Stay

Stay
Episode 13



Veroniccha masih terus menggerutu sejak matanya terbuka. Ia masih kesal dengan Davino yang seenaknnya membangunkan tidur nyenyaknya. Ini masih pukul 8 dan Davino masih mengomel. Sebenarnya ia menggerutu bukan karena waktu, tapi karena cara membangunkan Davino yang tidak elit. Davino berteriak di telinganya!


"Mau sampai kapan kau terus melamun dengan wajah cemberutmu itu?" Davino yang merasa tak ada pergerakan pada Veroniccha menoleh.


"Semakin hari mengapa kau semakin sering mengomel sih!" balas Veroniccha sebal.


"Sudah cepat mandi. Kau lupa kita akan ke swalayan hari ini?"


"Tapi ini masih terlalu pagi Vino!"


Davino bergerak dan menyeret Veroniccha memasuki kamar mandi. "Cepat! Kasihan Dio jika ia menunggu sendiri di bawah!"


Masih dengan wajah masam akhirnya Veroniccha masuk kedalam kamar mandi dan Davino segera keluar dari kamar.


*__*


Dio masih asik berceloteh tentang teman sekolahnya. Tak jarang Veroniccha tertawa karenanya. Davino tersenyum melirik keduanya di balik kemudi. Untuk seminggu kedepan ia sudah mengurus jadwal cutinya agar bisa menyelasaikan agenda yang ia buat.


Mobil berhenti tepat di basement mall dan mereka segera keluar untuk menuju swalayan. Dengan sigap Davino mengangkat Dio kedalam gendongannya dan Veroniccha berjalan di sampingnya. Veroniccha terus memperhatikan Davino yang entah mengapa hari ini terlihat begitu tampan dengan kaos abu-abunya. Mereka memasuki mall dan Dio meronta minta di turunkan.


"Papa Dio ingin jalan sendiri." Davinopun menurunkan Dio dan Dio berjalan di tengah dengah kedua tangannya terpaut dengan tangan Davino dan Veroniccha.


Sudah seperti keluarga bahagia kah mereka?


Tidak seperti waktu lalu saat Davino merasa bosan berada di swalayan dengan Veroniccha. Nyatanya sekarang ia tak berhenti tersenyum melihat interaksi Veroniccha dengan Dio yang berada di dalam troli.


"Mama kita akan beli ice cream?" Dio kembali berbicara.


"Tentu saja. Ice cream adalah hal yang wajib dibeli." Veroniccha mejawab dengan bersemnagat. Kemudian Davino mengarahkan troli ke tempat dimana ice cream berada. Setelah sampai, Davino membiarkan Veroniccha memilih ice cream dan ia mengobrol dengan Dio.


"Papa bilang mama aku mau ice cream coklat dan vanila," kata Dio.


"Mama, Dio bilang ia ingin ice cream coklat dan Vanila." Veroniccha menoleh dan merasakan hatinya menghangat ketika Davino memanggilnya 'mama'.


Bolehkah ia tersenyum sekarang?


Veroniccha tersenyum sangat manis dan mengacungkan jempolnya. Senyum yang terlampau manis yang menular pada Davino. Mengapa Veroniccha terlihat cantik saat ini?


"Dio, bilang pada mama, mama cantik sekali hari ini," bisik Davino pada Dio.


"Lihat, mama beli ice cream banyak untuk kita. Dio suka?" Veroniccha meletakan ice cream pada troli.


"Papa bilang mama cantik sekali hari ini," ujar Dio yang membuat Veroniccha menoleh pada Davino yang salah tingkah.


"Aku cantik? Benarkah? Aku ingin mendegarmu mengatakannya Vin. Cepat katakan!" rengek Veroniccha yang membuat Davino semakin salah tingkah.


"Mungkin karena warna rambutmu kau terlihat cantik," elak Davino tanpa menoleh pada Veroniccha. Padahal dari semua yang ada pada Veroniccha hanya rambut barunyalah yang membuat Davino ingin terus mengomel.


Veroniccha tersenyum menang, "apa ku bilang. Warna rambut seperti ini memang sangat keren. Kau merasakan kecantikanku sekarang, kan?"


Davino menatap malas dan kembali mendorong troli meninggalkan Veroniccha yang masih memilin rambutnya.


