
Pergilah! Lalu kembali dan tinggal...
.
.
.
.
"Aku rasa ini tidak bisa diteruskan lagi." Nina menatap Davino dengan sendunya.
"Kau tidak usah memikirkannya. Dia juga tidak mengingkan pernikahan ini. Ku mohon jangan seperti ini." Davino terus menggenggam tangan Nina di atas meja.
Mereka sedang berada di cafe yang tak jauh dari kantor Davino. Nina yang mengajaknya bertemu di sini. Ia pikir Nina merindukannya, namun nyatanya tidak. Ia meminta berpisah karena tidak enak hati pada Veroniccha yang kini di rumah Davino.
Sudah dua minggu Veroniccha di rumahnya dan sudah satu minggu Nina mengetahuinya. Davino pikir tidak ada yang salah karena mereka cukup dekat. Tapi kedekatan itu yang membawa meraka pada kondisi seperti sekarang.
"Dia terlalu baik. Aku tidak bisa terus menyakitinya. Hubungan kita salah, Dav."
Davino tahu. Veroniccha memang sangat baik pada Nina. Mungkin itulah yang membuat Nina merasa tidak nyaman.
"Kau bahkan sudah tahu jelas, aku menyayangimu. Tapi sepertinya aku menyayangi Veroniccha. Ia seperti adikku yang telah lama hilang."
Davino tahu dengan jelas. Nina hanya menyayanginya. Tidak mencintainya. Begitu pula dengan Davino. Mereka memang mengikat hubungan sebagai sepasang kekasih. Tapi baik Davino maupun Nina tidak pernah punya pandangan perihal pernikahan mereka berdua. Namun Davino begitu nyaman jika bersamanya. Itulah hal yang membuat Davino tidak mau mereka berakhir saat ini.
"Aku tidak bisa kehilanganmu." Davino melirih.
Nina menggelengkan kepalanya dan menatap Davino, "kau tidak akan kehilanganku, Dave. Kita akan tetap seperti ini. Kau akan tetap menjadi orang terdekatku."
Davino menghembuskan napas pasrah. Sepertinya memang ini yang terbaik untuk sekarang. Davino akan fokus untuk merubah Veroniccha sesuai keinginan ibunya dan untuk kedepannya nanti saja dipikirkan.
"Baiklah."
Nina beranjak dari kursinya dan langsung memeluknya.
"Hay! Apa aku mengggu?" ujar seseorang yang membuat Nina mengurai pelukannya seketika dan menatap orang itu gugup.
Veroniccha.
"Ah tidak kok," jawab Nina sembari menghapus air matanya.
"Kau menangis?!" jerit Veroniccha yang mengundang perhatian pengunjung caffe.
Davino menatapnya malas dengan kelakuannya sekarang. Ia tidak pernah menyangka bahwa Nina dan Veroniccha bisa menjadi sedekat ini.
Davino kembali menghembuskan napas malas mendengar ocehan Veroniccha di bangku belakangnya. Ia masih saja memarahi Davino perihal Nina yang tadi menangis. Padahal Nina sudah menjelaskan itu karena kucingnya yang mati. Davino dan Nina memang sepakat tidak memberitahu Veroniccha perihal berakhirnya hubungan mereka.
Veroniccha memang benar-benar makhluk aneh. Sewaktu Nina kembali dari kampung halamannya, ia segera menemui Davino dan sangat terkejut dengan kehadiran Veroniccha. Tapi Veroniccha merubah semuanya dengan menghabiskan waktu bersama Nina dan mereka menjadi akrab.
Davino tidak tahu mengapa Veroniccha seperti itu. Tapi Davino tahu bahwa ia memang ikhlas ingin berteman dengan Nina.
Davino baru sadar. Veroniccha tidak mau berteman dengan Nina. Ia pernah mengucapkannya sewaktu mereka makan siang bersama.
"Aku tidak berteman dengan Nina. Lagipula aku tidak mau berteman dengan wanita."
Ucapnya kala itu ketika Davino berkata bahwa kedekatan mereka sudah seperti teman lama yang sangat akrab.
Sebenarnya sebelumnya Veroniccha pernah memberi tahu hal itu dan menganggap Nina adalah kekasih adiknya. Dan, disitulah ia menegaskannya kembali. Nina yang sebelumnya sedih mendengarnya, kala itu ia malah tersenyum.
"Kalau begitu jadilah adik perempuanku."
