
Kegelisahan Davino menambah satu tingkat. Sedari tadi ia mondar-mandir mengelilingi rumahnya. Sebenarnya tak ada yang salah pada rumahnya. Hanya saja istri anehnya itu belum juga kembali padahal waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Kemudian Davino terlonjak saat suara ponsel berdering dan segera menjawab panggilannya.
"Kau dimana! Kau pikir ini sudah jam berapa, hah?! Pulang sekarang!" Davino menambah jeritan di akhir kalimatnya.
"Vino tolong aku." Suara Veroniccha yang terdengar pelan membuatnya melunak.
"Kau di mana?" Davino bertanya panik dan segera mengambil kunci mobilnya lalu berjalan keluar.
Ketika membuka pintu, ia terkejut. Kemudian memasang wajah masam. Bagaimana tidak, Veroniccha tengah berdiri di sana dengan kantung belanjaan yang tidak sedikit.
"Aku tak bisa membawanya masuk," ujarnya dengan senyum bodoh.
Tanpa menghiraukan Veroniccha, Davino mengambil kantung belanjaan itu dan segera memasuki rumah.
"Kau benar-benar! Apa saja yang kau beli dengan kartuku itu!" Davino menjerit frustasi saat meletakan kantung belanjaan.
"Dan, kemana Nina?"
"Nina langsung pulang setelah taksi mendarat ke sini." Veroniccha mulai membuka belanjaan itu.
"Vino, lihat! Aku membeli ini semua untuk Dio. Lucu bukan?" ujar Veroniccha sembari menunjukkan sebuah baju balita kepada Vino.
Davino hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat semua belanjaan istrinya. Semuanya perlengkapan balita. Ia menyunggingkan senyumnya tipis. Sepertinya ia tahu bagaimana cara menggagalkan rencana Veroniccha untuk pergi besok.
"Oh ya, aku ingin menunjukan sesuatu. Kau pasti terkejut." Veroniccha bangkit dari duduknya kemudian membuka resleting jaket secara perlahan. Astaga bahkan Vino baru tersadar dengan penampilan istrinya yang seperti seorang penjahat. Tubuh hingga kepalanya tertutup jaket hitam.
"Astaga apa yang kau lakukan pada rambutmu?!" Davino menjerit histeris serta mulut yang masih terbuka lebar menatap Veroniccha yang tengah menggerai rambutnya.
"Bagaimana? Bagus bukan?"
Davino menggelengkan kepalanya kuat-kuat, "tidak bagus sama sekali!"
"Kau benar-benar tidak keren. Warna seperti ini sedang keren sekarang."
Veroniccha masih mengibaskan rambutnya yang tadi baru saja dia ganti warnanya. Hitam menjadi banyak warna. Ya, ia ingin menunjukan bahwa sekarang hidupnya lebih berwarna. Tidak hanya hitam saja.
*__*
Davino tengah menyantap sarapan paginya sembari cemas menunggu seseorang yang semalam dipaksanya untuk datang. Sesekali ia melirik kearah pintu dan Veroniccha bergantian.
"Perlengkapanmu sudah semua?" tanyanya di sela ia menyuapkan makanannya.
"Sudah semua."
Mereka kembali terdiam. Veroniccha berbeda hari ini. Ia lebih diam dan tak banyak berekspresi. Hanya datar saja.
"Kau tak apa?" Davino bertanya pelan.
"Hm.." gumamnya lalu bangkit dari duduknya setelah sarapannya habis.
Davino tahu dengan jelas. Veroniccha tak ingin pergi.
"Vino!" Veroniccha berteriak membuyarkan lamunan Vino yang masih terdiam di meja makan.
Ia segera beranjak menyusul istrinya dan senyumnya melebar saat istrinya tengah menggendong Dio.
"Dave, aku benar-benar minta maaf sekaligus minta tolong padamu. Aku harus ke Lombok untuk menjenguk orang tua Nada dan aku minta tolong agar Dio menginap di sini selama seminggu." Mario memulaikan aktingnya sesuai kesepakatan mereka tadi malam.
"Maaf merepotkanmu tapi aku harus pergi sekarang." Mario mencium kening Dio kemudian berlalu.
*__*
Davino menghembuskan napasnya dan kembali memerhatikan Dio yang tengah memainkan mobil-mobilan yang kemarin di beli Veroniccha.
"Mau bagaimana lagi. Kaupun tak bisa tinggal. Mungkin aku akan membawa Dio ke kantor," ujar Vino lirih.
