Swipe You, Swipe Me

Swipe You, Swipe Me
Knight of Cups and King of Swords in Reverse



"Mbak, boleh pinjam pemantiknya?" seseorang menegur Tara yang asik dengan lintingan putih pabrik di bibirnya.


"Monggo, mas..." ia mengulurkan pemantiknya dan menemukan Genta di sana. Matanya melebar, "Genta!"


"Senang melihatku?" Genta tersenyum lebar. Jantungnya berdegup lebih kencang dari sebelumnya saat melihat Tara dari kejauhan.


"Bagaimana kau tau aku di sini?" tanya Tara heran. Selain Kiara, tak ada yang tahu ini tempatnya untuk melarikan diri.


"Aku mencium aroma-mu," Genta mengendus udara dan berhenti tak jauh dari wajah Tara. "Lalu aku sampai di sini," Tatapannya dalam dan tenang.


Tara mendorong wajah Genta sambil tertawa. "Kau bukan Ndud atau Tipsy."


"Kalau dikaitkan dengan kesetiaannya, aku berserah disamakan dengan mereka," Genta meyakini.


"You don't even have tail," Tara mendengus dan tersenyum. "Selamat datang di tempat persembunyianku." Ia merentangkan kedua tangannya.


"Tempat ini bagus juga untuk persembunyianku," kata Genta sambil menimbang.


Genta mengedarkan pandangannya sambil menilai tepian danau buatan itu. Tempat ini tenang, dengan pepohonan rimbun membingkai danau ini. Suara burung-burung menambah kesyahduan tempat itu.


"May, I?" ia meminta saran pada wanita di sisinya yang barusan menghembuskan asap putih nan panjang.


"Tidak masalah, ini tempat umum." sahut Tara.


"Kau ada acara hari ini?" Genta berkacak pinggang.


"Aku satu-satunya manusia yang tidak punya agenda hingga tahun baru lewat 5 hari," sarkas Tara.


"Semua hari sama saja untukku, Tara," Genta menyanggah tubuhnya dengan kedua tangan. "Bagaimana kalau kita ke pusat perbelanjaan?"


"Ah basi," sahut Tara cepat.


"Menonton?"


"Lebih baik aku nyalakan Netflix di rumah," Tara kembali menghirup rokoknya.


"Ah, kalau..."


***


"Tidak akan aku naik itu lagi," Genta membungkuk dan memegangi lututnya yang lemas.


Genta mengajak gadis itu pergi ke taman hiburan. Setelah memasukinya, wahana pertama yang dipilih adalah perahu ayun. Selama ini ia menghindari wahana tersebut. Tapi ia tak punya pilihan lain, karena wahana itu yang pertama kali dilihat saat masuk ke area taman.


Tara menepuk punggungnya pelan, "Yah, pertama aku naik juga tak beda denganmu, aku malah langsung muntah."


"Aku selalu menghindari wahana ini," tunjuknya pada kapal besar yang sudah mulai mengayun kembali.


"Tadi siapa yang bersemangat ya waktu mengantre?" bibir Tara mengerucut.


"Aku kan ingin terlihat berani di depanmu," Genta meluruskan tubuhnya dan memegangi dadanya.


"Kau selalu sejujur itu," Tawa Tara berderai.


"Sekarang giliranku menentukan wahana ya," Tara bertepuk kegirangan. Genta hanya mengangguk sembari menyesuaikan ritme jantungnya yang tak keruan. "Ayo kita melawan Tornado." Tara menarik tangan Genta.


"Ya, Tuhan," ucap Genta lirih.


Sepanjang menuju tempat wahana tersebut, Genta hanya memandangi tangan perempuan itu yang menggenggam tangannya. Ada perasaan tak terkatakan yang ia rasakan.


Selama ini, tak pernah Tara benar-benar menyentuhnya. Selama ini wanita itu jelas-jelas menghindari sentuhan fisik. Selama ini, Genta merasa dia tak benar-benar diperhitungkan. Apakah ia boleh berharap lebih sekarang?


