Stay

Stay
Episode 33- End



"Halo." suara perempuan.


Veroniccha terdiam dengan jantung yang kian berdetak tak beraturan. Napasnya membara. Setelah lima hari tanpa kabar kini Vino malah membiarkan wanita memegang ponselnya.


"Kau siapa?" tanya Veroniccha begitu dingin. Wanita di seberang sana malah terdiam dan kini terdengar isak tangis yang membuat pikiran Veroniccha tak karuan.


"I.. Ic.. Cha," katanya lagi terbata.


Veroniccha terdiam. Suara yang bahkan ia tak berani memimpikannya kini didengarnya. Tapi, apakah nyata?


"Ma..ma," sahutnya.


***


Veroniccha meremas kedua tangannya gelisah. Keringat dingin telah membanjiri wajahnya. Ini mendebarkan lebih dari ketika ia akan melahirkan waktu itu.


"Jangan tegang, Ccha. Rileks." Nina yang duduk di sampingnya menenangkan.


Hanya Veroniccha disini yang merasakan perasaan tak karuan. Di sebrangnya, ada Gladis dan Dennis yang malas asik dengan kedua putri kembarnya. Seolah tak peduli apa yang akan terjadi nantinya.


Semalam, saat-saat mendebarkan itu dimulai, Vino bilang ia akan pulang hari ini dengan seseorang yang katanya akan membuat Veroniccha bahagia. Dan, Veroniccha tahu jelas, siapa orang itu.


Wanita yang membiarkannya menangis ditarik oleh sang nenek saat tak ingin melepas kepergiannya. Juga wanita yang membuatnya melakukan perjalan-perjalanan karena kesalahan pahamannya dengan sang Papa. Lalu wanita yang membuatnya membenci Gladis. Adik yang seharusnya ia sayangi.


Wanita yang ia cari dan ia rindukan selama ini.


Dennis sesekali melirik pada Veroniccha yang gelisah. Jangan ditanya bagaimana perasaan laki-laki itu sekarang karena Ia pun tak tahu  bagaimana menjelaskan perasaannya sekarang.


Tak pernah sekalipun Dennis berpikir bahwa wanita yang melahirkannya akan menampakkan dirinya padanya. Ia pernah bermimpi itu dulu, ketika masih tinggal dengan sang nenek. Tapi ketika kenyataan pahit saat Papanya datang menjemput, tak pernah lagi ia bermimpi seperti itu.


Baginya, semua akan baik-baik saja tanpa perlu melihat ibunya.


Tidak. Dennis tak membenci wanita yang melahirkannya itu. Ia hanya, bingung. Entah harus bagaimana saat nanti wanita itu datang. Ia harus melakukan apa?


Berbeda dengan Veroniccha dan Dennis. Gladis benar-benar tenang seolah tak ada yang terjadi. Saat ini pikirannya hanya pada dua keponakannya yang sejak tadi terlihat menggemaskan.


Bohong rasanya kalau ia tak pernah penasaran bagaimana wajah ibu kandungnya Saat tahu bahwa Mariska bukanlah wanita yang melahirkannya. Tapi Gladis seolah tak peduli lagi dengan itu.


Baginya, ia terlihat di depan Veroniccha itu sudah cukup.


***


"Sepertinya aku pulang saja." Rania mengurungkan niatnya melangkah dan membalikkan badannya sebelum Tio kembali menarik tangannya.


Vino dengan perlahan dan mantap membuka pintu itu dan melangkahnkan kakinya memasuki rumah itu.


Disana, ia melihat kedua putrinya tengah berada pada pangkuan paman dan bibinya. Juga ia melihat Veroniccha yang tengah duduk membelakanginya.


***


"Cantik? Benarkah? Lebih cantik mana dengan Olivia?" Nina tertawa lebar saat melihat wajah Dio yang tengah berpikir di seberang sana.


"Tentu saja Olivia!" pekik Dio kemudian.


Saat ini Nina dan kedua putri kembar Veroniccha sedang berada di taman dan sedang melakukan Video call dengan Dio. Nina sengaja pergi dari sana agar membiarkan keluarga itu menyelesaikan masalah mereka. Meskipun tidak lama lagi dia dan Dennis akan menikah, tetap saja rasanya belum pantas untuk memasuki masalah keluarga itu.


"Lihat, Aunt! Venuce tersenyum!" pekik Dio sekali lagi.


"Ini Venice sayang, bukan Venuce." Nina kembali tertawa.


Kedua ponakannya memang kembar identik dan agak sulit membedakan mereka.


