Swipe You, Swipe Me

Swipe You, Swipe Me
Three and Ten of Swords




TAK!


Suara gelas keras menumbuk meja, semua orang di meja itu memandang ke arah asal suara. Rendi menggenggam gelas air mineralnya hingga buku-bukunya memutih. "Ada apa denganmu anak bandel?"


"Nope, I'm OK," jawab Rendi sambil melepaskan gelas di tangannya perlahan.


Ia melihat Tara berbisik pelan ke arah pemuda di sisinya, lalu ia seakan memberi petunjuk arah. Gadis itu permisi untuk meninggalkan meja ke toilet, Rendi terus memperhatikan gadis itu hingga menghilang dari pandangannya.


"Kau tak banyak bicara, huh?" tanya Aji Harada.


"Kami baru tiba dari Banyuwangi," jawab Sofia. "ada project mural untuk sebuah BNB di sana. Jadi mungkin Rendi hanya kelelahan."


"Ah, saya memang mendengar sekarang banyak BNB yang bekerja sama dengan Imagine," Genta mencondongkan badan tertarik mendengar lebih jauh.


Imagine bergerak dalam industri multimedia dan design interior. Beberapa perusahaan besar pernah memakai jasa untuk membuat iklan komersil juga jasa desain interior. Namun kebanyak hanya menerima untuk penginapan kecil seperti BNB dan Homestay. Karena untuk penginapan kecil tak ada ketentuan khusus untuk mempercantik tempatnya. Para designer atau pemilik tempat bebas berkreasi.


Rendi tahu, jika berurusan dengan promosi perusahaannya Sofia tak diragukan. Lalu semua mata tertuju padanya yang menerangkan berapa banyak BNB telah bergabung menjadi mitra Imagine. Kepala Rendi sedikit pening dan ia mohon diri pergi ke toilet.


Setelah menyeka wajahnya dan menjadi lebih segar, ia keluar dan mencari Tara dalam galeri. Namun sosok itu tak ada. Rendi memutuskan untuk keluar dari galeri itu. Tak jauh dari pilar besar, gadis bergaun putih itu berdiri, menikmati rokoknya sendirian.


Rendi mendekat sambil meminimalisir suara sepatunya, lalu ia bersandar pada sisi lain pilar itu dan ikut menyalakan rokoknya.


"Pantas aku tak mendapatkan jawaban apapun darimu," ujar Rendi sembari menghembuskan asap panjang dari mulutnya "Lalu kau malah menyingkir ke sini. Lama tak mengasap bersama."


Tara menoleh dan melihat Rendi di depannya, tak tahu kata yang bisa dikeluarkannya saat ini. Otaknya seakan membeku. Namun ia berusaha mengendalikan dirinya, "hanya butuh asupan tembakau untuk tubuhku."


"Bukankah tidak sopan meninggalkan meja untuk hal yang bisa kau lakukan setelah acara selesai?" Rendi menaikkan alisnya.


Yang sesungguhnya Tara lakukan adalah menghindari meja makan agar bisa keluar dari sumber kecemasannya, ia tak nyaman memandang betapa sempurnanya meja mereka. Atau ia merasa tidak nyaman melihat Rendi duduk diseberang ya bukan di sebelahnya. Tara pun tak mengerti. Namun, ia malah berakhir bersama sumber kecemasannya di sini.


"Lalu mengapa kau ikut meninggalkan meja padahal kau sedang dalam perbincangan seru dengan seniman itu?" Tara ganti bertanya pada Rendi. Menantang kedua mata itu seakan itu satu-satunya cara untuk melindungi dirinya entah dari apa.


Rendi memandang balik kedua mata yang menantangnya, ia harus menemukan sesuatu di sana. Menemukan Taranya yang biasa, Taranya yang dahulu. Nihil.


"Jangan membuatku bingung dengan tingkahmu, Tara," wajah Rendi mengeras.


***


Malam masih menyisakan bunyi rintik di luar jendela. Rendi terbangun karena haus. Kamar itu gelap, hanya sinar bulan dari luar yang menembus tirai tipis kamar itu menjadi sumber cahaya. Ia meneguk air yang sudah ia siapkan di atas nakas. Di sampingnya, Sofia tertidur lelap. Di tariknya selimut menutupi pundak wanita itu karena di dalam selimut tak satu helai benang pun tertinggal di tubuhnya.