Ia balas menggenggam erat tangan Tara dan gadis itu menoleh. Genta telah mengantisipasi kalau-kalau gadis itu menarik tangannya. Namun yang diterimanya adalah sebuah senyuman dan Tara kembali berpaling.


"Untunglah hari ini tidak terlalu padat pengunjung. Biasanya kita kehabisan waktu karena terlalu lama menunggu giliran, bukan?" Tara memandangi antrean yang mengulat. Kalau panjang kita pasti sebut mengular.


"Mungkin hari ini diberikan khusus untuk membuatmu senang," Genta mengacak rambut gadis itu pelan.


Reaksi tipis gadis itu terlihat seperti dulu, defensif. Sedetik kemudian, ia kembali tersenyum membuat Genta menurunkan tangan dan membelai rambutnya.


"Katakan padaku."


"Tentang?" Tara menaikkan kedua alisnya.


"Mengapa rasanya jarak di antara kita masih belum berkurang?" ujar Genta polos.


Gadis itu tersenyum, "butuh kesabaran yang ekstra untuk menungguku membuka hati, Genta. Itu saja."


"Bukan karena mantanmu, kan?" Genta sudah ingin menanyakan tentang ini sejak lama. Dia tidak tahu, apakah ini waktu yang tepat baginya untuk bertanya. Tapi sekarang atau nanti akan sama saja hasilnya?


"Rendi?" matanya membesar saat menyebut nama itu. "Entahlah. Perasaanku padanya sekarang, aku pun tak tahu."


Ia berhenti sejenak dan Genta masih menunggu gadis itu yang terasa masih ingin menambahkan kalimatnya. Sampai di wahana gadis itu ternyata tak mengatakan apapun.


Setelah semua perangkat keamanan terpasang, operator mesin mulai memberitahu bahwa permainan akan di mulai. Semua orang yang menaiki wahana tersebut berteriak senang. Tara mengulurkan tangannya pada Genta.


"Pegang tanganku, agar kau tidak takut," katanya. Angin berhembus pelan menerbangkan rambutnya.


"Tidak kok," kilah Genta. Mesin bergerak memberikan ancang-ancang. Secepat kilat Genta menyambar tangan Tara. Bukannya takut ia hanya kaget.


Perlahan benda raksasa itu mengayun. "Aku tidak membencinya."


"Hah?" Genta bingung tapi secepat kilat ia tahu Tara sedang membicarakan siapa.


Wahana itu mulai membuat mereka menantang langit dan terangkat dari bumi tinggi-tinggi, "tapi perasaanku sudah memudar," Tara mengeratkan pegangan mereka.


Seakan tak punya beban, wahana itu jatuh mengikuti gravitasi bumi, "tapi rasa sakit itu masih tertinggal." Teriak Tara hingga wahana menggantung kaki mereka hanya 10 senti dari daratan dan melambungkan mereka kembali menantang angkasa.


Teriakan pengguna wahana membahana sehingga Genta harus memusatkan pendengarannya dan mengabaikan rasa isi perutnya yang teraduk naik-turun. "Menghilangkan kebiasaan yang ada, sangat menyulitkan." ujar Tara lantang.


Permainan terus mengontang-anting dan memutar semua orang di angkasa. "Suaranya, cara mendengusnya, tawanya, candanya, seperti dokumen permanen yang tidak dapat dimusnahkan bahkan dengan api!!!"


Wahana berhenti dengan menggantung terbalik semua penaik wahana, "Kalau aku memiliki kuasa, aku hanya ingin segera sembuh. Sembuh sampai melihatnya atau memikirkannya seperti bertemu orang yang berpapasan di dalam komuter."


Wahana itu kembali mengikuti arus gravitasi, berputar, mengayun tanpa henti.


"Aaaaaaaa!!!" teriak Tara berseru dengan semua orang di wahana itu. Genta, entah mendapat kekuatan dari mana hanya memandangi Tara di sebelahnya, hanya merasakan dirinya terpontang-panting dan kehilangan rasa takut akan wahana itu.


