Swipe You, Swipe Me

Swipe You, Swipe Me
Knight of Wand and Ace of Sword




Sudah keempat kalinya dalam Minggu ini Sofia mendapat telepon dari salah satu bar tak jauh dari kantornya. Apalagi kalau bukan untuk menjemput Rendi yang mabuk berat dan membuat ulah di sana. Hari ini hal itu takkan terjadi. Setidaknya ia akan menyeret pria itu pulang namun masih bisa berdiri dengan kakinya.


"Ayo pulang," Sofia merebut gelas kaca di tangan Rendi namun gagal.


"Lepaskan!" Rendi menarik jauh tangannya hingga wanita itu tak dapat menggapai gelasnya. "Mau apa kau kesini?"


"Apalagi kalau bukan menjemputmu," Sofia terus mencoba mengambil gelas di tangan Rendi yang terus-menerus gagal karena tangan lelaki itu lebih panjang dari tangannya, bahkan untuk Rendi yang dalam posisi duduk. "Aku tidak mau kau mempermalukan dirimu di muka umum."


"Bukan urusanmu," gusar Rendi.


Lima hari lalu, Sofia harus mengganti rugi pada pihak bar itu karena Rendi terlibat perkelahian. Hanya karena seseorang tak sengaja menubruknya dan menumpahkan minuman ke bajunya. Emosi lelaki ini sedang tidak dapat dikendalikan, bahkan oleh dirinya sendiri.


"Bagaimana kalau aku mengatakan ini urusanku? Ayo cepat turunkan gelasmu dan kita pulang, sekarang," paksa Sofia.


"Menghilanglah kamu dari hadapanku, kau... bukan Tara Regita," bentak Rendi. "Kau tak perlu mengurusiku!"


"Ya, aku bukan Tara Regita. Aku Sofia Anastasya dan aku yang ada dihadapanmu," Sofia menarik tubuh Rendi hingga laki-laki itu menatapnya. " And I care about you. So, put your glass down, now," ucapnya lambat.


"Kau... menyebalkan," rutuk Rendi meneguk cairan terakhir di gelasnya, meninggalkan dua lembar seratus ribuan dan berjalan mengikuti Sofia.


Sofia membuka pintu mobil dan menunggu Rendi masuk ke dalam, "Apa jadinya kau tanpa aku sekarang?" Sofia memakaikan seatbelt saat Rendi telah duduk.


Rendi hanya mengerang tak jelas. Saat hendak keluar, Rendi menahan Sofia dan memegang kepala wanita itu dengan kedua tangannya. Dilumat habis bibir wanita itu tanpa Sofia melawan.


"Tetap saja kau bukan Tara Regita," ucapnya setelah melepas ciumannya dari bibir Sofia.


"Brengsek," umpat Sofia sambil membanting pintu penumpang lalu beranjak ke bagian pengemudi. Ia memakai seatbeltnya, memandang sekilas ke arah Rendi lalu menjalankan mobilnya.


Rendi masih menyebut nama Tara sepanjang jalan, Sofia kesal dibuatnya.


"Kalau bukan karena aku mencintaimu, aku akan tinggalkan kau tergeletak seperti pemulung dipinggir jalan," umpat Sofia.


"Tau apa kau tentang cinta? Yang kau inginkan hanya tubuhku, benarkan?"


Sofia memukul dada Rendi melampiaskan amarahnya.


"Berhenti memukulku," pinta Rendi tanpa melawan wanita di sebelahnya.


"Bisakah kau tutup matamu untuk Tara dan membukanya untukku?" teriaknya. Sofia menambah laju mobil hingga menyentuh pada angka 100km/jam.


"Kau seperti memintaku untuk mendonorkan jantungku padahal aku masih hidup," Rendi terkekeh.


"ARGH! BRENGSEK!"


***


Susah payah Sofia memapah pria itu ke apartemennya bahkan pria itu ambruk ke lantai saat mencapai pintu apartemennya. Sofia menariknya masuk ke dalam dan membiarkannya tergeletak di lantai. Ia kehilangan napasnya hanya untuk pria yang sama sekali tak mencintainya. Bahkan nyaris setiap saat ia kehilangan napasnya untuk orang ini.


"Ayo berdiri, kau itu... berat sekali," Sofia berusaha mengangkatnya agar berdiri.


"Leave me alone, Sofia," Rendi berusaha melepas tangan Sofia dari tubuhnya.


