Stay

Stay
Episode 21



Veroniccha masih mondar mandir dengan sumpah serapah di mulutnya. Sejak 20 menit yang lalu Veroniccha menyuruh Dennis membeli obat demam dan sampai sekarang belum kembali. Belum lagi Vino yang sejak demam menjadi rewel sekali. Sukses membuat Veroniccha hampir pecah kepalanya!


"Ve!" Veroniccha kembali mengumpat saat mendengar teriakan Vino dari kamarnya.


"Iya, Vin,  sebentar. Buburnya sudah hampir selesai," jawab Veroniccha berteriak juga. Veroniccha bingung. Vino sedang sakit tapi suaranya bisa sekencang itu saat berteriak. Padahal kamar mereka di lantai atas dan rumah Vino tidaklah kecil.


Setelah bubur matang, dengan segera Veroniccha kembali kekamar dan melihat Vino yang sedang mengerucutkan bibirnya. Veroniccha mengabaikan wajah kesal Vino dan membantu Vino duduk bersandar di ranjang.


"Kau lama sekali," gerutunya.


Veroniccha hanya berdecak dan menyendokkan buburnya. Saat akan masuk ke dalam mulut Vino, ia menariknya kembali. "Sebentar masih panas." Veroniccha meniupkan buburnya dan Vino berdecak kesal lagi.


"Aku sudah sering bilang, kalau bekerja itu ingat waktu. Lihat, kau sakit, kan sekarang." Vino memberengut kesal saat omelan khas ibu-ibu dimulai.


"Aku sedang sakit. Kenapa kau malah mengomel. Seharusnya kau memanjakanku." Vino memasang wajah kekanakannya dan membuat Veroniccha mengerenyit heran.


"Mirip seperti Dio." Bibir Vino semakin mengerucut.


Di sela suapannya, Vino tersenyum. Ia bersyukur. Sangat bersyukur. Veronicchanya sudah kembali. Setelah pertemuan dengan Gladis seminggu yang lalu, mereka menghasilkan kesepakatan yang membuat Veroniccha berubah. Mereka sepakat takkan mengulas masa lalu itu dan membiarkan segalanya mengalir. Gladis kasian dengan Papa yang semakin hari semakin kurus karena diteror dengan pertanyaan itu. Mungkin Papanya belum mau membagi kisah itu pada mereka.


Setelah kesepakatan takkan menuntut Papanya bercerita, hubungan Veroniccha dan Gladis membaik. Meskipun masih sangat terlihat Veroniccha begitu canggung ketika Gladis mencoba akrab dengannya. Gladispun memakluminya. Semuanya hanya perlu waktu untuk menjadi indah.


Dennis memutuskan untuk menetap di Indonesia sampai semua masalah keluarganya selesai. Juga masalahnya dengan Nina. Untuk pekerjaannya, ia akan memantau dan sesekali saja pergi ke Swiss.


"Iccha!" Veroniccha kembali menghela napas jengah saat lagi-lagi seseorang berteriak di rumahnya. Ia akan bangkit menemui Dennis. Tapi sebelumnya, lengannya ditahan oleh Vino.


"Biarkan saja ia yang menemuimu. Aku tak mau ditinggal," kata Vino dengan tampang menyebalkannya. Tampang yang seharusnya dimiliki Dio.


"Kau manja sekali," ujar Veroniccha.


"Biarkan saja. Aku bermanja dengan istriku. Bukan istri orang." Vino meletakkan kepalanya pada pangkuan Veroniccha.


"Letakan mangkuknya." Vino mengambil tangan Veroniccha setelah wanita itu meletakan mangkuk bubur yang telah kosong keatas nakas, kemudian Vino menaruh tangan Veroniccha pada kepalanya. "Usapkan kepalaku agar sakitnya berkurang."


Veroniccha gemas sendiri jadinya. Mengapa dua laki-laki yang disayanginya sangat manja jika sedang sakit. Tidak Vino tidak Dennis sama saja.


"Aku mencarimu kemana-kemana dan kau malah bermesraan di sini." dua pasang mata itu menatap pintu yang tiba-tiba terbuka dan menemukan Dennis sedang menggerutu di sana.


"Kau dari mana saja? Aku hanya menyuruh membeli obat di dekat sini dan kau pergi seperti ke rumah Dio. Lama sekali!" Veroniccha menggerutu dan mencoba bangkit namun Vino masih menahannya.


