
Hari ini rasanya Davino ingin mati saja. Menghilang dan meninggalkan dunia. Ini gila. Pekerjaan yang seperti menghilangkan segala pikirannya. Sudah dua minggu proyek yang dikerjakannya belum juga selesai dan sepertinya laki-laki itu memang nyaris gila karena tidak tahu apa yang ada dipikirannya saat ini.
Huftt..
"Maaf, pak. Ada seseorang yang tamu yang ingin menemui anda. Suara Fiya membantu mengalihkan Davino dari setumpuk berkas di atas mejanya.
"Suruh ia masuk."
Senyumnya seketika mengembang. Davino merasa bebannya akan terangkat sebentar lagi. Masih dengan senyum lebarnya, ia menyambut tamunya yang sudah duduk sofa dengan wajah datarnya.
"Apa kabar, Pak Farel Govanda. CEO muda berbakat dari Govanda Group yang amat terkenal di Sulawesi," sapa laki-laki itu bermaksud menjabat tangan tamunya. Namun sebelum itu terjadi, pria berkacamata itu mencibirkan bibirnya dan menepis tangan Davino keras.
"Sialan kau! Kau belum terlalu tua tapi memorimu sudah seperti kakek kakek renta," ujarnya sembari melepas kaca mata hitamnya.
Davino terkekeh geli. Sepertinya lagi-lagi dia salah mengenali makhluk di depannya.
"Jangan salahkan aku jika aku tak mengenalimu. Banyak sekali perubahan yang kudapatkan pada dirimu. Kemana perginya rambut gondrong yang kau bangga banggakan itu? " tanyanya meledek.
Banyak sekali perubahan dari makhluk dihadapannya ini. Davino ingat, laki-laki itu bahkan hanya pernah sekali mengenakan pakaian formal. Pada acara wisuda mereka. Lalu sekarang, temannya memang sudah berubah.
"Jika bukan karna ancaman papi yang akan membakar semua lukisankupun takkan ku lakukan berpenampilan seperti ini. "
Davino kembali tertawa kencang melihat muka tamunya yang memerah menahan kesal.
"Darel Darel. Kau memang tak pernah berubah. "
Darel Giovanda. Saudara kembar Farel Giovanda yang juga teman Davino sejak mereka duduk di bangku SMA. Tidak ada yang salah memang jika Davino tidak bisa membedakan keduanya. Sebab keduanya memang kembar identik dan susah sekali membedakannya jika mereka memiliki gaya pakaian yang sama seperti sekarang.
"Perusahaanmu sudah sebesar ini tapi kau kedatangan tamu tak ada air minum segelaspun yang tersedia? Bena-benar miris." Darel kembali mencibirkan bibirnya.
Davino tertawa sekali lagi kemudian menghubungi sekretarisnya untuk mengantarkan minum.
"Jadi, sekarang kau menetap di Jakarta? " tanya Davino.
"Tidak. "
"Tidak?"
"Aku masih ingin menjelajah. "
Ternyata sahabatnya ini masih belum berubah. Senang menjelajah seperti seseorang. Namun, siapa?
Mengeyahkan pikirannya, Davino kembali bertanya, "Lalu, bagaimana tentang permintaanku yang ku katakan kepada Farel? "
"Kau tenang saja. Farel sudah mengatasinya. Besokpun kau sudah bisa mulai membangun proyekmu itu," ujarnya santai.
"Aku tahu aku dapat mengandalkan kalian berdua. " Davino masih dengan senyum lebarnya.
**
Sial.
Dering ponsel ini terus mengganggunya. Astaga siapapun orang yang mengganggu tidur nikmatnya saat ini memang keterlaluan.
"Halo!" Bentak Vino ketus ketika menjawab panggilan tersebut.
"Yeoboseyo," jawab seseorang. Davino menjauhkan ponsel dari telinganya dan melihat siapa yang menelfon tengah malam seperti ini. Dengan bahasa asing.
"Sorry, who are you? " tanyanya.
"This is Seo Cha Hyun husband? "
"Sorry, wrong number." Panggilan terputus begitu saja. Tentu saja Davino yang melakukannya.
Ada ada saja tengah malam seperti ini. Orang asing pula. Benar benar pengganggu.
Davino kembali meletakan ponsel di atas nakas dan mencoba tertidur kembali. Sampai dering ponsel kembali terdengar.
Seharusnya tadi ku matikan saja ponselnya.
"Halo, sorry for bothering you. I am Cha Hyun's neighbor. Your wife was in hospital now. we should immediately contact her guardian to ask you to come here," jelas seseorang panjang lebar.
