Stay

Stay
Episode 22



Vino melangkah menuruni tangga dengan Veroniccha yang menempel di belakangnya. Perempuan itu menyembunyikan wajahnya pada lengan Vino dan mengabaikan Dennis yang mencolek lengannya mencoba menggodanya.


Astaga bahkan wajahnya masih semerah tomat. Tapi Dennis tanpa rasa kasihan malah bersiul-siul dan memasang wajah jenakanya pada Veroniccha yang sudah duduk di sofa setelah menyapa Yulia --ibu Vino.


"Sekarang ganti Veroniccha yang sakit?" Veroniccha mengangkat wajahnya dari lengan Vino dan menatap gugup pada Yulia.


"Tidak, ma," jawabnya kemudian.


"Mama pikir kau sakit karena kelelahan mengurus Davino yang sakit. Mama kemari karena khawatir. Davino itu menyusahkan jika sedang sakit." Yulia mencibir dan menatap Vino. "Mama," peringat Vino denan wajah menekuk.


"Mama benar. Vino manja sekali saat sakit." Veroniccha menimpali dan membuat wajah Vino kian menekuk.


"Ya. 'Manja sekali'," sambung Dennis dengan makna berbeda masih tersenyum jenaka pada Veroniccha.


Apa-apaan Dennis ini. Akan ku balas!


"Nina datang bersama Mama?" tanya Veroniccha pada Nina yang sedari tadi hanya diam.


"Eh, tidak," jawabnya.


"Tadi Mama melihatnya dengan Farel sedang berjalan, lalu Mama sapa dan ternyata Nina ingin kesini. Sekalian saja mama ajak," yulia menjelaskan.


"Itu Darel, Ma. Bukan Farel. Lalu kemana Darel sekarang?" Veroniccha tersenyum puas kearah Dennis yang kini memalingkan wajahnya.


"Tadi aku dan Darel tidak sengaja bertemu. Dia bilang akan pergi menemui temannya." Vino hanya menganggukkan wajahnya dan Veroniccha masih menatap Dennis yang memalingkan wajah dengan tatapan jenaka.


Kena kau!


"Jadi bagaima? Sepertinya kau terlihat sehat." Vino menggaruk tengkuknya kikuk. Setelah kejadian manis di kamar tadi, jujur saja ia langsung merasa ringan. Kepalanya tidak merasa sakit lagi lagi meskipun keningnya masih hangat.


"Aku sudah baikan, Ma."


"Syukurlah. Mama khawatir saat Veroniccha menelfon. Karena kau itu merepotkan dan manja sekali saat sakit."


"Aku tidak merepotkan lagi, Ma. Iya kan, Ve?"


Veroniccha mendengus, "tidak merepotkan apanya. Kau manja dan cerewet saat sakit. Seperti Dennis. Kalian memang cocok."


Yulia dan Nina tertawa. Menyisakan Vino dan Dennis yang semakin cemberut. Disela tawanya, Nina menatap Dennis sekilas. Nina jadi mengingat kembali, Veroniccha benar. Dennis yang biasanya tenang akan menjadi menyebalkan dan cerewet saat sakit.


***


Veroniccha menikmati angin yang kian membelai wajahnya. Ia masih terduduk bersama Yulia di taman halaman rumah. Setelah saling berbagi tawa dan makan malam, Yulia mengajaknya duduk bersama menikmati secangkir teh hangat.


Yulia tersenyum samar. Ia sangat bersyukur karena bisa merasakan kehangatan seperti tadi. Dan ia lebih sangat bersyukur Vino dapat merubah putri sahabatnya menjadi lebih bersemangat.


Yulia ingat, saat ia dan Veroniccha bertemu waktu Veroniccha kembali ke Indonesia. Pertemuan pertamanya sejak 20 tahun yang lalu. Veroniccha begitu dingin menanggapinya setelah tahu Yulia adalah teman Papanya. Kemudian berubah saat Yulia memberitahu bahwa ia adalah sahabat Mamanya.


Yulia banyak bercerita tentang masa muda Rania -mama veroniccha, sewaktu muda. Hal yang membuat Veroniccha menjadi akrab dengan Yulia. Lalu saat Yulia menceritakan perjodohan yang sangat diinginan Rania, menjodohkan Veroniccha dengan Davino, putranya. Tanpa berpikir, Veroniccha menyanggupinya. Jika hal yang menyangkut Mamanya, ia akan menyanggupinya.


