Stay

Stay
Episode 20



Ini sudah seminggu sejak kepulangan mereka dari rumah Papa Veroniccha. Sejak itu pula Veroniccha lebih banyak diam dan melamun. Veroniccha jarang menanggapi sekitarnya. Termasuk Vino. Kejadian ini membuat Vinopun ikut terdiam.


"Ve, makan." Vino meletakan sepiring nasi beserta lauk pauk di meja makan dan menghampiri Veroniccha yang masih menatap kosong kearah tv.


"Ayok makan. Aku menyuruh Nina membuat perkedel kesukaanmu!" Veroniccha hanya tersenyum sekilas dan segera memakan makanannya. Ia ingin cepat selesai dan kembali menyendiri.


Vino asik menatap Veroniccha yang sedang menyuapkan makanannya. Veronicchanya menjadi lebih kurus. Ia memang makan jika ada Vino, tapi ketika Vino bekerja, ia tak bergerak sama sekali. Hanya memandang kosong kearah tv dan terkadang tiduran di kamarnya.


"Bagaimana kalau hari ini kita kerumah Dio? Kak Nada bilang Dio lagi sakit. Dia pasti senang jika kita menjenguknya." Veroniccha tak merespon. Ia hanya memakan makanannya dan mengacuhkan Vino yang mencoba membuka percakapan.


Selalu seperti ini. Veroniccha menghiraukannya. Vino sudah sering mengajak Veroniccha untuk sekedar berjalan-jalan keluar. Namun Veroniccha hanya bergeming menanggapinya.


***


Dennis masih diam terduduk di pekarangan rumah Vino. Dennispun sama dengan Veroniccha. Hanya suka terdiam dan melamun kosong. Ninapun masih canggung untuk membuka suara. Hubungannya belum membaik sama sekali dengan Dennis.


Jadi yang dilakukannya hanya duduk di samping Dennis menemani laki-laki itu menatap bunga-bunga.


"Bagaimana bisa ternyata ia kembaranku." Dennis melirih. Ini adalah kali pertama sejak seminggu Dennis membuka suara. Nina hanya menoleh kearahnya. Bingung harus menanggapi.


"Aku.. Mengapa sekacau ini?" Denis menunduk dalam. "Ini.. Terasa aneh," lanjutnya.


Dennis semakin menunduk. Ia ingin menangis. Sangat ingin menangis. Ia bingung dengan semua ini. Dengan kehidupannya. Ia tak mengerti. Tak ingin mengerti. Namun keadaan menuntutnya harus mengerti.


Kenyataan yang mengejutkan mereka semua. Rahasia yang ditutup rapat selama ini, terbuka kala itu. Membuat semuanya mematung kala Tio membuka suaranya. Kenyataan yang kembali membuka luka lama di dalam dadanya. Tapi jika tak ia buka, luka itu akan melebar kepada ketiga anaknya.


"Gladis saudara kandung kalian. Ia kembaran Dennis. Maafkan Papa telah menutup rahasia ini."


Kalimat Tio kala itu disusul teriakan Mariska yang terkejut, membuat ketiga anaknya mematung. Lalu lelucon apa sebenarnya kehidupan ini?


Kenyataan yang tak dimasuk akal.


"A-aku.. Tidak mengerti." Dennis terisak. Ia lelah dengan kehidupannya.


Nina yang masih terdiam perlahan memberanikan diri mendekat dan menyentuh pundak Dennis yang bergetar. Yang secara tiba-tiba Dennis berpindah pada rengkuhannya. Dennis butuh pegangan. Ia gamang saat ini. Dan Nina adalah pegangannya saat ini. Dari dulupun seperti itu. Saat mereka bersama dan terpisah karena kekonyoloan yang Dennis ciptakan.


***


Ini semua teka-teki yang membingungkan. Semuanya begitu samar dan susah untuk dimengerti. Selama ini apa saja yang terjadi bahkan tak sepenuhnya di mengerti.


"Saat Mama tiba-tiba menghilang dan Papa tiba-tiba muncul dengan perempuan lain dan anaknya yang aku benci setengah mati. Namun kenyataanya sekarang anak itu adalah adik kandungku yang seharusnya ku sayang. Apa ini Vino? Mimpi buruk apa ini?" Veroniccha menangis.


"Bangunkan aku, Vin! Ini terlalu kejam!" Veroniccha meraung.


Veroniccha kembali mengingat saat Papanya membuka cerita lama itu. Cerita yang membuat Mariska menodongkan pisau kelehernya, mengancam jika Tio akan melanjutkan cerita itu.


"Kita selesaikan ini. Kau harus berani, Ve. Tidak usah takut karena aku selalu di sampingmu." Vino meregangkan pelukannya dan menatap wajah Veroniccha meyakinkan.


Ia tak suka melihat Veroniccha berlama-lama berteman dukanya. Ia rindu Veronicchanya yang konyol yang selalu membuatnya marah-marah. Ia rindu Veroniccha yang tertawa lebar. Bukan menangis sesenggukan seperti ini.


***


Suasana masih terasa mencengkam. Tak ada yang membuka suara satupun. Veroniccha hanya menunduk dalam pelukan Vino. Dennispun hanya menatap meja dan mengetukkan jarinya pelan.


"Bagaimana? Apa Papa belum mau berbicara?" Dennis bertanya dan Gladis hanya menggeleng sekilas. Sekali-sekali ia melirik pada Veroniccha yang berada dalam pelukan Vino.


"Bagaimana Mamamu?  Dia juga masih mengancam?" Gladis menangguk menjawabnya.


Dennis menghela napasnya kasar. Kini mereka berada di restoran dan mencoba untuk menyelesaikan masalahnya. Namun merekapun tahu, ini tidak akan selesai jika Tio tidak mau melajutkan ceritanya.


"Lalu bagaimana?" pertanyataan Dennis yang dijawab diam semuanya.


"Aku tak masalah jika Papa belum mau cerita. Aku tak masalah asal Veroniccha menganggapku adiknya. Menyangi aku seperti ia menyangimu." Veroniccha menatap Gladis yang sedang menatap Dennis.


Semua kembali mencekam saat ini. Bingung kalimat apa yang akan dilontarkan. Veroniccha hanya menatap Gladis tanpa membuka suaranya sejak kedatangannya kesini.


.


.


.


aku mau di lika dan komen yang banyak donggg