
Veroniccha masih setia memandangi Dennis yang sedang melamun dengan wajah masamnya. Mungkinkah kemarin tak berjalan lancar?
Veroniccha sangat tahu seberapa besar adiknya itu mencintai Nina. Mereka sudah kenal sejak masa putih biru. Kala itu Nina adalah kakak kelas Dennis.
Awalnya Dennis sama seperi siswa smp pada umumnya, suka melakukan tingkah konyol, bermain futsal di lapangan, bolos jam perlajaran dan masih banyak lagi. Kemudian ia berubah menjadi pendiam saat tinggal bersama keluarganya. Ia tak cukup mengerti dengan hal yang menimpa dirinya. Sedari kecil ia tinggal bersama seorang nenek yang sangat menyayanginya. Dan tak pernah terlintas dipikirannya bahwa ia memiliki keluarga yang lain. Namun tiba-tiba semuanya berubah saat seorang laki-laki yang mengaku ayahnya mendatanginya dan memintanya tinggal bersama.
Ia pikir tak ada salahnya daripada tinggal sendiri dengan kenangan bersama neneknya yang telah meninggal. Ia pikir ia akan mendapat keluarga seperti teman-temannya. Namun ia salah, ia hanya mendapati aura dingin dari rumah besar itu. Lalu Veroniccha datang dan menceritakan semuanya. Membuatnya semakin bingung dan berharap ia bermimpi kemudian bangun di kamar sederhana dalam rumah neneknya.
Sejak itu, ia menjadi murid pendiam yang sering berdiam di perpustakaan sekolah. Sampai ia bertemu dengan Nina yang juga pendiam. Pikirannya mendadak jernih dan ia semakin ingin sering tersenyum ketika melihat wajah manis Nina yang sedang fokus pada buku di depannya. Kemudian ia berkenalan dengan Nina yang ternyata kakak kelasnya.
Hubungan pertemanan mereka berlanjut hingga putih abu-abu. Kemudian Dennis menyatakan perasaannya pada Nina saat ia duduk di bangku kelas 11. Mereka menjalin hubungan yang indah.
Dennis seperti merasakan memiliki kehidupan lebih indah saat bersama Nina. Nina adalah dunianya. Hidupnya yang aneh dan tak ia mengerti hilang sudah ketika melihat Nina. Dunianya menjadi lebih banyak bunga.
Namun bunga itu tak tahan lama. Ia layu saat Dennis dengan kebodohannya memaksakan keluar dari dunia indahnya. Ia membunuh hatinya lewat air mata Nina. Dengan alasan konyol yang bahkan Nina tak mengerti di mana letak salahnya, Dennis berkata ia membenci Nina. Lalu tak pernah mengabari Nina hingga kelulusan dan ia kuliah ke Swiss dan tinggal bersama Veroniccha.
Veroniccha tahu. Dunia penuh bunga Dennis layu karenanya. Karena Dennis memutuskan untuk menjaganya. Veroniccha tak tahu sudah berapa kali ia menyesal tentang hidup adiknya. Dennis sama sepertinya. Tak memiliki teman satupun. Bahkan Dennis tak pernah mengakui pertemanannya dengan Darel. Tapi yang Veroniccha tahu, Darel banyak mengetahui tentang hidup Dennis.
"Jangan menatapku seperti itu!" Dennis bersungut saat ia melihat Veroniccha yang terus menatapnya.
"Bagaimana kemarin?"
"Bagaimana apanya?"
Veroniccha menghembuskan napasnya dan menyandarkan kepalanya pada pundak Dennis. "Kau berhak bahagia. Aku sudah bahagia di sini. Jangan memikirkan kebahagianku lagi. Kejarlah Nina kembali. Aku tahu, hanya dia yang menjadi kebahagianmu."
"Aku bahagia."
"Aku hanya tak ingin kau semakin menyesal saat Nina benar-benar berpaling."
"Papa menyuruh kita kesana."
Mendadak Veroniccha menegapkan duduknya. Kalimat yang lebih seram dari hantu baru saja Dennis lontarkan. Kalimat yang membuatnya merasa kembali pada titik terkelamnya.
"Aku sibuk. Kau saja." Veroniccha beranjak dan siap melangkah saat tangan Dennis menarik lengannya.
"Jangan seperti itu. Kita selesaikan. Setelahnya, aku berjanji akan bahagia."
***
Veroniccha terus menggenggam erat jemari Vino. Ia tak gugup. Hanya saja ingin segera beranjak dari rumah yang bahkan belum ia masuki dalamnya. Mereka masih berada di luar menunggu pintu terbuka.
"Dennis!" teriakan Gladis menggema beriring dengan ia yang memeluk Dennis erat.