*__*


Davino masih asik menyaksikan Veroniccha dan Dio yang sedang memakan ice creamnya dengan serius. Belum sehari dan ia sudah tak dapat menghitung berapa kali ia tersenyum saat ini. Davino terus menatap Veroniccha sampai tangannya terjulur membersihkan sisa ice cream di sekitar bibir pinknya.


Veroniccha menegang menatap jari Davino yang masih membersihkan sisa ice cream di bibirnya. Ia pikir jantungnya bisa berdetak seperti ini hanya saat ia menaiki flying fox. Tapi nyatanya jantungnya bisa berdetak tak karuan atas perlakuan Davino ini.


"Kau seperti Dio saja." Davino berdecak. Veroniccha tersenyum manis menjawabnya.


Astaga ini tak bagus untuk Davino. Karena sekarang jantungnya yang berlari.


"Dio ingin kemana setelah ini?" Davino mengalihkan tatapannya guna menghilangkan gugup itu.


Dio terlihat berpikir. "Dio ingin ketaman dekat rumah papa."


*__*


"Dio sudah tidur?" Davino bertanya saat Veroniccha mengambil duduk di sampingnya.


"Em.. Dia terlihat lelah sekali." Veroniccha menyenderkan kepalanya pada pundak Davino. Kebiasaan yang memang sering mereka lakukan bahkan sebelum Davino tahu tentang perasaannya.


"Dia pasti lelah karena terus tertawa dan bermain di taman tadi."


Davino kembali mengingat saat Veroniccha mengejar Dio lalu mereka bermain ayunan, perosotan, dan Davino menyaksikan itu semua dengan tawa saat melihat Veroniccha tertawa. Kini ia percaya bahwa tawa seperti virus. Dapat menular.


"Kau lelah?" Davino bertanya sembari menengok pada Veroniccha yang masih menatap televisi.


"Em.. Dio bersemangat sekali. Tapi aku senang sekali hari ini. Rasanya sudah lama tak bersenang-senang." Davino tersenyum dan ikut menatap tv yang sedang menyiarkan berita.


"Oh ya, mengapa Dio memanggilmu papa?"


Davino tersenyum dan kembali mengingat saat itu, "sewaktu kak Nada hamil, kak Mario tidak di Indonesia. Dia seorang pilot jadi sering pergi ke luar. Lalu ketika Dio lahir, aku yang menemani Kak Nada dan Kak Mario datang setelah sehari Dio lahir. Karena pekerjaannya, kak Mario jarang menemani Dio jadi aku yang menggantikannya.


Sewaktu Dio bisa belajar bicara, ia pertama kali menyebut papa dan itu diarahkannya padaku. Semenjak itu kak Mario langsung berhenti dari pekerjaannya dan memilih meneruskan perusahaan papa bersamaku karena ia takut Dio lebih menganggapku papa ketimbang dirinya."


"Kupikir Dio memang anakmu karena kalian benar-benar mirip."


"Tapi aku bisa menjamin itu anak Kak Mario."


Veroniccha terkekeh.


"Setelah seminggu kau akan pergi?"


"Em..."


"Bisakah untuk tetap tinggal?"


Veroniccha mengangkat kepalanya dan menatap Davino yang tengah menatapnya. Dilihatmya mata penuh pengahrapan milik suaminya. Seandainya saja dia bisa hidup normal seperti manusia lainnya.


"Aku ingin. Sangat ingin. Tapi aku tak bisa."


"Bisakah kau beritahu aku alasannya?" Davino terus menatap Veroniccha. Menyelami bola matanya dan mencoba menguak kesedihan di sana.


"Aku akan tetap dalam mimpi buruk jika aku menghentikannya." Veroniccha menunduk.


"Aku akan memelukmu. Kau tahu, mimpi burukmu hilang setelah aku memelukmu. Aku berjanji akan terus memelukmu. Jadi tinggallah."


Veroniccha memeluk Davino erat. Menenggelamkn kepalanya pada dada bidang Davino. Davino membelai rambut istrinya.


"Seandainya bisa. Seandainya pelukanmu memang milikku." Veroniccha melirih dengan mata terpejamnya.


 


 


*__*