
Tara menitipkan mantelnya kepada penjaga di pintu depan, banyak orang sudah berada di ruangan ini. Memenuhi tiap pojok dan karya-karya di ruangan galeri. Mereka berhenti lalu berpindah di karya yang lainnya. Musik lounge yang di mix sedikit EDM mengalun sebagai latar di balik suara orang yang berdiskusi riuh rendah dari satu karya ke yang lainnya.
Sebuah tangan hangat mendarat di pinggangnya dan membawanya mulai tur keliling ruangan. Beberapa pasang mata yang memiliki tag khusus di saku kiri mereka mencuri pandang ke arah mereka berdua. Namun, orang disisinya itu tak menggubris tatapan aneh dari rekannya
"Ini si Janin itu?" ujar Tara dan memandang Genta disebelahnya lalu kembali mengalihkan pandangannya ke karya tersebut setelah sebelumnya mereka menghampiri karya-karya hebat lain milik sang seniman.
Pandangan Tara seakan tersedot ke satu titik di mana pahatan tak beraturan sebesar bola kasti itu bergerak stagnan dan memutar. Pahatan itu gelap tapi seakan siap meledak kapan saja efek dari lukisan realis Aji Harada. Berpendar saat cahaya menimpanya.
"Bagaimana menurutmu?" Genta menanyai pendapatnya.
"Aku seakan terhipnotis, menunggu dan bertanya-tanya kapan benda kecil itu meledak," ujar Tara.
"Hahaha, perspektif baru lagi," ujar seseorang di belakang mereka, Aji Harada.
"Harada," sapa Genta sambil menarik Tara ke sampingnya.
"Aku hanya ingin mengetahui, apa yang dipikirkan gadis manis ini saat menikmati karyaku bersamamu," ungkapnya. Suara Harada yang tak dibuat berbisik seperti pengunjung lainnya menarik perhatian orang di sekitar mereka jadi melihat ke arahnya. "Mengapa kau pikir ia akan meledak?"
Tara tersenyum ke arah Aji Harada, "hanya berharap pahatan itu tidak berhenti bergerak atau dia akan menghancurkan dirinya. Saat semuanya stuck, seakan tak ada pilihan lain selain meledak dan hancur. Maka, terus bergerak pilihan satu-satunya."
"Terima kasih, Nona?" Aji Harada mengulurkan tangannya.
"Tara," menjabat tangan itu yang mendapatkan kecupan di punggung tangannya. Ia terkejut.
"Selamat menikmati karyaku, Nona Tara. Kau berada pada guide yang tepat," Aji Harada mengerling ke arah Genta. Seniman itu pun berlalu ke arah kerumunan lainnya.
"Orang itu, percaya diri sekali, ya," bisik Tara ke arah Genta.
"Mungkin, begitulah sisi seorang seniman. Tak mengenal batas dan bebas. Ayo, kita lanjutkan turnya."
"Hahahaha, ini murid saya yang bandel itu!" Aji Harada berseru sambil merentangkan tangannya. Seluruh orang mulai mengalihkan pandangan ke arah seniman yang kini tengah memeluk seorang pria di dekat pintu masuk.
***
"Walau hanya sebentar aku mengikuti kelasmu, ternyata kau tak melupakanku Dosen Jahat," imbuh Rendi yang disambut dengan tawa berat khas Aji Harada.
"Bagaimana bisa lupa kepada murid yang sudah tahu terlambat kelas malah akan menghancurkan media pahatanku yang baru. Apa kabar, Nak? Dan lihat siapa wanita cantik ini?" Aji Harada menepuk punggung Rendi lalu mengalihkan pandangannya ke wanita di sisi Rendi dari ujung kepala hingga kaki.
"Luar biasa karena bisa bertemu denganmu, dan ini Sofia temanku," Rendi memperkenalkan Sofia yang terlihat stunning dengan gaun hijau Jamrud membalut tubuhnya.
Sofia mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan sang seniman.
"Halo nona Sofia, kuharap kau bisa meng-handle pria urakan ini."