Wahana itu kembali menghujam bumi dan permainan selesai. Semua alat perlindungan diri serentak terbuka, Genta dan Tara masih berpegangan tangan hingga akhirnya Genta berdiri lalu menarik Tara langsung ke dalam pelukannya.


Dipandanginya kedua mata perempuan itu, "Kita adalah dua orang memiliki rasa cinta besar untuk orang yang tidak tepat, Tara,"


Genta sadar setiap kata yang diucapkan Tara juga adalah lukanya yang belum seutuhnya kering dan sembuh. Bercak dan bekas lebam masih bisa ditemui di sudut-sudut hatinya. Tara menyadarkannya tentang hal itu.


***


Kedua mata wanita itu bengkak, sedangkan kedua mata pria itu menghitam akibat malam-malam panjang yang tak mampu membuatnya terlelap. Setelah sekian tahun mengenal Sofia, baru dua hari ini Rendi sungguh-sungguh memasukkan dalam pikirannya yang berkecamuk.


"Umh, Sofia..." Rendi memandangi hal-hal lain yang bisa dipandang matanya kecuali kedua mata wanita itu.


"Katakanlah, Rendi," ia tahu pria itu belum menyiapkan mentalnya untuk berbicara hingga mereka duduk berhadapan seperti ini di restoran cepat saji dekat kantornya.


"Kau meninggalkan ini," Rendi mendorong kotak pipih itu ke tengah meja. Sofia bahkan tak berpikir untuk memiliki benda itu lagi selagi tanda kehidupan terus berkembang di dalam rahimnya.


"Kau bisa menyimpannya sebagai souvenir," ucapnya sarkas.


Rendi memandang kedua mata itu akhirnya. Sebagian dirinya tak terima ini hanya sekedar souvenir. Ini bukti tentang janin di tubuh wanita itu, mengalir darahnya juga.


"Aku mengerti kau ingin memilikinya-"


"Namun kau tak menginginkannya bukan? Kau tak ingin membuatnya menjadi pengikat antara kita berdua. Apakah aku benar?" kejar Sofia.


Rendi bungkam. Tak ada sanggahan yang bisa ia berikan.


"Kenapa cinta itu menyakitkan, Rendi? Aku mencintaimu, aku bahkan merelakan segalanya. Kupikir, jika aku seperti itu, aku dapat membuatmu tetap di sisiku. Aku keliru, cinta membuatku tersesat menuju obsesi yang buta," keluhnya. Kedua tangannya bertumpu pada meja dan ia menutup wajahnya.


"Aku siap bertanggungjawab, menyiapkan biaya persalinan, juga biaya sekolah. Aku," Rendi memuntahkan seluruh opsi yang bisa ia tawarkan.


"Ya, kau akan membiarkan aku hanya berdua dengan anak ini, bukan?" Sela sofia. "Kau mengatakan semuanya seperti pengamat dari luar lingkaran kami Rendi. Bisakah kau menyesuaikan posisimu dalam lingkaran ini?"


Rendi meremas kedua tangannya, ia tak suka berada dalam kondisi terpojok seperti ini.


"Kami membutuhkanmu, bukan hanya materi," ujar Sofia sedikit memohon.


"Aku," Rendi menunduk. "Aku tidak bisa, Sofia. Aku minta maaf."


"Ya, Tuhan. Cinta sudah membodohiku," Sofia menangis.


Hati Rendi pilu namun ia tak bisa menjanjikan masa depan bersama wanita itu. Ia tidak ingin menjalani sesuatu dengan setengah hati dan lihatlah hasilnya. Ia menyakiti Sofia, rekan kerjanya.


"Aku tetap bertanggungjawab," ujarnya. "Semampuku."


"Semampuku? Apa yang memberatkanmu? Tara lagi? Bagaiamana jika kukatakan Tara orang pertama yang tahu tentang 'souvenir'mu ini?" isak tangis Sofia berubah menjadi tawa tak terkontrol.


Mata Rendi melebar kaget. Tara tahu?


