Stay

Stay
Episode 10



Davino masih menatap Veroniccha yang sejak tadi berjalan kesana kemari dengan wajah menekuknya.


"Itu masih ada sampah di kolong." Davino bersuara sembari mengunyah kacang yang ada di pangkuannya.


Veroniccha kembali menggerutu namun tetap mengikuti perintah itu. Tugas seperti ini memang sudah diberikan kepadanya. Dengan sedikit ancaman dari Davino yang tak akan memberikannya uang akhirnya ia mau menurutinya. Semua pekerjaan rumah hampir ia kerjakan sendiri. Menyapu, mengepel, cuci baju, memasak, merapihkan rumah dan tugas seorang wanita lainnya.


Veroniccha berjalan kebelakang lalu kembali dengan segelas jus jeruk di tangannya dan segera bergabung di samping Davino.


"Kau belum mengepel." Veroniccha masih sibuk dengan gelasnya dan menghiraukan kalimat Davino.


"Mana remot TV-nya?" kini setelah gelasnya ia letakan di atas meja tangannya sibuk mengambil remot yang berada digenggaman Davino.


"Kau harus mengepel dulu." Ia melihat kearah Davino dan menunjukkan wajah lelahnya. Namun entah mengapa wajahnya begitu konyol yang membuat tawa Davino meledak saat itu juga.


"Hahaha mengapa wajahmu seperti itu?" Veroniccha melirik sinis kearah Davino dan mulai mencubiti lengannya yang membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan.


"Mengapa kau tertawa hah?!"


"Ve, ini sakit, sudah-sudah. Aw, mengapa kau brutal sekali!"


Veroniccha masih menyerang dan kini ia menyubit perut Davino yang membuatnya lebih menyusut kedalam sofa.


"Astaga! Maaf sepertinya aku mengganggu." Veroniccha menghentikan kegiatannya dan melirik seseorang yang sedang menutup mulutnya dengan tangan.


Wow!


Davino tahu, posisi ini tidak cukup bagus. Veroniccha berada di atasnya. Rambutnya yang memang acak-acakan karena tadi membereskan rumah.


Veroniccha belum berpindah dari posisinya dan malah melihat bingung pada Vino. "Siapa?" ia bergumam sembari dagunya menunjuk ke orang itu.


"Bunda mengapa mataku ditutup?"


"Papamu masih sibuk sayang."


Davino mendorong Veroniccha dari atas tubuhnya dan melihat kearah sepasang ibu dan anak.


"Ada yang lain lagi?" Davino menoleh kearah Veroniccha yang terlihat bingung.


"Maaf Dave, aku tidak tahu kalau kau sedang sibuk dan langsung masuk kedalam."


"Papa!" Dio langsung berlari pada Davino dan memeluknya erat.


"Kau.. Sudah punya anak?" Davino mengalihkan matanya kesamping dan melihat Veroniccha masih melotot dengan mata bulatnya.


Davino menyentil keningnya. Namun ia tak bergeming dan masih memerhatikan Dio yang juga melihat kearahnya.


"Dio, bunda mau pergi sekarang. Kamu baik-baik di sini sama papa dan mamamu ya. Jangan nakal!"  Nada maju dan membugkukkan badannya setara Dio dan dia menganggukkan kepalanya.


"Dia mirip sekali denganmu, Vin." Veroniccha masih asyik memandangi Dio yang membuat  Nada tertawa kecil.


"Tenang saja. Dia bukan anak suamimu. Tapi anakku," ujar Nada santai.


Veroniccha mengalihkan tatapannya pada Nada. "Jadi Vino tak mengakui anaknya?"


Vino kembali menyentil keningnya.


Nada tertawa renyah, "bukan. Baiklah, kenalkan aku Nada kakak ipar Davino."  Nada mengulurkan tangannya dan langsung disambut baik oleh Veroniccha.


"Veroniccha."


"Oh iya, aku harus pergi. Kakakmu akan mengomel jika aku terlalu lama. Dave, titip anakku ya" ucap Nada.


*__*


Davino masih terdiam memerhatikan dua orang ini yang masih saling menatap.


"Papa, mengapa mama menatapku?" Dio mengalihkan tatapannya kepadanya.