Rendi mengambil ponselnya, iseng ia mengunduh Instagram. Sudah lama ia tak memakai platform tersebut untuk berinteraksi dengan sosial dunia maya. Ditunggunya beberapa saat hingga aplikasi tersebut terpasang, ia memasukkan ID dan Password yang masih ia ingat. Bentuk tatap mukanya sudah berubah jauh dari terakhir kali Rendi menggunakan. Lalu beberapa notifikasi masuk menyerbu ponselnya dari aplikasi tersebut.


Ia lantas membuka DM-nya yang masuk beberapa di antaranya kawan lamanya di Institut Seni, beberapa adalah tag update dari BNB yang telah bekerja sama dengannya namun sudah tak dapat ia lihat. Terakhir, DM dari Tara yang mencapai hampir 60 pesan.


Pesan menanyakan kabar, foto sebuah langit cerah, beberapa share meme lucu dan yang mengganggunya adalah saat pesan itu menuliskan betapa ia membutuhkannya. Rendi bangkit dari kasurnya dan membaca pesan itu berulang-ulang dari awal hingga akhir. Keterangan waktunya berawal sejak beberapa hari mereka putus dan berakhir tepat 14 minggu yang lalu.


Dirinya memang sudah menemui Tara setelah kepulangannya dari Surakarta dan menemukan sikap Tara yang menjaga jarak darinya. Mungkinkah pesan yang ditinggalkan ini bisa menjadi sebuah harapan awal baru? Tak sadar Rendi tersenyum memandang layar ponselnya.


***


"Aku tak membuatmu bingung," sanggah Tara. "Aku tak menjawab saat kau menawarkan untuk pergi ke pameran ini bukankah itu jawaban yang jelas. Aku tidak pergi bersamamu."


"Lalu," Rendi mengeluarkan ponselnya dan mengutak-atik sebentar, "apa maksud dari semua pesan DM-mu ini, Tara. Kupikir kau masih membutuhkanku!" Rendi memperlihatkan layar ponsel yang berisi puluhan pesan dari Tara.


Ia tahu saat mereka bersama, Rendi tak pernah memakai aplikasi tersebut walau ia memiliki sebuah akun di sana. Ya, dengan sadar Tara mengirimnya bahkan setengah sadar di bawah efek gelasan anggur juga ia mengirimkan pesan-pesan itu. Tara tak pernah berpikir jika suatu saat Rendi akan memakai kembali dan membaca pesan-pesannya.


Tara memandang layar ponsel yang ditunjukkan itu lalu beralih memandang Rendi. "Ya, aku mengirimkan pesan itu. Saat itu aku merindukan waktu yang kita habiskan bersama. Saat aku terbiasa mengirimimu pesan. Ya, aku membutuhkanmu... saat itu," jujur Tara.


"Lalu saat ini?" Rendi memandangnya.


Perempuan itu menunduk, lalu tiba-tiba mengangkat kepalanya, "HUACHIIIM!"


"Kamu tahu kamu alergi dingin, tapi lihat pakaianmu," Rendi berinisiatif membuka jasnya dan menyampirkan pada gadis itu. Namun Tara menolak dengan mundur beberapa langkah. "Apakah kau berpenampilan seperti ini karena pemuda itu?"


"Terima kasih, aku sudah cukup jauh bertahan tanpamu," Tara kembali bersin. "Memangnya kenapa jika aku sedikit berusaha untuk mendampinginya malam ini."


"Kamu," Rendi memandang wajahnya lalu menurunkan pandangannya. "Aku tak mau kau terlihat seksi di depan orang lain seperti ini."


"Bukankah tidak ada hakmu untuk mengatur caraku berpakaian?" tanya Tara menantangnya.


"Tara," panggil seseorang dari balik punggung Rendi. "Semua baik-baik saja?"


"Ya, aku baik-baik saja, huachim!!" sahut Tara menghampiri Genta di belakang Rendi. Pemuda itu membuka jasnya dan memakaikan pada tubuh gadis itu lalu merapatkannya. "Pakaianmu terlalu tipis kurasa."