***


Tara mencoba sekuat tenaga berpegangan pada wahana Crazy Hat namun ia tetap tidak dapat tetap diam di tempat duduk. Wahana membuat dirinya selalu tergelincir dan mepet ke arah Genta di ujung bangku mereka.


Keduanya berteriak seru setiap kali topi gila itu melaju kencang dalam kemiringan lima puluh derajat menuju bumi lalu dengan keras membumbung kembali ke atas. Gerakan berulang ini sungguh membuat tangan Tara lemas sesungguhnya. Ia hanya bisa menutup matanya sambil berteriak-teriak.


"Tidak mungkin kau dikalahkan wahana seperti ini, Tara," teriak Genta.


"Aku bahkan takut meluncur pada turunan memakai kendaraan yang dipacu cepat, aaaaaahh!!!"


"Tidak masalah, hyaaaa.... aahhhh!!!"


Genta memegangi tangan Tara agar lebih kuat memegangi wahana tersebut dan dunia Tara sekejab berhenti. Ia memandangi Genta yang memandanginya juga.


Angin membuat kedua rambut mereka menjadi tak beraturan. Tara melihat wajah Genta saat rambutnya tak menutupi matanya, sekejab wajah Genta terhalang oleh helaian rambutnya. Kemudian hanya batang lehernya di hadapan Tara dan ia merasakan kecupan di keningnya. Jantungnya berdebar, tercampur aduk dengan adrenalin karena wahana yang mereka naiki juga.


Langit malam telah bertaburan dengan berlian yang berserakan tak beraturan namun apik. Dengan genit rembulan mengintip dibalik awan-awan seakan mengawasi semua keadaan di bumi bawah. Kala itu, hanya langit, bumi dan semesta yang tahu siapa yang telah menerjunkan hatinya dalam kolam tenang berarus kuat bernama cinta.


***


"Hari yang menyenangkan," Tara berbalik melihat Genta yang turun dari mobil mengantarnya hingga depan pintu gerbang. "Terima kasih, Genta."


"Aku yang berterima kasih kau mau kuajak pergi. Walau kubertanya-tanya kau tak bekerja di tengah Minggu seperti ini?" ujarnya heran.


"Ah," kemungkinan Genta tak tahu, ucapnya dalam hati. "Yah, sebenarnya aku kurang enak badan maka aku mengambil cutiku. Kau sendiri tak bekerja kan hari ini."


"Aku merindukanmu, eh maksudku aku memang membolos. Galeri sedang sepi, hanya bagian administrasi yang masuk. Aku mencari kesibukan di luar," Genta menggaruk kepalanya keki. Terkadang ia merutuki mulutnya yang tak dapat menyaring apapun yang ada di kepalanya untuk diucapkan.


"Apapun alasanmu, terimakasih telah membuat hariku menyenangkan," cengir Tara. Namun mata itu kembali tak tersenyum seperti bibirnya.


"Apapun itu, katakan saja padaku," Genta merasakan kesedihan dalam mata gadis itu.


"Selamat malam, Genta," Tara menutup pintu gerbangnya namun tak beranjak masuk ke dalam rumah.


"Malam Tara, salam buat mama," ucapnya masih menatap Tara.


"Pulanglah," kata Tara halus.


"Istirahatkan tubuh dan jiwamu malam ini," ucap Genta sebelum berbalik dan masuk ke dalam mobilnya.


Sesaat kemudian mobil itu telah meninggalkan rumah Tara. Ia baru masuk ke bagian teras rumahnya ketika ponselnya menerima sebuah pesan baru.


Ada yang ingin kubicarakan padamu.


Minggu ini di taman fountain.


Aku tunggu kamu jam tiga sore, Tara.


Rendi adalah nama pengirim pesan itu, kepalanya langsung disusupi sejuta pertanyaan menggantung. Hanya Rendi yang bisa membuatnya sedemikian gelisah hanya dengan sebuah pesan.


Dipejamkan mata dan dihembuskan napasnya sekuat tenaga, Rendi bukan sesuatu yang mengancam ketentraman hatinya. Berkali-kali ia ucapkan dalam hati bagai mantra.