Ia benar-benar melirih. Tak tahu apakah Veroniccha akan membatalkan perjalananya atau tidak.
"Kau pergi pukul 10 bukan? Kalau begitu aku akan bersiap dulu. Mengantarkanmu ke bandara kemudian ke kantor dengan Dio." Davino beranjak menuju kamarnya.
*__*
Davino sengaja memperlambat kecepatannya berharap Veroniccha tertinggal pesawat dan dia tak jadi pergi. Veronicchapun tak memprotes karena sibuk melamun dengan sesekali menjawab ocehan Dio.
"Vin. Sepertinya aku tak jadi pergi." Davino menghentikan mobilnya begitu mendengar suara Veroniccha.
"Sungguh?"
"Hmm... Aku tak tega jika membiarkanmu membawa Dio ke kantor. Kau pasti kerepotan." Davino tersenyum samar.
Kini di sinilah mereka. Di kantor Davino. Sebenarnya tadi Davino ingin kembali kerumah dan sepertinya membolos hari ini tak masalah. Namun Veroniccha ngotot ingin ikut ke kantor. Jadilah mereka di sini.
"Kantormu besar sekali. Pegawaimu juga ramah," kata Veroniccha sembari menepuk punggung Dio yang sudah akan tertidur.
"Kau tak ingin kerumah saja? Sepertinya Dio sudah tertidur." Davino berujar.
"Tak apa. Dia terlihat nyaman tidur di sini. Lagipula kalau kembali kerumah kau takkan kembali ke kantor."
Davino tersenyum samar. Ia benar-benar senang hari ini karena Veroniccha tak jadi pergi. Ia harus membuat Veroniccha menghentikan perjalanannya dalam waktu seminggu ini. Seperti yang Mario katakan, hidup bahagia bersama sampai maut memisahkan. Ia akan mewujudkannya. Membuat Veroniccha jatuh cinta padanya dan mereka akan bahagia bersama.
Davino memegang pulpen tampak sedang memikirkan sesuatu. Diliriknya Veroniccha yang tengah bergabung dengan Dio ke alam mimpi di karpet berbulu yang memang tersedia di sana. Sebenarnya tak tega juga melihat istrinya tergeletak di sana. Mau bagaimana lagi, Veroniccha tak mau di suruh pulang dan ia tak punya kamar pribadi karena memang tak pernah bermalam di kantor. Besok ia akan menyuruh orang untuk membuat kamar pribadi kalau kalau Veroniccha akan main di sini.
Kembali lagi pada pulpen dan kertas yang ada di depannya. Kalau ia adalah penyebab Veroniccha seperti ini, maka ia yang harus bertanggung jawab untuk kebahagian Veroniccha.
Jadi, sampai di mana kita?
Baiklah. Davino harus menyusun hal-hal selama satu minggu ini yang membuat Veroniccha merasa memiliki keluarga kecil dengannya. Menjadi seorang istri untuk Davino Karllen dan menjadi ibu untuk Adio Devano Karllen. Beruntungnya, Dio memanggil mereka mama dan papa.
Jadi, langkahnya adalah :
Hari pertama = membeli perlengkapan rumah tangga.
Davino kembali mengingat saat ia pergi ke swalayan dengan Veroniccha waktu itu. Lelah tapi menyenangkan. Veroniccha pasti akan merasa senang jika ia membawanya kesana. Ditambah dengan kehadiran Dio sebagai pelengkapnya.
Selesai. Hari pertama sampai 7 sudah ia muat dalam kertas dan akan ia laksanakan mulai besok.
Davino kembali tersenyum ketika melihat Veroniccha pulas dengan memeluk Dio. Ia tak menyangka Veroniccha sangat menyukai anak kecil meski awalnya sangat kaku.
Ia beranjak dari duduknya dan ikut terlentang di samping Dio dengan tangan sebagai bantalannya. Ia memerhatikan wajah Veroniccha intens. Wajah mungilnya dengan alis tebal, mata bulat, hidung runcing, dan bibir pink yang menggemaskan.
Bolehkah ia mengecupnya?
Davino tahu ia telah kalah saat bibirnya mendarat mulus pada bibir pink itu. Katakanlah ia si pencuri ciuman. Nyatanya sudah dua kali ia mengecup bibir pink itu saat sang empunya tengah tertidur.
Apakah ia memang kalah saat bibir mereka bertemu pertama kali?
*__*