"Kau bisa sakit jika tidur di lantai seperti ini," ia terus memaksa Rendi untuk bangkit.


"Lepas! Aku bisa berdiri sendiri," dengan gontai Rendi berhasil mencapai tempat tidur.


Sofia menghampiri dan membetulkan posisi pria itu, diangkatnya kedua kaki dan dilepaskannya sepatu yang Rendi kenakan. Dilepaskannya jas pria itu dan membalikkan tubuhnya. Dilucuti ikat pinggangnya agar pria itu merasa lebih lega.


"Mau kau apakan aku?" tanya Rendi.


"Sudah kau diam saja," Tara mengambil handuk kecil yang sudah dibasahi dan menyeka wajah, tangan dan kaki pria itu.


Rendi menggenggam tangan Sofia, "Tara... kau..." Seakan tersadar dari mabuknya, Rendi menarik Sofia ke atas tempat tidur lalu menindih tubuhnya.


"Rendi!" Sofia mencoba menggeliat namun tubuhnya terkunci akibat Rendi telah duduk di atas perutnya.


Rendi memegang wajah perempuan itu dengan satu tangan, sedang tangan yang lainnya menyanggah tubuhnya. "Kenapa kau tidak bisa tersentuh seperti ini?!" Rendi menghujamkan ciumannya pada bibir Sofia.


Sofia mencoba menahan tubuh Rendi dengan kedua tangannya, namun kekuatan Rendi yang mabuk entah datang dari mana, tak dapat dilawan.


Dengan cepat Rendi melucuti pakaian Sofia lalu mulai mencumbuinya, "mengapa sulit sekali menyentuhmu seperti ini, Tara!"


"Kau gila, Rendi!"


"Diam kau perempuan!" hardiknya. Lalu melanjutkan apa yang ia


lakukan.


Sofia terdiam dan memandang Rendi ketakutan. Baru kali ini ia melihat Rendi begitu mengerikan. Pria dihadapannya membuka pakaiannya dan kembali menghujamkan ciuman ke tiap bagian tubuh Sofia yang terjangkau. Wanita itu nyaris menangis. Ini tak seperti Rendi yang ia kenal. Tidak seperti malam paling hangat yang pernah ia habiskan di Banyuwangi bersama Rendi.


Pergerakan Rendi semakin intens hingga tak ada apapun yang menutupi tubuh Sofia, "Mengapa kau tak pernah menjadi wanita semudah ini, Tara!?" erang Rendi.


Rendi merebahkan dirinya di tubuh Sofia, tubuhnya yang tegang perlahan mengendur lalu tertidur. Sofia berusaha keras mendorong tubuh berat itu dan melepaskan dirinya. Rendi terguling ke samping dan mulai mendengkur halus. Sofia bangkit dan berjalan menuju jendela kamarnya. Dipandangi jalanan yang mulai sepi dari hiruk pikuk kendaraan kota dari lantai 7 apartemennya, ia menangis.


***


Raaa, telepon gua kalo udah denger pesan suara gua.


Raaaaaa... masih hidup kan lu? Call me back.


Kiara masih mengirimkan beberapa pesan serupa dan Tara mendengarkan dalam diam.


Kamu baik-baik saja, Tara? Aku menjemputmu sore ini ya. Aku punya dua tiket menonton Girl on The Mirror.


Pesan dari Genta.


Itu hanya tiga dari tujuh belas pesan suara yang ia terima. Tara mengabaikan setiap pesan yang datang pada ponselnya dan hanya merespon semua pesan terkait pekerjaan penting. Selain itu, Tara menutup mata.


Kiara bahkan coba menemuinya di tempat kerja namun tak pernah berhasil menemuinya. Ia bahkan tak banyak bicara kepada Vanka dan lebih suka memakai headset sepanjang hari. Membawa bekal makan siangnya dan naik ke rooftop kantor saat makan siang. Tak ada gairah, hidupnya jauh lebih kosong dibandingkan setelah ia putus.


Membuka hati terhadap Rendi adalah keputusan yang tidak mungkin ia lakukan, jika kemungkinan itu diperlukan. Mengingat pria itu sudah bersama dengan yang lain; Sofia, rekan kerjanya yang ia kenal selama ini. Namum, bersama dengan teman kencan barunya hanya setengah hati ia menjalankan hubungan itu.