"Aku ingin pulang saja, aku akan mengambil mantelku di dalam," ujar Tara.


"Tunggu di sini biar kuambilkan," Genta beranjak.


"Acara galerimu sudah selesai?" tanya Tara.


"Masih banyak yang lain yang bisa memback..."


Bug!


Rendi berjalan melewati mereka dan sengaja menyenggol bahu Genta. Ia berlalu tanpa menoleh ke belakang.


***


"Orang itu... sepertinya baik sekali dalam pemahamannya tentang seni," Genta memecahkan kesunyian di mobil itu sekaligus ingin mengorek sedikit informasi tentang pria bernama Rendi. "tapi aku tak pernah mendengar namanya."


"Dia Designer Multimedia, bukan seniman. Tapi dia memang menyukai seni," Tara menjelaskan tanpa sadar.


"Kau sepertinya telah mengenalnya," Genta melirik penumpangnya yang hanya memandang ke arah jalanan di luar jendela. Tak ada jawaban.


"Banyak yang tak kau tau tentang kami, Genta," Tara berbalik memandang Genta lalu kembali memperhatikan lampu yang bergerak melawan arah seiring laju mobil yang membawanya pulang. Ia merasa tak perlu menceritakan apapun pada Genta. Selain Rendi adalah masanya, Genta adalah potensi teman kencannya.


Genta meliriknya sekali-dua disela dirinya berkonsentrasi pada jalan. Perempuan itu terdiam dan sibuk dengan pikirannya. Perlahan digenggamnya tangan kecil itu namun Tara cepat menariknya, kaget.


"Maaf, aku pikir... ah sudahlah, aku tak sengaja," Genta menaruh kedua tangannya pada kemudi.


"Aku tidak bermaksud, aku hanya terkejut Genta," ujar Tara tapi tidak menunjukkan gesture welcome pada Genta.


Terkadang Genta merasa Tara memberikan sinyal lampu hijau pada hubungan ini, namun sedetik kemudian yang ditampilkan adalah lampu kuning. Gadis itu membuatnya ragu. Mereka terdiam di sisa perjalanan sampai ia menepikan mobilnya di depan rumah Tara.


Gadis itu tak bergerak untuk turun dari mobil ataupun ingin mengatakan sesuatu. Genta akhirnya menunggu saja, ia merasa suasana hati Tara berubah sejak mereka bertemu dengan Rendi dan Sofia di meja makan tadi.


"Dia adalah... mantanku, Genta," ucap Tara lirih. Gadis itu menoleh menatapnya, "Rendi itu mantanku."


Genta balas menatap kembali kedua bola mata itu, kedua bola mata yang memproyeksikan ia kuat walau ia rapuh. Kenyataan yang dibeberkan gadis itu bukanlah informasi ini yang ingin dia dengar, sungguh.


Genta tak menganggap Tara hanya untuk main-main. Kehadiran gadis itu sungguh mewarnai hidupnya akhir-akhir ini. Dengan berani walau takut akhirnya Genta mengutarakan pada Tara, "Perasaanmu belum selesai padanya?"


Lama Tara hanya memandang Genta, ia sempat berpikir apakah ia berubah menjadi patung.


"Ah, terimakasih sudah mengantarku," Tara mengerjap, satu bulir menggelinding dari ujung matanya. "Hati-hati di jalan."


"Tara," Genta menahannya, ia ingin mendengar jawaban itu. Ia perlu. Agar ia tahu memposisikan dirinya dalam hidup gadis ini.


"Genta," Tara hanya memandang genggaman tangannya. "Aku lelah."


Dengan enggan Genta melepaskan tangan gadis itu. Ia keluar dari mobil dan masuk kedalam rumahnya tanpa menoleh lagi.


***


Tara memejamkan matanya.


***Rendi menggenggam tangan perempuan itu di atas meja sambil tersenyum ke arahnya. Sofia tertawa lalu lanjut memotong sesuatu dalam piringnya.


Rendi mengelus pundak perempuan itu. Sofia dengan antusias berbicara pada Aji Harada dan Genta, lalu menepuk dada Rendi tertawa atas candanya.


