
Dio menatap bingung pada Veroniccha yang sedang gugup di tempat. Tangan wanita itu saling menggenggam di pangkuannya dan bergetar. Davino yang duduk di sampingnya hanya terkekeh geli. Dio beranjak dari hadapan Veroniccha dan meletakan duduknya pada pangkuan Davino.
"Mama kenapa, pa?" bisiknya.
"Demam panggung," katanya jahil yang membuat Veroniccha menoleh kearahnya.
"Ini semua salahmu!" Veroniccha mendelik.
"Salahkan fotografernya," bantahnya masih terkekeh.
Veroniccha masih mengingat kejadian di studio foto tadi. Hari ini adalah jadwal melakukan foto after-wedding. Setelah dibumbui dengan beberapa kebohongan Veroniccha pun mau melakukannya.
Hari ini adalah hari ke-6 sesuai agenda yang Davino buat. Yaitu melakukan foto after-wedding yang akan ia cetak besar dan di pajang di ruang tamu. Pagi tadi setelah menjemput mamanya agar mau memaksa Veroniccha, mereka berangkat menuju studio foto.
Yang membuat Veroniccha masih gugup saat ini adalah pose yang mereka berdua lakukan. Pipinya terus memanas saat mengingat bibir Davino menempel pada bibir pinknya dan disaksikan oleh Dio, mama mertua dan para kru foto. Tidak lebih malu dari itu karena Davino mengambil kesempatan dengan melumatnya sampai ia kehabisan oksigen. Belum lagi suara penggoda dari orang-orang yang menyaksikan.
Masalahnya adalah, itu ciuman pertamanya dan di tempat yang tidak seharusnya.
Hell! Dia termasuk perempuan yang menginginkan tempat romantis untuk ciuman pertamanya. Bukan di studio foto saat ia hanya membeku di tempatnya.
Sungguh tidak elit!
"Mengapa kau masih mempermasalahkan? Yang menciummu aku, suamimu sendiri."
"Masalahnya adalah itu ciuman pertamaku!"
Davino terkekeh. Ia tahu betul itu bukan yang pertama. Karena yang pertama adalah saat Veroniccha terlelap di dalam mobil. Yang kedua adalah saat Veroniccha terlelap di kantornya. Yang ketiga dan seterusnya adalah saat Veroniccha terlelap di ranjangnya. Dan tentang studio foto, ia tak tahu itu yang keberapa.
"Untuk bibirku, ya! Itu yang pertama. Aku merencanakan ciumanan pertamaku di tempat yang romatis dan hanya berdua. Tapi.."
"Jika di mobil? Itu romantis?" Veroniccha mengerutkan dahinya bingung. "Setidaknya lebih baik dari studio foto."
Mungkin maksud Davino seperti film yang sering ia tonton saat pemeran utamanya melakukan ciuman pertama mereka di mobil.
Davino mengelum senyumnya.
"Tapi ngomong-ngomong, kau bilang jika di bibir? Jadi maksudmu apa?" ini yang perlu diperjelas.
"Ya aku kan sering keluar negeri. Jadi sedikit banyak kebiasannya terbawa olehku."
"Maksudmu kau sering berganti pasangan?!" Davino melotot di tempatnya.
"Eish! Tidak begitu. Hanya cium pipi sebagai salam. Aku masih mencintai budaya timur. Kau tenang saja. Lagipula itu hanya sebagai sapaan dan aku hanya mencium pipi."
"Kau?! Pipi siapa yang kau cium?!"
"Siapapun yang ku kenal dan bertemu denganku." Davino menarik rambutnya frustasi. "Kau tidak boleh melakukan itu lagi!"
"Mengapa?"
"Yang pertama, karna kau seorang wanita, yang kedua karena sekarang kau istriku, yang ketiga karena nanti aku akan..." Davino menggantung telujuknya yang sejak tadi melayang di udara.
"Apa?" tanya Veroniccha menantikan kelanjutan kalimat Davino.
"Dia akan cemburu padamu." Nina mengambil tempat duduk di sebalah Veroniccha.
Davino tergagap di tempatnya.
"Cemburu?" Veroniccha membeo.
"Tante!" Dio berteriak dan meronta agar berpindah duduk pada pangkuan Nina.
"Kau cemburu?" Veroniccha bertanya pelan tanpa menghiraukan Dio dan Nina yang sedang berbincang. Sedangkan Davino mencoba menatap Veroniccha walau gugup setengah mati.
"Emm... Ntahlah!"