"Semoga kalian tumbuh menjadi gadis cantik dan tangguh seperti Mamamu, nak."


***


"Kenapa?" Veroniccha masih mengajukan pertanyaan yang sedari tadi membuat Rania terdiam dan hanya bisa meneteskan air matanya.


"Jawab, Ma. Aku hanya bertanya, kenapa Mama memilih pergi meninggalkan kami saat itu!"


Tidak ada kata yang dapat keluar dari mulut Rania untuk menjawab pertanyaan putrinya itu. Alasan mengapa ia lebih memilih pergi ketimbang menyelesaikan semuanya. Alasan Mengapa ia merelakan Tio pada Mariska.


"Karena Mama menyayangi kalian." Rania kembali meneteskan air matanya. Jawaban yang memang sebenarnya namun tak memuaskan untuk ketiga anaknya. Juga suaminya.


Sedari tadi Gladis hanya menatap datar pada orang-orang di sana dan lebih memilih memakan cemilan di toples yang berada di atas meja. Ia merasa tak perlu hadir dalam ruangan ini sebenarnya. Entahlah.


Awalnya, Gladis merasa kaget saat tahu bahwa wanita yang ditemuinya kemarin ternyata adalah ibu kandungnya. Namun setelah tahu akan hal itu, perasaannya kosong. Tak tahu apakah senang, sedih, atau apapun ia tak tahu.


Sesekali Rania melirik pada Gladis yang benar-benar mengabaikannya. Anak bungsunya itu benar-benar membencinya. Salahkah Keputusannya kali ini?


*** 


"Maafkan semuanya, sayang. Kita hanya perlu menutup masa lalu itu dan memulai semuanya dari awal." Vino masih asik mengusap lembut kepala Veroniccha yang bersandar di dadanya. Sejak tadi, istrinya itu masih belum puas dengan jawaban dari Mamanya.


"Atau kau belum memaafkanku?" tanya Vino lagi.


"Tidak! Aku sudah melupakan itu, Vino. Sungguh!" sanggah Veroniccha cepat. "Namun aku tahu, Mama menyembunyikan sesuatu dariku."


"Biarlah, Ve. Mama pasti memiliki alasan untuk tidak menceritakannya kepadamu."


"Tapi aku tahu Vino, ini pasti berhubungan dengan nenek lampir. Nenek selalu memarahi mama ketika aku kecil." Vino mengecup kening istrinya dalam.


"Tidak usah dibahas lagi, sayang. Lebih baik kita bermesraan malam ini. Aku merindukanmu. Sangat."


Veroniccha mengangkat kepalanya dan menatap pada manik hitam dalam yang selalu menghanyutkannya. Membuatnya merasa damai dan terlindungi.


"Hm.. Aku juga merindukanmu, Vino. Tapi kau sudah membohongiku kemarin.  Ku kira kau akan meninggalkanku lagi."


"Tidak akan sayang. Aku tidak akan pernah melakukan itu lagi."


"Tapi, Vino. Aku khawatir dengan Gladis." Veroniccha memasang wajahnya serius. "Aku takut ia tak menerima kehadiran Mama."


"Biarkan semuanya berjalan dengan sendirinya, Ve. Gladis membutuhkan waktu untuk menerima semua ini."


Mereka kembali terdiam dan saling mengeratkan pelukan. Mencoba menyerap seluruh kekuatan dari masing-masing.


"Vino, apa tidak apa-apa menitipkan Venuce dan Venice pada Nina? Aku takut ia kerepotan."


"Tidak apa-apa sayang. Biarkan Nina juga belajar menjadi seorang ibu."


"Tapi aku juga harus belajar, Vino. Aku belum sebulan menjadi seorang ibu."


"Saat ini kau harus belajar menjadi istri yang baik dulu, sayang." Vino mengecup bibir istrinya kemudian melumatnya singkat.


Seharusnya memang seperti ini. Masa lalu memang takkan pernah hilang dari diri manusia. Tapi mengorek masa lalu yang sudah susah payah dilupakan sama dengan mengorek luka lama. Biarkan semua itu mengalir apa adanya.


Biarkan, cerita lama itu hanya tersimpan pada masanya.


Sekarang, Vino hanya ingin bersama dan bahagia dengan keluarga kecilnya.


Veroniccha Ghania Karllen, istrinya.


Venuce Chyndia Karllen dan Venice Chyntia Karllen kedua putri kembarnya. 


Dan dia, Davino Karllen, berjanji, akan meraih dan merasakan apa itu bahagia.


.


.


.


.


.


.


End.


##