Stay

Stay
Episode 9



"Vin!"


"Hmm."


"Kita mau kemana?"


"Rumah."


Veroniccha mendengus mendengar jawaban Davino. Sedari tadi hanya itu yang ia tanyakan di dalam mobil dan hanya itu jawaban yang  Davino beri.


Davino menghentikan mobil di depan sebuah mini market. Lalu menatap kearah Veroniccha yang bingung menatapnya.


"Ada apa?"


"Ve,  dengarkan aku." Davino menarik nafas dalam kemudian membuangnya. Ia harus memberi tahunya dahulu sebelum Veroniccha  mengacaukannya.


"Kita akan kerumah papamu." Kalimat itu meluncur berikut Veroniccha yang membuka pintu mobilku. Davino menarik tangannya sebelum perempuan itu keluar dari mobil.


"Aku. Tidak. Mau!" Ia menekankan setiap katanya.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi antara kau dan ayahmu. Tapi, kau adalah seorang anak dan seharusnya berbakti kepada orang tua. Terlepas dari semua masalah diantara kalian."


"Kau tak berhak mengaturku! Aku tidak peduli dan jangan paksa aku!" Veroniccha mencoba melepaskan tangannya.


"Aku berhak. Sangat berhak. Kau--" Davino menghentikan kalimatnya saat isak itu lolos dari bibir mungil istrinya.


"Kau tak mengerti,  Vino. Itu bukan rumah. Itu neraka. Aku tak bisa!" Davino menariknya ke dalam pelukanya.


"Sekali ini saja. Aku mohon." Davino kembali membisikan permohonan itu.


*__*


Davino hanya berdiam merasakan aura permusuhan di dalam sini. Mereka sedang duduk di meja makan dan Veroniccha masih menatap tajam kepada adiknya yang tadi ingin duduk di samping Davino.


"Bagaimana kabarmu, nak?" tanya Tio menghancurkan senyap ini.


"Ini yang terburuk di tahun ini." Veroniccha menjawab ketus tanpa menatap papanya.


Jujur Davino memang tidak suka dengan adik Veroniccha yang sedari tadi menatapnya penuh minat. Sejak pertama Davino masuk kerumah ini dan duduk di kursi ini. Ia hampir saja duduk di sampingnya sebelum Veroniccha menarik rambutnya dan duduk di samping Davino.


Davino menggenggam kepalan tangannya di bawah meja seraya mengurainya.


"Papa apa kabar?" Davino bertanya saat melihat tatapan sedih dari Tio.


"Lebih baik setelah bertemu putri dan menantuku." Davino tersenyum mendengarnya.  Sedangkan Veroniccha masih menatap tajam pada Gladis yang masih menatap suaminya.


"Jangan menatap suamiku atau kucolok matamu!" Veroniccha berkata tajam dan dibalas senyum meledek dari Gladis.


"Bagaimana kalau kita makan?  Kau bilang kau sangat lapar bukan?" Davino berusaha mencairkan suasana.


"Ya lebih baik kita makan." Tio mulai bersuara dan mengambil makanannya.


Veroniccha masih diam sampai Davino selesai menaruh makanan ke piringnya. Davino menggantungkan satu sendok nasi ke depan bibir istrinya yang membuat ia mengalihkan tatapannya kearahnya.


"Buka mulutmu," perintah Davino dan ia langsung memasukan makanan ke dalam mulutnya.


*__*


Yang Davino mengerti kini,  bukan hanya dengan papanya. Tapi hubungan Veroniccha dengan adik dan mama tirinyapun buruk. Davino memang pernah bertemu dengan mama dan adiknya saat akad nikah mereka. Selebihnya tidak ada yang aneh sampai akad selesai. Sampai Veroniccha pergi malam itu.


"Ve,  tanganmu bisa sakit." Davino kembali mencoba menguraikan kepalan tangannya. Saat ini mereka masih duduk di meja makan. Semuanya telah selesai makan tapi tak ada yang beranjak dari tempat ini.


"Iccha,  kau ingin bertemu dengan bi Jimah?  Ia kemabali kerja di sini." Tio kembali membuka suara dan membuat Veroniccha menoleh kearahnya.


