Swipe You, Swipe Me

Swipe You, Swipe Me
Eight of Cups and The Temperance II



Peringatan: Episode ini mungkin mengakibatkan ketakutan, rasa tidak nyaman dan kepanikan. Tidak terdapat unsur kesengajaan jika terdapat kesamaan pengalaman atau cerita. Author sejak awal menata alur, lalu melakukan riset baru-baru ini. Selamat membaca.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Tara terpingkal sambil memandang ponselnya. Tingkat tekanan pada pekerjaan menjadi jauh lebih berat. Apalagi hitung mundur yang terpampang di gate entrance yang tersisa empat puluh empat hari lagi menuju event besar yang dihelat oleh perusahaan ia bekerja. Setiap karyawan semakin gugup setiap tiba di kantor. Otaknya sudah terlalu berat mencerna apapun. Ia beralih sejenak membaca chat story lucu berjudul Pak Boss, Teman Online-ku.


"Astaga. Naratornya aneh sekali," cicit Tara sambil memegang perutnya karena geli.


"Heh!" Vanka menggebrak meja kerja Tara.


Tara mengira Bu Salma yang melakukannya, jadi terkejut. Ponselnya sukses air diving dari tangannya kemudian mencium lantai. Pada akhirnya ia menemukan bahwa teman kerjanya yang melakukan itu. Dengan sadis Tara melemparkan tatapan sengit.


"Kerja woy, malah sibuk liatin ponsel," hardiknya.


Tara memungut ponselnya lalu meletakkannya pada meja. Disematkan senyum kecut di bibirnya, "ga lihat Lo, tumpukan kanan itu yang selesai gua input."


Tumpukan dokumen yang terletak di meja Tara terbagi dalam dua bagian. Sisi kirinya memang masih lebih tinggi dibandingkan lainnya. Namun, tumpukan dokumen di sisi lain juga tak kalah banyaknya. Vanka hanya nyengir melihat tumpukan itu.


"Gua kudu release penat bentar. Bentar doang," pinta Tara.


"Lu tau ga, job desc semua karyawan di event udah keluar dong. Masa gua jadi co-host dan host-nya belom tau siapa," keluh Vanka.


Tara terkekeh, "katanya gua bagian jaga tiket sih. Untunglah."


"Gua tau itu pasti ide si Susi," Vanka menggembungkan pipinya.


"Ah, ajak William aja," Edi, eh, ide tiba-tiba melintas di pikiran Tara. Lalu raut mukanya berubah. William otomatis membuatnya teringat Genta. Setelah hari dimana ia juga pergi ke kantor polisi untuk memberikan keterangan, ia tak tahu kabar pria itu.


"Kenapa, lu?" tanya Vanka heran karena Tara yang tiba-tiba terdiam.


"Kabar Genta, Lo tau?"


"Oh, Genta. Kata William sih hari ini dia sudah boleh pulang," Vanka melirik jam tangannya. "Harusnya sih udah dari pagi."


"Oh," Tara ingin bertemu dengannya tapi ia pun mengingat pesan ibu Kinanti padanya. Tara tak menyimpan perasaan apapun pada Genta. Mungkin jika ingin menemuinya, sekarang bukanlah waktu yang tepat.


"Fast recovery sih dia, tinggal pemulihan tulang yang patah dan retak," jawab Vanka. "Lo jenguk aja. Lagian kalian kan masih...."


Gelengan Tara membungkam mulut Vanka otomatis. Ia tidak tahu bahwa jalinan hubungan Tara-Genta sudah berada di garis finish bahkan sebelum ada kata resmi di antara mereka. Tara sendiri sangsi jika mereka sungguhan dalam sebuah hubungan. Temannya itu tak pernah bercerita lebih tentang hubungan mereka.


"Makan siang nanti ke Soto Pak De aja yuk, udah lama ga nonton televisi," sekejap dihilangkan awan sendu yang menggantung di langitnya. Lalu ditampilkan cengir lebar ke arah Vanka.


"Heran gua, di rumah lo ga ada tipi apa?" Vanka menggeleng takjub.


"Ga ada, tipi gua mati."


