Stay

Stay
Episode 27



Veroniccha berkali-kali mengutuk Dennis yang belum juga menghubunginya. Tidak biasanya ia merasakan hal semacam ini. Semacam, kesepian.


Veroniccha merasa kesepian saat ini. Padahal, dulu ia tak pernah ditemani oleh siapapun. Juga tidak membutuhkan hal semacam itu.


Tapi ini, bahkan belum sehari ia meninggalkan Indonesia dan berakhir di flat milik Dennis, ia sudah merasa kesepian juga bosan.


Juga, rindu.


Astaga! Veroniccha benar-benar merindukan Vino kini. Tadi malam, ia tiba di Swiss dan langsung menuju flat milik Dennis kemudian tertidur karena merasa sangat lelah. Setelah matahari datang, ia terbangun dan hanya berdiam diri di ranjangnya memandangi ponsel yang tak juga berdering.


Veroniccha menunggu panggilan Dennis.


Juga, suaminya. Davino.


Huh! Lagi-lagi air mata sialan ini jatuh. Veroniccha benci situasi ini. Ia benci situasi saat ia benar-benar merasa rapuh dan membutuhkan seseorang di sampingnya.


Berkali-kali Veroniccha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia bisa melewati ini, berkali-kali juga penyesalan menghampiri.


Mengapa ia tak menerima tawaran Vino, kemarin?


"Kau menangis?" Veroniccha tersentak dan buru-buru menghapus air matanya saat Dennis datang tiba-tiba ke kamarnya.


"Kau sudah sampai? Kapan?" tanyanya.


"Aku segera mencari penerbangan tercepat setelah Nina menghubungiku," jawab Dennis. "Kau tak harus pergi seperti ini. Bagaimanapun saat itu suamimu masih kecil dan belum mengerti apapun."


"Diamlah! Aku sedang tidak ingin membahasnya." Veroniccha bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar mandi. "Aku lapar! Carikan aku makanan."


Dennis menghela napasnya setelah pintu kamar mandi tertutup sempurna. Ia tahu, ini pasti berat untuk kakaknya. Tapi dengan meninggalkan Vino seperti itu juga bukanlah jalan terbaik. Semua akan kembali menderita.


Mengapa tidak dilupakan saja masa lalu yang menyedihkan itu. Kemudian memulai hidup yang baru dengan indah.


***


Veroniccha masih memandang tv di depannya kosong. Pikirannya melayang jauh kembali mengingat Masa-masa indahnya bersama Vino.


Mengapa Vino tak juga menghubungi ya?


Ia tahu, saat itu bukan Vino yang menginginkan hal itu terjadi. Namun melupakan segalanya terasa sangat berat bagi Veroniccha. Apalagi Vino turut menyembunyikan rahasia ini darinya. Mungkin kalau Vino memberi tahunya lebih dulu, Veroniccha akan lebih berpikir panjang.


"Kau merindukannya, kan?" tebak Dennis mengamati Veroniccha di sampingnya. "Aku juga merindukan Nina. Lebih baik kita kembali ke Indonesia. Bagaimana?"


"Apa kau tahu rasanya belasan tahun aku menunggu rahasia ini semua? Aku terus menunggu dan mencari tahu, mengapa keluarga indah ku hancur begitu saja. Aku memutuskan untuk membenci Papa dengan persepsi ku bahwa ini semua adalah salah Papa.


Lalu aku membenci Gladis yang ku anggap sebagai penghancur keluargaku. Aku berkeliling dunia bukan hanya untuk memuaskan hatiku dan membenarkan bahwa Papa tidak lagi mencintai Mama. Tapi aku juga berharap agar aku dapat menemukan Mama.


Lalu, setelah semua ini terbongkar, seharusnya aku bahagia bukan?"


"Aku tidak akan pernah tahu, bagaimana perasaanmu saat itu, Ccha. Aku sendiri tidak pernah berada dalam keluarga bahagia yang kau maksud." Veroniccha menoleh dan mendapati Dennis dengan kesedihan di matanya.


