
Ada sebuah kisah yang tidak berhak kamu ketahui. Karna tidak pantas untuk diketahui.
.
.
.
.
Davino menggeliat dari tidurnya dan tangannya bergerak-gerak di atas nakas untuk mematikan beker berisik yang sialannya membantu untuk bangun dari tidurnya.
Laki-laki itu kemudian bangkit dan bersiap untuk menghadapi hari ini dengan setumpuk berkas yang selalu beranak di atas mejanya.
*__*
"Veroniccha!! Cepat bangun! Buatkan aku sarapan!"
Ini memang bukan seperti Davino biasanya. Berteriak sembari menggedor pintu kamar orang. Namun di sini dia sekarang. Di depan kamar istri anehnya.
Sepanjang di kamar mandi tadi Davino sudah memikirkan semuanya --ya mungkin orang lain benar bahwa inspirasi datang di kamar mandi, mengubah Veroniccha apapun caranya. Seperti yang diingkan ibu.
Semalam, tepat saat Veroniccha membanting pintu kamarnya, ibunya menelfon. Ibunya tahu dari Tio bahwa Veroniccha berada di Jakarta. Awalnya Davino sempat kaget karena ibu tahu perihal Veroniccha yang sering keliling dunia.
Kembali lagi di mana saat ini Davino berada. Di depan pintu kamar Veroniccha yang belum juga terbuka. Kakinya bahkan sampai pegal dan tangannya sakit hanya agar membuat pintu ini terbuka.
Dengan kesabaran yang sepertinya tersisa sedikit, Davino mengambil kunci cadangan yang berada di dalam laci kamarnya dan membuka pintu kamar Veroniccha.
Disanalah dia. Masih bergulat dengan mimpinya. Bersama selimut yang menutupi seluruh tubuhnya bahkan wajahnya.
Davino menggeram kesal dan berjalan ke arahnya kemudian menarik selimutnya dan menggoncangkan tubuhnya.
"Bangun pemalas! Kau tahu pukul berapa ini?! Bangun!" Davino berteriak tapat di telinganya dan berhasil! Ia membuka matanya. Tidak hanya matanya. Mulutnya juga terbuka lebar.
"Kau?! Mengapa kau masuk ke kamarku!" Davino menutup kedua telinganya saat mendengar teriakan perempuan aneh itu.
"Tidak usah teriak! Telingaku sakit!" Davino membalas berteriak.
Veroniccha menyunggingkan seringainya dan menatap Davino dengan mata yang disipitkan, "aku hanya membalasmu. Kau pikir telingaku juga tidak sakit mendengarmu berteriak? Oh, jangan lupakan perihal tadi kau menggedor pintu kamarku."
"Sudahlah! Berbicara denganmu membuat kepalaku sakit. Sekarang cepat buatkan aku sarapan." Davino menarik tangannya.
"Aku tidak mau. Ini belum saatnya aku keluar!" Masa bodoh dengannya yang memberontak dan alasan konyolnya. Davino tetap menariknya keluar.
"Cepat masak!"
"Aku tidak bisa. Ini belum waktuku keluar." Veroniccha mendesis geram.
"Aku tidak peduli dengan alasan konyolmu itu. Dimanapun kau tidur kau boleh keluar dari kamarmu kapan saja. Tapi tidak ketika kau bersamaku. Bersamaku. Di rumahku. Kau harus bangun jam setengah 7, kemudin siapkan sarapanku dan baju kerjaku."
"Aku tidak--" sebelum ia melanjutkan, Davino menatapnya tajam dan membuatnya menghembuskan nafas kasar.
Davino Karllen memang ditakdirkan menjadi pemenang!
"Baiklah! Tapi setidaknya kau membiarkanku membersihkan diri."
"Silahkan."
Veroniccha menghentakkan kakinya kasar meninggalkan Davino di meja makan. Davino membiarkannya dan mengambil tempat duduk sembari memainkan ponsel.
Sepertinya ada bagusnya dia di sini. Nina sedang kerumah orang tuanya dan tidak ada yang membuatkan Davino sarapan.
*__*
"Kau mau sarapan apa?" Veroniccha sudah berada di dapur dengan celemek yang melekat di tubuhnya.
"Apa saja yang bisa kau hidangkan." .
"Davino! Aku baru ingat!" Veroniccha berjalan ke arah Davino dengan wajah anehnya.
