perhalahan, Rendi merebahkan tubuh dalam gendongannya ke lantai. Tara merasakan rembesan air masuk melalui pakaiannya. Dengan cepat, Rendi membuka kancing kemeja perempuan itu satu per satu. Tara mencoba menggapai punggung pria itu agar tak tersisa jarak antara mereka. Geli dan kejut nikmat Tara rasakan tatkala bekas cukuran Rendi yang baru tumbuh menyentuh kulit telanjangnya.
Tak ia hiraukan saat tahu ia tinggal mengenakan celana jeans yang menutupi kaki jenjangnya. Ia hanya merasakan kenikmatan luar biasa saat Rendi mencumbui tubuhnya yang tak berpakaian lagi.
"Just, don't stop..." desahnya sambil meremas rambut lelaki itu.
"I won't," jawab Rendi yang sibuk menjelajahi dadanya.
"Di sana, yah...hhhh..."
"You like it?" tanya Rendi sembari mengecup apapun sesuai keinginannya.
"More than you know, Ren. Gosh," Bulunya meremang menikmati sensasi yang mendera tubuhnya. Dikecupnya ibu jari Rendi yang tak jauh dari wajahnya.
Pria itu memasukan beberapa jari pada rongga mulut Tara dan memainkan lidahnya. Tara hanya bisa melenguh nikmat saat Rendi berhasil menggapai titik-titik sensitif di tubuhnya. Sesekali ia mengejang geli dan Rendi tertawa asik.
"Tara," panggil Rendi pelan.
"Mmm..." responnya sambil terus menikmati apa yang dirasakan tubuhnya.
"Tara," panggilnya kembali.
Tara membuka mata dan mendapati wajah Dave tak jauh dari wajahnya. Ia terkejut. Sekali lagi pria itu memanggilnya...
Dan Tara membuka matanya. Kedua tangannya melayang seakan memegang sesuatu di udara. Napasnya tersengal, keringat bercucuran dari dahi dan tubuhnya. Ia pandangi ruangan sekitar. Tak ada tembikar hancur dan meja putar, tak ada genangan air bahkan Rendi maupun Dave di sana. Tara bermimpi. Ia bangkit dan mengambil gelas dari nakas kecil di samping tempat tidurnya. Ia masih berusaha mengatur napasnya. Ia tak menyangka sensasi mimpi itu begitu nyata.
Dihembuskan napasnya karena ia merasakan sesuatu yang buruk bakal terjadi. Tapi ia harap itu hanya perasaannya saja.
***
Langit Desember selalu abu-abu menggantung di langit Jakarta. Kantornya semakin sibuk mempersiapkan event teknologi tahunan dari kantornya yang terhitung 72 hari lagi dan 13 hari lagi menuju garis akhir tahun ini. Ya, hitung mundur itu jelas terpampang di depan gate entrance dengan lampu running text besar-besar. Banyak karyawan yang semakin tertekan melihatnya setiap hari. Lampu itu seakan menghitung berapa lama lagi usia mereka akan digariskan.
Banyak Perusahaan yang bekerja di bidang Teknologi mulai memasukkan nama dan menyewa spot paling strategis di denah lokasi event. Mulai dari home appliances, smartphone, office tools, hardware dan software bahkan produk makanan-minuman yang mengisi di acara tersebut, termasuk The Hut -kedai dimana Tara memiliki banyak cerita- dan Daily Grande, kedai kopi milik Bram.
Departemen Tara memang tidak mengurusi hal tersebut tapi ia berharap Daily Grande bisa ikut terjaring dalam event kantornya itu. Secara tidak langsung, jika kantornya menerima pengajuan dari Daily Grande, itu bisa membalas jasa Bram yang terkadang datang seperti malaikat tak bersayap yang membantunya di kala tak satu pun dapat ia jangkau.
Desas-desus yang beredar juga, Mitra Group Indo bekerja sama dengan Imangine untuk mendesain dan landscape ruang pameran dengan sentuhan mural. Ya, tempat Rendi bekerja makin hari namanya semakin luas terdengar. Perusahaan Multimedia dan Desain Interior itu gigih bergerilya dengan hasil yang memuaskan. Tara ikut senang mendengarnya, setidaknya kerja keras Rendi dan teman-temannya membuahkan hasil manis.
Pikiran tentang Rendi, membuat dia mengingat mimpinya semalam dan ia bergidik seketika. Tara lelah menatap layar monitornya, begitu pula pegawai lainnya. Selain memikirkan event mereka, akhir tahun merupakan masa dimana semua harus membuat laporan akhir tahun perusahan untuk setiap departemen. Seakan untuk sejenak bernapas pun sulit.
Sejenak ia menyenderkan tubuhnya pada kursi dan mendongak. Dipejamkan matanya namun ia masih menjaga agar ia tak tertidur. Ketegangan tanpa berbicara melayang di seluruh ruangan di gedung ini.
BRAK!
Seseorang menggebrak mejanya hingga Tara terperanjat dari kursinya. Bu Salma memandang dengan wajah seram melebihi Hantu Suster dalam film horor luar negeri yang sempat booming beberapa waktu lalu.
"Tidak lihat semua temanmu bekerja? Kau malah santai dan tidur di jam seperti ini! Pemalas! Saya tunggu laporanmu jam 3 sore ini," ultimatum Bu Salma yang langsung berlalu tanpa sempat mendengar penjelasan Tara.
Astaga, kenapa Bu Salma tidak pernah menemukannya saat tumpukan data yang harus diinputnya menggunung di atas meja? Kenapa saat-saat seperti saja yang tertangkap olehnya? Sialan. Sungut Tara dalam hati.