Davino melihat Veroniccha yang masih melihat Dio dengan wajah yang tak  dimengerti. Davino menarik Dio yang masih berdiri duduk di pangkuannya.


"Apa kau tak pernah melihat anak kecil sebelumnya?"


"Dia imut sekali Vin," ujar Veroniccha yang masih menatap Dio. Davino hanya mendengus dan kembali memerhatikan mereka berdua yang kembali saling menatap.


"Dio ingin ice cream?" tanyanya yang sukses mengalihkan tahapan Dio padanya.


"Mau!" ia berseru girang dan kemudian memeluk Davino. Davino bangkit dan menggendong Dio kemudian mengambil kunci mobil yang terletak di samping TV.


"Kau tak ingin ikut?" Davino bertanya pada Veroniccha yang masih terdiam menatap Dio yang berada di gendongannya.


"Eh.." Veroniccha terkaget saat Davino meletakan Dio di pangkuannya.


"Kau ingin melihatku menyetir dengan memangku Dio?" tanya Davino yang pada akhirnya membiarkan Dio duduk di pangkuan Veroniccha.


Selama di perjalanan yang terjadi adalah keheningan karena Veroniccha dan Dio yang masih saling menatap. Mungkin mereka berbicara dengan tatapan mata. Tidak biasanya Dio hanya diam jika berada di dalam mobil. Biasanya ia akan berceloteh kesehariannya atau menceritakan teman barunya atau mainan barunya atau apapun itu.


Adio Devano Karllen, Keponakan Davino yang berusia 4 tahun dan memiliki kecerewetan yang luar biasa seperti bundanya kini hanya terdiam dan saling menatap dengan istri anehnya.


"Bagaimana adik bayi? Apa sudah lahir?" Davino memecah keheningan dengan bertanya pada Dio tentang tetangganya yang saat itu tengah hamil besar.


"Sudah papa. Adik bayi cantik." Dio menjawab pertanyaannya.


"Oh ya? Siapa namanya?"


"Via."


"Siapa adik bayi?" Veroniccha mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga Vino.


"Dio mama bertanya, siapa adik bayi." Davino tak menjawab pertanyaannya dan malah bertanya pada Dio.


"Aku bertanya padamu, Vino." Veroniccha menggeram kesal.


"Adik bayi tinggal di samping mama. Via sangat cantik." Dio menjawab dengan tatapan masih pada Veroniccha.


Davino memerhatikan wajah Veroniccha yang berbinat saat Dio mengajaknya berbicara.


"Mama suka ice cream?" Dio bertanya dengannya. Meski baru berusia 4 tahun, namun Dio sudah hampir sempurna jika berbicara. Bahkan dengan menyebut huruf 'r'.


"Suka."


Selanjutnya yang terjadi adalah obrolan antara Dio dan Veroniccha sehingga mereka mengacuhkan Vino bahkan ketika mereka sampai di kedai ice cream.


*__*


"Dio tidak menginap di sini?" Veroniccha berkata lirih melepaskan Dio yang sudah dijemput oleh  Rio dan  Nada.


"Nanti Dio akan kesini lagi mama. Jangan sedih," ujar Dio pada Veroniccha yang masih menggenggam tangan Dio.


"Kapan-kapan aku akan membawa Dio menginap di sini. Hari ini tidak bisa karena besok tetangga kami yang baru melahirkan pulang dari rumah sakit. Dan Dio begitu antusias untuk menyambutnya." Nada menjelaskan.


"Olivia?" tanya Veroniccha.


"Iya mama, Via besok datang," jawab Dio yang berada dalam gendongan  Nada.


"Baiklah. Salam untuk Via ya. Lain kali Dio harus menginap di sini."


Meski masih dengan lirih, akhirnya Veroniccha melepaskan kepergian mereka.


*__*


"Vin, Dio lucu sekali."


Davino masih sibuk pada acara TV sembari mendengarkan cerita Veroniccha bersama Dio sewaktu di kedai ice cream.


"Vin,"


"Hmm"


"Vino.."


"Hmm.."


"Davino."


Vino melihat kearah Veroniccha kesal.


"Apa?"


"Lusa aku akan pergi."


*__*


.


.


.