Ia tahu, ia tak bisa seperti ini saat hatinya masih belum seimbang. Bersama dengan orang lain namun sampah masa lalu masih memberatkan langkahnya. Ia akan menyakiti banyak orang terlebih dirinya sendiri.


"Rooftop, yuk cuy," Vanka menarik bangku Dimas yang sudah tak berpenghuni dan menempatkan di sebelah Tara.


Tara membuka headsetnya, "kenapa?"


"Rooftop," rengek Vanka sambil mengguncangkan lengan Tara.


"Gak bisa, Ka. Gua ga napsu."


"Ih, pasti gegara minggu lalu lu liat si Rendi ngamuk ya," Vanka menerka.


Mereka berdua duduk di lantai dua, outdoor bar. Lalu terdengar suara ribut-ribut perkelahian dari lantai satu. Banyak kerusakan yang dihasilkan bahkan korban luka kecuali pria yang tertidur di tengah lantai, tertawa. Pria itu Rendi. Tara terkejut, ia tak pernah melihat Rendi semabuk itu, bahkan dulu ia tak pernah menang dari Tara soal menegak alkohol. Ia terlihat kacau.


Hingga Sofia datang menyelamatkan pria itu sebagai jaminan. Polisi sempat datang namun setelah berbicara dengan pemilik bar mereka pergi tak lama setelah itu. Vanka menjamin, Rendi sedang terguncang.


"Ok, baiklah. Cepat kembalikan Taraku ya, hei kau yang sedang menguasainya," Vanka memandang dari dekat dan melambai ke mata Tara seakan mengucapkan salam untuk sesuatu yang ada di dalam Tara. Vanka mengecup pipi Tara dan beranjak pergi.


Langit telah menggelap, saat Tara keluar dari kantor. Ia melangkahkan kakinya, rasanya melahap croissant gurih yang hangat dengan secangkir NiKopSu terasa nikmat. Tak disadarinya ada sepasang langkah kaki yang mengikuti di belakangnya hingga ia sampai pada kedai kopi.


"Selamat datang," Adam berseru dari balik mesin pembuat kopi. "Eh, mbak Tara dan Mas Rendi dateng barengan, it's been awhile."


Tara berputar dan mendapati Rendi tak jauh dari tempat ia berdiri. Memandangnya kemudian tersenyum ke arah Adam. "Mumpung lagi mudik," candanya.


Tara terkejut.


"Kita harus bicara, Tara," bisik Rendi.


"Ayo, kita pesan dulu." Rendi melangkah ke counter dan mulai memesan. NiKopSu dan Croissant untuk Tara, Si Item dan sandwich tuna untuknya. Tara menghembuskan napas dan tak punya pilihan lain selain melayani apa yang diinginkan laki-laki ini.


Setelah semua pesanan terpenuhi, ia membuntuti Rendi yang membawa nampan ke meja favorit mereka. Disusun makanan dari atas nampan ke meja sesuai dengan pemesan. Lama mereka menikmati makanan masing-masing walau rasa makan yg diidamkannya jadi terasa tak semenggiurkan di otaknya.


"Aku lapar, sepertinya tadi pagi aku lupa apa yang kumakan," Rendi mengunyah sendwichnya dengan khidmat. "Atau tak ada yang kumakan, entahlah."


"Kau kenapa?"


"Apanya?" mulutnya masih penuh dengan sandwich.


"Kau sudah tau tak jago minum malah bikin rusuh tempat orang mencari nafkah," Tara bersandar lalu meminum NiKopSunya.


"Siapa bilang aku tak jago minum?" Rendi sedikit excited karena Tara mengetahui kehebohan yang ditimbulkannya minggu lalu.


"Kau tak pernah tahan lebih dari satu gelas, Ren," Tara menatapnya lurus.


"Siapa yang akan mengantarmu pulang jika aku pun ikut mabuk bersamamu?" sebelah alis Rendi terangkat.


"Dan aku tak pernah jatuh pingsan karena mabuk," Tara mengingatkan.


Ya, Rendi memang salut dengan Tara karena seberapa banyak gelas yang diteguknya tak memiliki efek apapun pada gadis itu.


"Aku sengaja mengalah di depan gadisku," godanya. Ia menyangga kepalanya dengan sebelah tangan lalu memandang Tara.


Tara menoleh ke arah jalanan, membuat matanya sibuk dengan para pejalan kaki yang lalu lalang. Agar ia teralihkan dari pandangan Rendi yang masih mengarah padanya.


"Jangan lakukan itu lagi, kasihan pemilik usahanya," saran Tara.


