
CI-LAN-DAK
cinta lama datang mendadak
hahahahaha 🤣
Tara membaca pesan singkat dari Kiara, yang dibalas dengan 3 huruf. fck.
Tara menggulir layar ponselnya dan membalas pesan-pesan baru sekenanya, dengan emot atau tertawa. Jam menunjukkan pukul 7:14 dengan langkah gontai dia masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi lalu turun ke dapur menyiapkan Sushinya. Bu Sekar sedang menggunting kembang segar dan menatanya di pot.
"Tumben, nduk, pagi gini udah melek," matanya mengikuti kemana anak perempuannya melangkah.
"Iya, mau bikin sushi," jawab Tara sambil menggelung rambutnya ke atas.
"Ih asik, pagi-pagi mama sarapan sushi." komentar Bu Sekar. "Mbok ya ngomong gitu biar mama tanakan nasinya tadi, kamu tinggal bikin topping aja."
"Santai, ma," Teriak Tara dari arah dapur. "Biar rasa gurihnya orisinil dari daki di tanganku."
"Kok ini anak jorok tenan toh," umpatnya.
Tara terkekeh, Ia mulai mencuci beras dan menanaknya. ditambahkan sedikit cuka, garam dan minyak wijen menambah aroma pada nasi Sushinya.
Sambil menunggu nasinya tanak dan dipindahkan ke dandang untuk mematangkan, Tara membersikan topping isian dan membawanya untuk disiangi sambil bercakap dengan mama. "Tara hari ini mau pergi ya, ma."
"Kemana, Nduk?" Bu Sekar memindahkan bunga mawar dan krisan bergantian.
"Kebon Teh," Tara mengiris seukuran korek timun segar yang ia kupas kulitnya.
"Oh, sama siapa tuh yang kamu ceritain, Rendra?" sejenak Bu Sekar menghentikan aktifitasnya.
"Genta, ma. Rendra mah anaknya Bu Singgih," Tara melalap sisa timun yang tak terpakai lalu lanjut mengiris crabstick.
"Yowes, jalannya hati-hati, yo. Pulang jam berapa? Jangan malem-malem lho, nduk," pesannya.
"Ya, enggaklah, aku juga pengen cepet-cepet rebahan, hihihihi," jawab Tara sambil memisahkan alpukat dari kulitnya.
Tara membawa semua bahan yang disiangi ke dapur dan mulai mengelolanya menjadi sushi. Setelah semuanya siap, ia menatanya apik dalam container, lalu sebagian ia tata dalam piring.
"Cobain, ma," Tara meletakkan piring beserta sepasang sumpit juga soy sauce di meja, lalu menyomotnya satu.
"Aw!"
Bu Sekar memukul punggung tangan Tara dengan sumpit, "ndak sopan, orang tua belom cobain."
Tara hanya terkekeh lalu memasukkan sushi itu kedalam mulutnya kemudian mendudukkan dirinya disebelah ibunya. Ia memastikan ini pas dengan lidahnya. Walau tak seenak yang ia beli di resto, tapi cukup bisa dikatakan itu sushi.
"Lumayan, nduk," ujar Bu Sekar setelah mencelupkan sedikit pada saus kedelai. "Tapi kurang opo, yo?"
"Kurang ada merk-nya, ma."
Lalu mereka berdua tertawa.
***
"Keberatan?" Tara mengeluarkan bungkus rokok dari tasnya. Genta sedikit terkejut namun hanya menggeleng.
"Kalo korekku hilang jadi bisa pinjam punya kamu kalo gini ceritanya," kekeh Genta.
"Pake, lah." Tara mengulurkan pemantik api ke tangan Genta.
"Aku harap kamu ga beranggapan konyol sama perempuan dan rokoknya," Tara menghembuskan asap putih perlahan.
"Sedikit, but well culture change day by day," sahut Genta. "Jujur, mantanku bukan perokok sih."
"Aku..." Tara mulai bernyanyi sebuah lagu yang dibawakan Ello, "gak kayak mantanmu... yang selalu bohongin kamu... tak peduli perasaanmu..."
"Bisa aja," Genta menyenggol lengan Tara. "Emang tau dari mana coba mantanku tukang bohong?"
"Loh aku cuma nyanyi, Gen," cengir Tara. "Tanyain Ello tuh yang tau-tau nyanyiin lagu itu dengan nyimpulin mantan tukang bohong."
Keduanya menghembuskan asap bersamaan.
"Tapi rata-rata mereka yang ber-mantanan pasti berawal dari bohong," simpul Tara. "Bukan begitu?" Tara melirik dan mencari persetujuan Genta yang hanya menyengir lalu menjentikkan rokoknya. Abu tembakau itu terbang bersama angin berhembus.