Ia tahu, semua mata di ruangan ini pasti mengarahkan pandangan ke arahnya. Dari pada menambah moodnya semakin tidak enak, Tara langsung berkutat kembali dengan komputernya. Dalam hati sumpah serapah tertuju ke arah Bu Salma tak henti.
"Mbak Tara?" sapa seseorang yang menghampiri mejanya.
"Ya, apa lagi?" jawabnya ketus lalu menoleh menemukan serangkaian bunga dalam pot beling berisi air setengah penuh. Bunga tulip, aster dan peoni terpampang menyejukkan matanya.
"Astoge, mbak!" Kepala mas Ucup muncul dari rangkaian kembang itu, security kantor Tara terkaget mendengar jawabannya yang tak seperti mbak Tara biasanya.
"Maaf, mas. Duh jadi kena semprot aku," Tara tertawa tak enak hati. "Ada apa, mas?"
"Ini, mbak. Ada yang kirim untuk mbak Tara," Mas Ucup meletakkan vas bunga itu di meja Tara yang terlihat lowong tanpa barang di atasnya.
"Wah, keren banget," matanya mengikuti arah vas itu saat diletakkan Ucup.
"Mbak nih, pacarnya perhatian banget," komentar Ucup sambil mesem-mesem. "Tapi kalo saya jadi mbak, mending duitnya aja deh dari pada dikirim kembang."
"Hahaha, mas Ucup bisa aja. Tapi saya sih juga mikir mending mentahnya aja ya," kelakar Tara.
"Ya udah, pamit ya, mbak," ujarnya.
"Iya, mas. Makasih ya," jawabnya.
Setelah kepergian mas Ucup, ia memandangi vas nan cantik itu. Siapa yang mengiriminya benda secantik ini? Apakah Genta? Manis sekali. Rendi pun tak pernah mengiriminya serangkai bunga ke kantornya. Saat hari kasih sayang, Rendi hanya mengirimi foto mawar putih lewat aplikasi pesan karena tugas dinasnya di luar kota. Ah, kenapa semua harus ternilai pada Rendi sebagai tolak ukur.
Tara menghembuskan napas dan memajukan kursinya untuk menggapai kartu ucapan yang terselip di antara kembang nan cantik ini.
Seindah apapun mereka, tak bisa menyaingimu Tara.
- Dave ❤️
Hmm, Dave? Ya, siapa lagi yang bisa menghambur-hamburkan uang untuk sekedar rangkaian bunga seperti ini. Ia bahkan membubuhkan simbol hati setelah namanya.
Ia bergidik lagi mengingat mimpinya semalam namun akhirnya Tara mengambil ponselnya dan mencari nama Dave pada daftar pesan. Setelah menemukannya, Tara mengambil gambar dari vas di mejanya.
Terima kasih, rangkaian indahnya sudah tiba.
Indikator pesan telah terbaca muncul dan sekarang di layarnya muncul wajah Dave, meneleponnya.
"Kau suka?" tanya orang di seberang.
"Ya, mereka cantik," jawab Tara. "Terima kasih, ya."
"Tak secantik kamu, Tara. Mm.. akhir tahun nanti kau ada acara?" tanya Dave langsung.
"Memangnya ada apa?" Tara memandang kalender mejanya dan belum tertulis apa pun di sana. Padahal tahun lalu ia menulis 'Nonton kembang api bareng via LiveCam!' dalam agendanya bersama Rendi.
"Ya... kalau kosong kita bisa menikmati pergantian tahun bersama," tawar Dave.
"Akan ku kabari, Dave. By the way, terima kasih lagi untuk bunganya," Tara menyentuh beberapa bunga dan memandang bunga tulip sebagai bunga kesukaannya.
"Never mind, dear." ujar Dave. "Gotta go now, talk to you later. Bye, Tara."
Tara menutup sambungan telponnya dan menghirup aroma samar yang di keluarkan oleh kumpulan bunga itu. Lalu tersadar akan tagihan laporannya jam 3 sore ini, Tara kembali berkutat dengan kerjanya namun dengan hati yang lebih ringan. Sesekali diliriknya kembang itu, tersenyum.
***
Sejak awal bulan Desember, Rendi sudah pergi ke Surakarta untuk project yang telah mereka kerjakan. Kali ini, Rendi pergi ke sana sendiri. Perusahaan tidak mengutusnya beserta. Jauh dari Rendi dengan hal yang sedang dialaminya membuat segala hal tampak lebih kacau. Ia bahkan tak tau kemana harus bercerita.
Ia baru keluar dari lift saat ia melihat Tara melintas. Siang itu Sofia sedang bertemu dengan Tim event perusahaan besar itu mengenai kerja sama mereka dalam dekorasi di Pameran Teknologi paling bergengsi di kota itu. Tidak sulit karena kebanyakan mereka menyerahkan segala ide langsung kepada Imagine.
Matanya terus mengawasi Tara hingga perempuan itu masuk ke dalam lift dan menghilang ke salah satu lantai di gedung ini. Dia tidak ingin mengawali tahun yang baru dengan kesusahan, jika ia ingin mendapatkannya ia tahu harus melakukan usaha yang lebih. Apa pun caranya. Sofia mengaduk isi tasnya dan meraba sebuah kotak pipih dari tas. Ia tak pernah lalai membawanya. Dikeluarkan kotak itu dan memeriksa kembali isi di dalamnya dan sejauh ini masih aman. Ini cara satu-satunya agar ia mendapatkan Rendi seutuhnya. Tara harus ia singkirkan pada waktunya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Ditunggu likes, comment, kritik dan sarannya dear readers 🥰