"He's not too hard too handle, Sir," Sofia tertawa sambil menutupi mulutnya.
"So, gorgeous." puji Aji Harada. "Ah, aku yakin kau akan nyambung sekali dengan seorang pegawai di tempat ini," ujarnya. "Bisa kau bayangkan orang seperti apa yang dapat memengaruhiku mengubah nama karyaku sendiri karena pandangannya?"
"Bisa kubayangkan orang itu pasti bukan orang biasa," jawab Rendi.
"Nanti akan ku atur kita bisa satu meja bersama dan menghabiskan malam ini dengan diskusi panjang yang seru," ujarnya bersemangat. "Santai dan bawa wanitamu ini berkeliling menikmati pameran."
Rendi berjalan dan berkeliling. Sofia menempel di sebelahnya. Ia hanyut dalam karya seni yang berada terhampar di seluruh ruangan. Pengaturan letak, penataan cahaya dan penentuan titik-titik tertentu sebagai klimaks membuat seluruh karya ini sebagai sebuah kesatuan yang apik. Sampai sebuah tangan terasa menggelayut di lengannya.
"Kau cuek sekali," Sofia cemberut.
"Maaf, aku hanya terhanyut," kata Rendi tersadar. Ia tahu mereka sama-sama bekerja di bidang seni tapi minat wanita ini dengan seni berbeda sekali dengan levelnya. Benar-benar meletakkan seni sebagai profesinya, bukan passionnya.
"Kau tak lihat karya seni yang lebih menakjubkan dari ini semua?" kulit Sofia bak porcelain bersinar terkena sorot sebuah lampu display.
"Di mana?" tanyanya polos.
"Di depan matamu lah, dasar tak peka." ia melepaskan tangannya dari lengan Rendi yang hanya tertawa kecil.
"Ehm, tes," ia mengetes pengeras suara dengan menjentikkan jarinya. "Selamat malam kepada seluruh undangan dan penikmat karya pemahat kecil ini." ia terkekeh disambut dengan tawa ringan di ruangan.
"Akhirnya setelah belasan tahun tidak pulang ke rumah, saya bisa menggelar pesta kecil-kecilan bersama saudara saya sekampung.. Ya, ya kita semua di sini. Saudara saya," imbuhnya. Rambut keritingnya bergoyang saat menyapu semua ruangan lewat bola matanya. Pelayan Katering mulai sibuk berkeliling mengedarkan minuman cocktail hingga sampanye begitu pun Aji Harada mengambil gelasnya yang ditawarkan oleh MC.
"Saya merasa terhormat ketika kampung saya masih mengingat dan mau menerima anak kecilnya ini pamer karya," wajahnya mengernyit setuju ke arah seseorang dari ruangan ini.
"Malam ini, saya namakan Cycle, lingkaran," ia memulai penjelasannya. "Kita bisa melihat, semua karya payah ini mengelilingi kita. Itu sebuah perjalanan yang tak dapat berhenti, tidak. Selagi, titik Janin ini terus bergerak," tunjuk Aji Harada pada karyanya yang benar-benar menjadi center of interest dalam ruangan.
"Tentunya, setiap karya akan selalu bertambah lewat Janin ini, bukan begitu Genta," Aji Harada mengangkat gelasnya. Begitu pun seseorang bernama Genta ini mengangkat gelasnya. "Dia itu pendeta, hahahaha... pendeta yang membaptis Inti saya menjadi Janin," kekehnya.
Rendi memandang ke seorang pria bernama Genta itu sedang tersenyum ke arah Aji Harada. Di sebelahnya, seorang gadis berbaju putih berdiri. Gadis itu tak terlihat jelas karena sebagian tertutup oleh tubuh pria itu.
"Saya harap dia beribadah dengan baik, begitu pak Pendeta?" candanya lagi. "Inti berubah jadi Janin saat Genta menjelaskan, tentunya saya bergetar saat itu. Saya merasa sebuah karya bisa berkembang menjadi sebuah konsep baru dan bukankah karya seni tak terbatas?" ruangan riuh menyetujui statement Aji Harada.