"But Seo Cha Hyun is not my wife. "
Tunggu. Sepertinya aku mengenal nama itu. Astaga!
"For God shake. I am in Indonesia now. I'll soon be there. Please take care of her. "
Kini Davino terbangun sepenuhnya saat mendengar nama itu. Kemudian segera menghubungi sekretarisnya untuk memesankan tiket pesawat malam ini juga ke.. Kemana?
Astaga ia lupa! Si pengganggu tidurnya tadi belum mengirimkan dimana alamatnya. Davino segera membatalkan panggilan kepada sekretarisnya dan berganti alih menghungi si pengganggu tidurnya itu.
"Hello! I am Dave, Veroniccha's husband. Where is my wife now? I'll be there as soon as possible."
"Sorry. Wrong number."
Davino menjauhkan ponselnya dari telinga dan melihat siapa yang ia telfon barusan. Alisnya naik saat tahu bahwa ia tidak salah menghubungi. Nomor ini benar nomor yang tadi mengganggu tidurnya.
"I am not wrong. It is you. You called me before. Right?" Katanya kembali menghubungi orang itu.
"I said no."
Tut.. Tut.. Tut..
Sambungannya terputus begitu saja dengan Davino yang masih melongo seperti orang bodoh.
Wah! Kejutan apa lagi ini?
Tapi tunggu! Darimana dia tahu dia adalah suami Veroniccha? Ah! Sudahlah! Lebih baik tidur ketimbang memikirkan hal tidak penting.
Sial! Davino tak bisa kembali memejamkan matanya seperti niatnya tadi. Semua ini karena istri anehnya itu. Padahal sudah dua minggu wanita itu pergi. Jujur, awalnya Davino merasa ada yang beda pada rumahnya. Ia merasa rumahnya menjadi sepi.
Ia merasa kosong. Davino tahu hal seperti itu sebenarnya bukan hal yang aku rasakan mengingat ada Nina sebagai kekasihnya. Ya, Davino tahu ini aneh karna Veroniccha lah istriku. Istri anehnya.
Seperti kosong ini yang telah menistakan hati dan fikiranku.
*__*
Seminggu sejak malam itu telah berlalu. Hari ini Davino sangat letih. Proyek yang waktu itu dibicarakan dengan Darrel tengah berjalan dan laki-laki itu baru saja pulang dari lokasi pembangunannya.
Laki-laki itu hampir saja tertidur sebelum matanya kembali terbuka saat telinganya menangkap suara ribut dari depan rumahnya.
Bahkan dirumahnya Sendiri pun ia tak bisa tenang?!
Kini Davino sudah berdiri di hadapan dua orang yang tengah bertengkar. Salah satunya adalah istrinya. Si perempuan aneh. Davino hanya melipat kedua tangannya memerhatikan keduanya. Sampai seorang gadis bermata sipit melihat kehadirannya dan menghentikan aksi bertengkarnya.
"Hallo Mr. Dave. I am Go Seo Yeon. This is your wife, right?" Gadis itu menarik Veroniccha kehadapan Davino dan Davino hanya mengangguk membenarkan.
"I drove your wife because i was fed up with her. Please take care her well and give her many food. Excuse me!" Gadis itu pergi diikuti dengan Veroniccha yang menarik narik lengannya sembari menjerit.
"Kajima! Kajima! Eoh! Eoh! Ya! Go Seo Yeon. Nan Neoui Chingu-ya. Jebal."
"Geumanhae Cha Hyun-ah."
Selanjutnya yang terlihat adalah adegan dramatis antara Veroniccha dan temannya. Davino merasa disini adalah ia berperan sebagai tokoh jahat yang memisahkan mereka berdua.
Disinilah mereka sekarang. Di ruang TV dengan tangan masih telipat sempurna di depan dada dan menatap sengit Veroniccha yang tengah duduk tertunduk sembari memilin bajunya.
"Bisa dijelaskan ada apa ini?" ucap Davino langsung.
"Oh ya, dan itu temanmu yang menghubungiku malam malam dan berkata kau sakit? Jadi kau sakit apa?"
"Sebenarnya aku hanya demam biasa. Ah sudahlah! Aku malas bercerita! Lain kali saja! Aku ingin tidur!"
Veroniccha bangun dari duduknya dan segera masuk pergi menuju kamarnya.
Jika kalian bertanya apa makhluk paling mengerikan di dunia ini, Davino akan berteriak, 'Veroniccha!'
.
.
.