
Ingin rasanya Veroniccha melupakan semuanya. Melupakan bahwa kenyataan yang baru ia dapat akan membungkam seluruh kenangan manis yang telah ia bangun bersama Vino. Tentang mimpi indah mereka akan masa depan. Tentang anak-anak yang akan hadir nantinya melengkapi kebahagiaan mereka.
Nyatanya Veroniccha begitu naif untuk melupakan semuanya. Kenyataan itu yang ia tunggu selama ini. Kenyataan yang ia yakini akan membantunya keluar dari lubang hitam yang selama ini menyiksanya. Tapi salahnya, selama ia menunggu, ia membangun sebuah mimpi di lubang itu. Berikut jutaan warna yang menghiasi segalanya. Lalu ketika penantiannya itu tiba, ia terlalu nyaman berada di lubang itu. Jadi rasanya begitu sakit saat akan keluar.
Terkadang Veroniccha berpikir, mengapa ia tak tinggal saja di dalam lubang itu? Toh ia sudah berhasil menciptakan sesuatu yang indah yang ia impikan. Hidup bahagia.
Veroniccha merasa bahagia saat bersama Vino. Namun itu belum cukup. Ia menginginkan kebahagiaan bersama Vino. Keluar dari lubang itu. Tapi kenyataan yang menghantamnya. Vino adalah penggali lubang itu. Ia tinggal dan menetap di sana tanpa disengaja.
Lalu apa yang terjadi saat ini? Veroniccha tentu saja ingin keluar. Masih bersikukuh ingin keluar meninggalkan lubang itu bersama penggalinya yang terkunci di dalam sana.
Tapi ia ragu, apakah akan baik-baik saja semua saat ia keluar? Apakah ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan selama ini? Veroniccha ragu dan terlalu rapuh.
Hanya bisa merenung dan meneteskan banyak air mata yang ia bisa lakukan saat ini. Tidak ada alasan untuk melupakan segalanya. Inilah yang ia tunggu. Keluar dari lubang hitam. Meninggalkan segala penderitaannya selama ini. Juga kebahagiaan yang baru saja ia raih.
Tidak. Veroniccha tak ingin pergi. Tapi, bisakah? Setelah penantiannya selama ini? Bisikah ia menetap di dalamnya? Atau bisakah ia membawa Vino turut serta? Lalu menutup lubang itu bersama.
Itu hal yang ditawarkan Vino sebelum Veroniccha menyunggingkan senyum kebenciannya. Lalu Vino sadar diri bahwa ia takkan mampu menutup lubang itu bersama Veroniccha. Kemudian membiarkan Veroniccha keluar seorang diri dan membangun kebahagiaan yang ia impikan selama ini.
***
"Sudah! Jangan lagi!" Farel merebut paksa alkohol yang ditenggak Vino tiga jam yang lalu. Sahabatnya itu begitu kacau dan berantakan.
"Dia membenciku. Dia membenciku, Farel." Vino kembali meracau dan merebut botol itu dari tangan Farel kemudian menenggaknya kembali.
"Dia akan meninggalkan ku. Dia akan pergi." Vino memukul dadanya yang terasa semakin sesak.
Bayangan wajah kebencian yang Veroniccha beri padanya membuat dadanya seperti ditikam belati. Bahkan lebih parah dari itu saat Veroniccha mengucapkan kata perpisahan. Vino seperti ingin mati.
Apa ini akhirnya? Apa ini adalah akhir dari segala kisah yang bahkan baru ia bangun bersama Veroniccha? Tapi mengapa secepat ini? Mengapa juga ia tak mendapatkan Happy Ending dalam kisahnya?
Vino memang tak pantas mendapatkan akhir bahagia atas apa yang ia lakukan kepada Veroniccha walaupun itu bukanlah keinginannya.
***
Vino kembali tidur di kamarnya. Tanpa veroniccha yang memutuskan untuk tidur di kamar sebelumnya. Meski ia sangat ingin berada di samping Vino saat ini. Membersihkan kekacauan Vino malam ini. Tapi egonya terlalu tinggi dan melarangnya melakukan hal itu. Jadi saat ini ia hanya bisa menangis kembali di kamarnya.
Veroniccha masih terjaga hingga mentari menampakkan silaunya. Ini adalah kali pertama sejak ia tinggal bersama Vino Veroniccha tak tidur semalaman.
Veroniccha bangkit dari ranjangnya dan menatap sekilas pada koper yang sudah berisi penuh pakaiannya. Ya, ini adalah jalan terbaik untuk keduanya.