"Maaf aku terlalu banyak berbicara," ia tiba-tiba menutup mulutnya dengan ekspresi terkejut. "Hari ini tiba pada puncak acaranya, sudah tiga hari anak-anakku berdiri --hingga pegal kata mereka," Aji berucap sambil berbisik. "Tapi kuyakin, tak ada kata cukup mengagumi mereka. Silahkan menikmati sisa malam ini, selagi Janin terus bergerak. Selamat malam." Tepuk tangan berderu tak hentinya sampai Aji Harada turun dari podium dan berkerumun dengan sekelompok orang.
"Bapak Rendi?" tanya seorang panitia acara dari galeri tersebut.
"Ya, benar," responnya.
"Mari saya tunjukkan meja Bapak dengan partner, sebelah sini," Rendi membuntutinya. Begitu pun orang-orang di ruangan itu mulai berpindah ke ruangan makan dari galeri tersebut.
***
"Hei, kau baik-baik saja," Genta melirik Tara yang terlihat cemas.
"Ya, aku baik," Tara menyesap sampanyenya menghilangkan gugupnya.
Ia tahu, kemungkinan untuk bertemu dengan Rendi malam ini pasti terjadi. Bahkan ia sudah mencoba tenang seharian penuh dengan meminum teh kamomil dan memberi sugesti penyemangat tapi luntur seketika saat ia melihat Rendi berpelukan dengan seniman itu. Perutnya mulas.
"Ayo kita ke tempat makan, aku mendapatkan kesempatan satu meja dengan Harada," ajaknya antusias. Tara menurut saja, yang penting itu bisa membuatnya tak bertemu dengan Rendi.
"Tara, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu," katanya sembari berjalan menuju meja mereka di ruangan lain galeri itu.
"Ya?" Tara melirik ke arah Genta yang mengusap belakang lehernya.
"Emh, kau cantik malam ini. Sangat cantik," pujinya.
"Terima kasih, Genta. Setidaknya aku tidak buruk untuk menemanimu malam ini," Tara merendah.
"Tidak, kau malah... luar biasa. Terima kasih, Tara. Aku yakin, Senin besok semua teman-temanku akan menanyakan tentangmu," ujarnya.
"Kenapa kau jujur sekali?" Tara tertawa.
"Ah, entahlah. Kenapa aku begini?" tanyanya pada diri sendiri.
Meja-meja tempat gala dinner akan berlangsung mulai terisi. Suara kursi diseret, denting sendok yang tersenggol terdengar di sela percakapan semua orang. Di meja Aji Harada tampak sudah duduk dengan rapi seorang pria dan wanita yang asik mengobrol dengan Aji Harada. Percakapan itu terhenti ketika ia melihat Genta dan Tara mendekat ke mejanya.
Aji Harada berdiri dan mengelilingi meja menghampiri Genta, "mari bergabung. Rendi, ini pendeta yang kubicarakan itu."
Rendi dan wanita bersamanya berbalik menyambut kedatangan Genta dan Tara. Tara terkejut, begitupun Rendi saat mereka saling bertukar pandang. Kemungkinan bertemu Rendi mungkin tak bisa dihindari, tapi satu meja dengannya itu tidak ada pada daftar kemungkinan dalam benak Tara.
Sofia yang terkejut atas kebetulan yang unik ini lalu memandang Rendi serta Tara bergantian. "Tara, lama tidak bertemu denganmu."
"Ah, nona nona ini sudah saling mengenal," seru Aji Harada memandang dua wanita cantik itu bergantian.
Dilingkarkan tangannya pada lengan Rendi yang berbalut tuxedo hitam. Sofia tau, Tara dan Rendi sudah tak lagi bersama, lalu dirasa bukan hal yang salah jika ia menggenggam Rendi. "Ayo bergabung bersama kami," undangnya pula.
Tara balas menatap Sofia lalu beralih pada tangan yang melingkar pada lengan Rendi lalu menatap Sofia kembali yang sudah memasang senyum.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Ditunggu likes, comment, kritik dan sarannya dear readers 🥰