Aku juga ingin bicara padamu.


Balasnya.


***


Langit malam pekat mengaburkannya dari pengintaian. Dari bayang-bayang sebuah tembok ia merapatkan tubuhnya agar menyatu dengan bangunan di sekitarnya tanpa seorang pun mengira seseorang di situ. Ia melihat gadis itu turun dari sebuah mobil yang berhenti sebentar. Berbincang lalu mobil itu pergi. Diketikan nomor plat mobil itu dan mengirimkannya.


Gadis itu, terhenti dan mengetikkan sesuatu pada ponselnya sebelum memasuki rumah. Gadis itu tetap terlihat menggiurkan dan ia bahkan tak bisa menahan dirinya untuk tak menelan ludahnya sendiri. Seringai terbit di ujung bibirnya.


"Satu akan tumbang," ujarnya tidak pada siapapun.


***


Genta menyalakan musik pada radio mobilnya, lagu berkumandang dan jemarinya mengetuk seru pada roda kemudi. Senyumnya mengembang dan tak sedikit pun berubah sejak ia meninggalkan gerbang rumah gadis itu.


Hari ini jantungnya beberapa kali berhenti berdetak dan berdegup tak normal tetapi ia menyukai sensasi itu pada tubuhnya. Tara yang harus disalahkan atas 'kelainan jantungnya' malam ini.


Ia melirik kaca spion depan dan samping. Jalanan lancar dan sepi, tak ada yang menghalangi seperti kemacetan biasanya karena ia memilih jalan alternatif bukan jalanan utama. Sepertinya semesta pun menginginkan ia cepat sampai rumah, berbaring di kasurnya dan mengulang kembali hari ini dalam mimpi indah.


Genta membelokkan roda kemudinya, lima ratus meter lagi ia sampai di rumah. Kembali diliriknya kaca spion dan tersadar bahwa dua mobil hitam di belakangnya selalu tak jauh dari kendaraannya. Perasaannya tidak enak. Mobil di belakang mulai menambah kecepatan. Genta memutuskan untuk menancap gas pula, memberi jarak. Dia putuskan untuk melewatkan belokan ke rumahnya dan kembali mencari jalan raya. Siapa mereka?


Genta memasuki kendaraannya ke arah gang yang hanya muat satu mobil. Agar kedua mobil itu tidak dapat mengapitnya. Ia berkonsentrasi. Gang tersebut berkelok, terkadang pejalan kaki menghambat jalannya. Namun, ia tetap mengatur jarak antara mobilnya dengan kedua mobil. Beberapa ratus meter, jalanan raya mulai terlihat. Ia tancap gas.


Beruntung, ia berhasil menyelip ke antrian kendaraan yang melintas. Kembali dilirik kaca spionnya. Mereka masih terus mengejar. Kemampuan pembawa mobil yang membuntutinya di atas rata-rata. Kedua mobil itu mampu menyelip hingga jarak mereka hanya satu mobil sedan kecil. Genta menelan air liurnya. Keringat mulai mengucur dari dahinya.


Jalanan itu padat namun lancar. Genta menyelip sana-sini tiap ada celah yang terpampang di depannya. Kedua mobil itu terus membuntuti gerak mobil Genta. Jauh di depan, lampu merah masih menyala. Ia berharap lampu itu segera hijau agar ia tak harus berhenti. Genta takut, lampu lalu lintas menjadi kesempatan isi dari mobil di belakang untuk menjegalnya.


"Ayolah, hijau, hijau, hijau," ucapnya sambil mencengkram roda kemudi.


Jaraknya dengan mobil di depan yang berhenti hanya seratus meter. Kedua mobil yang membuntuti menambah kecepatan mereka. Lima puluh meter, lampu lalu lintas tetap merah. Tiga puluh meter, Genta tetap memantau spion. Sepuluh meter.... Lima meter....