***


"Obat maag kamu udah dibawa? Jaket? Ini masih musim hujan lho, nanti kamu masuk angin lagi di sana. Dokumen pendukung nanti aku kirim ke email kamu, pastiin akses internet kamu kenceng. Tiket tadi kamu taruh di--"


Rendi menghentikan langkah. Ia menghadap wanita yang sedari tadi berjalan menyesuaikan langkahnya dan mengoceh sepanjang waktu.


"Ssst," Rendi mengelus kedua lengan Sofia agar ia diam. "Tenang. Semua yang kau sebutkan udah aku siapkan. Bahkan dokumen itu, aku sudah minta Fitri untuk kasih hardcopy-nya. Aku siap untuk pergi."


"Ya," Sofia bergumam. "AKu takut kau lupa sesuatu. Karena kau kan pergi ke sana sendiri. Aku tidak bisa membantumu jika kau butuh..."


"Sofia, kamu sudah membantuku untuk banyak hal. Sekarang biar aku membantu diriku sendiri. Lagi pula, kalau kau ikut, kita sama-sama tau bagaimana lelahnya pekerjaan kita," Rendi memandang mata wanita itu lamat-lamat.


Sofia hanya terdiam memperhatikan.


"Jadi, biar ini jadi caraku untuk melindungimu," perlahan Rendi terhenti dengan kalimatnya. Dinikmatinya wajah wanita itu hingga puas. "Dan anak kita. Oke?"


Wanita itu mengangguk. Pipinya merona. Rendi tahu, jika ia terus memperhatikan, wanita itu akan menjadi canggung. Ditariknya wanita itu ke dalam pelukannya. Ia merasakan dua tangan mungil milik Sofia melingkari pinggangnya. Perlahan dibelai punggung wanita itu dan didaratkan satu kecupan ringan di kepalanya.


"Ingat, jaga anak kita, Sofia," ujar Rendi mengeratkan pelukannya. "Aku ingin dia tumbuh menjadi seseorang setangguh dan segigih kamu."


"Jangan lupa, kita akan pergi ke Rembang setelah kau kembali," Sofia mengendurkan pelukannya.


"Iya," Rendi tersenyum. Diusapnya kepala Sofia gemas.


Ia kembali memeluk tubuh Sofia. Wanita itu ada di sisinya tapi dia sudah merindukannya. Sesuatu dalam dirinya tak ingin berpisah. Rendi pun tak mengerti, mungkin karena janin yang tumbuh semakin besar di rahim wanita ini.


"I love you, Ren," Sofia berkata lirih.


"Terima kasih, Sofia."


Pengumuman berkumandang memanggil para penumpang yang akan berangkat ke Manado siang itu untuk segera masuk. Sofia terlihat sangat berat melepas pelukannya. Begitu pun Rendi. Enggan sekali mereka berpisah. Padahal saat project terakhirnya, Rendi bahkan tak berpamitan pada Sofia.


"I'm gonna miss you," bisik Sofia.


Rendi bergumam dan mengelus kepala wanita itu lagi. Perlahan dilepaskan jalinan tangan mereka dari tubuh masing-masing. Diperbaiki posisi tas ransel di punggung dan mengambil beberapa langkah mundur. Matanya masih tetap mengawasi wanita itu. Ia sunggingan senyumnya yang dibalas oleh lambaian wanita itu melepas kepergiannya.


***


'Selamat datang pada penerbangan Whale Airways. Penerbangan akan menempuh waktu lima jam lima menit. Saat ini waktu menunjukkan pukul sebelas lewat sepuluh puluh menit waktu Indonesia bagian barat. Perkiraan tiba pada bandara Sam Ratulangi pukul tujuh belas dua puluh lima waktu Indonesia bagian Tengah.'


Rendi menyamankan duduknya sembari mendengarkan pramugari menjelaskan kelengkapan keselamatan di depan. Ini bukan kali pertama ia naik transportasi udara, tapi entah mengapa ia tak bisa tidur semalam. Ia putuskan untuk menghabiskan waktunya tidur hingga sampai di bandara tujuan. Ia kencangkan sabuk pengaman dan membiarkan dirinya terbuai oleh suara manis berwibawa awak kapal.