Ia memang tak suka memperdulikan orang lain. Ia tak suka berteman dan tak memiliki teman. Ia tak butuh hal yang dinamakan 'teman'. Tapi ia bukanlah perempuan jahat yang akan merebut kekasih perempuan lain. Itu sama saja seperti wanita yang dibencinya. Wanita yang merebut Papanya dan menghancurkan keluarganya.


Apalagi saat ia mengetahui seperti apa kekasih Vino. Nina adalah perempuan ramah dan baik hati. Terlebih mantan kekasih Dennis. Ia bahkan sempat bertemu Nina sebelum bertemu dengan Vino. Nina adalah perempuan sempurna yang cocok dengan Vino.


Setidaknya dengan membiarkan Vino dan Nina bersama, sedikit mengurangi rasa bersalahnya pada hati gadis itu yang telah Dennis hancurkan karenanya. Hanya karena Dennis ingin bersamanya dan menjaganya.


"Kau bahagia, Nak?" Veroniccha menoleh pada Yulia dan mengangguk mantap.


"Hmm.. Sangat. Aku sangat berterimakasih karena mama sudah melahirkan Vino. Hal yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Hidup bahagia bersama suamiku. Bahkan memikirkannya saja aku tak mampu."


"Kau harus selalu bahagia, Nak. Untuk Mamamu. Berjanjilah kau akan terus ternyum seperti sekarang. Lupakan masa-masa kelammu yang membuatmu begitu sakit." Yulia menggenggam tangan Veroniccha erat.


Ia telah berjanji pada Rania akan membuat putrinya bahagia. Putrinya yang tak sengaja ia tinggalkan pada saat usianya 5 tahun. Melihat Veroniccha Yulia seperti melihat Rania. Sahabatnya sejak kecil. Sahabat yang disayanginya. Perempuan paling baik hati dan terlampau baik hingga menjadi bodoh. Bahkan relah menukar kebahagiannya demi rasa bersalah.


Rania adalah lambang kebahagian bagi orang disekitarnya. Karena dekat dengan Rania, seperti dekat dengan parfum. Sudah tercium wanginya meski jauh.


"Kau tahu? Mamamu sangat menyayangimu. Melebihi apapun di dunia ini." Veroniccha ternyum kecut. "Jika seperti itu Mama tak akan pergi meninggalkanku."


"Tidak, Nak. Mamamu tidak pernah meninggalkanmu."


Veroniccha masih terdiam. Mengingat wajah Mamanya yang telah samar diingatannya. Ingatan yang membuat dadanya semakin sesak karena yang terbayang adalah wajah saat Mamanya membawa koper besar dan perut besar, kemudian berjalan hingga hilang dari pandangannya. Menyiskan ia bersama tangisan dan pilu.


"Lalu dimana Mamaku sekarang, Ma? Mama pasti tahu bukan? Banyak sekali hal yang ingin kutanyakan dengannya. Banyak sekali ketakutan yang ingin kuceritakan saat Mama pergi kala itu. Kebencianku pada Gladis yang ternyata adik kandungku. Bagaimana hal itu terjadi! Aku ingin tahu!" Veroniccha menangis pilu.


Yulia membawa tubuh Veroniccha dalam dekapannya. Yulia sudah mengetahui hal ini. Rahasia yang sudah Tio beberkan. Tio, laki-laki bodoh yang sangat mencintai Rania, hingga melakukan apapun yang perempuan itu katakan.


***


Vino memejamkan matanya erat. Air matanya ikut menetes saat melihat Veroniccha menangis pilu dipelukan Mamanya. Ia tahu Veroniccha bahagia bersamanya. Tapi selama semua ini belum selesai, ketakutan itu akan terus mendera mereka. Seharusnya ia menyelesaikan ini segera.


Ya. Ia akan menyelesaikan teka teki ini. Lalu dari mana? Ia tak tahu apapun!


"Semua ini berawal karenamu. Veroniccha dan ibunya berpisah."


Ucapan Mario terlintas dibenaknya. Jika ia adalah penyebab masalah ini, maka ia akan mencari jalan keluarnya segera.


Ya! Ia akan menuntaskan teka teki ini dan bertanya pada Mamanya secepatnya.


.


.


.


.