Lampu berubah hijau. Dengan napsu, Genta menekan klakson agar mobil di depannya cepat bergerak. Ah, celah! Genta membanting stir ke arah kanan, melewat mobil Agya merah dan menekan gasnya hingga mentok. Dilewati mobil-mobil yang menekan klakson kesal akibat manuvernya.


Sungguh, ia tak tahu harus melarikan diri ke mana. Jalan raya ini hanya akan membawanya memutari kota sedangkan dua mobil itu tak menyerah mengejar. Dilirik persediaan bensinnya, lima belas menit waktu paling lama sebelum mobil itu enggan bergerak. Dan laju mobilnya saat ini malah akan menghabiskan bahan bakar itu lebih cepat.


Belokan di depan mengarahkannya pada Kampung Cina Kecil. Lampion-lampion masih berpendar. Berarti di sana masih ramai. Ia bahkan belum pernah bertandang ke daerah itu, tapi ia berharap menemukan sebuah tempat persembunyian. Disamarkan mobilnya dengan rombongan mobil berwana gelap lain di depan. Ia lirik kembali kaca spionnya sebelum berbelok.


Banyak penjual makanan dan kios-kios pedagang yang belum tutup. Untunglah, keramaian tempat itu masih bisa membuat ia melaju cepat walau banyak sungut pejalan kaki memakinya. Dimana, dimana tempat yang pas? Genta menoleh kanan-kiri dengan terus berkonsentrasi dengan kendaraannya.


Ia berhenti di depan toko jam. Secepat kilat ia keluar dan meninggalkan mobilnya. Kedua mobil yang mengejar terhambat oleh pejalan kaki yang lalu lalang menyebrangi sisi jalan satu ke sisi lainnya. Ia memanfaatkan kesempatan ini.


Genta menyusuri emperan toko dan berlari. Satu dua kali ia menubruk orang yang berlalu-lalang. Sesekali ia melirik ke belakang dan rupanya mereka tetap mengejar dengan kaki. Astaga, ia memang suka menonton film aksi, tapi mengalami yang ada dalam film bukan ekspektasinya.


Genta menyebrang dan terus berlari. Ia membelok di lorong gelap dan menyembunyikan dirinya di balik tembok. Sepuluh detik kemudian, orang-orang yang mengejarnya melewati lorong, tak menyadari Genta yang bersembunyi dalam bayangan gelap.


Saat memastikan tak ada yang berlari lagi, Genta menjulurkan kepalanya dan mengintip. Segerombol orang itu terus berlari ke arah depan. Genta mengambil arah pertama ia datang dengan berjalan cepat.


"Ayo cepat kita ke kembali!" salah satu orang dari gerombolan itu berteriak bahkan masih bisa di dengar Genta dari tempatnya berada. Genta merapat ke tempat penjual daster, menyatukan diri dengan pembeli lain yang rata-rata adalah ibu-ibu.


"Terus cari!!!" perintah salah seorang yang berjalan paling belakang dalam kelompok itu.


Genta berinteraksi dengan salah satu pembeli dalam lapak itu, "sayang kamu mau beli yang mana?"


"Eh!" seorang ibu yang diajak bicara menoleh dan memandang kebingungan.


"Bu, tolong saya, please," desis Genta.


"Apa-apaan kamu ga sopan!" pekik ibu tersebut.


Gerombolan yang sudah berjarak agak jauh kembali menoleh karena reaksi ibu tersebut.


"Di sana!!!"


"Ya, Tuhan. Tidak lagi," Genta beranjak pergi sambil menggumam maaf pada ibu yang tak menolongnya.


Ia menyebrang dan nyaris tertabrak mobil yang lewat pada jalan itu. Jantungnya semakin terpacu. Genta mulai lelah berbanding terbalik dengan gerombolan itu yang seolah robot tak kehabisan energi. Genta masuk lagi ke dalam lorong di belakang restoran Cina. Ia menemukan tempat sampah yang besar. Sekali lagi Genta melirik ke balik punggungnya, derap kaki mulai terdengar.