"Apa?"
"Aku tidak bisa memasak apapun." Ia menggeleng frustasi dan membuat mulut Davino terbuka lebar.
"Lagipula, kemana kekasihmu? Bukankah biasanya ia yang membuatkanmu sarapan?"
"Nina sedang ke rumah orang tuanya. Aku tidak lupa kau pernah membuatkanku makan malam sebelumnya. Sudahlah, cepat buatkan aku makanan. Aku akan memakan apapun yang kau masak."
"Bahkan jika itu racun?"
Mata Davino melebar geram, "sebelumnya aku akan menyuruhmu memakannya terlebih dahulu! Sudah cepat, tidak usah banyak alasan buatkan makanan untukku sebelum aku memakanmu!"
Veroniccha kembali kedapur setelah Davino berteriak. Sepertinya perempuan itu suka sekali dengan teriakannya.
*__*
"Bagaimana?"
Davino kembali memasukan sesendok nasi goreng berwarna putih ke dalam mulut dan mengabaikan Veroniccha yang menatap penuh tanya.
"Bagaimana?!" Ia memukul lengan Davino dan membuatnya tersedak.
Davino menerima minuman darinya dan menatapnya tajam setelah gelas itu tergelat di atas meja.
"Kau itu perempuan tapi mengapa kasar sekali! Bagaimana kalau aku mati karna tersedak tadi."
"Habisnya kau menyebalkan! Aku bertanya bagaimana rasa masakanku tapi kau malah mengacuhkanku. Aku sudah was was akan rasa masakanku itu tapi kau bertingkah menyebalkan."
Davino mendengus mendengarnya, "jika kau ingin tahu makanlah sendiri. Jika kau ingin tahu pendapatku, tinggu aku hingga selsai makan. Aku tidak suka berbicara saat sedang makan."
"Tapi kau sudah bicara banyak. Bahkan berteriak."
Davino kembali menatapnya tajam dan ia membungkam mulutnya.
Davino meletakan gelas di atas meja pertanda bahwa aku telah menyelesaikan sarapannya. Veroniccha, masih pada tempatnya dan tetap menatap Vino dengan tanya.
"Bagaimana?" ia kembali bertanya dengan mata berbinarnya.
Menggemaskan.
"Tidak ada yang aneh selain warnanya dan hilangnya rasa kecap dari nasi gorengmu."
Veroniccha menghembuskan nafasnya lega, "syukurlah. Dan perihal warna dan kecap, itu bukan salahku. Di dapurmu tidak ada kecap."
Veroniccha bangun dari duduknya dan menarik lengan Davino, "kalau begitu ayo kita belanja!"
"Tidak bisa sekarang. Aku harus ke kantor."
"Kau tidak akan miskin jika hanya membolos sehari." Veroniccha tetap menarik lengannya dan laki-laki itu hanya menghembuskan napas pasrah.
Sepertinya Davino harus membolos hari ini.
*__*
Tidak pernah rasanya semenyebalkan ini belanja di swalayan. Vino tahu apa yang membuat ini menyebalkan. Veroniccha.
Perempuan itu terus saja berjalan keliling swalayan ini sembari mendorong troli. Tidak aneh memang. Hanya saja ini sudah lebih dari 3 jam dan hanya terdapat sekilo mentimun di dalam troli.
Bukannya Davino tidak memilih apa saja yang harus dibeli. Hanya saja ketika ia akan memasukannya kedalam keranjang, si makhluk menyebalkan itu selalu melarangnya dan berkata, "jangan yang itu. Masih ada yang lebih bagus dari itu."
Davino hanya mendengus jengkel dan tetap mengikuti keinginannya. Karna ia pikir, perempuan lebih tahu mengenai hal ini.
"Veroniccha. Kau tidak lelah? Ini sudah lewat 3 jam dan kita hanya mendapatkan mentimun." ucap Davino ketika mereka berhenti di tempat daging.
"Sudah tiga jam? Baiklah. Mari kita percepat."
Belanjaan mereka sudah banyak saat ini. Dan hanya menghabiskan waktu kurang dari 1 jam. Bagaimana tidak, Veroniccha mengambil barang-barang yang tadi ingin kumasukan ke dalam troli tapi ditolaknya.