"Yah, kisah cinta memang seburuk itu. Tapi orang terus mencari dan tak pernah lelah untuk berharap barangkali tak jatuh di lubang yang sama."
Tara menepuk pundak pemuda itu, "udah yang lewat jangan disesali. Embraces all new journey with bigger possiblity ahead."
"Gaya, kamu," Genta meneguk sisa kola kaleng dan memasukkannya pada plastik sampah.
***
"Sering-sering mampir main, ya Genta," Bu Sekar ikut mengantarkan ketika Genta berpamitan pulang.
"Ih, kamu pikir Tante sudah uzur sampe ga ngenalin wajah orang," Bu Sekar memasang wajah jenaka. "Udah kamu anterin Genta ke depan, nduk. Hati-hati, di jalan. Makasih udah antar anakku."
"Mari, Tante," pamit Genta. Tara membuntuti sampai pintu gerbang.
"Terima kasih ajakannya," Tara tersenyum saat Genta menurunkan kaca mobilnya.
"Terima kasih juga kamu mau mendengarkan ceritaku, tentang... mantanku, hahhaha," Genta terbahak.
"Jujur, itu topik paling salah yang kau angkat di kencan pertamamu," ujar Tara sok serius.
"Maaf," sahutnya.
"Hahhahaha, santai aja. Semua orang butuh stress relief, mungkin kamu jadi sedikit lega."
"No, no. You help me more than what you think. Thankyou, Tara," Genta memandang kedua mata Tara.
"Anytime," balas Tara.
***
"Hai, Dave, hai.." Tara menempelkan ponselnya pada kuping. "Jelas kok suara kamu."
"Seharian kemana ga ada kabar?" suara Dave nyaris lebih halus dibandingkan suara Tara. Terkadang ia sendiri jadi minder dengan lawan bicaranya.
"Tadi keluar, ga sempat cek hp," resiko memakai aplikasi pencari jodoh itu tak disangka cukup memusingkan Tara. Mungkin ia harus mulai menentukan skala prioritas setelah ini. "How are you?"
Tara memasang TWS dan meninggalkan ponsel di meja samping tempat tidurnya. Lalu ia beranjak ke meja rias untuk membersihkan wajah.
"Good, but kinda miss you a little," ucapnya melalui TWS di telinga Tara.
Really? secepat ini sudah rindu? ga wajar. "Hahaha, thank you." Tara menyeka wajahnya dengan kapas.
"Apa yang kamu lakukan hari ini?"
"Mmm, cuma pergi ke kebun teh. City would always crowd, you knew. Kadang butuh lihat kehijauan dibandingkan selalu melihat tembok-tembok pencakar langit." cerita Tara.
"Kuharap hari ini menyenangkan."
"Ya, apa yang kau lakukan hari ini?"
"Went to gym... and checkin' on you," jawab Dave.
Ah, crap it's boring.
Disela ocehan Dave yang berulang-ulang mengatakan merindukan Tara, suara panggilan baru masuk berbunyi. Tara beranjak untuk memeriksa siapa yang meneleponnya.
"Umh, Dave, I have some urgent call in line. Can we talk tomorrow?"
"Baiklah, selamat tidur, Tara," Dave mematikan telepon sebelum Tara merespon.
So, weird.
"Thanks, God, you saved me," sembur Tara setelah menerima panggilan barunya.
"Kenapa?" Rendi balik bertanya.
"Ada anak sok bule nelpon aku," lapornya. "Dikira ga pusing responnya."
"Ya, respon pakai bahasa aja lah," kekeh Rendi diujung telpon. "Kamu sih direspon."
"Feeling got challenge, jadi hajar aja," Tara menggaruk kepalanya. "Ada apa telpon?"
"Mastiin aku kebagian sushi apa engga."
"Hahaha, ngaco. Basilah kalo masih ada," Tara memandang pantulan wajahnya di cermin, wajahnya bersemu. Ia menggeleng kuat-kuat untuk mengenyahkan pikirannya.
"Mama tau aku di Jakarta?"
"Gak, buat apa aku cerita ke mama kamu di Jakarta," jawab Tara yang akhirnya ia sesali.
"Oh, aku pikir..." Rendi melempar rokoknya yang belum sampai setengah ke tanah.
"Maksudku, aku belum sempat cerita," Tara mengklarifikasi.
"No, pro-" suara Rendi terputus.
"Halo, Ren, Ren," Tara beranjak memeriksa ponselnya yang ternyata kehabisan daya.
Lucu. Dulu ia akan mencari segala hal memastikan baterainya tetap penuh saat Rendi menelepon, ya itu dulu. Tara memasang penambah daya dan memutuskan untuk tidak menghubungi Rendi balik. Malam sudah terlalu larut untuk menghabiskan waktu mengobrol dalam situasi mereka saat ini.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Ditunggu likes, comment, kritik dan sarannya dear readers 🥰