Rendi tersenyum ke arah perempuan itu dalam dan Sofia menyeka sesuatu dari bibir laki-laki itu**.*


Tara tak bisa tidur, setiap ia pejamkan matanya, hanya kilasan tontonan drama meja makan yang muncul dalam benaknya. Ia memutuskan untuk turun ke dapur lalu mengambil botol anggur yang ia simpan di laci kulkas. Tanpa mengambil gelas ia menegak isinya.


"Nduk?" Bu Sekar merapatkan kimono tidurnya dan memandang Tara. "Are you Ok?"


Diletakkan botol anggur di tangannya, ia sudah berusaha menggapai dapur dengan tidak menimbulkan suara apapun. Tapi mamanya seakan memiliki pendengaran ultrasonik.


"Tidak," simpul Tara setelah menarik napas panjang. "aku tidak baik-baik saja,"


"Tidur sama mama, yuk," ajak Bu Sekar.


***


Sudah tiga tahun setelah peninggalan papanya, Pak Jendri, karena sakit termakan usia. Bu Sekar dan Pak Jendri memiliki beda usia yang jauh, 23 tahun. Maka, di lima tahun terakhir ini, Bu Sekar menghabiskan waktu bersama suaminya merawat saat sakit hingga meninggal. Tara hanya hidup berdua dengan mamanya, hanya itu yang ia miliki. Ia merindukan kakak-kakaknya, namun karena Tara dan kakaknya berbeda ibu, mereka tidak sedekat seperti kakak-beradik pada umumnya. Lagi pula, kedua kakak Tara masing-masing sudah berkeluarga.


Kakak perempuannya, Mey, tinggal di Salatiga, mengurus ibu mertuanya yang sudah renta. Kakak laki-laki Tara, Moran, pindah ke LA setelah kakak iparnya mengambil sumpah Advocat dan bekerja full-time di salah satu firma terkenal di LA sejak tahun lalu. Yang Tara miliki hanya mamanya.


Ia meringkuk di kasurnya, sisi kasur biasa ditiduri papanya. Lalu mendengar dengkuran halus mamanya. Ia berbalik dan memandang wanita pertengahan 50 itu namun masih terlihat cantik. Bukankah seorang anak akan selalu menganggap ibunya cantik sampai kapan pun waktu menuakan kulitnya?


"Mama udah tidur?"


"Hmm..." jawab Bu Sekar


"Mama kangen papa, gak?"


"Kangenlah," jawabnya masih memejamkan mata.


"Tara juga, andai papa masih di sini," Tara mendekap gulingnya.


"Yang ada kamu berantem terus sama papa tiap hari," jawab Bu Sekar dan Tara tertawa kecil. "Masalah skor bola kok diributin."


"Habisnya... papa nyebelin," Tara tersenyum mengingat kenangan itu.


Sebenarnya mereka tak sungguh bertengkar, hanya Pak Jendri lebih suka memilih sesuatu yang bertentangan dengan pilihan anak perempuannya dari pada sejalan. Hingga akhirnya mereka berbeda pendapat dan gadis itu manyun masuk ke kamar. Sementara pak Jendri tertawa ke arah Bu Sekar yang hanya menggeleng heran.


"Papamu tuh suka becanda sama kamu, karena kamu ngototan. Kamu pertahanin apa yang kamu yakini mau papa nyerang seperti apa juga," Bu Sekar akhirnya membuka matanya. Gemas anaknya malah bertanya saat ia nyaris terlelap.


"Tara rindu," katanya. "Rindu berantem sama papa."


"Terkadang kita baru menilai nilai seseorang saat kita kehilangan orang tersebut," ucapnya klise.


"Kalau mama kehilangan Tara, apakah mama akan sedih?"


Bu Sekar memukul lengan anak perempuannya, "Sudah malam, tidur kamu."


"Good night, mom," Tara mengecup pipi mamanya dan berbalik.


"Selamat tidur, anakku,"Bu Sekar ganti mengecup kepala anaknya.


Tiba-tiba, dada Tara sesak. Ia mendekap erat bantalnya dan menangis tanpa suara hingga akhirnya ia terlelap.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Ditunggu likes, comment, kritik dan sarannya dear readers 🥰