"A-aku tidak.. "


"Rasanya aku juga ingin menghancurkan orang yang membuatku tidak merasakan hal itu. Tapi, akupun akan dapat kehancuran yang sama jika melakukan itu.


Kenyataan bahwa wanita yang ku cintai memiliki benang dengan orang yang menghancurkan keluargaku adalah hal yang membuatku tak bisa melakukannya.


Kau tahu, ketika hubungan ku dengan Nina membaik, aku berpikir bahwa kita semua akan bahagia. Melihatmu bahagia dengan Davino membuatku memutuskan untuk mengejar Nina. Tapi, aku tidak akan bisa kembali bahagia melihat kau masih terpuruk seperti sekarang ini."


"Kau tak perlu memikirkanku, Dennis. Kejarlah kebahagianmu sendiri," kata Veroniccha.


"Kemudian aku melihatmu menderita seorang diri? Tidak. Jika kau kembali pada Davino, mungkin aku akan mendapatkan kebahagianku, lagi."


"Demi Tuhan, Dennis. Aku tidak ingin mengajakmu menderita bersamaku. Aku butuh waktu untuk memikirkan segalanya."


Egoiskah dia?


Tapi, Veroniccha pun membutuhkan waktu untuk menerima semuanya. Ia mencintai Vino, sungguh. Namun masih terasa kecewa setelah mengetahui semuanya.


***


"Suamimu mabuk dan kembali menyusahkanku."


Itu pesan dari Gladis beserta foto Vino yang sedang terlelap di dalam mobil.


Sudah dua minggu sejak Veroniccha meninggalkan Vino dan Gladis menjadi mata-matanya. Ia memang meminta Gladis agar terus melihat Vino dan mengirimkan gambar kepadanya.


Sungguh, Veroniccha begitu merindukan Vino.


Karena rasa sayang Gladis padanya, gadis itu mau-mau saja disuruh oleh Kakaknya meski terus protes dalam setiap gambar yang ia kirim.


Diantara gambar yang Gladis kirim setiap harinya, Veroniccha pasti menemukan foto Vino yang tak sadarkan diri karena mabuk.


Demi Tuhan, mengapa Vino seperti itu.


"Tolong jaga dia, Gee. Aku mohon. Bicaralah padanya agar ia tak mabuk setiap malam."


Balasan pesan yang Veroniccha kirimkan dengan menggigit bibirnya khawatir. Kesehatan laki-laki itu akan terganggu nantinya.


"Jika kau kembali, tidak perlu berbicara, dia akan berhenti dengan sendirinya."


Veroniccha kembali menjatuhkan air matanya. Ada apa dengan dirinya? Mengapa Veroniccha egois seperti ini?


"Jaga dia untukku, Gee. Ku mohon."


***


Gladis kembali menyimpan menerima balasan pesan dari kakaknya. Demi Tuhan, ini adalah malam minggu tersuram dalam hidupnya. Mengurusi kakak ipar nya yang mabuk.


Oh! Itu lebih buruk dari ia hanya tidur di kamar karena tak punya pasangan kencan di malam minggu.


"Terima kasih sudah membantu," kata Gladis pada laki-laki yang membantunya mengantarkan Vino kerumahnya.


"Tidak masalah. Lagi pula aku kesana dengannya," jawab laki-laki itu santai.


"Kau mengenalnya?"


"Tentu saja, oh ya, Aku Darel, teman dekat Davino." Darel mengulurkan tangannya pada Gladis yang melongo bingung.


Tahu seperti itu, dia tak usah repot mengantarkan Vino pulang.


"Aku Gladis. Adik ipar nya," ujar Gladis membalas uluran tangan tersebut.


"Bisakah aku minta tolong? Tolong beri tahu pada Dave agar tak lagi mabuk seperti itu. Demi Tuhan, dia mengacaukan malam minggu ku." Darel tertawa geli melihat gadis di depannya yang menatap sengit pada Vino yang sudah tak sadarkan diri di sofa.


"Akan ku usahakan jika kau meninggalkan nomor ponselmu pada ponselku." Gladis ikut tertawa.


"Tentu saja."


.


.


.


.