Ia memutuskan untuk masuk ke dalam tempat sampah itu sampai pintu belakang restoran terbuka. Seorang gadis membawa plastik berisi sampah yang hendak dibuang, muncul. Alih-alih bersembunyi di tempat sampah ia menghampiri gadis itu.


"Tolong, aku. Tolong," pintanya di antara hela napasnya yang tinggal satu-satu. Genta berharap gadis ini tidak seperti ibu-ibu tadi.


Gadis itu terperanjat kaget. Namun ia merasa iba juga melihat pria yang sudah sudah bersimbah keringat.


"Lewat sini," gadis bermata sipit itu menariknya masuk ke dalam dapur restoran Cina itu.


Mereka berdua berdiri di balik pintu. Genta menahan napasnya. Dadanya panas, kepalanya pening karena kehabisan oksigen.


"Kau bukan copet kan?" desis gadis itu.


"Bukan," bisik Genta. "Aku bahkan tak tahu mengapa aku dikejar."


"Mereka lewat," kata gadis itu saat mendengar derap langkah di luar.


"Lou!" teriak seorang perempuan. Genta memang tidak dipanggil tapi ia ikut menoleh.


Seorang perempuan paruh baya bertubuh gempal dan memakai celemek lusuh dari pinggangnya muncul di bagian belakang dapur tempat cuci perabotan. Rambutnya terbungkus kain yang diikatkan untuk menutup rambutnya. Ia memiliki mata yang sama dengan gadis itu.


Perempuan itu memandang marah ke arah mereka. Ia mengatakan sesuatu dalam bahasa Cina yang tak Genta tahu. Jemarinya yang sebesar sosis menunjuk ke arah kantong sampah dan ke arah Genta. Yang dibentak menjawab dengan bentakan pula. Terlihat ibu itu gusar dan meninggalkan mereka sambil terus meracau dengan bahasa asing.


"Ibuku, ia bertanya kenapa aku tidak membuang sampah ini malah berdiri seperti ini bersamamu," jelasnya. "Coba kau jaga di sini sebentar, aku harus bicara pada ibuku."


Gadis bermata sipit itu beranjak dari tempatnya berdiri, meninggalkan Genta dan kantong sampah besar. Genta langsung merasa tidak aman. Ia menempelkan telinganya pada pintu. Tak ada suara terdengar derap maupun langkah kaki pada lorong di luar. Namun, ia juga tak meyakini pendengarannya. Restoran di depan juga cukup riuh.


Ia tak pernah terlibat hutang atau permasalahan dengan kelompok-kelompok tertentu. Tak ada catatan kriminal di atas namanya selama dua puluh enam tahun ia hidup. Drama kejar-kejaran ini tak masuk akal baginya. Genta melorot ke bawah, seluruh tubuhnya kelelahan.


"Minumlah," gadis bermata sipit itu menghampiri Genta dan mengulurkan segelas air putih. Ia berjongkok di sebelah Genta. "Aku, Lou."


Genta meneguk isi gelas hingga tandas, lalu menyebutkan namanya pada Lou.


"Kau bisa menggeser kakimu?" Lou mengambil gelas dari tangan Genta. "Aku mau buang sampah. Jangan sampai ibuku masih melihat sampah ini di sini."


Genta menggeser tubuhnya dan membiarkan Lou lewat. Dikeluarkan ponselnya dan mencari nama William. Ia berharap, Willian belum sampai di Karawang, rumahnya.


Kau bisa menjemputku? ketiknya pada jendela percakapan.


Lou masuk dan menutup kembali pintu di belakangnya. "Di luar sudah aman. Apakah kau punya seseorang untuk dihubungi?"


"Ya," jawab Genta lirih sambil memperlihatkan layar ponselnya.


"Oh, baguslah," Lou mengangguk dan tidak berbincang lebih jauh. Ia ingat pesan ibunya tadi agar tidak terlalu banyak berbicara pada pria itu. Salah-salah, mereka malah kena dampak juga.


Telepon Genta berdering dan nama Wilun tampil pada layarnya.


"Kau mabuk, he?"


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Ditunggu likes, comment, kritik dan sarannya dear readers 🥰*