"Kau berusaha mengaturku disaat kau tidak menerima ku komentari mengenai pakaianmu?" Rendi menaikkan alis.


Tara memandang Rendi ingin membela diri, ini saat yang mereka sukai. Berdebat tentang hal remeh temeh hanya karena mereka ngotot tentang hal yang berbeda. Tara mengurungkan niatnya, "terserah padamu."


"Ngambek?"


"Tidak," jawabnya cepat.


"Ya, ngambek."


"Tidak, Rendi."


"Kau mengatakan tidak tapi setiap kali kau ngambek memang seperti ini, Tara," Rendi tersenyum. Ia melihat lawan bicaranya tidak nyaman, lalu ia buru-buru mengalihkannya dengan pembicaraan lain. "Kenapa kau tau aku berbuat rusuh?"


"Aku ada di sana bersama Vanka saat itu terjadi," jawabnya sambil memotong croissant.


"Ah, begitu," jawabnya tak acuh. "Kau yakin bersama Vanka bukan dengan lelaki galeri itu?"


"Terserah apa katamu," ujarnya.


"Baiklah, aku percaya," ia tak ingin memperpanjang perdebatan.


"Yang kamu lakukan tak masuk akal, Ren," Tara memandanginya. Ada raut kesedihan dalam matanya dan itu mengganggunya.


"Tak pernah ada yang masuk akal di bawah pengaruh alkohol," Rendi menyeruput gelasnya khidmat. "Tak pernah. Termasuk DM-mu itu."


"Inikah yang ingin kau bahas?"


"Ya," Rendi memutar gelasnya.


"Seperti yang kukatakan terakhir di galeri, aku merindukanmu. Sangat. Dan berhenti di situ," Tara melipat kedua tangannya di dada. "Lagipula, tiga bulan terakhir ini, segala hal telah berubah. Bukan begitu?"


"Tergantung dari mana kau melihatnya," jawab Rendi.


Tara menarik napas dan memutuskan untuk jujur, "Perasaanku telah berubah kepadamu."


"Karena laki-laki itu?"


"Jangan membawa Genta dalam masalah kita. Lagipula dia tidak ada hubungannya denganmu," sergah Tara. "Aku semakin mengerti posisi kita setelah kita berpisah. Seberapa jauh pun kita ingin bersama, kiblat kita mustahil menyatukannya."


Rendi tertegun. Perbedaan mencolok diantara mereka kemudian tampil ke permukaan.


"Aku bertanya kepada Tuhanku, apakah akan masih bisa memilikimu di hidupku? Tapi semua jawaban mengarah kepada kata tidak. Seberapa pun besar nego yang kutawarkan padaNya."


"Tara," kedua tangannya mengepal di bawah meja.


"Semua yang kulalui bersama siapa pun tak bisa menghapusmu, Ren, dan itu terlalu berat," Tara mengepalkan tangannya menahan emosi yang ia rasakan. "Mereka semua kubandingkan denganmu dan tak ada yang lulus. Sekarang, aku hanya ingin hidup tenang dan kau menjadi bayang-bayang yang terlalu pekat untukku."


"Lalu tak kah kau coba mengerti apa yang aku rasakan?" kejar Rendi.


Tara diam.


"Aku punya perasaan, Tar. Tak semudah itu menghapus seluruh kenangan kita seperti menjentikkan jari. Bukan hanya dirimu yang sakit."


Tara tak pernah berpikir bahwa Rendi pun seberat itu melepasnya. Rendi bahkan tak pernah mencoba menjangkaunya ataupun menahannya untuk pergi. Bukankah semua kata-kata barusan seakan terpatahkan dengan usaha yang tak pernah ditunjukkannya?


"Kulakukan segala yang kau pinta, meski saat itu kau memintaku untuk melepasmu," Rendi menopang kepalanya dengan tangannya.


"Jika kau bertanya-tanya mengapa aku tidak mencarimu, Karena kupikir kau sudah tak ingin bersamaku. Paham?" Rendi menatap gadis ini tajam. Ia mencoba membaca apa yang dipikirkan Tara lewat raut wajahnya.


Tara berusaha keras menahan air matanya. Lalu bayangan Sofia muncul dalam benaknya. "Dan kau saat ini sudah bersama Sofia, aku bisa apa?"


"Sofia, dia..."


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Ditunggu likes, comment, kritik dan sarannya dear readers 🥰