Veroniccha terkekeh dan menarik kedua sudut bibirnya. Jadi seperti ini rasanya ada seseorang yang cemburu padanya. Menyenangkan.
"Kau? Kenapa bisa di sini?" tanya Davino pada Nina
"Aku tidak sengaja melihat kalian dan aku sedang lapar. Jadi.. Ya biar sekalian dapat makan gratis." Nina melambaikan tangannya pada pelayan sedangkan Davino mendengus.
"Bunda!" Dio menyeru saat melihat Nada dan Mario memasuki restoran. Hari ini Dio akan dijemput oleh kedua orang tuanyasl sesuai intruksi Davino. Padahal perjanjiannya adalah 7 hari dan ini baru hari ke-6.
"Kau harus membayarnya," bisik Mario sinis. Ia masih kesal karena perintah tiba-tiba adiknya yang memaksa agar ia menjemput Dio sekarang. Padahal ia masih ingin mengarungi samudra luas berdua Nada di dalam kamar.
Davino hanya terkekeh dan melambaikan tangannya pada keluarga kecil itu.
***
"Kenyang sekali!" Veroniccha mengelus perutnya saat mereka berjalan keluar restoran.
"Kau makan banyak tadi. Jika tidak kenyang itu bermasalah," kata Davino sarkas. Nina hanya menggelengkan kepalanya.
"Iccha!" seruan seseorang yang menghentikan perdebatan sepasang suami istri itu.
"Dennis!" Veroniccha balas berteriak dan menghambur ke dalam pelukan laki-laki asing itu. Jangan lupakan kecupan di pipi yang membuat Davino mengeram. Kepalanya sudah penuh api sekarang.
Kepala Davino makin berasap saat dua manusia itu tak juga melepaskan pelukannya. Davino menghampiri mereka dan menarik Veroniccha agar melepaskan pelukannya. Mengabaikan Nina yang sedang menegang di tempatnya.
"Kau itu! Belum sehari aku katakan, jangan suka mencium laki-laki sembarangan!" Davino menggeram.
"Tapi dia Dennis."
Davino mengalihkan tatapannya dan menatap sinis pada laki-laki jangkung yang sialnya ia akui tampan dan namanya Dennis.
Dennis mengulurkan tangannya, "Dennis, kekasih Veroniccha."
Davino melotot di tempatnya dan Veroniccha tergagap di anara kedua laki-laki itu.
***
"Jadi sudah berapa lama kalian pacaran?" Davino sedang duduk dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan menaruh kaki kananya pada kaki kirinya.
"Sangat lama," Dennis menjawab santai tanpa melihat wajah Veroniccha yang tengah
gusar di depannya.
Davino semakin mengebul di tempatnya. Dennis sudah tahu jelas bahwa dia adalah suami Veroniccha dan bisa-bisanya laki-laki itu sangat santai menjawabnya.
"Sekarang hubungan kalian berakhir! Karena aku tak suka ada orang ke-3 dalam rumah tanggaku."
"Oh ya? Tak suka orang ke-3? Lalu siapa perempuan itu?" Dennis menyipitkan matanya menatap Nina yang sedari tadi hanya menunduk di samping Veroniccha.
Saat ini mereka berada di rumah Davino karena tadi Davino langsung menarik tangan Veroniccha dan Nina tanpa disangka Dennis mengikuti mereka hingga kesini.
"Dia adikku," Davino mencoba santai menjawab.
"Oh ya? Aku tak tahu 'dia' memiliki seorang kakak laki-laki." Denis menaikkan sebelah alisnya.
"Kami memang bukan saudara kandung."
Dennis tetawa mengejek pada Nina dan hanya membulatkan mulutnya.
"Sudahlah! Iccha di mana kamarmu? Aku lelah dan mengantuk! Aku mau tidur." Dennis bangkit dari duduknya diikuti Veroniccha dan Davino.
"Kau pikir kau siapa?! Aku tidak mengijinkan kau tidur di rumahku. Bahkan aku tidak mengijinkan kau berada di rumahku!" Davino berteriak.
Veroniccha mengusap lembut lengan Davino mencoba menenangkannya. "Sudahlah, biarkan dia istirahat dulu. Dennis ikut aku!" Veroniccha berjalan mendahului Dennis menuju kamar tamu.
"A.. Aku pulang dulu." Nina bangkit dari duduknya dan segera berlalu tanpa menghiraukan panggilan Davino.
.
.
.
.
Maaf baru nongol lagiiii
kirain cerita ini gak ada yang bacaaa hehehe