"Selamat siang para penumpang Whale Airways," suara pria menggema seantero pesawat. "Siang ini Kapten Cipto dan Kapten Arashi akan mengantarkan seluruh penumpang ke Bandara Sam Ratulangi, Manado. Mari kita semua berdoa agar diberikan keselamatan dalam perjalanan yang menempuh waktu lima jam lima menit menurut kepercayaan masing-masing. Berdoa dipersilahkan."


Rendi mengucapkan doa dalam hatinya sembari armada itu lepas landas dari lintasan pacu.


***


"Copy," Cipto mematikan sambungan khusus ke menara pengawas. Kemudian, dittekannya interkom khusus dengan awak kabin di bagian dapur. "Sepuluh menit lagi bawakan kopi hitam ya, Alice."


"Siap, Capt," sahut Alice lewat interkom yang aktif.


"Kau mau juga?" tawar Cipto pada Arashi yang masih mencatat dalam papan jalan tentang data perjalanan siang itu.


"Bunga sudah membuatkanku," Arashi mengangkat tumblr kopi berwarna merah.


"Ah, dasar pengantin baru," Cipto tertawa.


"Masih nikmat-nikmatnya. Bukan begitu, Capt?" Arashi memakai kaca mata hitamnya karena sinar matahari di tengah hari menusuk matanya.


"Yah, aku sudah lupa bagaimana nikmatnya menjadi pengantin baru. Rasanya sudah puluhan tahun lalu, Arashi," Cipto sesekali mengaktifkan tuas-tuas dan panel dalam instrumen pengendali di hadapannya juga di atas kepalanya. Sesekali ia mengecek indikator mesin dan kecepatan angin serta ketinggian armada itu. Lalu, ia menghubung pihak pengawas penerbangan untuk menambah ketinggian pesawatnya dan mendapat persetujuan.


Langit Indonesia hari itu cerah. Awan-gemawan makin jarang terlihat pada ketinggian mereka. Arashi yang baru meletakkan tumblrnya pada bagian cekung khusus, tercuri perhatiannya pada indikator trim stabilizer juga indikator altitude yang menyala kuning, "Capt?"


"Huh?" Cipto yang melihat arah pandang mata Arashi, ikut melebarkan kelopaknya. Seketika ia menegakkan punggungnya. "Coba kau cek pada buku manual."


Cipto mulai melakukan "perintah-perintah" pada instrumen pengendali pesawat. Ia menggeser tuas untuk mencoba menstabilkan trim stabilizer pada bagian ekor, tapi tuas itu seakan enggan bergerak dari yang diinginkan Cipto. Jantungnya berdegup.


Suara sensor berbunyi menandakan kegagalan sistem yang bekerja sebagaimana mestinya. Peringatan sirine semakin riuh mencekam kedua kapten itu. Tombol berwarna oranye sudah berubah menjadi merah. Cipto berusaha untuk tetap dapat mengendalikan diri namun gagal. Moncong pesawat mulai menukik ke arah bawah. Ini tidak baik. Suara deru angin yang menghantam badan kapal semakin keras.


"Capt, kita harus naik. Nose menghadap bawah," ujar Arashi yang membuka buku manual.


Cipto mematikan sistem otomatis kemudinya. Ia mulai mengangkat tuas agar moncong pesawat itu terangkat sebagai mana mestinya.


"Capt!" Arashi semakin bingung tak tahu mana yang harus ia lakukan. Antara memerhatikan tiap monitor, buku manual atau menginformasikan kapten di sebelahnya.


"Aku sedang berusaha!"


***


Lelap Rendi terusik ketika di sekelilingnya sudah mulai melantunkan ayat-ayat suci dan doa-doa khusus secara lantang. Pesawat bergetar hebat. Dari kepala mereka, muncul alat bantu pernapasan dan semuanya menggantung tergoyang mengikuti arah badan pesawat yang tak menentu.


Di serang kepanikan, Rendi pun ikut merapalkan doa-doa dari mulutnya. Ia melihat keluar jendela dan pemandangan di luar bukan yang sama sekali ia inginkan. Mereka tidak mengambang lurus di atas awan-awan. Mereka sedang menukik tajam ke arah bumi.