Dengan langkah berat dan wajah murung, Dennis masuk ke kamar dan menaruh obat yang dibelinya di atas nakas.


"Kau kenapa?" Veroniccha tahu. Ada sesuatu yang salah pada Dennis.


"Aku melihat Nina bersama Darel," jawab Dennis lesu dan mengambil duduk di sofa kamar Vino.


"Itu salahmu yang sangat lambat bergerak," ejek Vino.


"Ckk.. Lagipula apa hebatnya si Darel. Ketampanannya saja jauh di bawahku. Bicara dengannya seperti bicara dengan orang gila. Tapi mengapa Nina berbicara sangat lama dengannya. Bahkan sampai tertawa lebar. Huh! Aku kesal sekali!"


"Jadi kau lama karena menunggu Nina selesai berbicara?" Dennis hanya mengangguk.


"Aku melihatnya sedang duduk berdua dengan Darel di taman. Sebenarnya aku ingin menghampiri. Tapi malas! Jadi aku hanya memperhatikannya dari jauh."


"Sudahlah! Malas berbicara dengan kalian!" Dennis bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dengan membanting pintu. Membuat kedua manusia di dalamnya tertawa.


"Kau tak bisa membantu Dennis?" Veroniccha bertanya serius begitu Dennis keluar.


"Sayang.. Hubungan mereka itu hanya perlu Dennis yang lebih berani. Aku tahu Nina masih sangat mencintai Dennis. Tapi Nina takkan mau maju lebih dulu. Biarkan saja Dennis menyadarinya sendiri." Vino mengelus pipi tembab Veroniccha.


"Tapi bagaimana kalau Nina tertarik dengan Darel? Sepertinya mereka menjadi dekat sekarang."


"Tidak. Bertahuh-tahun denganku saja Nina tak juga jatuh cinta denganku. Apalagi dengan Darel yang ketampanannya jauh di bawahku."


Veroniccha mencibir dan menghempaskan tangan Vino dari wajahnya. "Cih! Percaya diri sekali." Vino tertawa keras.


"Lalu dengan hubungan kita?"  Vino menggenggam tangan Veroniccha yang berada di kepalanya kemudian membawanya kedadanya. Ia menatap Veroniccha serius.


"Maksudmu?"


"Kau serius denganku, kan?" Veroniccha mengerenyit bingung. Apa-apaan Vino ini. Jika Veroniccha tak serius sudah ia tinggalkan Vino sejak lama.


"Jika aku tak serius, aku sudah melanjutkan perjalananku sejak dulu!" Vino tersenyum manis. Ia menegakkan duduknya dan menghadap Veroniccha.


Veroniccha gelisah sendiri. Ia begitu gugup saat Vino menatapnya seintens ini. Vino tak pernah seperti ini sebelumnya. Menatapnya dengan pandangan yang... Akh! Veroniccha bingung. Ia gugup.


Vino terus menatap Veroniccha dan memajukan wajahnya semakin dekat. Sebenarnya ia ingin tertawa melihat wajah Veroniccha yang sudah merona dan gugup. Tapi ia harus melakukannya. Ia tak tahan degan bibir pink yang biasanya ia kecup saat empunya terlelap. Kini Vino tak mau menjadi pengecut lagi.


"V-vin," ujar Veroniccha gugup saat semakin lama wajah Vino semakin dekat. Juga pandangan Vino yang beralih pada bibirnya.


Cup.


Bibir Vino sukses menempel pada bibir pink yang selama ini menggodanya. Masih hanya menempel sampai Vino melumatnya saat Veroniccha memejamkan matanya.


Manis!!


Astaga! Bibir yang setiap hari menggodanya sangat manis saat dilumat seperti ini. Saat Veroniccha dalam keadaan sadar dan balas melumatnya.


Vino ingin lebih dari ini. Ia ingin memiliki Veroniccha seutuhnya. Ia masih terus melumat bibir pink itu,  la-


"Vin, di bawaha ada Nina dan Ma-" ucapan Dennis terhenti saat ia membuka pintu dan melihat sepasang manusia itu saling menempel dan melumat.


"Astaga!" Dennis berteriak dan membuat pangutan itu terlepas. Veroniccha menatap kaget pada Dennis kemudian menenggelamkan kepalnya pada dada bidang Vino.


Astaga!  Veroniccha malu sekali!


.


.


.


.