Pinta Nina kala itu yang membuat Veroniccha menggeleng tegas. Nina memang pernah mempunyai adik perempuan dua tahun di bawahnya. Tapi adiknya menghilag saat mereka berlibur dan tidak ditemukan hingga kini. Tapi Davino sangat yakin Veroniccha bukanlah adik Nina. Ia bahkan empat tahun lebih tua di atas Nina.
Perihal permintaan Nina kala itu, Veroniccha menjawab ia tak ingin mempunyai saudara perempuan.
"Kau tak usah khawatir. Aku berbeda dengan saudara perempuan yang lain. Aku akan menjadi kakakmu dan aku yakin kau akan senang mempunyai kakak sepertiku."
Bujuk Nina yang membuat Davino bingung karena Veroniccha langsung menganggukkan kepalanya.
Perihal sifat Veroniccha, Davino belum bisa mengetahui sepenuhnya. Yang ia tahu, Veroniccha adalah gadis mandiri yang ceria namun sebenarnya sangat tertutup. Ia ingat ketika Veroniccha menangis di tidurnya kala itu. Vino sempat bertanya alasannya. Namun Veroniccha hanya menjawab bahwa ia sedang merindukan ibunya. Namun ketika Davino mengajaknya untuk kerumahnya dan menemui ibunya ia malah menolak mentah-mentah. Sudah dua minggu Veroniccha di rumah Davino dan mereka belum ke rumahnya.
*__*
Wajahnya berbeda kala ini. Biasanya ketika ia akan menonton TV ia akan menarik lengan Davino dan membawanya untuk menonton bersama. Namun kali ini ia tak melakukannya. Davino masih memerhatikan Veroniccha yang sedang menatap kosong ke arah tv. Ia selalu seperti ini jika hendak pergi.
"Kemana?" tanya Davino masih memerhatikannya.
"Spanyol," jawabnya tanpa menatap Davino.
"Tidak usah pergi jika kau ingin tinggal."
Veroniccha menatap Vinodan langsung memeluknya. Vino hanya terdiam beberapa saat sampai akhirnya membalas pelukannya.
"Tapi aku tak bisa." Suaranya bergetar saat mengucapkannya.
Ia menangis.
Davino mencoba mengurai pelukkannya namun ia semakin menempelkan kepalanya di dadanya dan lengannya melingkar kuat di pinggang Davino.
"Tinggallah. Nina akan senang jika kau tetap tinggal."
"Aku tak bisa."
Davino melepaskan pelukannya dan menatap tepat di matanya. Ada yang aneh pada diri Davino saat menatapnya seperti ini. Dadanya lebih bergemuruh hebat dan ada perasaan tak senang saat air matanya meluncur.
"Pergilah."
Ia masih terdiam dan mata mereka masih bertemu.
"Lalu kembali secepat yang kau bisa."
"Lalu kembali jika kau lelah."
"Lalu kembali dengan semua beban yang telah kau lepas."
"Lalu kembali dan tinggal."
*__*
Davino menggerakkan tangannya mencari ponsel yang berdering kencang di atas nakas.
"Halo," ucapnya pada orang di sebrang sana yang entah siapa.
"David, bisa kau membawa Veroniccha hari ini bertemu papa?"
Davino langsung terduduk dan melihat siapa yang menelfon.
Tio --mertuanya.
Davino segera turun dari ranjang dan melirik Veroniccha yang masih terlelap lalu keluar kamar.
"Iya pah. Nanti David akan membawa Veroniccha ke rumah."
"Tapi papa minta, tolong jangan beritahu Veroniccha. Ia akan menolaknya jika tahu akan kerumah." Davino mendengar lirihan Tio di seberang sana.
"Papa tenang saja. David akan datang ke rumah papa bersama Veroniccha pada makan malam nanti."
Sudah lebih 15 menit telfon berakhir. Namun Davino tak bisa kembali tertidur padahal waktu masih pukul tiga dini hari. Yang ia lakukan kini hanya menatap Veroniccha yang tengah terlelap. Masih ada sebuah tanda tanya besar di kepala perihal hubungannya dengan keluarganya.
Davino memerhatikan Veroniccha yang kini bergerak gelisah dalam tidurnya.
"Ma, jangan tinggalkan Icha." Davino kembali merasa tersayat mendengar igauannya.
Ada apa dengan dia sebanarnya?
Davino mendekapkan dan mengusap kepalanya. Hanya ini yang dapat ia lakuan selama dua minggu ini ketika Veroniccha kembali menangis dalam tidurnya.
*__*