Sofia...


Astagfirullah, Sofia....


Anakku!


Dalam kalut Rendi melihat berkeliling. Semua orang sudah berteriak, menangis, berdoa tanpa henti. Ia menelan ludahnya. Apakah ini akhir? Dicengkeramnya kuat kursi hingga buku-buku tangannya memutih. Organ tubuhnya seakan naik ke kerongkongan. Ia kesulitan bernapas.


Tak ada suara yang terdengar dari awak kapal, hanya riuh penumpang yang semakin kencang ketika kecepatan pesawat meningkat mengikuti tarikan gravitasi. Mulutnya masih terus-menerus merapalkan ayat suci ketika suara keras dari arah kokpit menggema, gulungan oranye serta hitam api dan percikan air memukul jendelanya.


"Allahu Akbar!" pekiknya.


Maafkan aku, Tara.


***


Kembali lagi bersama HeadLine News pukul satu tiga puluh. Dengan Ayuna Prameswari. Pemirsa, Indonesia kembali berduka dari sektor Transportasi Udara. Armada Boeing 747 milik Whale Air terkonfirmasi mengalami kecelakaan saat melintasi Laut Jawa sekitar pukul dua belas lewat empat belas waktu setempat. Menara pengawas transportasi udara di Jakarta resmi mengumumkan telah kehilangan kontak dengan Penerbangan 174 yang bertolak dari Jakarta menuju Manado sejak pukul sebelas lewat lima puluh. Armada tersebut mengangkut delapan puluh delapan penumpang bersama dengan enam awak kapal yang bertugas. Tim Basarnas dan Komite Nasional K Transportasi saat ini sedang menuju lokasi perkiraan di mana bangkai kapal itu mendarat darurat untuk mencari black box yang merekam perjalanan Armada tersebut. Berikut nama-nama penumpang yang ada dalam daftar keberangkatan Whale Air siang ini.


Semua kepala yang sibuk menikmati Soto Kudus Pak De terangkat. Tak ada satu pun yang mengunyah makanannya. Setiap mata tertuju pada kotak cembung di atas etalase. Televisi yang dihiraukan oleh semua orang di bawah tenda kini disimak dengan khidmat.


Jantung Tara berdegup. Rendi sempat mengatakan ia akan pergi ke Manado dalam waktu dekat ini tanpa mengatakan tanggal pasti. Walau mereka sekarang hanya sebagai serpihan kenangan yang telah terjadi di masa lalu, Tara tak berharap nama laki-laki itu tersemat dalam layar cembung milik Pak De.


Selagi pembawa berita terus mendengungkan dugaan sementara bahwa penyebab jatuhnya pesawat itu karena trim stabilizer yang tidak bekerja, Tara terus membaca lima nama yang muncul secara bergantian. Napasnya tercekat. Tangannya langsung menggenggam lengan Vanka di sisinya.



Subrata (L/58)


Li Xue Cen (P/31)


Rendi Utama (L/28)


Hannah Martina (P/22)


Eko Pangestu (L/40)



Kemudian layar itu kembali berganti dengan nama lainnya yang masuk dalam list penumpang penerbangan tersebut. Kehidupan Tara seakan berhenti di sana. Barisan huruf yang tertinggal sebagai pengenal akan pria itu seakan menjadi mantra penghenti waktu. Ini jelas salah. Tara terus menyangkal fakta yang ia ketahui hingga Vanka berganti meremas tangannya. Rekan kerjanya itu pun sama kagetnya. Hingga berita tersebut selesai ditayangkan, tak ada satu pun dari mereka angkat suara.


Ponsel Tara menyala, sebuah panggilan masuk dengan nama Kiara tertera pada layar itu. Perlahan diambil telepon itu dan mengangkatnya.


"Tar, Rendi," suara Kiara kalut.


"Ya," jawabnya dengan suara parau.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Ditunggu likes, comment, kritik dan sarannya dear readers 🥰


NB: Pendapat salah satu Reader terhormat pada kolom komentar, maka dengan berat hati Author melepas salah satu tokoh ini 😌