Disinilah mereka sekarang. Di restoran dan sedang menunggu pesanan datang. Davino hanya menatap malas pada istrinya mendengarkan ia bercerita perihal tadi di swalyan. Entah hal apa yang ia ceritakan tidak ada yang dapat Davino tangkap maknanya.
"Kau seperti tidak pernah ke swalayan." Davino mencibir saat Veroniccha bercerita bagaimana senangnya berbelanja kebutuhan rumah.
"Memang tidak."
"Benarkah?"
"Aku tidak pernah menetap di Indonesia dengan waktu yang lama sejak tamat smp. Jadi aku tidak pernah belanja kebutuhan seperti ini di Indonesia."
"Memangnya.."
"Anne?" ucapan Davino terpotong ketika seseorang tiba-tiba saja hadir di hadapan mereka.
"Koyi!" Davino semakin bingung ketika Veroniccha menjerit dan memeluk laki-laki itu.
"Kau di Indonesia? Wah ada hal apa yang membuatmu berada di Indonesia?" tanya laki-laki itu ketika mengurai pelukannya.
"Ya, seperti itulah. Kau ingin kemana?"
"Kau tidak menanyakan kabarku?"
"Tidak perlu, karna sepertinya kau baik."
"Tidak saat kau menolakku." Davino tersedak minumannya seketika.
Dua orang itu menoleh dan menyadari keberadaannya. Si laki-laki pirang itu menatap heran pada Davino dan bertanya pada Veroniccha.
"Siapa?"
Davino mengulurkan tangannya, "Davino, suaminya wanita ini."
Laki-laki itu tekejut dan menghiraukan tangannya di depannya.
"Kau sudah menikah?" tanyanya pada Veroniccha yang dijawab santai oleh makhluk aneh itu.
Entah apa yang ada di dalam kepala Davino saat mengaku bahwa ia adalah suaminya. Tapi Davino tidak suka saat laki-laki pirang itu memeluk Veroniccha.
Laki-laki itu pergi setalah berbasa basi dengan Veroniccha dan menjabat tangan Davino lalu memperkenalkan dirinya sebagai 'teman dekat' Veroniccha saat di Swiss.
"Kau berapa lama tinggal di Swiss?" tanya Davino setelah sesendok nasi berhasil masuk ke dalam mulut.
"Cukup lama. Aku kuliah di sana. Tapi perihal Koyi, kami memang sering traveling bersama. Karena dia juga suka traveling." Veroniccha menjelaskan perihal temannya itu tanpa diminta.
"Sebenarnya aku sangat bingung denganmu. Papamu bilang kau suka berkeliling dunia dengan motif mencari cinta."
"Memang."
"Cinta macam apa yang kau cari?"
"Cinta mamaku pada papaku."
"Maksudmu?"
"Ya, aku mengumpulkan bukti cinta mamaku pada papaku. Mamaku dulu juga suka traveling. Dan ia menaruh cinta pada setiap tempat yang ia datangi. Dan aku akan mencari cinta itu dan membawanya pulang."
Davino mengerutkan keningku mencoba menerka apa yang dimaksud. Namun tetap saja. Ia tak mengerti apapun.
"Memangnya cinta bisa di tinggal seperti itu?"
"Bukan cintanya. Tanda cinta. Mamaku selalu meletakan gembok tanda cinta mama dan papa di tempat yang ia datangi. Dan aku akan membuka gembok itu dan membawanya pulang."
"Untuk apa? Birkan saja. Untuk apa aku cari. Itukan tanda cinta mereka."
"Tanda cinta mereka saat dahalu. Sekarang hanya tanda cinta mama."
"Maksudmu?"
Veroniccha teridam dan menatapnya ragu. Kemudian ia tersenyum.
"Ada sebuah kisah yang tidak berhak kamu ketahui."
"Mengapa? Kau tidak percaya padaku?" Vinocukup tersinggung saat ia bilang ia tidak berhak mengetahui.
Entahlah. Davino sendiri juga tidak tahu pernikahan macam apa yang sedang kami jalani. Tapi ia merasa berhak mengetahui kisahnya karna ia suaminya. Ya, katakanlah Davino egois. Tapi ia merasa aku berhak mengetahuinya.
"Mengapa? Aku suamimu," tanya Davino kembali dan senyum Veroniccha semakin lebar.
"Karna tidak pantas untuk diketahui."
.
.
.
.