Ia berjalan keluar kamar dan sedikit terhentak saat menemukan Vino yang terduduk di meja makan dengan pakaiannya yang semalam. Laki-laki itu terlihat semakin kacau.
Dengan perlahan dan mencoba tak memperdulikan Vino yang tengah menatap padanya, Veroniccha berjalan dan mengambil minuman lalu menenggaknya dan akan kembali ke kamarnya sebelum sebuah tangan meraihnya kemudian mendekap tubuhnya erat. Air matanya nyaris meluncur kembali saat ia mencium aroma alkohol dari tubuh suaminya.
Vino tak pernah seperti ini sebelumnya. Ia tak pernah sekalipun mendapatkan Vino dalam keadaan seperti ini sebelumnya.
"Tidak bisakah kita keluar bersama? Tidak bisakah kau membawaku keluar? Aku mohon," lirih Vino bersama dekapannya yang kian mengerat.
Veroniccha hanya tergagu di tempatnya. Pelukan ini yang akan ia rindukan seumur hidupnya nantinya. Pelukan yang dapat membuatnya nyaman. Namun tidak kali ini, ia tak ingin terbius lagi. Ia harus keluar, seperti yang ia harapkan selama ini.
***
Veroniccha kembali mencoba menahan laju air matanya yang kian deras. Nyatanya ia rapuh. Ia terlalu rapuh untuk meninggalkan Vino sekarang. Tapi ia harus. Agar hatinya tak lagi menuntut kebebasan.
Dengan langkah pasti ia keluar dari kamarnya dengan koper di tangannya. Ya, ini memang dirinya. Ia tak akan bisa menetap lama seperti orang kebanyakan.
Keluar, ia menemukan Vino yang tengah menatap kearahnya. Masih sama seperti semalam penampilan laki-laki itu. Kacau.
"Izinkan aku mengantarmu kali ini. Setidaknya izinkan aku melihatmu untuk yang terakhir kali." Vino mengambil koper dari tangan Veroniccha dan membawanya ke dalam bagasi mobilnya.
Lalu mereka diam sepanjang perjalanan menuju bandara. Dengan Vino yang sesekali menatap Veroniccha yang menatap jendela.
Veroniccha terhentak saat jarinya berpindah posisi pada pangkuan Vino. Ia ingin menarik kembali tangannya dan akhirnya ragu kemudian membiarkan tangannya pada genggaman Vino yang hangat. Setidaknya untuk saat ini dan untuk terakhir kalinya.
Vino merasa sesak lagi saat Veroniccha membiarkannya mengganggam jemari itu erat. Bisakah ia tak melepaskan jemari ini selama lamanya?
"Bisakah kau tak pergi?" Vino kembali memohon saat mobil sudah berhenti di parkiran.
"Aku tahu, kesalahanku adalah hal dimana sangat sulit untuk di maafkan. Tapi bisakah, kita memulainya dari awal? Memulai langkah baru untuk bahagia. Bukankah kau ingin bahagia? Kita akan bahagia dengan dua putri yang lucu dan satu putra yang menggemaskan seperti Dio. Bukankah itu indah?"
Sangat indah.
Vino sadar atas diamnya veroniccha. Hal itu adalah hal yang mustahil untuk mereka dapatkan saat ini. Meski tak rela, Vino harus melakukannya. Itu yang terbaik untuk Veroniccha saat ini.
***
"Jaga dirimu baik-baik. Jangan sampai sakit. Itu akan lebih menyakitiku jika kau sakit. Carilah kebahagiaanmu dan berbahagialah. Aku mencintaimu." Vino menempelkan bibirnya pada kening Veroniccha lama. Kembali mengingat hal bahagia yang telah mereka lewati selama ini. Meski terasa hanya sebentar.
"Aku pergi." Vino menarik dirinya kemudian tersenyum masam saat melihat Veroniccha yang masih terdiam. Kemudian ia mengecup bibir pink itu sekilas dan benar-benar pergi. Menyisakan Veroniccha yang perlahan meluruh ke lantai. Bersama air mata yang meluruh.
"Berbaliklah, Vino. Berbaliklah, lihat aku dan aku akan melupakan segalanya. Berbaliklah, Vino. Ku mohon berbalik." lirihan itu hanya terdengar menyedihkan. Tak sampai terdengar pada Vino yang sudah berjalan jauh tanpa berbalik seperti yang Veroniccha lirihkan.
Nyatanya, sekarang Veroniccha menyesal untuk pergi. Ia ingin tinggal bersama Vino lebih lama lagi.
.
.
.
.
.
.