Satu hal yang membuat Dennis memutuskan untuk menyusul Veroniccha di Swiss. Ia tak bisa membenci Gladis seperti Veroniccha membenci gadis itu. Ia menyayangi Gladis seperti ia menyayangi Veroniccha. Tapi ia tahu, hal itu akan menyakiti Veroniccha lebih dalam.
Veroniccha yang selalu sendiri dan merasa tak memiliki siapapun kala itu benar-benar membuat Dennis sedih. Lalu ia melihat satu sinar saat kehadirannya. Dan saat itu ia tahu, hanya ia yang dimiliki Veroniccha.
Dennis mengerti mengapa Veroniccha begitu membenci Gladis. Tapi sebenarnya, Gladis pun tak salah karena ia tak minta untuk dilahirkan. Veroniccha selau membenci Gladis yang selalu mengangganggunya. Dan Dennis tak bisa menghentikan itu karena Gladis sendiri tak ingin berhenti.
"Ayok masuk!" Gladis menarik tangan Dennis menariknya masuk. Mengabaikan kehadiran Veroniccha dan Vino yang masih terdiam di depan pintu.
Veroniccha menatap sedih pada Dennis yang sedang bercengkrama dengan Gladis di meja makan. Ia tak tahu mengapa Dennis juga menyayangi Gladis. Jelas-jelas Dennis tahu, Gladis dan Mamanya lah penghancur keluarga mereka.
"Kau akan menetap di Indonesia?" Tio bertanya di sela menyantap makan malamnya.
"Tidak. Aku hanya tinggal sementara bersama Veroniccha kemudian kembali ke Swiss. Pekerjaanku masih banyak di sana," jawab Dennis.
"Kenapa tak di sini saja? Sudah lama kita tak pergi bersama," sela Gladis yang membuat Veroniccha melihat kearahnya. Dennis tahu, situasi seperti ini tak baik.
"Kalau tak ingin menetap tinggallah sementara di sini. Mengapa kau juga tak adil. Papa lebih menyayangi Iccha. Dan kau juga lebih menyayanginya."
Veroniccha membantik sendok dan garpunya. Ia sudah menahannya dari tadi. Ia tahu, tak ada hal baik yang akan datang kepadanya jika ia berada di rumah ini.
"Vino, aku ingin pulang." Veroniccha beranjak dari duduknya dan menarik lengan Vino. Semuanya ikut berdiri termasuk Dennis yang sudah berjalan kearahnya.
"Dennis kau tak boleh pergi bersamanya!" dengan cepat Gladis telah berada di dekat Dennis dan merangkul kuat lengannya.
"Kau! Aku tak tahu apa yang sudah kulakukan kepadamu hingga kau selalu mencari masalah deganku! Aku selama ini sudah bersabar denganmu. Aku pergi dari rumah ini agar kau bebas merasakan semuanya. Tapi kau selalu tak puas. Kau masih mencari masalah denganku. Sebenarnya apa maumu?!" Veroniccha berteriak tepat dihadapan Gladis.
Gladis menatap Veroniccha sengit dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Semua ini salahmu! Kau tak tahu betapa senangnya aku saat Papa bilang bahwa aku memiliki kakak dan akan tinggal bersama denganku. Aku sudah merencanakan semua. Bermain boneka bersama, bercerita, jalan-jalan dan banyak hal yang akan kulakukan denganmu seperti teman-temanku. Tapi kau menghancurkan semaunya!
Kau datang dengan wajah bencimu kepadaku dan kau menganggapku angin lalu. Kau selalu mengacuhkan ku. Aku ingin sekali semua barang-barang yang kau lunya bukan karena aku ingin memilikinya, tapi karena aku ingin menggunakannya bersmamu.
Aku sangat menyayangimu dan selalu berharap keajaiban datang hingga kau menganggapku ada! Jika karena aku lahir dari rahim yang berbeda itu semua bukan keinginanku. Kalau boleh memilih aku ingin terlahir dari rahim yang sama denganmu dan Dennis sehingga kau tak membenciku. Tapi aku tak bisa melakukan itu semua!"
Gladis terengah. Napasnya menburu seiring kalimat yang dilontarkannya bersama derai air mata. Semua hanya teridiam menyaksikan itu.
Veroniccha?
Ia hanya mampu memeluk erat lengan Vino. Ia tak tahu apa yang akan ia lakukan setelah mendengar semuanya. Ia tak berharap Gladis menyayanginya. Ia hanya ingin Gladis tak mengganggu dan menganggapnya angin lalu sama seperi Veroniccha menganggap keberadaan gadis itu.
"Aku ingin pulang," lirih Veroniccha pelan.
.
.
.
.
.
.
.