Setelahnya,  Davino melihat seorang wanita paruh baya datang dan menatap Veroniccha dengan wajah sedihnya.


"Bagaimana pekerjaanmu,  nak?" Tio bertanya pada Davino setelah Veroniccha pergi dengan Bi Jimah.


"Sejauh ini baik,  pa."


"Perusahaan kakak di bidang pembangunan bukan?  Bagaimana kalau aku melamar pekerjaan di sana?  Kebetulan sekali aku menganggur setelah lulus kuliah," ujar Gladis.


Davino tahu jika ia menerima Gladis bekerja di kantornya Veroniccha takkan suka ini. Kini ia bingung menjawab apa.


"Iya Dave. Biarkan saja Gladis bekerja di kantormu. Dia anak yang pandai dan cekatan." Mariska yang dari tadi diam kembali membuka suara. Dua hari yang lalu Davino mengetahui bahwa ia adalah mama tiri Veroniccha. Ibunya yang memberi tahunya.


"Tidak. Kau bekerja di kantor papa saja,  Gladis." Tio menyerukan suaranya.


"Mengapa?  Karena Veroniccha?  Papa masih berlaku tidak adil antara kami!"


"Bagian mana yang kau sebut tidak adil?  Kau tinggal bersama papa sedari kecil sedangkan Veroniccha tidak."


"Tapi papa lebih menyayanginya ketimbang aku!"


Davino menjadi serba salah mendegar perseteruan ini.  Tapi ia tidak juga bisa membuat Gladis bekerja di kantornya.


"Memang apa salahnya Gladis bekerja pada Davin?  Kau juga tidak bisa memperlakukan anakku seperti itu,  Tio." sekarang Mariska kembali menambah suara.


"Vino. Ayok kita pulang." Veroniccha datang dan menarik lengan Davino. Membuat perseteruan ini berhenti.


"Besok aku akan tetap datang ke kantor Kak Dave dan membawa lamaranku." Gladis berbicara. Veroniccha menatap kearah Davino tajam dan laki-laki itu semakin bingung.


"Buang saja mimpimu jauh-jauh jika ingin mengganggu suamiku." Veroniccha menyiram Gladis dengan air putih di atas meja.


"Ve!" Vino spontan teriak.


"Apa?  Kau ingin membelanya?!"


Davino menghembuskan nafasnya.


"Pa,  ma,  kami pamit pulang dulu." Davino menarik lengan Veroniccha.


"Kau!  Dasar kau pembawa sial!  Tidak tahu diri!" Gladis berteriak yang menghentikan langkah mereka. Veroniccha mencoba melepaskan genggamannya dan Davino semakin menggenggamnya erat.


"Biarkan. Kau bukan sepertinya,  Ve. Jangan buat dirimu sama sepertinya." Davino menyampirkan lengannya di bahu Veroniccha dan segera pergi meninggalkan rumah itu.


*__*


"Makan?" Nina kembali mencoba membujuk Veroniccha untuk makan.


Sudah sejak semalam Veroniccha belum juga makan apapun dan masih terdiam tanpa suara. Sejak kepulangannya dari rumah Tio.


"Ccha,  kau bilang kau menyukai masakanku. Ayok kita makan. Aku sudah datang jauh-jauh hanya untuk membuatkanmu makanan tapi kau malah tak mau makan." Nina menarik lengan Veroniccha yang masih duduk di depan TV.


Nina masih terus membujuk Veroniccha untuk makan sampai akhirnya ia mau menelan makanannya.


Davino memang menyuruh Nina untuk datang kesini karna ia sudah kehabisan akal menyuruh Veroniccha makan. Yang ia tahu juga,  Veroniccha sangat nurut dengan Nina.


*__*


"Vin,  menikahlah dengan Nina dan ceraikan aku."


Vino tersedak makanannya saat Veroniccha bersuara.


"Kau ini bicara apa. Sudah habiskan makananmu." ujar Nina.


"Aku serius. Aku tak mau kau masuk kedalam masalahku."


*__*